Jumat, 1 Mei 2020

Rizky Diyu Purnama: Menimba Pengalaman di PBB

Rizky Diyu Purnama: Menimba Pengalaman di PBB

Foto: dok. pribadi
Rizky Diyu Purnama

Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia sekitar 2030 menjadi sebuah keuntungan sekaligus tantangan bagaimana Indonesia mampu mengelola generasi mudanya dengan baik sehingga dapat menjadi sumber daya yang berkualitas dan unggul di masa depan. Dewasa ini pendidikan menjadi salah satu faktor kunci untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten sehingga seharusnya tidak ada batasan untuk belajar dan menggali ilmu pengetahuan dimanapun.
 
 
Pada 21-23 Februari 2020 saya dan delegasi lain dari IPB (Institut Pertanian Bogor) mengikuti kegiatan Model United Nation di New York Amerika Serikat. Model United Nation (MUN) merupakan kegiatan simulasi sidang PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang mempelajari tentang diplomasi, hubungan internasional, dan suasana sidang PBB. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Italian Diplomatic Academy yang merupakan NGO yang berasosiasi dengan UN Department of Global Communication. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dengan tiga agenda utama yaitu Wokshop, Networking Event, dan Committee Session. 
 
 
Kegiatan pembukaan yang dilaksanakan di markas besar PBB, New York menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena bisa masuk ke gedung dengan pengawasan yang sangat ketat dan bertemu berbagai delegasi dari seluruh dunia. Dari 14.000 pendaftar hanya sekitar 2.000 pendaftar yang diterima dari berbagai penjuru dunia untuk mengikuti kegiatan ini. Dalam kegiatan MUN ini saya menjadi wakil dari Kingdom of Netherland dengan Committee Topic UNHCR – The UN Refugee Agency. 
 
 
Tidak mudah bagi saya untuk mewakili Belanda dalam kegiatan ini, karena harus benar-benar mempelajari negaranya secara menyeluruh dan spesifik untuk penanganan pencari suaka disana. Sebagai persiapan, saya menghabiskan waktu kurang lebih sebulan untuk riset tentang Belanda. Membuat position paper bersama tim karena ini pengalaman pertama, saya harus benar-benar mempelajari aturan dan prosedur MUN dari berbagai sumber. Saat committee session, saya mendapat topik tentang akses pendidikan dan ekonomi bagi para pengungsi. 
 
 
Konflik dan persekusi yang terjadi telah menyebabkan perpindahan terpaksa (Forced Displacement) skala global meningkat secara tajam di 2015, hingga mencapai tingkat tertinggi yang pernah ada. Lonjakan angka tersebut sekaligus mewakili gambaran penderitaan besar manusia, seperti yang dilaporkan oleh UNHCR, Badan PBB untuk urusan pengungsi. UNHCR menyatakan bahwa pada akhir 2015 jumlah orang yang melakukan perpindahan terpaksa mencapai 65,5 juta manusia dan 51 % dari pencari suaka tersebut adalah anak-anak. Tentu hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius tidak hanya dari sudut pandang sosial ekonomi tetapi juga dari sudut pandang pendidikan. 
 
 
Di beberapa negara para pencari suaka kesulitan mengakses pendidikan karena mahalnya biaya pendidikan, tingginya kasus bullying di sekolah sehingga membuat anak-anak ini stres, kurikulum yang tidak memadai dan lingkungan yang berbeda dengan negara sebelumnya. Bagaimanapun pendidikan adalah dasar untuk mendorong pencari suaka untuk mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang nantinya akan menunjang kehidupan yang mandiri bagi para pencari suaka. Solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan bagi pencari suaka adalah dengan menentukan kebijakan yang tepat oleh masing-masing negara seperti legalitas dan biroksasi yang mudah bagi para pencari suaka, psycosocial support, mendirikan lembaga bahasa dan budaya khusus pencari suaka yang datang dari berbagai negara dan mengedukasi warga negara agar tidak memberikan stereotip dan penghakiman.
 
 
Dikesempatan FWWMUN ini, semua delegasi memberikan pendapatnya masing-masing dan strategi untuk mengatasi permasalahan yang diberikan. Para delegasi diberikan kesempatan untuk berbicara ataupun berdiskusi dengan terlebih dahulu mengangkat plakat negara masing-masing. Sebagai perwakilan dari Belanda saya mengangkat plakat dan mulai memberikan argumen terkait studi kasus di Belanda dan bagaimana pemerintah Belanda mengatasi permasalahan pengungsi dari aspek penddikan dan ekonomi. Meskipun akan ada saja negara-negara yang tidak setuju dengan argumen yang diberikan, disinilah pembelajaran bagaimana cara menyampaikan pendapat dan mempengaruhi delegasi lain untuk membuat blok antar negara. 
 
 
Ada sesi yang tidak dipandu oleh moderator sehingga para delegasi bebas mendatangi negara lain untuk membuat blok dan menyusun draf resolusi. Draf resolusi yang terpilih akan disampaikan langsung ke UN dan jika layak akan diimplementasikan sebagai program UN. Tim saya berhasil memenangkan sesi ini dan menjadi blok yang draf resolusinya akan disampaikan ke UN terkait penanganan pendidikan dan ekonomi bagi pengungsi di berbagai penjuru dunia. 
 
 
Banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatkan terutama terkait proses yang dijalani untuk bisa berangkat ke Amerika Serikat mengikuti kegiatan MUN ini. Dari proses inilah saya belajar dan mendapatkan pengalaman emosional bagimana pantang menyerah dan doa adalah kunci untuk mencapai target yang diinginkan. Awalnya, saya sudah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seperti meninggalkan kegiatan akademik, berangkat di tengah wabah Covid-19 dan kondisi finansial saat itu yang tidak memungkinkan. Namun semuanya dipertimbangkan dengan matang, melakukan hal-hal strategis yang mampu mendukung performa saya di kegiatan tersebut. 
 
 
Saat itu saya mencoba menemui teman-teman yang pernah ikut MUN dan belajar dari pengalaman mereka. Juga menghubungi dosen pembimbing, komisi akademik, dan kemahasiswaan untuk meminta dukungan dan bimbingan. Selama satu bulan tersebut saya benar-benar banyak belajar meskipun juga harus fokus untuk menyusun penelitian tingkat akhir, tapi saya pikir selama mampu akan dicoba dan terus belajar karena kesempatan ini mungkin tidak akan ditemukan ketika lulus nanti.
 
 
Mungkin ada pertanyaan, apa hubungan mahasiswa kedokteran hewan mengikuti kegiatan semacam ini. Bagi saya tidak ada batasan untuk belajar, sebisa mungkin harus mendapatkan banyak pengalaman, membekali diri dengan wawasan yang luas untuk siap menjadi sumber daya Indonesia yang unggul. Bisa jadi suatu saat saya akan menjadi pembuat kebijakan dan sangat berguna bagi saya mendapatkan pengalaman semacam ini. Di Kegiatan ini saya belajar tentang bagaimana etika dan etiket dalam berkomunikasi, menyelesaikan suatu permasalahan, bekerjasama secara tim, dan kemampuan kepemimpinan. TROBOS
 
 
 
*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan 
Institut Pertanian Bogor
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain