Kamis, 19 Maret 2020

Harga Jual Sapi Merangkak Naik di Lampung

Harga Jual Sapi Merangkak Naik di Lampung

Foto: dok.datuk


Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Harga jual sapi hidup dari peternakan di Provinsi Lampung mulai bergerak naik. Kenaikan tersebut dipicu oleh naiknya permintaan daging, berkurangnya stok sapi di Jawa dan dampak kebakaran hebat di Australia.

 

Menurut Benny Soekarno, peternak sapi di pekon (desa-red) Tulung Agung, Kecamatan Gadingrejo, kabupaten Pringsewu, provinsi Lampung, mulai ada pergerakan kenaikan permintaan sapi sejak awal Maret ini shingga harga jual sapi hidup naik dari Rp 42.500/kg menjadi Rp 43.500/kg. Namun harga daging di pasar masih tetap yakni Rp 110 hingga Rp120 ribu/kg.

 

“Permintaan sapi mulai ada peningkatan seiring mulai ramainya hajatan menjelang bulan puasa. Namun kelihatannya kenaikannya tidak bakal signifikan karena, kini banyak usaha katering dan bakso yang menggunakan daging impor sebagai upaya menekan biaya bahan baku, meski citarasa masakannya tidak seenak jika menggunakan daging lokal,” ujar Benny kepada  TROBOSLIVESTOCK.COM, Rabu (19/3).

 

Benny yang memulai usaha penggemukan sapi sejak tahun 2007 ini mengaku, bisnis sapi mengalami sepi sejak awal tahun ini karena daging boks masuk ke pasar-pasar tradisional. “Kita tidak mungkin bersaing dengan daging impor. Sebab biaya produksi daging kerbau India sangat rendah karena berasal kerbau liar. Lalu daging impor dari Brasil berasal dari sapi-sapi perah yang sudah tidak produktif alias afkir sehingga harga jual sapi tersebut juga murah sekali,” ungkap Benny yang juga memiliki RPH di bawah bendera AM Farm.

 

Yang bisa dilakukan, sambungnya, hanya meningkatkan efisiensi. Mau mengurangi atau mengubah komposisi pakan tidak mungkin karena akan berpengaruh kepada ADG dan kualitas daging.

 

Soal jenis sapi yang banyak diminta pedagang, dijelaskan Benny, jika dahulu, konsumen masih banyak memilih daging sapi lokal karena lebih empuk dan lemaknya minim sehingga pedagang sapi lebih banyak memilih sapi lokal.

 

“Sekarang sudah tidak demikian lagi karena kualitas daging sapi Bx pun juga sudah cukup bagus, lemaknya sudah semakin sedikit-- menyamai sapi lokal. Demikian pula citarasanya, konsumen sudah sulit membedakan mana daging sapi lokal dan bx,” tambahnya. 

 

Di tempat terpisah, Sarjono, Ketua Kelompok Peternak Limosin Kampung Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, juga mengungkapkan, untuk sapi lokal harga mulai bergerak step by steb. Sekarang posisi harga jual sapi lokal Rp42-Rp42.500/kg. Kayaknya bakal menembus Rp43-44 ribu/kg menjelang hingga pasca Lebaran.

 

“Penyebabnya di antaranya, stok sapi lokal di Jawa kurang. Saat ini banyak sapi dari Lampung yang dikirim ke Jawa untuk stok qurban. Kalau stok sapi potong, saat ini cenderung cukup karena stok sapi Bx dari feedtloter dari stok lama cukup banyak,” tutur Sarjono via telepon.

 

Kecuali itu, lanjutnya, kenaikan harga juga dipicu oleh kurs dolar AS yang terus naik, bahkan sudah di atas 15 ribu rupiah per dolar. Lalu di Australia sendiri stok bakalan juga menipis karena kebakaran yang meluas. Kondisi ini diperparah pula oleh merebaknya virus corona yang membahana sehingga berdampak luar biasa ke segala sektor ekonomi.

 

Sarjono yang saat ini memiliki stok sapi lebih 300-an ekor tersebut memperkirakan kian mendekati bulan puasa sampai dengan Lebaran dan Idhul Adha harga sapi cenderung naik karena stok sapi lokal maupun sapi Bx menurun. ed/datuk

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain