Selasa, 19 Mei 2020

Output Pertanian Diduga Turun Hingga 6,2%, Ini Solusinya

Output Pertanian Diduga Turun Hingga 6,2%, Ini Solusinya

Foto: ist/dok.CIPS


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Gangguan dalam distribusi pasokan pangan diperkirakan dapat menyebabkan penurunan output pertanian sebesar 1,64% hingga 6,2% di tahun 2021.

 

“Untuk memperkecil potensi penurunan itu, maka arus perdagangan komoditas pertanian antar daerah harus dipertahankan selama masa tanggap darurat pandemi Covid-19 ini dan selanjutnya,” ujar Galuh Octania, analis dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) pada Webinar “Peran Sektor Publik, Swasta dan Lembaga Sosial dalam Ketahanan Pangan Selama Pandemi,” yang digelar oleh Indonesian Livestock Alliance (ILA), Yayasan CBC Indonesia dan PISAgro pada Senin (18/5).

 

Diterangkannya, pembatasan transportasi dan distribusi rantai pasok pangan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memasukkan pengecualian untuk klasifikasi pelaku produksi pangan Indonesia. Namun menurut dia, pengecualian ini masih rentan bias, hanya dimaknai sebagai pelaku proses inti produksi pangan. Padahal, rantai pasok pangan bukan hanya bagian inti pemrosesan pangan.

 

Meskipun demikian rantai pasok pangan tetap harus pakai ijin angkut yang bisa diurus online. “Di sini potensi masalah, karena ada bahan yang seakan bukan pangan tapi merupakan bagian dari produksi pangan. Seperti industri pendukung kemasan pangan, kaleng, pewarna, dan bahan baku industri pangan lainnya. Bahkan juga bahan baku produksi pertanian dan sarana produksi peternakan rentan dianggap bukan bagian dari rantai pasokan pangan sehingga berpotensi terhambat,” urai Galuh.

 

Selain hambatan distribusi, Suandi Dharmawan - Head of Portfolio PRISMA, lembaga konsultasi kerjasama Bapenas dan Kementerian Luar Negeri Australia menyatakan selain hambatan jangka pendek berupa macetnya distribusi komoditas pertanian, hambatan pada jangka menengah juga menanti.

 

“Realita produksi pangan oleh petani saat ini turun. Nanti kalau PSBB mulai dilonggarkan, kebutuhan pangan akan naik. Saat itu petani belum berproduksi penuh, sehingga akan ada jeda waktu antara produksi naiknya permintaan dengan produksi,” ungkap dia. Jeda waktu produksi / production lag itu karena untuk panen komoditas pertanian perlu proses budidaya dengan menanam – beternak terlebih dahulu. Petani pun, pada awal-awal demand meningkat juga masih wait and see untuk langsung menggenjot budidaya dengan kapasitas penuh.

 

Keterbatasan suplai juga dijumpai pada segmen input, pupuk yang awalnya sudah bermasalah ketersediaannya semakin terbatas lagi. Pada sisi pasar, harga komoditas juga jatuh, tak hanya produk daging unggas dan telur yang jatuh parah. Jagung yang sebelum pandemi harganya bertengger di Rp 3.000 Rp 4.000 per kg, sekarang di kisaran Rp 2.000.

 

“Dipastikan akan membuat petani kesulitan modal pada periode budidaya berikutnya. Tapi petani masih terus ingin menjalaknan budidaya, dengan penyesuaian waktu tanam dan komoditas. Maka petani akan membutuhkan pinjaman modal,” Suandi menguraikan.

 

Lebih dalam, dia memberikan peringatan, sebentar lagi akan masuk musim tanam baru dan akhir tahun ini akan masuk musim tanam utama seudai musim kemarau. “Namun diperkirakan musim hujan akan terhambat tahun ini, petani jangan salah dalam menanam, sesuaikan komoditas dengan waktu tanam,” tegasnya.

 

Memperpendek Rantai

Suandi Dharmawan menjelaskan hambatan pada rantai niaga pangan meliputi komoditas pertanian, peternakan dan perikanan memang cukup memprihatinkan. Tetapi di balik itu, tumbuh solusi lokal dengan bertumbuhnya direct market dengan rantai sangat pendek, yaitu petani, pedagang, langsung ke konsumen. Ditengarai jalur pemasaran pendek ini bertumbuh untuk komoditas sayur, daging ayam, telur dan ikan / udang.

 

Tumbuh pula jejaring pedagang eks pasar yang membentuk grup-grup WA dan sosial media lainnya dengan konsumen di perumahan. Mereka menyebarkan info marketing daftar harga sayur, daging dan bahan pokok, bahkan membuat paket promosi. Mereka pun membangun sistem delivery diantara pedagang dengan konsumen.

 

“Selain itu juga tumbuh pasar virtual komoditas pertanian, yang mengesampingkan peran-peran perantara konvensional. Platform Sayur Box naik transaksinya hingga 30%, Blibli Grocery meningkat menjadi 1.000 order perhari, atau setara 400%. Tani Hub meningkat menjadi 20.000 transaksi dan Tukang Sayur transaksinya naik hingga 300%,” dia memaparkan.

 

Dia menyimpulkan, e-commerce mampu menjadi pedagang perantara sekaligus retailer baru yang mampu memberikan solusi macetnya pasar offline yang dialami petani, sekaligus menjadi solusi bagi rumah tangga konsumen yang tetap di rumah.

 

“Karena kondisi ini adalah kondisi global, maka perlu kolaborasi dan langkah-langkah istimewa. Kolaborasi mutlak dilakukan, karena kondisi saat ini bkn kondisi individu atau kewilayahan. Lakukan upaya menghubungkan petani dengan pasar, supaya tidak ada pembuangan panenan lagi,” ujar Suandi.

 

Selain melalui jalur niaga, solusi atas mandegnya rantai pasok pangan juga datang dari kalangan volunteer (relawan). Regi Wahyu, CEO Hara, lembaga sosial yang kini tengah bergerak untuk memasok pangan bagi warga terdampak pandemi melalui program “Peduli Pangan Desa Kota, Jaga Jarak Jaga Solidaritas”.

 

“Hara bukan hanya menggalang donasi kemudian di salurkan dalam bentuk barang ataupun uang. Namun kami menghubungkan penumpukan pasokan bahan pangan di petani untuk dibeli dan kemudian diproses di dapur umum Hara Kitchen dan kemudian disalurkan kepada warga terdampak yang telah didaftar secara akurat oleh vounteer kami dan lembaga mitra kami," dia memaparkan.

 

Menurut Regi, donatur yang mendukung program ini bukan hanya memberikan bantuan dalam bentuk uang, namun juga dalam bentuk bahan pangan, kemasan, angkutan, bahkan dalam bentuk pinjaman dapur untuk memasak. “Kami memulai dari prototip yang kecil, namun memungkinkan untuk terus berkembang dan menjadi besar nantinya, dengan road map yang jelas dan kerjasama yang kuat,” tuturnya. ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain