Jumat, 1 Mei 2020

Syahrir Akil: Manajemen Teknis Ayam Petelur

Syahrir Akil: Manajemen Teknis Ayam Petelur

Foto: 
Syahrir Akil

Strain ayam petelur yang dipelihara masyarakat tentu berbeda-beda. Namun secara umum, semua strain yang ada tentunya memiliki keunggulan dan kekurangan. Akan tetapi yang diharapkan dari ayam ini adalah kemampuan genetik yang muncul agar produktivitas atau performanya sesuai dengan standard atau bahkan bisa melebihinya.
 
 
Banyak hal yang menarik dari sebutir telur. Dari sisi nutrisi, mengkonsumsi sebutir telur ayam setara dengan 30 gram daging sapi. Warna kerabang telur yang dipengaruhi oleh warna bulu memiliki nilai tambah tersendiri. Sebagai contoh, ISA White akan menghasilkan telur dengan warna keraban putih, sedangkan ISA Brown akan menghsilkan telur dengan warna kerabang coklat.  
 
 
Di Indonesia, telur ayam ras petelur yang warna kerabang telur putih harga lebih murah dibanding dengan telur ayam ras petelur yang memiliki warna kerabang coklat. Umumnya perbedaan harga telur tersebut di kisaran Rp 500 per kg. Padahal dari sisi kandungan nutrisi dapat dikatakan tidak berbeda (kecuali jika ada infeksi penyakit warna kerabang telur ada perubahan). Bahkan ada scoring terhadap warna kerabang telur tersebut. Hal menarik lainnya yaitu sistem penjualan telur, di wilayah pulau Jawa umumnya di jual per kg, di wilayah Sumatera di jual per butir, dan di area timur seperti Sulawesi dan lainnya di jual per rak (30 butir atau estimasi sekitar 1,85 kg).
 
 
Produktivitas telur dari berbagai strain juga dipengaruhi beberapa hal. Untuk ayam petelur dengan ukuran telur besar, jumlah produksi telurnya jauh lebih sedikit dibanding dengan strain ayam yang memiliki ukuran telur yang kecil. Untuk konsumen tertentu, memilih telur dengan jumlah butir antara 16-18 butir per kg. Hal ini tentu akan memberikan keuntungan tersendiri bagi konsumen, terutama yang menjual produk olahan telur dengan hitungan butir, seperti jika porsi telur dadar 2 butir atau 4 butir. 
 
 
Terkadang hitungan harga setelah diolah dengan mengkonversi jumlah butir telur, dengan hitungan harga per butir telur. Sebagai contoh, penjual nasi goreng, sebagai lauk utama dari nasi goreng adalah telur dengan porsi standard adalah 1 butir telur. Sekecil apapun ukuran telur tersebut, penjual menetapkan harga per butir, jika konsumen menginginkan lauk 2 biji telur, maka hitungan harga ditambah dengan jumlah butir telur yang ada di nasi goreng tersebut. Demikian juga para pemilik warung dengan menu utama mie, memiliki pola yang sama. Agar semua pelaku usaha memiliki keuntungan khususnya mulai dari peternak, berikut akan diulas teknis pemeliharaan ayam petelur  agar performa sesuai standard.
 
 
Fase Pemeliharaan
Selama pemeliharaan ayam petelur ada beberapa produk yang dihasilkan yaitu telur, ayam apkir, dan feses (pupuk), serta bulu ayam. Namun yang menjadi produk utama dari proses pemeliharaan ini adalah telur. 
 
 
Mulai dari umur 1 hari dipelihara sampai ayam diapkir merupakan suatu rangkaian siklus pemeliharaan. Adapun fase–fase pemeliharaan ayam petelur yaitu Prestarter, umur 0-5 minggu; Starter, umur 6-10 minggu; Grower, umur 11-16 minggu; Pre Layer, umur 17-18 minggu; Laying 1, umur 19-50 minggu; Laying 2, umur 51 minggu hingga apkir. 
 
 
Pada fase-fase pemeliharaan tersebut, peternak tentu akan menyesuaikan dengan jenis pakan yang digunakan. Namun, tidak semua pelaku usaha budidaya ayam petelur menjalankan program pakan yang sesuai dengan fasenya, persentasenya sangat sedikit. Hal ini tentu akan menjadi problem dan akan memberikan dampak terhadap produktivitas dari ayam tersebut. Terutama pakan Pre Layer, dapat dikatakan bahwa hampir semua pelaku usaha tidak menggunakan pakan Pre Layer padahal pakan tersebut sangat penting untuk adaptasi ke pakan Laying yang hubungannya dengan kandungan kalsium agar kerja ginjal pada ayam tidak terlalu berat.
 
 
Dalam budidaya ayam petelur, secara teknis pemeliharaan, ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu memelihara DOC (ayam umur sehari) sampai apkir atau membeli pullet umur 13 atau 16 minggu hingga apkir. Dari kedua sistem tersebut ada keuntungan dan kerugiannya, namun secara ekonomis dan lebih menguntungkan yaitu jika berbudidaya dilakukan dengan membeli pullet. Pasalnya, peternak tidak perlu lagi membangun kandang DOC hingga pullet, akan tetapi cukup kandang Laying sehingga investasi kandang tidak dibutuhkan lagi.
 
 
Budidaya ayam petelur tentu ada targetnya yaitu bagaimana produktivitas telur sama dengan standard atau jauh lebih baik. Para pelaku usaha dapat memelihara ayam dari umur 1-80 minggu atau ada yang pelihara dari umur 1-100 minggu (bagi yang memelihara dari awal DOC). Namun bagi yang membeli pullet, ada yang pelihara 13-80/100 minggu atau 16-80/100 minggu.  
 
 
Seekor ayam petelur dengan strain ISA Brown, jika dipelihara selama 80 minggu mampu menghasilkan telur sebanyak 357 butir, setara dengan 22,53 kg atau sebanyak 11,9 rak (isi 30 butir per rak). Namun jika dipelihara sampai 100 minggu akan menghasilkan sekitar 409 butir. 
 
 
Untuk memperoleh performa tersebut, secara teknis hal yang harus dipenuhi adalah lingkungan farm, sistem perkandangan, sistem pemeliharaan, lama pemeliharaan, manajemen pemeliharaan, serta ketersediaan tenaga kerja yang baik. Selanjutnya hal-hal yang harus dilakukan oleh pelaku usaha agar performa ayam yang dipelihara tercapai adalah kesehatan ternak (sistem biosekuriti, program vaksinasi & medikasi); berat badan (sesuai standard), penimbangan; keseragaman/uniformity minimal 90 %; kualitas pakan (kandungan asam amino, agar berat telur standard) kebutuhan pakan berdasarkan produksi; serta hal lain seperti program perbaikan kerabang telur setelah fase laying 2.
 
 
Pentingnya Fase Awal
Jika berat badan tidak sesuai standard, maka ayam tidak akan bertelur tepat waktu, bertelur namun lambat, dan umumnya terjadi proplasus. Disinilah pentingnya pembentukan frame lebih awal agar ayam betul-betul siap untuk berproduksi. Ayam yang memiliki berat badan sesuai standard tentu juga perkembangan bulu-bulu primernya menyesuaikan. Bulu primer pada sayap harus 10 lembar, jika tidak maka produksi telur tidak akan maksimal. Lakukan seleksi dengan melihat jengger, jika jengger tidak berkembang, maka berat badan juga tidak sesuai.
 
 
Keseragaman ayam akan menunjukkan persistensi produksi yang lama, minimal produksi telur 90 % adalah 25 minggu bahkan lebih. Apabila persistensi produksi tidak lama, maka pullet yang dipelihara pada saat masuk kandang memiliki uniformity yang tidak standard atau rendah. Oleh karena itu seleksi pullet sebelum masuk kandang laying sangat penting. Lakukan grading total apabila keseragaman pullet di bawah 60 %, atau jika pullet dibeli dari orang lain maka sebaiknya recording pemeliharaan selama masa pullet diikutsertakan, karena hal tersebut akan menjadi dasar atau semacam garansi atas kualitas.
 
 
Kualitas pakan akan berpengaruh terhadap kualitas telur dan produksi. Untuk itu, sebaiknya menggunakan pakan komplit karena kualitas lebih terjamin. Namun jika menggunakan konsentrat, akan terjadi fluktuasi kualitas bahan baku lainnya seperti jagung, dedak, apalagi kalau tidak menggunakan konsentrat akan tetapi melakukan self mix (mencampur sendiri). Semakin jelek kualitas bahan baku, semakin ada peluang produksi tidak akan stabil.  Dengan kualitas pakan yang tidak standard atau tidak sesuai kebutuhan ayam, maka performa tidak akan maksimal.
 
 
Penimbangan ayam setiap minggu harus dilakukan, demikian juga penimbangan telur, agar  kebutuhan nutrisi dapat dihitung. Kondisi saat ini masih banyak pelaku usaha di peternakan ayam petelur tidak pernah melakukannya, padahal sangat penting untuk menentukan jumlah asupan pakan (feed intake). Feed intake juga akan ditentukan dari kualitas nutrisi pakan yang digunakan.
 
 
Di daerah yang panas dan dingin, tentu memiliki perbedaan dalam pemberian pakan baik jumlah maupun bentuknya. Di daerah panas, stres panas akan cepat terjadi, sehingga pada saat terjadi cekaman panas ayam berhenti makan, dengan demikian feed intake tidak sesuai. Untuk mensiasati kondisi panas ini, maka bentuk pakan harus diubah menjadi big crumbe atau pellet, sehingga waktu mengkonsumsi pakan itu lebih singkat untuk menghindari terjadinya cekaman panas, karena jika sudah terjadi cekaman panas, ayam akan berhenti makan.  
 
 
Sebaliknya di daerah yang dingin, akan terjadi stres dingin sehingga untuk mempertahankan suhu tubuh tetap stabil, maka bentuk pakan harus diubah menjadi bentuk mash, agar waktu makan lebih lama untuk menghasilkan panas metabolik dan cuaca dingin dapat diatasi.
 
 
 Program pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan ayam. Pemberian pakan dengan porsi pagi dan sore harus berbeda. Persentase pemberian pakan dapat diberikan 40 % pagi dan 60 % di sore hari atau bisa juga 30 % pagi dan 70 % sore hari dengan melihat kondisi lingkungan yang ada. Pemberian pakan ini harus disesuaikan dengan kebutuham ayam, dimana pada sore hari porsi pemberian pakan harus lebih tinggi, karena proses absorbsi kalsium pada sore hari (suhu rendah) sangat tinggi dan  dipengaruhi oleh suhu dan ketersediaan vitamin D.
 
 
Setelah memasuki fase Laying 2 (di atas 50 minggu produksi) maka sering terjadi masalah, yaitu kerabang telur yang tipis, muda pecah, dan tentu ini mengakibatkan kerugian. Solusinya, pemberian grit harus segera dilakukan. Pemberian grit harus disesuaikan dengan kandungan kalsium pakan, berat telur demikian juga ukuran partikel dari tepung batu atau kulit kerang. 
 
 
Dengan mengaplikasikan pemberian grit dengan benar maka kebutuhan akan kalsium dapat terpenuhi, dengan demikian kualitas kerabang telur akan tetap stabil dan tidak muda pecah. Masih banyak pelaku usaha yang tidak melakukan perhitungan seperti ini, akan tetapi hanya dengan menduga-duga saja, akhirnya perhitungan tidak sesuai kebutuhan ayam imbasnya kualitas tidak terjaga.
 
 
Hal penting yang sering juga tidak dilakukan oleh pelaku usaha ayam petelur adalah mengabaikan administrasi, seperti tidak ada recording produksi serta tidak ada pencatatan barang masuk dan keluar. Hal ini sangat penting dilakukan karena dengan administrasi yang baik, maka pelaku usaha akan mampu menganalisa hasil produksi serta mengetahui kapan jadwal vaksinasi, pengobatan, atau pemberian vitamin. Selain itu, tanggal kedaluarsa obat, vaksin, dan lainnya harus tercatat dengan baik, termasuk stok.
 
 
Dari beberapa hal yang dijelaskan di atas semua penting, namun hal yang sering terlupakan juga adalah penerapan biosekuriti yang ketat. Di lingkungan peternakan ayam petelur perlu dibuat zonasi agar orang-orang yang bekerja sesuai dengan bagiannya masing-masing untuk mencegah kontaminasi yang dapat mengakibatkan ayam sakit. Terkadang tidak disadari orang-orang yang seharusnya tidak berada di kandang, namun berada di kandang padahal orang tersebut seharusnya tidak boleh berada di situ. Pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas orang di kandang akan mampu memberikan perlindungan pada ayam yang ada di lokasi peternakan, agar tidak terjadi kontaminasi. Ingat bahwa penyebaran penyakit dapat secara vertikal dan horizontal. Dengan  menjalankan hal tersebut di atas akan memberikan performa yang terbaik dalam usaha peternakan ayam petelur. TROBOS
 
 
 
*Praktisi Perunggasan
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain