Rabu, 1 April 2020

Membedah Kandang Modifikasi

Membedah Kandang Modifikasi

Foto: dok. edi hidayat


Sistem modifikasi kandang membuat performa ayam jauh lebih baik dan efisien. SDM harus siap dalam mengoperasikan teknologi baru dan harus bersedia untuk belajar teknik baru ini. Lakukan secara bertahap, sesuaikan dengan kesiapan mental & modal yang ada 
 
 
Mengubah open house (kandang terbuka) yang dimodifikasi menjadi kandang semi modern telah menjadi tren di kalangan peternak broiler (ayam pedaging). Tuntutan ini menjadi pilihan melihat tantangan lingkungan di peternakan seperti penyakit dan fluktuasi cuaca dan iklim yang berpengaruh terhadap performa ayam.
 
 
Pengalaman pemilik Kartika Farm, Wayan Suadyana, bisa menjadi gambaran transformasi dan adopsi teknologi untuk kandang terbuka yang dilakukan peternak broiler di daerah Bogor Jawa Barat ini. Awalnya, Wayan menggunakan kandang terbuka mulai kandang darat kemudian sistem panggung untuk memelihara ayam di 2005. “Kandang sistem panggung menjadi solusi saat itu karena amonia bisa sedikit lebih dikontrol. Turun sekam saat berat ayam sekitar 7-8 ons sehingga amonia tidak terlalu bau. Performa ayam pun lebih bagus,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock. 
 
 
Saat itu, lanjut Wayan, IP (Indeks Performa) tidak mencapai angka di atas 300 tetapi di kisaran 225-250 tetapi sudah profit. “Mencari margin saat itu lebih mudah dibandingkan saat ini. Dengan kandang panggung terbuka posisi harga ayam hidup Rp 15.000 per kg sudah untung. Tidak seperti sekarang yang sangat sulit mendapatkan margin kalau melihat HPP (Harga Pokok Produksi) di kandang,” ucapnya. 
 
 
Dengan kondisi itu, mau tidak mau Wayan harus beradaptasi melalui upaya memodifikasi kandang dimulai dari sistem tunnel closed house. “Berkaca pengalaman para peternak di Jawa Tengah di 2018, closed house modifikasi berkembang pesat dan menggerakkan perekonomian disana. Meskipun populasi broiler meningkat signifikan dan harga ayam hidup menjadi rendah,” katanya. Setelah ia amati, modifikasi yang di maksud tidak seperti modifikasi closed house modern yang biayanya Rp 60.000 per ekor. 
 
 
Mulai April tahun lalu, Wayan membuat semi closed house dengan kapasitas 8.000 ekor. Menaikkan daya listrik menjadi 3 phase agar stabil dan membeli genset. Membeli blower bekas kandang layer (ayam petelur) yang ada rangkanya Rp 1,5 juta sehingga tinggal membeli motornya saja sehingga total biaya untuk membeli ini sekitar Rp 2,5 juta. Untuk layar dan paranet menggunakan bekas kandang yang ada. “Dengan hanya membeli 3 komponen itu (genset, daya listrik, blower) biaya diperkirakan sekitar Rp 6.000 per ekor atau jika dikali dengan 8.000 ekor biaya totalnya menjadi Rp 48 juta,” kilahnya.
 
 
Populasi ayam yang bisa dipelihara juga meningkat dari 10-11 ekor per m2 bisa menjadi 16-18 ekor per m2. Dengan kandang ini yang tadinya FCR (rasio konversi pakan) 1,7-1,8, bisa diterpangkas di bawah 1,45. “Saya pun hanya menggunakan pakan premium di 10 hari pertama yang harganya sekitar Rp 10 ribu per kg. Setelah itu memakai pakan reguler,” ujarnya.
 
 
Sebagai gambaran panen menggunakan kandang ini, dengan populasi 8.000 ekor, FCR yang dicapai, 1,41 dengan bobot rata-rata di 1,25 kg dan IP sekitar 310. IP tidak terlalu tinggi karena panen ayam kecil. “Saya tidak terlalu meributkan soal IP. Yang pentingkan FCR, karena IP nanti tergantung yang mempengaruhi yaitu mortalitas, kualitas DOC yang dipakai dan jenis pakannya,” katanya.
 
 
Wayan menyatakan, sejak membuat kandang modifikasi, ia berani menargetkan biaya operasional di kandang Rp 3.000 per ekor dengan HPP diangka Rp 16.700 – 17.000 per kg. “Perubahan menggunakan kandang modifikasi itu harus dimulai dari sekarang meskipun hasilnya masih kalah dengan closed house murni tetapi, minimal sudah mendekati,” ucapnya.
 
 
Ia menekankan, teknologi kandang yang dibuat harus menyesuaikan SDM (Sumber Daya Manusia) yang digunakan. Sebagai peternak rakyat mandiri yang operator kandangnya kebanyakan lulusan sekolah menengah pertama ke bawah tidak bisa mengadopsi teknologi yang terlalu tinggi. Artinya, jangan sampai teknologi dengan SDM tidak nyambung. 
 
 
Setelah Wayan membuat kandang sistem tunnel atau semi closed house ini banyak perubahan yang terjadi. Untuk minggu pertama kandang mencapai target suhu di 34-35 0C. Di umur 2 minggu ke atas pun target suhu 30 0C bisa tercapai karena dengan posisi kandang tertutup yang dilakukan, suhu dan pertumbuhan ayam bisa mengikuti. Agar suhu stabil, Wayan pun mengantisipasi kondisi layar yang tipis dengan memasangnya di luar dan di dalam kandang. Apalagi di umur 7-14 merupakan masa krusial bagi ayam.
 
 
Target di minggu pertama, bobot 200 gram dengan FCR di bawah 1 pun bisa tercapai. Di minggu ketiga pun bobot bisa tercapai sesuai buku panduan, 1 kg. Artinya, di umur 21 hari bobot ayam rata-rata 1 kg dengan FCR 1,1 sudah tercapai hampir sama dengan closed house. “Namun saya melakukan penjarangan dan berakhir di umur 30 hari sehingga bobot rata-rata akan bermain di 1,25 – 1,45 kg berbeda dengan full closed house yang FCRnya jauh lebih efisien karena bermain di ukuran besar,” terangnya. 
 
 
Namun kelemahan kandang sistem modifikasi panel ini yaitu terjadi perlambatan pertambahan bobot ayam ketika musim hujan pemanas sudah dicabut pada saat umur 14 hari ke atas. Juga pada siang hari yang panas terjadi masalah karena memakai layar bekas, suhu di luar pun masih terasa sehingga seperti buang-buang energi karena blower harus nyala untuk menyedot. Kelemahan lainnya, Wayan tidak mengubah peralatan kandang yang ada serta blower yang digunakan merupakan rakitan yang harganya bisa lebih murah. 
 
 
Akhir tahun lalu pun Wayan membuat kandang modifikasi 2 lantai. Biaya untuk membangun kandang Rp 10.000 per ekor sudah termasuk tenaga kerja atau total sekitar Rp 110 juta. Sedangkan untuk peralatan biayanya Rp 6.000 per ekor dikali populasi 14.000 ekor atau sekitar Rp 84 juta.
 
 
Ragam Modifikasi Kandang
Model modifikasi kandang terbuka yang bisa dilakukan peternak jika ingin beternak lebih efisien dan performa ayam optimal yaitu dengan upgrade menjadi kandang tertutup menggunakan prinsip perhitungan ventilasi yang benar. “Di daerah yang suhu luarnya ketika siang hari tidak terlalu ekstrem, bisa menggunakan closed house tanpa cooling pad, tetapi di daerah yang suhu siang harinya ekstrem maka lebih baik memakai cooling pad,” jelas Senior Sales Representative PT BD Agriculture Indonesia, Edi Hidayat.
 
 
Menurut Edi, modifikasi bisa dilakukan menjadi beberapa tahap yaitu exhaust fans (blower); watering system (nipple), lebih efektif dan efisien jika di pasang di kandang yang panjangnya lebih dari 50 m. Manfaat sistem ini adalah sanitasi dan kebersihan air minum untuk ayam lebih terjaga; feeding system (augermatic system), lebih efektif dan efisien jika di pasang di kandang yang panjangnya lebih dari 50 m. Manfaat sistem ini adalah distribusi pakan lebih merata; serta cooling pad system. Dengan dipasangnya cooling pad akan mencegah terjadinya stres panas dikala suhu sudah ekstrem.
 
 
Ia melanjutkan, unsur penting yang terdapat dari setiap model modifikasi kandang terbuka yaitu air speed yang dibutuhkan broiler modern saat ini adalah 3 m/s. Jumlah exhaust fans (blower) yang harus terpasang di kandang dihitung berdasarkan lebar dan tinggi kandang, panjang kandang tersebut yang korelasinya ke pressure drop, serta fans capacity dari exhaust fansnya (blower) itu sendiri. “Prinsip closed house adalah meminimalkan kebocoran atau leaking. Tidak boleh adanya leaking atau kebocoran karena akan memperbesar pressure drop dalam kandang sehingga bisa mengurangi fans capacity,” paparnya.
 
 
Edi menyampaikan, pada prinsipnya cara kerja closed house dengan cooling pad dan closed house tanpa cooling pad adalah sama, yaitu ventilasi diatur oleh controller unit yang dilengkapi oleh sensor-sensor. Pengaturan controller unit tersebut sesuai dengan kebutuhan sesuai umur ayam. Setting point suhu dan minimum ventilasi yang di input ke dalam controller unit adalah berdasarkan rekomendasi dari breed company atau strain ayam tersebut, seperti Cobb, Ross atau Indian River. “Setting point yang dimasukkan adalah dihitung berdasarkan efek windchill sesuai umur ayam. Yang paling penting adalah tidak boleh mengurangi minimal kebutuhan ventilasi yang dibutuhkan ayam. Pemanas yang bisa dipakai di closed house ini banyak macamnya, seperti gasolec, carbon heater atau space heater,” jelasnya.
 
 
Ia menambahkan, keunggulan ketika kandang sudah diubah menjadi closed house dengan cooling pad dan juga dipasang watering system serta feeding system maka density atau kepadatan ayam menjadi 15-17 ekor per m2, sehingga kapasitas kandang menjadi optimal. Potensi genetik dari ayam broiler tersebut bisa dimaksimalkan. “Jika kandang hanya dimodifikasi dengan pemasangan exhaust fans maka kepadatan ayam hanya bisa di sekitar 12,5 – 13,5 ekor per m2. Kelemahannya dari modifikasi ini adalah biaya investasi awal yang masih dirasakan mahal oleh peternak dan minimnya lahan yang dimiliki menyebabkan modifikasi tersebut kurang efisien.
 
 
Direktur PT Unigro Artha Persada, Teddy Chandra berpendapat, kalau kandang terbuka harus diatur sirkulasi udara yang baik dan selalu ada hembusan udara sehingga disarankan kandang panggung, desain atap yang cukup ruang untuk udara lewati, jenis atap yang dapat meredam panas, serta dipasangkan kipas blower untuk sirkulasi udara pada saat mati angin. “Unsur penting yang terdapat dari setiap model modifikasi kandang terbuka yaitu bentuk dan struktur kandang, jenis atap kandang dan lantai kandang. Kalau kandang awal sudah panggung, dapat dibuatkan closed house 2 lantai. Lantai bawah yang tadinya tempat kotoran akan dijadikan kandang ayam juga sehingga populasi akan meningkat,” urainya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 247/April 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain