Jumat, 1 Mei 2020

Waspada Leptospirosis Terhadap Hewan Ternak

Waspada Leptospirosis Terhadap Hewan Ternak

Foto: 
Susanti

Untuk mengurangi efek penyakit pada hewan, pengendalian dan pencegahan penyakit sebaiknya dilakukan dengan mengintegrasikan terapi antibiotik, vaksinasi dan manajemen lingkungan
 
 
Pada beberapa tahun terakhir dilaporkan kasus leptospirosis di beberapa wilayah di Indonesia meningkat. Penyakit zoonosis ini lebih rentan menyerang di saat musim hujan. Diungkapkan Susanti peneliti muda dari Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet), Bogor, Jawa Barat, Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri patogenik dari genus Leptospira dan penyakit tersebut tersebar luas di berbagai wilayah di dunia terutama di daerah tropis termasuk di Indonesia. “Masyarakat lebih mengenalnya sebagai penyakit kencing tikus dan bersifat zoonosis,” jelasnya. 
 
 
Sementara oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dimasukkan ke dalam penyakit kelas B, yaitu penyakit yang dianggap penting menjadi masalah sosial-ekonomi dan kesehatan umum dalam suatu negara serta secara signifikan dalam perdagangan internasional hewan maupun produk hewan. “Penyebaran Leptospirosis di Indonesia sudah sangat luas di sebagian besar Provinsi dan angka kematian cukup tinggi,” cetus Susanti. 
 
 
Leptospirosis sendiri, ia kemukakan sudah lama dikenal di Indonesia, bakteri ini kebanyakan menginfeksi baik hewan ternak, liar maupun manusia. Hewan yang terinfeksi termasuk tikus, tupai, hewan domestik seperti sapi, domba, kambing, unta, babi, anjing, kucing dan beberapa hewan liar seperti anjing hutan, monyet, rubah, serigala dan sigung. 
 
 
Seroprevalensi leptospirosis berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium Bakteriologi Balai Besar Penelitian Veteriner yaitu pada sapi 16,49 % dengan serovar yang dominan yaitu serovar hardjo dan tarrasovi, pada anjing 50 % dengan serovar dominan icterohaemorrhagiae dan canicola dan pada manusia 28,57 % dengan serovar dominan batavia dan icterohaemorrhagiae. 
 
 
Bakteri Lestospira & Penularan 
Leptospirosis dipaparkan Susanti disebabkan oleh bermacam-macam serovar bakteri Leptospira. Bakteri ini berbentuk spiral, tipis, lentur dengan panjang 10-20 μ dan tebal 0,1 μ serta memiliki 2 lapis membran. Leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan, tetapi dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. 
 
 
Bakteri ini termasuk dalam ordo spirochaetales, famili Leptospiraceae, genus Leptospira. Leptospira bersifat aerob obligat dan tumbuh optimal pada suhu 28-30 oC.“Sampai saat ini dikenal dua spesies Leptospira yaitu Leptospira interrogans dan Leptospira biflexa. Spesies pertama dikenal patogenik terhadap manusia dan hewan sedangkan L. biflexa merupakan saprofit yang hidup bebas di perairan dangkal dan jarang dihubungkan dengan infeksi pada mamalia,” terangnya. 
 
 
Untuk penularannya, leptospirosis dapat terjadi secara horizontal, baik secara kontak langsung dengan hewan tertular atau lingkungan yang tercemar bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira yang dikeluarkan melalui urin hewan terinfeksi dapat mencemari lingkungan dan menjadi sumber penularan untuk hewan lain dan juga manusia. Organisme masuk ke dalam tubuh melalui kontak dari luka atau membran mukosa dengan urin atau cairan tubuh dari hewan yang terinfeksi. Hal ini dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung melalui kontak dengan air atau tanah terkontaminasi. 
 
 
Kontaminasi Leptospira pada permukaan air berperan penting untuk resiko dari infeksi ke hewan lain, baik rodent (hewan pengerat) maupun hewan domestik. Lingkungan yang terkontaminasi oleh urin hewan yang terinfeksi Leptospira merupakan titik sentral epidemiologi leptospirosis. “Ternak berperan sebagai reservoir penting untuk transmisi infeksi ke manusia karena mereka mengekskresikan Leptospira hidup ke dalam urinenya ke lingkungan untuk periode yang lama,” paparnya. 
 
 
Sambungnya, organisme Leptospira membutuhkan cuaca yang lembab untuk daya hidupnya. Rodent dan hewan domestik (ter¬nak dan anjing) mengandung Leptospira dan menyebarkan bakteri ke dalam urin. Mereka dapat menyebarkan organisme ke air hujan dan sumber air minum. Manusia sering kontak dengan air terkontaminasi selama banjir, jumlah kasus lebih tinggi selama dan setelah curah hujan tinggi. “Tikus merupakan salah satu hewan yang berperan penting sebagai sumber penularan leptospirosis. Adanya tikus di dalam dan sekitar rumah mempunyai risiko lebih besar untuk terjadi Leptospirosis,” jelasnya. 
 
 
Untuk beberapa mata pencaharian sangat rentan terpapar leptospirosis seperti petani/ pekerja di sawah, perkebunan tebu, tambang, saluran kebersihan kota, rumah potong, perawat hewan dan dokter hewan atau individu yang berhubungan atau terpapar kepada air, perairan, lumpur dan atau hewan baik hewan piara maupun satwa liar. Dari semua hewan piara, sapi, babi, dan anjinglah yang paling penting dalam penyebaran penyakit 
 
 
ke manusia, sedangkan hewan piara lain (kucing, domba, kambing, dll) meskipun dapat menularkan penyakit ini ke manusia, tetapi peranannya dianggap kurang penting. 
 
 
Kondisi tingkat pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis (penyebab, gejala, sumber dan cara penularan) yang relatif masih kurang juga akan membawa dampak pada munculnya perilaku yang kurang mendukung dalam upaya pencegahan. 
 
 
Gejala Klinis 
Infeksi leptospirosis dikemukakan Susanti dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada sapi potong dan sapi perah. Ternak yang ter¬infeksi akan mengalami kegagalan reproduksi seperti aborsi, infertilitas, sterilitas, lahir mati, atau lahir lemah dan agalactia. Gejala klinis leptospirosis pada sapi dapat bervariasi mulai dari yang ringan, infeksi yang tidak tampak sampai infeksi akut yang dapat menyebabkan kematian. Infeksi akut paling sering terjadi pada pedet/sapi muda. 
 
 
Leptospirosis pada sapi umumnya disebab¬kan oleh infeksi L. interrogans serovar hardjo, serovar ini dihubungkan dengan aborsi, lahir mati, lahir lemah, mastitis, penurunan produksi susu dan infertilitas pada ternak. L. interrogans serovar pomona pada sapi menyebabkan demam, depresi, anemia akut, haemorhagis dan redwater. “Infeksi pada sapi perah dapat terjadi demam sementara disertai dengan penurunan produksi susu yang berlangsung selam 2-10 hari,” ungkapnya. 
 
 
Sedangkan, Leptospirosis pada kambing dan domba dikarakterisasi dengan demam dan anoreksia. Di beberapa hewan jaundice (penyakit kuning), anemia, aborsi, lahir mati atau lemah dan infertilitas dapat juga terlihat, baik dengan atau tanpa gejala klinis lainnya. 
 
 
Beberapa infeksi pada kuda adalah subkli¬nis. Penyakit mata adalah gejala paling umum, selama fase akut gejala mata termasuk demam, photophobia, conjunctivitis, miosis, dan iritis. Leptospirosis akut pada babi muda dapat menyebabkan kelemahan hebat, kehilangan nafsu makan, jaundice, demam, konvulsi, hemorhagie dan dapat berakibat fatal. Anak babi lebih rentan terinfeksi sedangkan babi dewasa yang tidak bunting lebih resisten. 
 
 
Diagnosa penyakit dilakukan berdasarkan sejarah penyakit, gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Hanya saat ini yang masih menjadi masalah interpretasi hasil tersebut. Berdasarkan uji microscopic agglutination test (MAT) Peternak masih salah menginterpretasikan hasil uji diagnostik dan terlalu cepat memberikan terapi antibiotik. Untuk hasil titer yang rendah (kurang dari atau sama dengan 1/100) seharusnya peternak melakukan ujicoba kembali dan melihat hasilnya seperti titernya naik atau tidak dalam kurun waktu 2 minggu setelah melakukan uji pertama atau melakukan uji konfirmasi dengan PCR. “Jika titer meningkat 4 kali atau hasil PCR positif, baru diberikan terapi antibiotik. Namun, jika nilainya tetap atau hasil konfirmasi PCR negatif tidak perlu diberikan terapi antibiotik,” terangnya. 
 
 
Pengendalian dan Pencegahan 
Susanti memaparkan untuk mengurangi efek penyakit pada hewan, pengendalian dan pencegahan penyakit sebaiknya dilakukan dengan mengintegrasikan terapi antibiotik, vaksinasi dan manajemen lingkungan. 
 
 
Sambungnya, program pengendalian harus dilakukan sebagai pendekatan yang konstan dan jangka panjang, dengan pemantauan terus-menerus terhadap kawanan, untuk menghindari terulangnya penyakit. Karena kondisi lingkungan yang sangat menguntungkan bagi kelangsungan hidup bakteri dan keragaman keanekaragaman satwa liar yang mungkin bertindak sebagai reservoir, mengen-dalikan Leptospira sapi dalam kondisi tropis menjadi suatu hal yang sangat menantang. 
 
 
“Sangat tidak mungkin untuk menghindari kontak sapi dengan sapi, sehingga kontrol strain yang diadaptasi harus didasarkan pada perawatan antibiotik dan vaksin. Sebaliknya, untuk serovar lain yang tergantung pada reservoir lain, ini dapat didasarkan terutama pada kontrol reservoir hewan dan perawatan antibiotik,” pungkasnya. 
 
 
Di negara tropis seperti Indonesia, karakteristik iklim seperti curah hujan yang tinggi, suhu hangat dan pH tanah mendukung kelangsungan hidup Leptospira untuk jangka waktu yang lama. Belum lagi faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis seperti kondisi selokan yang buruk, keberadaan sampah dalam rumah, keberadaan tikus di dalam dan sekitar rumah, kebiasaan tidak memakai alas kaki dan kebiasaan mandi/ mencuci di sungai. Oleh karena itu, pentingnya manajemen lingkungan dalam pengendalian leptospirosis seperti program kebersihan lingkungan, mengurangi penggembalaan bersama, karantina dan isolasi hewan yang terinfeksi. 
 
 
Selain itu, vaksin Leptospirosis di Indonesia saat ini hanya tersedia untuk anjing. Banyak vaksin komersial tersedia di seluruh dunia dan umumnya terdiri lima sampai sepuluh serovar Leptospira yang tidak aktif. Kemanjuran vaksin multivalen ini pada perlindungan di tingkat individu dan kelompok masih harus dijelaskan dan efek akhirnya dari persaingan antigenik antara serovar yang berbeda tidak diketahui. Meskipun perlindungan heterolog antara serovar dari serogrup yang sama telah ditunjukkan pada tingkat tertentu, tetapi kekebalan yang ditimbulkan masih bersifat spesifik serovar. Dengan demikian, vaksin yang diformulasikan dengan strain internasi¬onal referensi mungkin tidak memadai untuk perlindungan terhadap infeksi yang disebabkan oleh strain asli, terutama di lingkungan tropis di mana strain lokal tidak selalu tersedia untuk pengembangan vaksin. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain