Sabtu, 1 Pebruari 2020

Urgen ! Pembibitan Domba & Kambing

Urgen ! Pembibitan Domba & Kambing

Foto: bella


Permintaan yang terus meningkat baik untuk pasar domestik maupun mancanegara menuntut solusi yang komprehensif untuk mengatasi keterbatasan pasokan. Kuncinya, ada di segmen pembibitan yang harus dipacu agar semakin berkembang 
 
 
Usaha peternakan domba dan kambing (doka) di tanah air semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Namun di saat permintaan doka terus meningkat bisnis ini menghadapi tantangan dari sisi pasokan yang belum mengimbanginya.
 
 
Bagi para pelaku yang bergerak di bisnis doka, usaha peternakan ruminansia kecil ini sangat menjanjikan serta mampu memberikan keuntungan yang menggiurkan. Ilustrasi dari pengalaman Martinus Alexander sebagai peternak yang fokus di pembibitan kambing boer dan persilangannya di Mojokerto, Jawa Timur bisa menjadi rujukan betapa menggiurkannya bisnis ini. “Misalnya, ada 10 ekor indukan, kemudian melahirkan anak atau cempe sebanyak 15 ekor. Setelah 9 bulan, berat sapihnya mencapai 20 kg dengan harga terendah berada di angka Rp 55.000 per kg jika betina. Sehingga harga per ekor adalah Rp 1.100.000 dan apabila dikalikan dengan 15 ekor maka akan mendapatkan Rp 16.500.000 per ekor. Kalau jantan harganya bisa mencapai Rp 70.000 per kg. Tinggal dikalikan saja,” jelas pria yang akrab disapa Alex ini kepada TROBOS Livestock.  
 
 
Selain itu, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia juga masih menjalankan tradisi adat maupun agama. Salah satunya adalah akikah yang menggunakan doka sebagai syarat untuk disembelih. Upacara keagamaan bagi umat Islam ini digelar demi menyampaikan pernyataan syukur orang tua atas kelahiran anaknya, dan pada umumnya dilakukan pada hari ke-7 setelah bayi lahir. 
 
 
Kondisi itu tak pelak membuat permintaan akan ternak jenis ruminansia kecil ini tinggi. Diutarakan Ketua Umum HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia), Yudi Guntara Noor, selain pangsa pasar domestik yang besar untuk permintaan akikah, juga sudah menjamur restoran yang menyajikan daging doka sebagai menu utama. “Ternyata kebutuhan doka yang harus dipenuhi sebanyak 1 juta ekor per tahun,” ungkapnya. 
 
 
Disamping permintaan doka yang meningkat di dalam negeri, banyaknya permintaan dari luar negeri juga menambah tantangan baru bagi para peternak. Negara-negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura yang biasanya mengimpor doka dari Australia, kini sudah mulai melirik Indonesia sebagai alternatif pemasok doka. Hal ini dikarenakan Australia sudah memperketat persyaratan untuk negara tujuan ekspornya dalam sektor peternakan. 
 
 
Apalagi, saat ini China sedang dilanda kasus African Swine Fever (ASF) pada babi. “Kita ketahui bersama, masyarakat China mengkonsumsi daging babi secara masif. Dengan adanya ASF ini, maka permintaan daging babi di sana menurun dan mereka mengganti daging babi dengan daging doka sebagai makanan utama. Peluang ini yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh para peternak dan pemerintah,” tandas Yudi. 
 
 
Pasar Berkembang
Dalam perkembangannya, populasi doka di tanah air relatif cukup banyak. Pengalaman di 2016 terdapat populasi doka sekitar 30 juta ekor yang diiringi dengan harga jual yang sangat rendah yakni Rp 23.000 per kg. Hal ini membuat peternak kesulitan karena doka hasil pemeliharaannya dibanderol dengan harga yang relatif murah. “Sampai pada saat itu, kalau beli domba dengan harga Rp 1 juta bisa mendapatkan 3 ekor sekaligus,” kenang Yudi. 
 
 
Nyatanya, permintaan doka kian hari semakin meningkat dengan harga yang berada pada level cukup tinggi. Harga untuk betina sudah berada di kisaran Rp 43.000 – 45.000 per kg dan jantan Rp 58.000 – 65.000 per kg. “Apalagi sekarang muncul tren baru, yakni rumah makan penyedia daging doka dengan umur di bawah 5 bulan, sehingga menambah segmen pasar penyerapan daging doka,” ujar Sekretaris HPDKI Jawa Barat, Bahrudin. 
 
 
Meskipun menurut Statistik Peternakan 2018 populasi doka mencapai lebih dari 36 juta ekor namun sejalan dengan perkembangan pada industri hilir, maka populasi yang banyak inipun masih terasa kurang. Diungkapkan Ketua HPDKI Jawa Timur, Heryo Shasikirono, pasokan doka di dalam wilayah Jawa Timur sendiri tersendat. “Adanya ketersendatan ini dikarenakan populasi doka di Jawa Timur menurun sehingga tidak mampu memenuhi permintaan, baik untuk jantan maupun betina,” kata pria yang juga berprofesi sebagai dokter hewan ini. 
 
 
Perkembangan pangsa pasar domestik tentunya tinggi. Di saat yang sama, permintaan doka dari luar Indonesia juga terpantau besar. Tetapi Heryo menyebut, Indonesia masih belum sanggup melayani kebutuhan pasar luar negeri karena kebutuhan nasional pun masih sulit dipenuhi. 
 
 
Selain populasi doka yang tak sanggup dipenuhi untuk ekspor, masalah harga juga menjadi kendala. Ari Dwiyanto, salah satu penyedia atau pemasok doka di sektor pembibitan menuturkan bahwa ia telah mendapatkan pesanan doka sebanyak 1.000 ekor per bulan ke Malaysia dan Thailand dalam bentuk hidup. Namun, harga yang tinggi di dalam negeri membuyarkan segalanya sehingga tidak ada kesepakatan akhir dengan pembeli. 
 
 
Kendala Bibit
Regulasi mengenai dilarangnya pemotongan betina produktif yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang masih sering dilanggar rupanya menjadi salah satu faktor adanya kelangkaan bibit. Tidak terkecuali pada komoditas domba dan kambing.
 
 
Alex menilai, seekor ternak betina diperbolehkan untuk dipotong, asalkan sudah diberi kesempatan untuk berproduksi minimal 1 kali. “Kalau betina tidak diizinkan berproduksi sekali sebelum dipotong, maka lambat laun populasinya akan habis. Tapi, kalau dibiarkan berproduksi dahulu, minimal ada penggantinya,” ujar dia.
 
 
Menurut Ketua PPKDY (Perserikatan Kambing Domba Yogyakarta), Aprilia Respati Adi, secara garis besar, bibit doka memang sedang langka. Kelangkaan yang terjadi disebabkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang berimbas pada permintaan doka untuk kebutuhan akikah dan kurban. “Kelangkaan pasokan bibit doka harus dipahami sebagai salah satu indikator semakin sejahteranya masyarakat Indonesia dan hal itu sangat positif,” kata dia. 
 
 
Namun bagi pria yang akrab disapa Didik ini menekankan, semua kendala yang terjadi bermuara pada pasokan bibit. Pelaku usaha di hilir mengalami kesulitan mendapatkan pasokan doka hasil penggemukan, seiring dengan itu segmen penggemukan ini tidak memiliki kepastian pasokan bakalan sehingga pasokan bibit menjadi tidak optimal atau efisien,” jelas dia. Untuk itu, tantangan yang sesungguhnya dihadapi adalah bagaimana meningkatkan populasi serta terus berusaha secara efisien. 
 
 
Yudi pun berpandangan, sangat tidak tepat apabila menyembelih betina produktif untuk selanjutnya dijual dan dikonsumsi masyarakat. Meskipun, pada pasal selanjutnya memperbolehkan penyembelihan betina produktif untuk acara keagamaan. “Kami mencoba berbicara dengan pemerintah, kalau pemerintah membuat peraturan tetapi banyak sekali yang melanggar, bahkan hampir seluruhnya, maka ada yang salah dengan aturan tersebut. Karena, pada saat aturan tersebut dibuat, mereka tidak melihat kondisi di lapangan,” sesalnya. 
 
 
Pengawasan yang longgar terkait adanya praktik pemotongan kado betina produktif di lapangan ini tidak dapat dibiarkan. “Kalau di UU sudah jelas pemotongan betina yang tidak boleh dilakukan adalah yang masih produktif. Tapi apabila sudah berumur 5 tahun ke atas dan sudah tidak berproduksi, maka boleh dipotong,” ujar Heryo.
 
 
Solusi Bibit
Permintaan doka yang meningkat dan di sisi lain pasokan bibit justru stagnan atau cenderung menurun, maka perlu dilakukan solusi agar kebutuhan pelaku usaha di dalam negeri tetap aman dan bisnisnya bisa berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah melakukan importasi bibit doka. “Importasi bibit yang ada saat ini pada sektor peternakan doka dirasa masih terlalu berbelit, sangat berbeda dengan prosedur importasi bibit yang diberlakukan pada ternak sapi,” keluh Yudi. 
 
 
Ia menyesalkan, keharusan untuk mengikuti tahapan seperti pendaftaran dan pelepasan bibit serta hal lainnya masih diberlakukan untuk importasi bibit doka. Namun pada komoditas sapi, hal demikian sudah tidak ada. Sapi jantan dan sapi betina jenis apapun, jika masih sanggup dikawinkan dan berproduksi, maka diizinkan untuk diimpor. “Kami pun mempertanyakan, apa bedanya sapi dengan doka? Mengapa doka harus didaftarkan terlebih dahulu dengan mengikuti tahapan yang ada, sementara sapi tidak. Seharusnya disamakan saja supaya tidak memakan waktu yang lama,” usul Yudi. 
 
 
Ketua HPDKI Jawa Barat, Sofian Hadi menyerahkan sepenuhnya kebijakan terkait dengan importasi bibit doka ini kepada pemerintah. Namun, ia tetap mengharapkan adanya kejelasan dan aturan terkait dengan upaya dalam mendongkrak kembali harga doka jantan dan betina. “Kesulitan mencari doka bakalan yang ada saat ini berimbas pada tingginya harga doka betina. Selain itu, maraknya penyembelihan betina produktif juga terjadi. Apabila tidak ada tindakan tegas, yang pasti terjadi adalah sumber bibit doka akan berkurang bahkan habis dan bisa berujung pada impor bakalan doka,” jelas Opie, sapaan akrabnya. 
 
 
Apabila impor sudah terjadi, maka kekhawatiran lain muncul, yaitu peternak tidak mampu lagi mengendalikan harga pada doka. “Pengendalian harga bisa saja dilakukan oleh pemerintah atau bahkan negara asal bibit doka tersebut dan ini yang nantinya akan memberatkan,” kata Bahrudin menambahkan. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 245/Februari 2020
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain