Rabu, 1 April 2020

Eko Prasetio: Titik Lemah Broiler Modern di Masa Pancaroba

Eko Prasetio: Titik Lemah Broiler Modern di Masa Pancaroba

Foto: trobos
Eko Prasetio

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Indonesia, terutama Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara akan terjadi pada April hingga Oktober 2020. Namun, dimulainya musim kering tidak berlangsung secara serempak di seluruh daerah. 
 
 
Berdasarkan prediksi BMKG terkait dengan sifat hujan pada April tersebut (Gambar 1), dijumpai di sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia kasus hujan dalam batas di atas normal sudah mulai jauh berkurang jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (baik di Maret ataupun Februari dengan curah hujan rata-rata dalam setiap bulan sangat tinggi (>200 %). Perubahan karakter tipe musimpun akan semakin terasa. Pada saat siang hari dimana suhu lingkungan bahkan bisa mencapai 37-38 °C, namun akan dijumpai sore menjelang malam potensi diguyur hujan deras, sebagai sisa dari bulan sebelumnya. Ekstremnya cuaca yang terjadi akan menyebabkan fluktuasi suhu dan kelembapan lingkungan yang semakin tajam. Perbedaan yang terlalu mendadak inilah yang perlu penyesuaian tata la  kenyamanan broiler modern. Begitu kenyamanannya terganggu maka tidak hanya potensi genetiknya yang tidak akan muncul optimal, namun bahkan bisa menyebabkan stamina dan kesehatannya akan terganggu oleh kuman patogen yang infeksius ataupun penyakit metabolik (respiratory alkalosis, heat stress/stroke, sudden dead syndrome, asidosis, dll). Hal inilah yang harus benar-benar di monitor lebih rinci sebagai praktisi lapangan, terkait dengan beberapa kebijakan produksi yang harus disesuaikan dengan dinamika cuaca yang ada.
 
 
Dalam menghadapi tantangan cuaca yang ekstrem, broiler modern mempunyai beberapa kelemahan di sistem pernapasannya. Alat pernapasan ini mempunyai fungsi yang sangat vital selain untuk mensuplai kebutuhan oksigen di level jaringan atau sel, bahkan di dunia unggas paru-paru bisa berfungsi untuk mengatur suhu tubuh dengan proses evaporasinya. Proses tersebut sangat penting mengingat bangsa unggas tidak memiliki kelenjar keringat sebagaimana bangsa mamalia, sehingga kelebihan panas tubuh akan di buang dengan meningkatnya proses evaporasi yang terjadi di dalam paru-paru ayam. Manifestasi klinis yang bisa kita amati adalah dengan adanya gejala panting (megap-megap/terengah-engah).
 
 
Sekedar mengingatkan bahwa kecepatan tumbuh yang menjadi salah satu karakter broiler modern ini mempunyai dampak fisiologi yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan ayam petelur, ayam kampung, puyuh, unggas air (bebek, angsa), burung ataupun bangsa unggas lainnya. Potensi genetik broiler modern ini memang dipacu untuk tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan bangsa unggas lain. Ada beberapa cara broiler modern membuang kelebihan panas dalam tubuhnya sebagai dampak dari tingginya metabolisme tubuhnya tersebut : 
 
1. Radiasi
Upaya pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh secara langsung dari seluruh permukaan tubuh ke udara sekitarnya. Gejala yang bisa diamati seperti melebarkan sayap, bulu yang berdiri secara intermitten dan membuka sayap lebar-lebar. Hal tersebut merupakan usaha ayam untuk mengoptimalkan pengeluaran kelebihan panas tubuh lewat proses ini.
 
2. Konduksi
Upaya pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui kontak langsung dengan benda-benda disekitarnya. Gejala yang bisa diamati seperti menempelkan tubuh ke bagian dinding kandang yang lebih dingin, mendekati seng brooding yang lebih rendah suhunya, atau membenamkan tubuhnya ke dalam litter (mandi litter).
 
3. Konveksi 
Upaya pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui perpindahan fluida. Contohnya melalui aliran udara yang membawa panas tubuh ayam, adanya fenomena “main” air yang dilakukan oleh ayam, bahkan akan minum banyak (meningkatnya water intake). Beberapa kejadian yang sering terjadi adalah terisinya tembolok yang sebagian besar adalah air. Dan dampak negatifnya adalah munculnya gejala wet dropping/diare (dimana kotoran ayam mengandung jumlah air yang cukup tinggi, sehingga menyebabkan penyerapan nutrisi akan berkurang). Dampak lanjut jika proses ini terjadi dalam waktu panjang akan menyebabkan keseragaman ayam pecah, adanya gangguan defisiensi yang berat (bulu kusam, kelemahan umum, lemah) dan larinya FCR (rasio konversi pakan).  
 
4. Evaporasi
Upaya pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui proses penguapan yang terjadi di dalam paru-paru. Untuk mengoptimalkan pembuangan kelebihan panas maka ayam akan muncul gejala panting. Pada tahap ini, pelepasan kelebihan energi panas (kcal/jam) menempati porsi paling besar dibandingkan dengan tahapan lain (Holik, 2010) (Gambar 2). Dari beberapa cara yang sudah dijelaskan di atas, yang sangat erat hubungannya dengan sistem pernapasan ayam adalah dengan cara evaporasi. 
 
 
Evaporasi dalam konteks ini sering dipahami sebagai proses perubahan molekul air dari bentuk cair menjadi gas yang terjadi di rongga paru paru ayam (parabronchus) yang disertai oleh pelepasan energi panas. Pada saat yang sama terjadi pula proses pertukaran oksigen dan karbondioksida yang diikat oleh haemoglobin (Hb) darah dalam bentuk oksihemoglobin dan karbominohemoglobin di level jaringan. 
 
 
Laju kecepatan evaporasi ini sangat dipengaruhi oleh situasi suhu dan kelembapan lingkungan. Laju kecepatan tersebut tidak hanya sangat berdampak pada proses pertukaran molekul oksigen dan karbondioksida, namun juga secara langsung akan berdampak pula pada proses pelepasan kelebihan energi panas dari tingginya metabolisme sebagai salah satu karakter dari broiler modern yang sudah dijelaskan sebelumnya. 
 
 
Pada saat suhu di luar cukup tinggi, maka proses evaporasi tersebut akan terjadi tidak hanya menggunakan energi dari tubuh ayam, namun juga dipengaruhi oleh tingginya suhu di luar tubuh ayam. Sehingga upaya ayam untuk melepaskan energi dengan cara evaporasi ini akan terhambat. Hal tersebut akan menyebabkan proses pertukaran oksigen dan karbondioksida menjadi tidak optimal. 
 
 
Sebagai upaya tubuh untuk mengkompensasi kebutuhan oksigen di level sel atau jaringan, maka ayam akan meningkatkan frekuensi pernapasan. Dari sisi klinis bisa dilihat muncul gejala panting. Demikian juga pada saat terjadi kondisi dimana kelembapan lingkungan sangat tinggi. Pada saat kelembapan cukup tinggi (di atas 80 %) di lingkungan ayam dipelihara, kandungan uap air jenuh (H2O gas) dalam satu volume udara tertentu juga cukup tinggi. Hal ini akan menyebabkan proses evaporasi ini akan terganggu. Dampak lanjut yang sama akan terjadi, ayam akan tetap kepanasan dan pada titik tertentu akan mengalami kesusahan dalam membuang panas tubuhnya. 
 
 
Perubahan cuaca saat musim pancaroba akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan broiler modern dalam usahanya untuk membuang kelebihan sisa panas tubuhnya. Baik oleh faktor suhu yang tinggi pada siang hari dan kelembapan yang tinggi pula saat tiba-tiba hujan deras pada sore menjelang malam hari saat musim pancaroba ini. Dalam beberapa tahun terakhir banyak dijumpai kasus yang berhubungan dengan sistem pernapasan. Sehingga pada kesempatan ini akan diuraikan lebih dalam beberapa titik lemah saluran pernapasan pada broiler modern terutama bertujuan untuk meminimalisir risiko/dampak negatif dari perubahan cuaca ekstrem pada musim pancaroba. Beberapa diantaranya adalah : 
 
a. Tidak ada katup yang membatasi sinus dengan saluran pernapasan bagian atas.
Di bagian kepala, terdapat sinus dimana sinus ini merupakan suatu ruang kosong yang berfungsi untuk mempertahankan otak dari berbagai getaran/benturan. Ada 3 sinus utama yang mengelilingi area mata yaitu sinus infraorbitalis, sinus supraorbitalis, dan sinus periorbitalis. Namun sayangnya tidak ada katup penutup antara saluran pernapasan dengan rongga ini. Sehingga konsekuensi dari kondisi ini, adanya debu yang terhirup (yang di dalamnya memungkinkan terkandung banyak kuman), menyebabkan sinus menjadi sangat mudah terinfeksi. Ada beberapa jenis kuman yang berpotensi menginfeksi rongga ini, diantaranya adalah Mycoplasma, Haemophillus, E. Coli, Pasteurella, dan Avian Pneumovirus. Dikarenakan adanya perbedaan kondisi fisiko kimiawi di masing-masing sinus, menyebabkan beberapa jenis mikroba/kuman akan tumbuh subur dan dominan pada area tertentu, namun cenderung kurang bisa berkembang di sinus yang lain. Misalnya Mycoplasma lebih suka dan tumbuh subur di sinus infraorbitalis, sehingga apabila ayam terserang oleh kuman ini biasanya kelopak mata ayam bagian bawah lebih bengkak dibandingkan dengan kelopak mata bagian atas, sehingga pertemuan kelopak mata atas dan bawah akan cenderung dibagian kelopak mata bagian atas (Gambar 3). Berbeda halnya dengan Haemophillus yang lebih suka menempati sinus supraorbitalis sehingga gejala kebengkakan yang muncul cenderung di kepala bagian atas (Gambar 4). 
 
b. Kondisi paru-paru ayam yang masif (tidak bisa mengembang dan mengempis), tidak ada pembatas (diafragma) antara rongga dada dan rongga perut.
Berbeda dengan mamalia yang mempunyai diafragma sebagai organ pembatas antara rongga perut dan rongga dada, hewan bangsa unggas tidak memilikinya. Pertukaran udara pernapasan terjadi oleh bantuan kantong hawa dan otot perut dimana dengan kerja kedua organ pendukung ini meyebabkan udara bersirkulasi dua kali dengan sekali hirup. Pada saat udara dihirup dan memasuki saluran pernapasan, udara tersebut akan melewati paru-paru untuk pertama kalinya. Setelah sampai di ujung kantong hawa dan kemudian dihembuskan maka udara akan kembali melewati paru-paru untuk yang kedua kalinya menuju lubang hidung untuk dikeluarkan. Hal tersebut bisa terjadi karena peran dari kantong hawa dimana di mamalia tidak memilikinya. Gambar 5a.1 menunjukkan, efisiensi udara pernapasan ini terjadi lebih optimal dibandingkan dengan mamalia, karena dengan sekali hirup maka udara pernapasan akan memasuki paru-paru sebanyak 2 kali. Namun pada Gambar 5a.2, titik kritis dari kondisi ini yang menyebabkan titik lemah adalah apabila kandungan udaranya kotor (banyak debu/banyak kuman bibit penyakit), maka akan melewati paru-paru juga 2 kali dengan sekali hirup. Sehingga paru-paru ayam akan mudah terjadi peradangan dan terjadi infeksi. Dan manakala paru-paru yang berada satu rongga dengan organ pencernaan ini terinfeksi maka akan dengan mudah penyakit tersebut menular ke organ-organ pencernaan. Salah satu contohnya adalah Aspergillosis (Gambar 5b). 
 
c. Kantong hawa yang tersebar di seluruh rongga tubuh 
Keberadaan kantong hawa sebagai organ vital pernapasan sangat berperan saat terjadi inspirasi (menghirup udara pernapasan) dan pada saat ekspirasi (menghembuskan udara pernapasan). Kantong hawa ini menjadi hulu/ujung udara pernapasan yang membentuk kantong (saccus) dimana muara udara yang dihirup ini akan tertangkap pada semua bagian kantong hawa yang tersebar di rongga tubuh ayam. Sehingga apabila ayam tersebut menghirup udara yang kualitasnya jelek (kaya debu dan kuman bibit penyakit) maka akan segera tertangkap di kantong hawa yang tersebar merata di seluruh ruang rongga tubuh. Sehingga penyebaran penyakit yang berasal dari bibit penyakit tersebut akan semakin cepat (Gambar 6). 
 
d. Kantong hawa mempunyai pembuluh darah yang sangat minimal
Selain secara anatomi kantong hawa tersebut tersebar di seluruh rongga tubuh ayam, dan merupakan muara akhir dari organ pernapasan dan dengan kondisi tersebut mudah mengalami infeksi dan keradangan (air sacculitis), kantong hawa tersebut mempunyai vaskularisasi yang sangat minim, sehingga pada saat terkontaminasi oleh bibit penyakit maka sel darah putih sebagai sel pertahanan tubuh ataupun sel mediator radang tidak akan mampu dalam jumlah banyak meminimalisir dampak dari laju infeksi kuman. Demikian pula apabila dilakukan pengobatan dengan antibiotik, maka antibiotik yang dibawa darah menuju kantong hawa tidak akan mampu memberikan efek terapi yang signifikan karena minimnya vaskularisasi pembuluh darah yang ada di kantong hawa (Gambar 7). Sehingga saat terjadi infeksi maka infeksi tersebut akan semakin cepat menyebar dengan tingkat keparahan yang berat serta sulit disembuhkan. Yang tadinya bening menjadi keruh berkabut bahkan mengalami penebalan. Misalnya saat menderita Collibacillosis (Gambar 8).
 
e. Sistem pertahanan transportasi mukosiliaris yang rentan terhadap faktor stres
Salah satu mekanisme pertahanan di sepanjang saluran pernapasan terutama di trachea (tenggorokan) adalah dengan adanya bulu getar (cillia) di permukaannya. Selain itu, keberadaan sel Goblet yang selalu mensekresikan mucus (cairan yang di dalamnya mengandung immunoglobulin) membentuk lapisan lendir sebagai pertahanan lokal, yang mampu meminimalisir kuman/bibit penyakit mendekati sel induk semang untuk melakukan invasi. Komponen-komponen ini akan saling berkolaborasi dengan gerakan bulu getar untuk mengeluarkan setiap ada benda asing ataupun kuman yang masuk di saluran pernapasan. Mekanisme ini sering disebut sebagai mekanisme transportasi mukosiliaris yakni kerjasama antara mucus dan silia untuk mengeliminasi kuman/bibit penyakit agar tidak menyerang induk semang (Gambar 9). 
 
 
Pada saat broiler mengalami stres yang berkepanjangan, maka kolaborasi pertahanan di saluran pernapasan tersebut akan mengalami gangguan. Mekanisme transportasi mukosiliaris akan terganggu, dimana pergerakan bulu getar untuk mengeluarkan kuman/bibit penyakit di sepanjang saluran pernapasan akan menurun. Selain itu, cairan/mucus yang disekresikan oleh sel Goblet juga mengalami penurunan. Hal ini menyebabkan lapisan lendir yang ada di sepanjang saluran pernapasan juga akan semakin tipis. Dengan kondisi ini maka kuman/bibit penyakit akan dengan mudah melakukan invasi ke induk semang. Sehingga pada saat ayam mengalami stress yang berlebihan terutama pada saat musim pancaroba ini, maka otomatis ayam akan mudah/rentan terjadi gangguan pernapasan baik oleh invasi kuman patogen dari luar ataupun reaksi pasca vaksinasi. Kerentanan yang lain yang perlu diperhatikan adalah tingginya amonia di dalam kandang akan menghancurkan bulu getar dan menyebabkan kuman akan lebih mudah melakukan invasi ke induk semang.
 
Dari uraian di atas ada beberapa tatalaksana manajemen/pemeliharaan broiler modern yang harus lebih diperhatikan untuk lebih mengoptimalkan kesehatan ayam selama masa pancaroba diantaranya adalah  :
 
Sesuaikan tingkat kepadatan ayam per meter persegi dalam perencanaan chick in 
Optimalkan monitoring kualitas udara agar selalu bersih, segar dan kaya akan oksigen dengan program ventilasi yang ideal
Pelebaran area brooding harus lebih diperhatikan, semakin padat ayam sebelum pelebaran maka akan semakin tinggi tantangan penyakit pernapasan
Mainkan ventilasi udara terutama dalam hal buka tutup tirai agar pergantian udara segar bisa lebih optimal
Manfaatkan kipas untuk mengeluarkan tingginya debu dalam kandang sebijak mungkin
Semprot litter (sekam) dengan disinfektan untuk meminimalisir jumlah kuman/bibit penyakit yang berpotensi mengganggu kesehatan ayam
Jaga kualitas sekam selama pemeliharaan
 
 
Dengan ayam yang sehat dan tumbuh optimal, maka semua tantangan yang terjadi selama masa pancaroba akan bisa dihadapi dengan baik. Performa ayam tetap terjaga sehingga akan menambah semakin tebalnya kantong peternak. Sehingga tidak cuman sekedar kantong hawa pada ayam saja yang bermanfaat, namun juga kantong peternak juga selalu memberikan kontribusi yang positif untuk perusahaan agar bisa bertahan dan berkembang di tengah kompetisi yang semakin sengit. Semangat berjuang dengan optimisme yang tinggi ! TROBOS
 
 
 
*Private Commercial Broiler Farm Consultant
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain