Rabu, 11 Maret 2020

Perkembangan Produksi Itik di Indonesia Lambat

Perkembangan Produksi Itik di Indonesia Lambat

Foto: ilustrasi/dok.TrobosLivestock


Sumatera Barat (TROBOSLIVESTOCK.COM). Periset dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) – Bogor, L Hardi Prasetyo menyatakan produksi telur itik di tanah air ada perkembangan tetapi lambat.

 

Dijelaskannya mayoritas produsen masih peternak kecil dengan sistem produksi semi intensif. Modernisasi sistem produksi sudah berlangsung tapi perlu akselerasi. “Sistem pembibitan dan penetasan modern dan komersial serta teknologi produksi sudah tersedia untuk pembibitan dan budidaya,” ujar Hardi pada diskusi panel unggas air “Peran MIPI dalam Pengembangan Teknologi dan Industri Unggas Air” di Peternakan Convention Center (PCC) Fapet Unand Limau Manis, Padang Sumatera Barat pada (11/3).

 

Selain itu, pelaku usaha di bisnis telur itik pun telah berhasil menembus pasar Singapura tetapi suplainya belum berkelanjutan. Juga masalah utama konsistensi dan kualitas produk (higienis) perlu ada standardisasi di bisnis itik ini.

 

Meskipun budidaya itik sudah dilakukan turun-temurun, namun sebagai industri, Hadi Prasetya menganggap sebagai industri, produksi daging itik di Indonesia merupakan industri baru dan sedang tumbuh. Dari segi produksi daging itik Indonesia berada di posisi 15.

 

“Sistem produksi belum tertata dengan baik dan sistem tata niaga juga belum terbentuk dengan baik,” jelasnya pada diskusi yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia / MIPI atau World’s Poultry Science Association (WPSA Indonesia) bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Fapet Unand) ini.

 

Pada forum yang sama, Fahmida Manin dari Unja (Universitas Jambi) yang membawakan topik tentang pelestarian itik kerinci sebagai plasma nutfah Provinsi Jambi mengungkapkan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir populasi itik kerinci di sentra pengembangan yaitu Desa Koto Majidin Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci mengalami penurunan yang sangat drastis sekitar 5,16 % per tahun. “Saat ini keberadaan bibit murni hanya tinggal 5 %,” sesalnya. 

 

Ia mengimbuhkan, tingginya permintaan akan daging dan telur itik menyebabkan peternak mendatangkan itik jenis lain dari luar seperti dari pulau Jawa sehingga menyebabkan terjadi perkawinan silang. “Kondisi ini mengancam kelestarian genetik itik kerinci sehingga perlu upaya pengembangan usaha bibit murni,” sarannya.

 

Dukungan Riset

Sebenarnya, pengembangan itik di Indonesia telah didukung oleh berbagai riset ilmiah, termasuk untuk mengeksplorasi itik-itik lokal khas suatu daerah. Ruspidra, peneliti dari Unand menyatakan terdapat 4 jenis itik lokal di Sumatera Barat yaitu itik pitalah, itik bayang, itik sikumbang jonti, dan itik payakumbuh. “Dengan potensi ini perlu mapping riset SDG itik lokal Sumatera Barat mulai dari breeding, pakan, pasca panen, sosial ekonomi, dan kelembagaan,” katanya.

 

Ia pun mengusulkan pembentukan konsorsium riset itik lokal Sumatera Barat yang melibatkan peneliti dari Unand, Universitas Eka Sakti, Universitas Taman Siswa, Politeknik Pertanian Payakumbuh, BPTP Sumatera Barat, Dinas Peternakan Sumatera Barat, dan industri perunggasan. “Perlu disusun juga roadmap riset itik lokal Sumatera Barat untuk rentang 2020 -2045,” sarannya.  

 

Memaparkan hasil penelitiannya, Rd Triana Susanti dari Balitnak menegaskan peternak membutuhkan bibit yang unggul dalam produksi dan efisien dalam penggunaan pakannya. Menjawab kebutuhan itu, Balitnak melakukan riset berupa seleksi untuk membentuk galur itik yang memiliki efisiensi pakan tinggi. Indikatornya, konversi pakan (FCR, feed conversion ratio) bisa ditekan hingga di bawah 3.

 

“Balitnak dan telah menghasilkan bibit unggul hasil riset yaitu itik alabimaster-1 Agrinak, Mojomaster-1 Agrinak, dan itik PMp yang sudah tersebar di peternak dibeberapa daerah di Indonesia,” urainya.

 

Teknologi molekuler juga dimanfaatkan untuk menyeleksi sifat unggul itik. Kusnadidi Subekti dari Unand menggunakan teknologi ini untuk memperoleh marking gen sebagai dasar pembentuk itik toleran terhadap panas di Sumatera Barat.

 

Pada diskusi ini dia memaparkan, Sumbar memiliki SDG itik lokal paling banyak di Indonesia. “Hasil riset saya menunjukkan itik bayang dan payakumbuh memiliki toleransi panas yang lebih baik dibandingkan itik kamang dan payakumbuh berdasarkan ekspresi gen HSP70. Keragaman yang tinggi pada single nucleotide polymorphism (SNP) gen HSP70 dapat digunakan sebagai marka molekuler sifat toleransi panas pada itik lokal,” tuturnya.

 

Pria yang akrab disapa Didi ini mengatakan, perkawinan dalam rumpun dengan tujuan pemurnian untuk sifat toleransi panas dapat dilakukan pada itik bayang dan payakumbuh. “Kami mengusulkan agar itik kamang dan payakumbuh dapat diajukan dalam penetapan rumpun itik nasional,” tegasnya. rw/yops


 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain