Kamis, 5 Desember 2019

Waspadai Ancaman ASF dari Timor Leste

Waspadai Ancaman ASF dari Timor Leste

Foto: ist/dok.DitjenPKH


Kupang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Wabah Asian Swine Fever (ASF) pada babi di Timor Leste, menuntut kewaspadaan tinggi segenap aparatur terkait dan pelaku usaha babi di Nusa Tenggara Timur.

 

Antisipasi terhadap kejadian tersebut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) kepada 50 orang petugas lapang yang berasal dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi NTT dan kabupaten/kota dari Pulau Timor. Kegiatan ini berlangsung pada 4-6 Desember 2019 di Hotel On the Rock Kupang.

 

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, penyebaran penyakit ASF ini sangat cepat dan telah mendekati perbatasan wilayah Negara Republik Indonesia di NTT, sehingga potensi ancaman masuknya penyakit ini semakin besar. "Kondisi ini memerlukan kewaspadaan dini dan harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis," ungkap Ketut.

 

Oleh karenanya, sesuai amanat Undang-Undang No.18 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2014, tindakan teknis yang harus dilakukan adalah deteksi cepat, pelaporan cepat dan pengamanan cepat. "Sangat penting untuk diidentifikasi potensi lokasi timbulnya penyakit dan sebaran populasi babi," ungkap Ketut.

 

Untuk berhasilnya deteksi, pelaporan dan penanganan cepat, Ketut, melanjutkan, diperlukan pemahaman peternak terkait gejala klinis penyakit ASF. Setiap ada perubahan pada babi yang dipelihara, seperti penurunan nafsu makan dan peningkatan kasus kematian, peternak diharapkan segera melaporkan kejadiannya kepada petugas lapang dinas. "Pemahaman petugas terkait ASF menjadi kunci utama penanganan yang cepat dan efektif, sehingga kasus dapat ditangani dan meminimalisir kerugian," tambahnya.

 

Ketut juga menjelaskan bahwa ASF ini merupakan penyakit yang belum ditemukan vaksin dan obat yang efektif. Tindakan teknis dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan difokuskan pada surveilans, biosekuriti dan dilanjutkan dengan tindakan depopulasi, disposal dan dekontaminasi.

 

Melalui bimtek ini, dia berharap, menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petugas tentang penyakit ASF, serta memberikan kesempatan petugas untuk dapat melakukan praktek langsung di lapangan.

 

“Kompetensi-kompetensi yang dimiliki petugas tersebut sangat penting untuk mengantisipasi ancaman masuk, terjadinya, dan potensi menyebarnya penyakit,” tutup Ketut. ist/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain