Minggu, 1 Maret 2020

Suryo Suryanta: Efisiensi Pakan Broiler di Kandang Terbuka

Suryo Suryanta: Efisiensi Pakan Broiler di Kandang Terbuka

Foto: trobos
Suryo Suryanta

Kandang terbuka sudah tidak asing lagi di dunia perayaman. Kandang model ini masih cukup banyak digunakan di budidaya broiler (ayam pedaging). Perkiraan di lapangan setidaknya 40 % populasi broiler masih menggunakannya. Kandang dibuat dengan bahan lokal dari kayu atau bambu sedangkan atapnya menggunakan genting tanah liat, masih banyak yang menggunakan daun rumbia atau aren, dan sebagian pakai seng atau asbes.
 
 
Dari tinjauan lapangan, kandang terbuka ini banyak tersebar di seluruh wilayah sentra budidaya broiler mulai dari Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali serta tersebar di Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi. Hal ini menunjukkan bahwa kandang terbuka untuk budidaya broiler sudah memasyarakat. 
 
 
Kelebihan dari kandang terbuka diantaranya infrastruktur sederhana dan posisi kandang menyebar di penduduk karena hidup berdampingan dengan masyarakat. Posisi kandang berada di samping rumah, bahkan di sentra peternakan ayam kebanyakan setiap keluarga mempunyai kandang. Karena pada dasarnya kandang merupakan tumpuan hidup dari keluarga peternak. 
 
 
Sebanyak 40 % dari populasi 60 juta DOC (ayam umur sehari) per minggu dengan kapasitas rataan 10 ribu ekor maka terisi 2.400 kandang dengan lama pemeliharaan 5 minggu dan 2 minggu masa istirahat, maka sedikitnya ada 16.800 kandang terbuka. Jumlah ini akan melibatkan 1 keluarga pemilik dan 2 pekerja sebagai operator kandang yang masing-masing sudah berkeluarga dan dua anak saja, maka setidaknya ada 201.600 orang yang menerima manfaat dengan ada kandang terbuka ini.
 
 
Performa Tidak Tercapai
Sayangnya, kandang terbuka ini sudah mulai banyak yang compang-camping dan rusak karena umur dan tidak terurus dengan baik. Bahkan tidak sedikit yang menjadi ironis karena sematan nama sebagai peternak hilang seiring dengan roboh kandangnya. 
 
 
Mengapa kondisi ini bisa terjadi, tidak lain karena terkendala oleh dua faktor utama yaitu harga pasar yang selalu terkoreksi sedangkan performa tidak mampu mencapai di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Performa yang kurang baik biasanya mengalami permasalahan yang umum terjadi adalah secara ukuran badan ayam besar tetapi bobot kurang. Bahasa lapangannya dengan panen 2 kg up : dari 50 kg pakan mestinya bisa dapat bobot panen 31 kg namun umumnya hanya mendapatkan 28 kg bahkan hanya 27 kg. Kondisi ini yang membuat jumlah pakan yang dihabiskan sampai panen tidak seimbang dengan jumlah daging yang dihasilkan.
 
 
Meskipun demikian jangan menganggap kandang terbuka jelek, perlu diingat bahwa kandang terbuka adalah sumber pendapatan peternak rakyat. Marilah bagi yang masih mempunyai kandang terbuka mencari solusi untuk bangkit mencapai performa yang efisien setiap penggunaan 50 kg pakan untuk bisa menghasilkan setidaknya 31 kg bobot panen sehingga bisa mencapai di bawah HPP yang artinya setiap kandang terbuka bisa mendapatkan keuntungan (profit).
 
 
Memperhatikan Fisiologis Ayam 
Kata kunci fisiologis ayam adalah broiler memiliki batas maksimum suhu lingkungan toleransi yaitu 28 ˚C, sedangkan suhu lingkungan idealnya di 20-24 ˚C. Untuk mendapatkan wilayah yang memiliki suhu lingkungan ideal juga sangat susah, karena suhu bisa rendah bahkan bisa di kisaran 18-22 ˚C saja pada saat malam hari, namun pada saat siang hari mencapai suhu 30 ˚C bahkan bisa mencapai 35 ˚C. 
 
 
Yang terjadi jika suhu di atas 28 ˚C maka secara otomatis suhu tubuh ayam akan meningkat dari suhu normal 40 ˚C merangkak ke 41-42 ˚C. Kondisi ini menjadikan stres panas bagi ayam, sehingga secara fisiologis internal tubuh ayam akan membuang panas tubuh tersebut agar suhu tubuh tidak semakin naik. Efek panas ini akan membuat ayam membuang panas yang berupa uap air.
 
 
Ayam tidak mempunyai kelenjar keringat sehingga pembuangan panas melalui penguapan permukaan tubuh (evaporasi) dan dengan lewat pernapasan (panting). Pada kondisi panas lingkungan dalam batas toleransi normal maka proses penguapan 70 % dan panting 30 %, namun bila kondisi panas lingkungan di atas batas toleransi maka pembuangan panas dengan penguapan hanya 30 % dan dengan panting 70 %. Dengan kondisi panting 70 % ini menyebabkan ayam mengalami penguapan yang berlebihan yang menyebabkan efek terjadi kehilangan nutrisi untuk pembuangan panas tersebut. 
 
 
Setiap 1 ml uap air melalui panting membutuhkan 540 kalori. Artinya, bila ayam sehari makan 100 gram akan minum sekurangnya 250 ml air, bila penguapan sampai 10 % saja setidaknya 25 ml air harus diuapkan sehingga membutuhkan 25 x 540 kalori = 13.500 kalori, dengan kandungan pakan 3000 Kkal, maka setidaknya 5 gram per hari hanya untuk membuang panas tubuhnya. Sehingga dengan faktor ini menjadi jawaban mengapa bobot panen bisa kurang 5 % atau ketinggalan 1 hari dari standarnya.
 
 
Efek dari panting yang berlebihan tidak hanya kehilangan nutrisi, tetapi juga akan mengganggu metabolisme. Panting menyebabkan kalsium di dalam darah tidak bisa terserap dengan baik sehingga terbuang begitu saja. Kejadian ini menjadi tidak sederhana karena di dalam metabolisme faktor kalsium menjadi sangat penting dalam memobilisasi protein yang didalamnya tersusun asam amino sehingga asam amino yang tercerna juga akan menjadi berkurang. Akibat langsung dari kekurangan kalsium yaitu proses pembentukan tulang (kalsifikasi) dan sintesa protein terhambat sehingga proses pertumbuhan terhambat. Anggap saja menyebabkan ketinggalan pertumbuhan sebanyak 5 % atau kurang satu hari maka pertumbuhan ayam menjadi ketinggalan sebanyak 2 hari.
 
 
Efek panting akan berkelanjutan lagi secara eksternal, dengan penguapan 25 ml air per ekor akan menjadi 250 liter atau air segentong dari populasi 10.000 ekor, maka kelembapan dalam kandang semakin tinggi dan memerlukan pembuangan. Kondisi di kandang terbuka hanya mengandalkan buka tutup tirai dan pelebaran, namun pemahaman yang dibenturkan dengan ayam kedinginan maka kebanyakan atau umumnya tirai selalu tertutup dan pelebaran lambat maka dalam kandang akan terasa panas “empep”. 
 
 
Kelembapan yang tinggi menyebabkan panas dalam kandang sehingga akan menyebabkan proses pembentukan amonia di litter semakin cepat, sehingga amonia juga meningkat cepat yang menyebabkan iritasi di saluran pernapasan ayam. Kondisi ini bisa menjadi awal atau gerbang terhadap gangguan kesehatan ayam, mulai dari yang kecil cekrek dan bisa menimbulkan infeksi bakteri karena bakteri E. coli yang ada di dalam tubuh menjadi tidak seimbang atau seolah-olah ganas sehingga muncul infeksi E. coli. Bisa dikatakan bahwa, sumber problemnya adalah “buka tirai dan pelebaran yang telat”.
 
 
Pertumbuhan dan Konversi Pakan terhadap Nilai Ekonomis
Sangat penting berupaya di kandang terbuka bisa mendapatkan keuntungan dengan mencapai pertumbuhan sesuai standard sehingga konversi pakan juga di standard. Berikut data korelasi Pertumbuhan, Konversi Pakan dan Nilai Ekonomisnya seperti pada Tabel 1. 
 
 
Pada kondisi umum masih diperoleh pertumbuhan terlambat 2 hari dengan konversi pakan di 1,8 yaitu kelebihan atau deviasi 0,23 atau 23 % dari standard. Dengan kondisi ini maka diperoleh HPP Rp 18.570 per kg sedangkan harga pasar di kisaran Rp 18.000 per kg panen maka sudah tentu mengalami kerugian. Langkah yang harus dilakukan adalah menuju pertumbuhan on standard dengan konversi pakan juga on standard dengan bobot panen 2,1 kg ketemu FCR (Rasio Konversi Pakan) 1,62 maka akan diperoleh HPP Rp 16.363 per kg serta akan mencapai keuntungan di kisaran Rp 1.000 per kg bobot panennya.
 
 
Upaya harus meningkat bagi kandang yang sudah bisa mencapai pertumbuhan dan konversi pakan on standard, bahkan harus mengupayakan menuju pertumbuhan lebih maju 2 hari sehingga akan ketemu FCR setidaknya di 1,5 sehingga akan diperoleh HPP Rp 15.151 per kg, maka akan mendapatkan profit Rp 2.850 per kg atau bisa Rp 6.200 per ekor. Upaya ini bukan hal yang mustahil bila semua proses dicermati dengan baik.
 
 
Tabel 2 adalah hasil aktual proses di kandang dari performa sebelumnya dengan FCR di 1,8 bisa ditingkatkan performanya ke FCR di 1,62. Dari data hasil performa tersebut diperoleh FCR 1,6 artinya dari 50 kg pakan menghasilkan 31 kg bobot panen, akan diperoleh HPP Rp 16.000 per kg yang artinya akan memperoleh keuntungan Rp 2.000 per kg.
 
 
Yang menjadi penting adalah upaya mencapai konversi pakan yang standard dengan mengoptimalkan pertumbuhan ayam “selagi bisa” artinya kapan bisa memaksimalkan pertumbuhan harus bisa didapatkan. Langkah yang bisa ditempuh dengan melakukan pendataan kenaikan bobot badan harian sejak awal, sehingga bila ada keterlambatan bisa langsung melakukan perbaikan. 
 
 
Kenaikan berat badan yang paling efektif adalah pada minggu awal dimana ADG bisa mencapai 100 % artinya secara standard konsumsi pakan 14 gram dan juga kenaikan bobot badan juga 14 gram. Pada hari kedua masih mencapai 94 % konversi pakan terhadap pertumbuhan, selanjutnya hari ketiga masih mencapai 86 %. Ini bukti nyata bahwa pada masa-masa awal sangat urgen untuk dipahami pola brooding yang paling ideal untuk pertumbuhan anak ayam. Grafik 1 menunjukkan konversi pakan dan efektivitas penggunaan pakan terhadap pertumbuhan.
 
 
Sebagai langkah teknis adalah membiasakan kepada setiap pelaksana di kandang atau disebut sebagai operator kandang untuk bisa melakukan penimbangan bobot badan harian dan tentunya data ini harus diolah dijadikan dasar pijakan dalam melakukan proses pemeliharaan hariannya di kandang. Grafik 2 menggambarkan data penimbangan berat badan harian.
 
 
Langkah teknis di kandang dengan memaksimalkan daya upaya agar kenaikan bobot badan harian on standard, sehingga bisa memastikan konsumsi pakan harian bisa nyata efektif untuk kenaikan bobot badan dengan menghilangkan berbagai faktor kendala atau pengganggu terhadap penyerapan nutrisi pakan. Faktor pengganggu itu adalah kurangnya udara karena teknis pemahaman buka tirainya belum pas bahkan masih ragu atau takut ayam kedinginan. 
 
 
Perlu kesadaran bahwa udara juga merupakan nutrisi sehingga perlu diberikan ketersediaan yang cukup. Di kandang terbuka, buka tirai pada saat siang dan terutama pada saat malam hari sangat penting disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ayam. Foto 1 menggambarkan pada saat 9 hari pelebaran sudah penuh dan pembukaan tirai pada saat malam sudah benar-benar terbuka dan nyata tidak ada ayam yang kedinginan tetapi sebaliknya kondisi anak ayam sangat nyaman, menyebar, dan aktivitas makan sangat baik. 
 
 
Dalam memudahkan aplikasi teknis di kandang perlu dicarikan langkah-langkah praktis yang membuat mudah bagi operator kandang dalam menjalankan proses teknis perawatan anak ayam. Berikut adalah contoh langkah teknis di kandang dalam mengoperasikan kompor pemanas. Untuk menghindari anak ayam kepanasan, maka dilakukan dengan pola penyalaan mundur seiring umur harinya meningkat. Proses penyalaan kompor tentu disesuaikan dengan suhu lingkungan yaitu kompor pemanas nyala pada saat memang sudah diperlukan dari kebutuhan pemanas sesuai umur anak ayam. Contoh berikut adalah kompor nyala pada hari pertama dan kedua pada jam 15 sore, selanjutnya pada hari ketiga sudah nyala jam 17, hari keempat sudah nyala jam 19 malam, dan terus mundur sesuai kondisi suhu di kandang. TROBOS
 
 
 
*Konsultan Perunggasan
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain