Jumat, 1 Mei 2020

Beternak Kambing Perah Terkendala SDM

Beternak Kambing Perah Terkendala SDM

Foto: utas
Salah satu cara pemerahan susu kambing

Beternak kambing perah harus fokus mulai dari hulu ke hilir agar pemeliharaan dan produksi dapat terkontrol
 
 
Berawal dari hobi dan kegemarannya terhadap dunia peternakan, menjadikan Eko Yulianto pria lulusan IPB University, Bogor Jawa Barat ini di percaya sebagai pengelola peternakan kambing perah Cordero farm  yang berlokasi di Ciapus, Bogor, Jawa barat. Berdiri sejak 2008 dengan memulai populasi sebanyak 30 ekor.
 
 
“Awalnya pemeliharaan di Bekasi, namun karena berkembang dengan baik  jadi kita perlu mengelola secara profesional pengaturan manajemennya agar operasional tetap berjalan. Akhirnya kita putuskan pindah ke daerah Ciapus. Dan populasi saat kita pindah mulai bertambah,” ujar Eko diawal perbincangan dengan TROBOOS Livestock.
 
 
Jenis kambing perah yang dipelihara yaitu kambing Peranakan Etawa (PE), kambing boer, kambing saanen, dan pejantan dengan total populasi saat ini mencapai 300 ekor. “Sebenarnya untuk populasi sediri bisa kita tambah lagi, namun karena kendala kurangnya kandang dan tenaga kerja jadi populasi saat ini sudah maksimal,” ungkapnya.
 
 
Eko menyampaikan saat ini yang menjadi tantangan terbesar dalam beternak kambing perah ialah tenaga lapangan seperti anak kandang yang susah untuk ditemukan. “Tantangan beternak secara teknis banyak apalagi kita juga kekurangan kandang untuk menambah populasi, namun tenaga lapangan yang susah ditemukan menjadi masalah terbesar. Mungkin banyak di luar daerah yang ingin kerja di farm, tapi kita ingin menciptakan lowongan pekerjaan untuk masyarakat sekitar. Hanya semakin kesini semakin susah mencari pekerja yang sayang terhadap ternak dan ulet, kebanyakan lebih senang dengan pekerjaan yang bersih,” sesalnya.
 
 
Pemeliharaan Kambing Perah
Dalam pemeliharaan kambing perah yang harus diperhatikan bukan hanya pada saat produksi, akan tetapi dari kambing lahir sampai afkir harus diperhatikan dan diberikan perlakuan yang khusus. “Dalam beternak kambing perah kita tidak bisa hanya fokus kesatu periode, itu bisa menjadi beban kedepan nantinya. Dengan kata lain pada beternak kambing perah mulai dari hulu ke hilir, dari lahir hingga  masuk produksi dan akhirnya afkir kita harus terjun langsung dan mengatur sendiri agar pemeliharaan dan produksi dapat terkontrol dan berjalan mulus,” terangnya.
 
 
Eko menyampaikan manajemen pemeliharaan yang  dijalankan memiliki perbedaan dari umumnya, perbedaan tersebut terletak pada perbandingan pemberian hijauan dengan  pakan tambahan (konsetrat). Jumlah pemberian pakan tersebut ialah 50 % hijaun dan 50 % konsentrat. “Seharusnya kan 40 % dan 60 % perbandingannya, namun dari 50 % konsentrat yang kita olah terdapat 30 % serat yang berasal dari ampas tempe,” ungkapnya.
 
 
Pemberian hijauan sendiri berupa rumput gajah yang ditanam dilahan area farm dan rumput liar yang di peroleh dari luar kandang. Konsentrat diolah sendiri dengan menggunakan bahan seperti ampas tempe, ampas gandum, konsentrat kering berupa polar, bungkil kelapa, dedak, dan bungkil jinten. Total konsumsi hijauan yang dibutuhkan mencapai 300 kg perhari dan konsentrat mencapai 300 kg perhari, sedangkan untuk air minum tidak menggunakan sistem adlibitum karena hijauan yang diberikan sudah mengandung banyak air.
 
 
“Kalau untuk pemberian pakan terhadap ternak kita bedakan sesuai dengan ukuran tubuhnya, jadi misalkan yang sudah siap kawin dan yang produksi diberikan 3 kg per ekor perhari dan yang masih kecil sekitar 1 - 1,5 kg per ekor perharim hijauan. Begitu juga dengan konsentrat, yang siap kawin 2 kg per ekor perhari, dan yang produksi diberikan 4 kg per ekor perhari. Sedangkan yang kecil kita berikan 1 kg per ekor perhari. Kita menggunakan perkandangan dengan sistem koloni yang disatukan sesuai dengan periode ternak tersebut. Akan tetapi kelemahannya tidak detail, dengan kata lain dalam satu kandang terdapat umur yang berbeda sehingga pakan yang diberikan sama rata tidak sesuai dengan kebutuhan,” paparnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 248/Mei 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain