Selasa, 28 April 2020

Pendampingan Budidaya Ternak pada Kelompok Wanita Tani

Pendampingan Budidaya Ternak pada Kelompok Wanita Tani

Foto: ist/dok.FapetUGM


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi sasaran utama pendampingan budidaya ternak yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan UGM secara berkesinambungan.

 

Fapet UGM merilis, latar belakang pembinaan ini adalah bermula dari keprihatinan, pada musim kemarau, kondisi di sebagian besar daerah mengalami kekeringan. Demikian pula di beberapa daerah di Yogyakarta, terutama daerah pegunungan yang lahannya merupakan lahan tadah hujan dan tidak ada pengairan. Pada saat itu, petani-peternak sering mengalami kesulitan hijauan pakan ternak, karena ketersediaannya mulai berkurang, sehingga lahan tidak dapat diolah atau hanya menunggu panen terakhir, pada umumnya ketela dan jagung dan pengolahan lahan baru akan dilakukan menjelang musim hujan.

 

Kondisi ini tipikal untuk beberapa daerah di Indonesia yang lahannya merupakan lahan tadah hujan.  Di beberapa pedesaan, dikarenakan lahan belum dapat diolah, mendorong para kepala keluarga (bapak-bapak) bekerja di kota sementara ibu-ibu tetap tinggal di rumah.

 

Pembinaan KWT ini digawangi oleh Prof Kustantinah, dosen Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet UGM. Dia menjelaskan KWT yang masih didampingi secara intensif adalah kelompok Gama Ngudi Lestari Di desa Gombang kecamatan Playen dan kelompok  Gama Sumber Rejeki, di desa Ngleri, dusun Wonolagi, Kecamatan Playen, di kabupaten Gunungkidul, demikian juga kelompok wanita Gama Turgo Lestari, di desa Turgo, kecamatan Pakem, kabupaten Sleman.

 

Pada kelompok-kelompok tersebut, disematkan nama Gama, dikarenakan merupakan binaan dari para dosen di Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada.

 

Selama pendampingan, para anggota dibekali keterampilan di bidang peternakan, yaitu pembuatan kandang panggung, pengenalan hijauan pakan ternak, penanaman tanaman pakan pada musim penghujan untuk ketersediaan pada musim kemarau, dan hijauan pakan ternak sebagai bahan anti parasit, pengolahan limbah, dan perkawinan ternak, dsb. Demikian juga pengolahan susu, terutama di Kelompok Wanita Gama Turgo Lestari, karena yang dikembangkan adalah Kambing Peranakan Ettawa (PE).

 

Setiap daerah mempunyai potensi dan jenis ternak sendiri-sendiri, akan tetapi selalu dipilih ruminansia kecil (kambing atau domba) karena akan dipelihara oleh ibu-ibu sehingga diperkirakan tidak terlalu sulit atau berat. Kambing yang dipelihara dianggap sebagai gaduhan dan harus digulirkan ke anggota yang baru.

 

Wanita anggota KWT peternakan ini memiliki akses lahan hijauan, berupa lahan sendiri, atau sebagai penggarap lahan (kehutanan, sewa dsb). Mereka pun juga terbukti mampu mengupayakan ketersediaan air, meskipun pada musim kemarau.

 

Kegiatan pemberdayaan tersebut, dijelaskan Kustantinah, dapat membantu para anggota meningkatkan kesejahteraannya. Terlihat dari peningkatan jumlah ternak yang dipelihara, anggota dapat menjual ternak yang dihasilkan (anak) untuk kebutuhan pokok keluarga, pengobatan, sekolah, perbaikan rumah, kamar mandi, dan kebutuhan mendesak lainnya.

 

“Hal ini sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak di pedesaan, pada umumnya, pemeliharaan ternak, digunakan sebagai tabungan, yang akan mudah di uangkan apabila membutuhkan. Bagi anggota yang mempunyai lahan, maka dapat memanfaatkan tanaman atau hasil samping pertanian untuk pakan ternaknya,” terang dia.

 

Kambing Kacang

Di  dusun Wonolagi, desa Ngleri tersebut, Kustantinah mendampingi kelompok wanita Gama Sumber Rejeki untuk mengembangkan kambing kacang yang merupakan plasma nutfah. Kambing kacang adalah kambing yang bentuk badannya kecil akan tetapi merupakan kambing asli Indonesia yang saat ini populasinya terutama di Pulau Jawa sudah sangat sedikit, hanya dapat diperoleh atau dipelihara masyarakat di daerah Jawa Barat (Serang).

 

“Fapet UGM bertekad untuk mengembangkan kambing kacang yang merupakan plasma nutfah Indonesia berbasis kelompok wanita tani. Kegiatan ini sedang berlangsung, dengan harapan apabila pengembangan ini berhasil, maka model pengembangan ternak plasma nutfah yang populasinya sudah sangat menurun dapat dikembangkan berbasis Kelompok Wanita Tani,” tandasnya.

 

Selain sebagai sarana pengabdian, pendampingan kelompok wanita tani juga digunakan sebagai sarana penelitian dan praktikum mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa menjadi tahu dan belajar kondisi peternakan di tingkat peternakan rakyat. Banyak mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 yang lulus dengan adanya kegiatan ini.

 

Kegiatan ini secara keseluruhan dilakukan oleh semua staf dosen dan mahasiswa di lingkungan Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan UGM, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, dalam negeri (UGM, Rotary Club, Pemerintah Daerah) dan Luar Negeri (Orskov Foundation, Aberdeen, Scotland UK, DFID, British Council UK). ist/ed/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain