Kamis, 13 Pebruari 2020

Mini Ranch Sapi Potong di Lahan Pascatambang

Mini Ranch Sapi Potong di Lahan Pascatambang

Foto: ist/dok.CBC Indonesia


Kutai Kartanegara (TROBOSLIVESTOCK.COM). Lahan pascatambang batubara di desa Jonggon Jaya dan Margahayu, kecamatan Loa Kulu, kab Kukar, provinsi Kalimantan Timur disulap menjadi mini ranch sapi potong untuk produksi (sapi bakalan dan penggemukan), laboratorium akademik dan percontohan (center of excellence).

 

Miniranch bernama “Jayatama” ini merupakan program kerjasama PT Multi Harapan Utama (MHU Coal), pemerintah daerah Kalimantan Timur dan akademisi yang tergabung dalam Yayasan CBC Indonesia.

 

Tim Ahli Yayasan CBC, Rochadi Tawaf menyatakan lahan pascatambang di kedua desa tersebut memiliki potensi sumberdaya alam yang besar bagi pengembangan peternakan, didukung oleh sumberdaya manusia setempat. Masyarakat sekitar telah memelihara sapi bali sejak 1987, secara berkesinambungan. Kedua desa itu terdapat 5 (lima) kelompok peternak yang memelihara sapi dengan jumlah tidak kurang dari 1.800 ekor.

 

Selain itu, mini ranch ini juga digagas menjadi laboratorium lapangan pengembangan sapi lokal terintegrasi di lahan pasca tambang oleh Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong, Universitas Mulawarman Samarinda, dan Universitas Padjadjaran Bandung,

 

“Peletakan batu pertama program CSR (corporate social responsibility) mini ranch oleh direksi PT MHU, Dinas Peternakan prov Kaltim dan perwakilan tiga perguruan tinggi di Jonggon Jaya Kukar pada 11 Februari,” ungkap Rochadi, yang juga dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran - Bandung.

 

Budidaya sapi potong pada mini ranch ini diperkenalkan kepada masyarakat setempat untuk memperbaiki pola pemeliharaan sapi bali secara ekstensif, tradisional - tanpa dikandangkan dan tidak sepenuhnya bersifat komersial.

 

Dijelaskan Rochadi, pada pemeliharan ekstensif tradisional itu perkawinan ternak, kebuntingan, kelahiran dan pembesaran berlangsung secara alami tanpa adanya pengelolaan khusus. Pola ini menemui kendala berupa rendahnya produktivitas induk, tingginya kematian pedet (± 30%), serta tingginya infeksi parasitik pada sapi muda dan dewasa. Secara keseluruhan, pertumbuhan dan perkembangan populasi ternak menjadi tidak optimal.

 

Diuraikannya, mini ranch ini mengadopsi pola produksi ternak ala ranch namun dengan skala lebih kecil. Tujuannya untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pascatambang untuk produksi ternak sapi.

 

Sebagai program CSR, menurut Rochadi pengelolaan mini ranch Jayatama akan dilaksanakan sepenuhnya bersama masyarakat peternak melalui kemitraan pengembangbiakan (breeding & rearing partnership) dan pelayanan agribisnis (agribusiness development services).

 

Pengembangan mini ranch dimulai dengan revitalisasi lahan penggembalaan serta membangun kandang pre / post partus dan fasilitas dasar lainnya. Peternak selanjutnya dapat melakukan kegiatan produksinya di dalam mini ranch sebagai bagian dari skema kemitraan pengembangbiakan sapi bali.

 

Program breeding dimulai sejak induk dikawinkan, kebuntingan, kemudian melahirkan sampai dengan anak sapi lepas sapih umur 8 bulan. Setelah itu, peternak dapat melanjutkannya ke program rearing di dalam mini ranch sesuai kesepakatan.

 

Adapun program rearing dilakukan sejak lepas sapih sampai sapi berumur 18 bulan. Selama pembesaran, sapi mendapatkan perlakuan tambahan agar tumbuh dengan optimal. Setelah tercapai, peternak memiliki opsi untuk melanjutkan ke fattening, terutama untuk ternak jantan. Sementara betina dapat digunakan sebagai replacement induk bagi peternak.

 

Program fattening adalah skema pelayanan agribisnis bagi peternak. Rochadi menjelaskan skema ini bersifat komersial, untuk menjamin keberlanjutan program. Sapi jantan / betina umur 18 bulan digemukkan selama 4 bulan sebelum dipasarkan. Layanan utama yang diberikan di dalam skema ini adalah custom feeding dan pemasaran. ist/rw/yops, ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain