Rabu, 1 Januari 2020

Mansyur: Harapan Pengembangan Sapi Pasundan

Mansyur: Harapan Pengembangan Sapi Pasundan

Foto: dok. pribadi
Mansyur

Pada tulisan saya terdahulu pada kolom ini dikatakan sangat sulit untuk bisa mengandalkan sapi pasundan sebagai tulang punggung suplai daging Jawa Barat. Jangankan hanya dengan sapi pasundan, seluruh peternakan sapi potong rakyat pun belum tentu sanggup mensuplai kebutuhan daging masyarakat tanpa adanya upaya yang serius dari para pemangku kepentingan. Tetapi bukan berarti sapi pasundan tidak mempunyai nilai ekonomi sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Karena pada dasarnya sapi pasundan sendiri mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif sebagai sebuah komoditas ekonomis. 
 
 
Rentang waktu 2011 – 2019 merupakan periode untuk mengekplorasi dan membuktikan keunggulan sapi pasundan yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Padjadjaran dan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia disertai dukungan dari Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat baik lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan maupun lewat Badan Pengembangan dan Penelitian Daerah. Merujuk pada permintaan pasar ternyata sapi pasundan mempunyai ceruk dan harapan pada dua jenis pasar, yaitu untuk pemenuhan hewan kurban dan pemenuhan daging industri hotel sebagai daging premium. 
 
 
Keunggulan sapi pasudan adalah sapi yang adaptif dengan kondisi agroekosistem Jawa Barat. Oleh karena itu, penyebarannya hampir ada di seluruh sentra sapi di Jawa Barat. Juga mampu mengkonversi pakan yang seadanya menjadi daging yang berkualitas, makanya pada pemeliharaan yang menjamin ternak kenyang, pemberian pakan “eureun ku seubeuh lain eureun ku euweuh” (berhenti karena kenyang bukan karena tidak ada) selalu menghasilkan ternak yang mempunyai nilai kondisi tubuh di atas tiga pada skala lima. Dalam hal reproduksi juga sangat menggembirakan karena mempunyai rentang beranak yang relatif stabil yaitu satu tahun satu ekor. Mempunyai prosentasi karkas yang cukup baik berada pada kisaran 50 %, atau setidaknya masih memberikan keuntungan bagi yang pedagang pemotong. Bahkan untuk daging yang dihasilkan, sapi pasundan mempunyai potensi untuk menghasilkan daging dengan kualitas premium. 
 
 
Data yang ada menunjukkan bahwa perputaran uang pada kegiatan kurban yang lalu hampir Rp 70 triliun. Adapun jenis ternak yang dipotong yaitu domba pada urutan pertama, selanjutnya sapi, kambing, dan kerbau. Nilai pertumbuhan kegiatan kurban ini tidak kurang dari 5 % per tahun. Data yang menarik terjadi pergeseran konsumen dari ternak ruminasia kecil (domba dan kambing) ke sapi, dari kurban individu menjadi berkelompok. Pasar ini pada awalnya disuplai oleh kehadiran sapi bali dan madura. Karena beratnya yang tidak terlalu besar dapat dijangkau oleh konsumen yang berpindah dari ruminansia kecil. Selain dari faktor mitos akan daging domba yang mempengaruhi kesukaan masyarakat. Mitos ini mendominasi ternak yang dipotong ternak yang dipotong. Setelah sapi bali dan sapi madura, kehadiran sapi pasundan mulai dilirik untuk memenuhi segmen pasar ini karena mempunyai postur tubuh yang mirip dengan keduanya. Hal ini tentu saja bukan sesuatu yang aneh karena secara molekular sapi pasundan mempunyai kedekatan gen dengan kedua jenis sapi tersebut. 
 
 
Diliriknya sapi pasundan sebagai sumber sapi kurban dapat dilihat dari data populasi sapi jantan yang hanya menempati 25-30 % pada beberapa sentra sapi pasundan. Beberapa tahun ke depan untuk masukan sapi ini ke Jawa Barat sebagai sumber sapi kurban akan relatif sulit, karena kendala kuota sapi maupun persaingan meningkatnya permintaan daerah lain. Sapi pasundan menjadi solusi sulit dan terbatasnya kuota kiriman dari Indonesia timur. Harusnya ini menjadi peluang yang menarik sebagai landasan pengembangan sapi pasundan.
 
 
Kolaborasi antara ahli peternakan dengan praktisi kuliner, terutama hotel dan restoran dengan menerapkan inovasi teknologi aging menghasilkan daging sapi pasundan yang berkualitas premium. Hal in tentunya menggembirakan, seperti yang para penggagas pengajuan rumpun sapi pasundan yang menginginkan bahwa sapi pasundan sebagai penghasil daging premium untuk membidik segmentasi pasar khusus, bukan akhirnya menjadi baso di pasar becek. Ceruk ini walaupun permintaannya belum besar, tetapi mempunyai kesempatan untuk mendapat margin yang cukup besar. 
 
 
Sekarang disaat banjir daging impor dan harga sapi BX turun, menjadi kesempatan mencanangkan program pengembangan pembibitan sapi pasundan sebagai sapi penghasil daging yang baik dan berkualitas. Untuk menuju sebagai kelas pedaging yang diperlukan adalah langkah upgrading melalui perkawinan sapi pasundan yang memiliki berat tertinggi atau dengan perkawinan leluhurnya yang lebih unggul. Program pembibitan adalah program jangka panjang, yang tidak bisa diselesaikan oleh dua periode pilpres ataupun pilkada, sehingga program ini harus tetap berkelanjutan walaupun terjadi perubahan yang pejabat yang mempunyai otoritas. 
 
 
Optimisnya ketersediaan pasar akan mendorong masyarakat di daerah sentra pengembangan sapi untuk lebih giat lagi dalam beternak, dan menjadikan sapi pasundan sebagai alat ekonomi untuk mendongkrak hidupnya menjadi lebih sejahtera. Peternak pada dasarnya hanya membutuhkan kepastian harga dan kemudahan pemasaran, sehingga usaha dapat memberikan keuntungan.  Pengembangan untuk sementara diprioritaskan di daerah yang secara kultur telah terbiasa memelihara sapi pasundan, karena itu merupakan modal sosial terbesar, sehingga pernah mempunyai “passion” untuk menjadi yang terbaik. Kembangkanlah daerah tersebut menjadi kawasan pusat keunggulan dan cerita sukses dalam mengembangan sapi pasundan yang berkelanjutan. Jangan memaksakan pengembangan sapi pasundan di daerah yang tidak dan belum mengerti dalam pemeliharaan sapi pasundan. Kita sepakat bahwa tujuan utamanya pengembangan kawasan sapi pasundan adalah menjadikan sapi pasundan sebagai alat usaha ekonomi efisien dan berdaya saing untuk meningkatkan kesejahteraan.
 
 
Untuk menjadikan suatu daerah sebagai suatu kawasan pusat keunggulan tidak cukup hanya mengandalkan peternak sebagai sebuah komunitas masyarakat. Peran serta stakeholder pembangunan yang lain seperti pemerintah (pusat dan daerah), ilmuwan (perguruan tinggi dan lembaga penelitian), pengusaha, dan tentunya media sangat diperlukan untuk membuat sinergis program pengembangan. Perlu disadari bahwa tantangan yang akan dihadapi dan harus dicari solusinya bukan hanya berkutat pada tata kelola peternakan yang baik, tetapi akan banyak aspek seperti pemasaran, promosi dan publikasi, standardisasi, penyediaan saran produksi dan permodalan, pengelolaan pasca panen dan lingkungan, serta masih banyak aspek yang lainnya. Mari kita bersinergi, jangan biarkan peternak berjuang sendiri. TROBOS
 
 
*Associate Professor Pada Fakultas Peternakan Unpad
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain