Rabu, 1 Januari 2020

Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap Fiber Semen

Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap Fiber Semen

Foto: 
Sesi foto bersama para pemateri dengan peserta seminar Djabesmen

Meningkatkan pendapatan peternak dengan menekan biaya perawatan kandang menggunakan atap Djabesmen yang kuat, efisien dan tahan lama
 
 
Industri perunggasan saat ini sedang mengalami krisis karena banyak sekali masalah yang sedang dihadapi oleh para peternak lokal seperti tingginya angka kematian ayam hingga harga ayam yang sampai saat ini belum kunjung stabil. Sigit Prabowo selaku Ketua Harian Gopan (Gabungan Asosiasi Pengusaha Ayam Nasional) mengatakan bahwa perkembangan broiler saat ini sangat cepat sehingga diperlukan pakan yang benar serta kandang yang layak. Oleh karena kandang yang layak merupakan faktor yang penting dalam perkembangan ayam pedaging (broiler) maupun ayam petelur (layer) di Indonesia, maka PT Djabesmen menggelar seminar teknik atap peternakan dengan mengusung tema yaitu Meningkatkan Produktivitas Peternakan Ayam dengan Atap yang Kuat dan Menguntungkan. Adapun seminar ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Desember 2019 di Hotel Sapphire Sky BSD (Bumi Serpong Damai), Tangerang yang dihadiri oleh peternak dari berbagai wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. 
 
 
PT Djabesmen merupakan salah satu perusahaan material bangunan yang bergerak di bidang atap rumah dan telah berdiri sejak tahun 1971. Selama lebih dari 40 tahun, sudah banyak sekali konsumen yang telah menggunakan atap fiber semen merk Djabesmen sebagai atap rumahnya. Pepy Alamsjah selaku Chief Of Marketing Officer PT Djabesmen menjelaskan bahwa kemampuan Djabesmen ada pada atap bangunannya sehingga kami ingin bersumbangsih di bidang tersebut (sektor peternakan). Beliau juga menjelaskan bahwa atap fiber semen lebih cocok untuk dijadikan sebagai atap kandang terutama di Indonesia yang merupakan negara tropis karena mampu menahan terik panas matahari dengan baik. Selain itu, atap merk Djabesmen paling ekonomis sebab dapat bertahan selama 40 – 50 tahun. Beliau juga menjelaskan bahwa dengan menggunakan atap yang kuat, efisien dan tahan lama, peternak dapat menekan biaya perawatan kandang sehingga mampu meningkatkan pendapatan bagi peternak. Bahkan berdasarkan pengalaman beberapa peternak yang telah menggunakan produk Djabesmen, hasil produksi ternak mereka pun tetap baik. 
 
 
“Dengan menggunakan atap fiber semen dari Djabesmen, sudah terbukti mampu mere¬dam panas. Salah satu buktinya adalah atap fiber semen merk Djabesmen sudah diakui sebagai produk top brands dan ke depannya para peternak juga bisa menggunakan papan silikat merk ROYALboard sebagai plafon atau langit-langit pada kandang ternak. Semoga dengan dilaksanakannya acara ini, kami dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan budidaya ayam,” terang Pepy. 
 
 
Atap Kuat dan Menguntungkan 
Eko Yunianto selaku Sales Manager PT Djabesmen menerangkan bahwa ada lima jenis atap kandang yang paling sering digunakan oleh peternak yaitu pertama adalah seng sebagai salah satu atap yang cukup populer di Indonesia khususnya di Pulau Jawa karena dari segi pemasangannya cukup mudah. Kedua adalah genteng tanah liat dengan keunggulannya yaitu mampu menahan terik panas matahari dengan baik. Ketiga adalah atap rumbia yang berasal dari daun lontar yang kemudian diikat dan dijadikan sebagai atap rumah sehingga dari sisi harga cukup murah. Keempat adalah atap metal atau atap yang sering disebut juga dengan sebutan spandek ini memiliki ketahanan yang cukup lama dan tahan terhadap karat. Kelima adalah atap fiber semen yaitu atap yang terbuat dari campuran semen, fiber, air, dan pulp. Atap jenis ini memiliki ketahanan yang cukup lama bahkan sampai lintas generasi. Selain itu, ada beberapa kelebihan lainnya adalah pemasangannya cukup mudah, kuat dan tahan lama, biaya murah, tidak berisik, bebas karat dan mendukung produktivitas hewan ternak. 
 
 
Pada kesempatan ini, beliau juga memaparkan bahwa dari kelima jenis atap yang sering digunakan sebagai atap kandang, genteng tanah liat merupakan atap dengan insulator terbaik dimana daya panas matahari hanya 40%, atap fiber semen 47% dan atap seng 74%. Selain itu, kebisingan adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan di dunia peternakan unggas. Oleh sebab itu, beliau menyarankan agar sebaiknya menghindari penggunaan atap material yang berisik seperti atap seng atau atap metal agar tidak membuat unggas menjadi ketakutan/stres. 
 
 
Berdasarkan perhitungan pada tabel tersebut, terlihat bahwa atap fiber semen jauh lebih efisien dari sisi jumlah atap yang dibutuhkan sehingga durasi pembangunan lebih pendek serta lebih ekonomis dari sisi biaya. Selain itu, ketahanan atap fiber semen yang mampu bertahan hingga 25 tahun membuat produk ini menjadi atap unggulan dan pilihan bagi para peternak. 
 
 
Akan tetapi, Eko Yunianto mengungkapkan bahwa tidak semua atap fiber semen memiliki keunggulan-keunggulan seperti yang telah dijelaskannya. Oleh sebab itu, beliau menyarankan agar para peternak dapat menggunakan atap fiber semen merk Djabesmen. Beliau menjelaskan bahwa ada empat hal penting yang membedakan atap Djabesmen dengan atap fiber semen merk lain yaitu dari sisi produk, merk, distribusi dan pemasangan. Dari sisi produk, Djabesmen memiliki ber-bagai jenis dan varian terlengkap mulai dari atap dengan 6 gelombang, atap dengan 11 gelombang, atap dengan 14 gelombang, atap genteng dan nock. Tujuannya adalah untuk memberikan pilihan bagi peternak sehingga mampu menentukan atap yang cocok bagi kandang peternakannya sendiri. Dari sisi merk, Djabesmen telah mendapatkan TOP BRAND Award sebanyak 5 kali berturut-turut sejak penghargaan tersebut pertama kali diadakan di tahun 2015 dan kualitasnya pun telah teruji SNI (Standar Nasional Indonesia). Hal ini menjadi jaminan bagi para peternak untuk kelang¬sungan usahanya. Dari sisi distribusi, produk Djabesmen telah tersebar luas hampir ke seluruh Indonesia sehingga memudahkan bagi para peternak untuk mencarinya di toko-toko bangunan terdekat di kotanya. Terakhir dari sisi pemasangan, atap Djabesmen tidak hanya cocok dengan rangka kayu saja melainkan juga rangka baja ringan sehingga pemasangannya sangat fleksibel. 
 
 
Budidaya yang Efisien dan Efektif 
Sigit Prabowo menyampaikan bahwa saat ini ada banyak peternak millennial yang berkecimpung di budidaya ayam sehingga diharapkan muncul ide inovasi baru terutama dalam menciptakan kandang yang nyaman bagi ayam. Selain itu, mengingat bahwa kondisi perunggasan di Indonesia yang masih bersifat struktural dualistik (ada pelaku usaha besar maupun kecil), maka beliau juga menyampaikan bahwa pemerintah perlu turut mengambil andil dalam industri perunggasan sehingga mampu menciptakan regulasi yang adil dan menguntungkan bagi para pelaku usaha. 
 
 
Pada saat sesi diskusi, Bendahara Umum Tri Group, Setya Winarno memaparkan data statistik konsumsi daging ayam di Indonesia. Pria yang kerap disapa Winarno ini mengaku konsumsi daging ayam pada 2018 di Indonesia sudah mencapai 15,5 kg per kapita per tahun. “Trennya naik terus, sehingga kebutuhan daging ayam pun ikut naik. Kemudian persentase konsumsi daging segar ayam ras pada 2017 menduduki tingkat pertama di Indonesia yaitu sebesar 77,3% dan diikuti dengan konsumsi daging asal ternak lainnya,” jelas Winarno. 
 
 
Menurut data BPS 2017, konsumsi daging broiler di Indonesia adalah yang paling besar bila dibandingkan dengan konsumsi daging asal ternak lainnya, seperti ayam kampung (10,6%), sapi (6,4%), babi (3,6%), kambing (0,7%), bebek (0,7%) dan kerbau (0,0%). Meskipun demikian, Indonesia masih belum termasuk dalam top 10 poultry meat consumers by countries yang diungguli oleh Israel, Amerika Serikat (AS), Malaysia, Australia, Saudi Arabia, Argentina, Brazil, Chili, Afrika Selatan dan Selandia Baru. Adapun Indonesia berada di urutan ke tiga belas setelah Cina dan Uni Eropa. 
 
 
Pada momen yang sama, Ramadhana Dwi Putra Mandiri selaku Direktur Tri Satya Mandiri (Tri Group) menyebutkan bahwa ada tiga hal yang menjadi pondasi keberhasilan produksi ayam, yaitu topografi, kandang dan manajemen. Beliau mengatakan bahwa topografi dan kandang bersifat baku, artinya apabila diubah atau pun dimodifikasi maka memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, berbeda dengan manajemen yang bisa ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan pula performa ayam dan juga produksinya. 
 
 
Rama juga menjelaskan bahwa saat ini ia tengah mengembangkan prototip kandang broiler yang dilatarbelakangi oleh fenomena tergerusnya lahan hijau yang telah berubah menjadi bangunan maupun perumahan. Kandang ini dikembangkan agar dapat meminimalisir waktu pembangunannya. “Kami melakukan pre-fabrication untuk memproduksi material kandang dalam waktu 2 – 3 pekan dan dikirim ke lokasi kandang maksimal 3 pekan. Kandang portabel ini sudah finishing dan siap untuk running. Ini adalah terobosan yang kita buat,” katanya. Rama menambahkan bahwa kandang portabel ini mudah untuk dibawa serta ada keterangan nomor-nomornya guna memudahkan pada saat proses pemasangan. Rama mengatakan bahwa nama prototip kandang tersebut adalah kandang rakyat digital, dengan prinsip tunnel system. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain