Minggu, 12 Januari 2020

Telah Lahir 30 Ekor Anakan Sapi Komposit Lembu Gama

Telah Lahir 30 Ekor Anakan Sapi Komposit Lembu Gama

Foto: dok.ntr


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Obsesi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada untuk membentuk genetik sapi tripel komposit “Lembu Gama” telah menunjukkan tanda keberhasilan dengan lahirnya 30 ekor anakan sejak 2019 sampai awal 2020 ini.

 

Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus saat menerima kunjungan rombongan wartawan di kandang Bengkel Ternak Kalijeruk - Sleman (Jumat, 10/1) menjelaskan, Lembu Gama yang berumur hampir 1 tahun mencapai bobot 450 kg.

 

“Kelihatannya tubuhnya pendek, tetapi kalau ditimbang bobotnya di atas rata-rata sapi crosbred. Pertumbuhan lebih cepat, karena pada umur yang sama rata-rata bobot sapi jenis lain antara 300kg-350 kg. Induknya yang umur 34 bulan mencapai bobot 900 kg,” ungkap dia sambil menunjukkan sapi dimaksud yang sedang diumbar.

 

Induk yang dimaksud adalah sapi dobel komposit keturunan pejantan belgian blue dikawinkan dengan betina brahman cross. Lembu Gama yang sudah mulai terbentuk ini memiliki komposisi genetik 50% belgian blue (BB), 25% brahman cross (Bx) dan 25% wagyu.

 

“Kita sedang teliti karakter produksi dan reproduksi dari induk dobel komposit maupun tripel komposit Lembu Gama. Sifat reproduksi yang sudah selesai diuji adalah kualitas sperma, hasilnya bagus sehingga layak dikembangkan terus untuk proses seleksi dan breeding selanjutnya,” tutur Ali Agus.

 

Namun, uji kualitas daging belum sempat dilakukan karena belum pernah memotong sapi, baik yang tripel komposit maupun yang dobel komposit. “Setelah berumur 4 tahunan nanti kita baru akan potong. Sekarang masih eman-eman karena masih dipakai untuk breeding,” tandasnya.

 

Panjono, peneliti Lab Ternak Potong dan Kerja Fapet UGM yang juga tim Lembu Gama menerangkan, riset akan diteruskan untuk mengetahui karakter Lembu Gama pada kadar darah BB yang berbeda-beda. “Pada kadar darah BB 50% ini, secara eksterior karakter double muscle masih kurang terlihat. Nanti kita akan coba pada kadar genetik BB di atas 50%, misal 75%, hasilnya seperti apa. Selain itu apakah karakter toleran terhadap lingkungan tropis Indonesia masih sebaik yang diperlihatkan pada Lembu Gama berkadar darah BB 50%,” dia memaparkan.

 

Diterangkannya, genetik BB diharapkan menyumbangkan kecepatan pertumbuhan, bentuk tubuh besar, dan sifat perototan double muscle. Genetik brahman cross diharapkan memberikan sifat toleran terhadap kondisi iklim dan pakan pada kondisi tropis. “Brahman cross berlambung besar, sehingga menampung pakan lebih baik, dan daya cerna lebih baik. Sapi BB berlambung kecil, sehingga kualitas pakan harus bagus dan sebentar-sebentar minta makan. Dia juga tidak tahan panas,” urai dia. Sedangkan genetik sapi wagyu diharapkan memberikan struktur perlemakan otot (marbling) yang lebih baik, sehingga daging yang dihasilkan lebih berkualitas dan lebih empuk.

 

Ali Agus menggarisbawahi, dari ketigapuluh anakan Lembu Gama yang lahir, tidak satupun terjadi kesulitan melahirkan (dystocia). “Straw sperma BB yang kami gunakan berbeda dengan sperma BB yang beredar di pasaran. Kami mendapatkan straw langsung dari peneliti sapi BB di University of Liege Belgia. Awalnya kami mendatangkan 30 straw. Tahun ini kita mendatangkan lagi 3.000 straw, dan sudah diinseminasikan sebanyak 200 straw pada induk brahman di kandang breeding mitra swasta kita di Cianjur,” dia menerangkan. Genetik sapi BB grade riset ini memiliki karakter bobot lahirnya tidak terlalu besar sehingga terhindar dari resiko kesulitan melahirkan yang memerlukan tindakan operasi caesar.

 

Kesulitan melahirkan anakan sapi BB, Ali melanjutkan, juga terjadi pada induk sapi lokal yang menjadi akseptor transfer embrio BB. “Sapi lokal bunting sapi BB darah murni, sehingga tidak mampu melahirkan secara normal karena ukuran pedetnya besar. Sehingga harus operasi. Hal ini tidak terjadi di kandang Center of Excellence (CoE) tempat membentuk Lembu Gama, karena kami tidak melakukan transfer embrio. Melainkan inseminasi buatan, sehingga yang lahir adalah sapi blasteran BB dengan induk brahman,” dia memaparkan.

 

Menjawab pertanyaan awak media tentang masa depan pengembangan Lembu Gama ini, Ali Agus menyatakan sapi ini merupakan final stock, sehingga harus berakhir di pemotongan ternak dan tidak boleh dikembangkan lagi karena beresiko ‘mencemari’ genetik sapi lokal. “Kita akan kembangkan dengan kemitraan tertutup, karena sapi ini harus dipelihara dengan teknologi pakan dan manajemen yang memadai. Kalau berada pada kondisi pakan seadanya, hasilnya tidak akan bagus,” jelasnya.

 

Lembu gama merupakan proyek riset jangka panjang kerjasama Fapet UGM dengan PT Widodo Makmur Perkasa. Kerjasama ini menggunakan framework Center of Excellence. Framework ini tak hanya mengembangkan Lembu Gama, namun juga bengkel ternak sapi, untuk memperbaiki kondisi sapi yang kondisinya buruk mulai dari usia pedet lahir sampai dengan sapi dewasa. ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain