Jumat, 22 Mei 2020

Bisnis Inklusif pada Industri Peternakan

Bisnis Inklusif pada Industri Peternakan

Foto: ist/dok.Bappenas


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pembangunan eksklusif yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi menyebabkan tingginya angka pengangguran, angka kemiskinan, angka gini ratio yang semakin melebar. Termasuk degradasi daya dukung lingkungan sebagai akibat eksploitasi dan polusi yang terus menerus terjadi atas nama pembangunan.

 

Hal itu dinyatakan oleh Tjeppy D Soedjana, anggota Tim Analisis Kebijakan Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Diskusi Online Edisi10 dengan tema “Praktik Bisnis Inklusif untuk Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian dan Peternakan" pada Rabu, 20 Mei 2020.

 

Diskusi digelar oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA), Yayasan CBC Indonesia (YCI) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Partnership for Indonesia Suistainable Agriculture (PISAgro) atas dukungan Australia-Indonesia Partnership Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (Prisma).

 

Narasumber yang hadir dalam diskusi rutin yang diselenggarakan Indonesia Livestock Alliance (ILA), Yayasan CBC Indonesia (YCI) kali inii adalah Anang Noegroho Setyo Moeljono (Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas), Lulu Wardhani (Unit Manager, Rural Development Department of Foreign Affairs and Trade / DFAT), Devin Marco (Head of Portfolio Prisma), M Burmansyah K. (Manager Partnership & Smallholder PT Pupuk Kalimantan Timur), Regi Diar Patrizia (Business Development KJUB Puspetasari), Febroni Purba (Manager Marketing PT Sumber Unggas Indonesia), Andre Rivanda Daud (Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan Unpad). Adapun sebagai pembahas diskusi adalah Prof Tjeppy D Soedjana, peneliti senior dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak).

 

Tjeppy menjelaskan pembangunan yang inklusif memerlukan kerjasama yang bersifat inklusif pula, antara pemerintah, swasta dan cendekiawan untuk melaksanakan upaya memampukan individu dan kelompok-kelompok masyarakat. Upaya itu didasari oleh azas keadilan sosial dan saling menghargai sehingga dapat memecahkan masalah-masalah sosial serta untuk memiliki pilihan nyata yang menyangkut peningkatan kualitas hidup di masa depan.

 

Anang Noegroho Setyo Moeljono menyatakan kemitraan antara swasta dengan petani dan peternak bisa menjadi salahsatu mode bisnis inklusif, dengan melibatkan pemerintah sebagai perancang, pengendali dan pengawas. Hal itu menjawab tantangan yang dihadapi perencana pembangunan, bagaimana kegiatan yang dijalankan oleh pemerintah dapat sinkron dan terintegrasi dengan kemampuan industri / swasta, kebutuhan pasar dan kemampuan petani. Petani yang tidak memiliki akses pasar pun bisa mendapatkan kepastian pasar sehingga memperbaiki kesejahteraannya

 

Bagi petani, kemitraan sebagai praktik bisnis inklusif akan memberikan akses input produksi yang berkualitas, peningkatan keterampilan/kemampuan menjalankan proses produksi sesuai standar industri, hasil produk berkualitas sesuai preferensi pasar, jaminanpemasaran, peningkatan pendapatan dan daya beli. Bagi industri, kerjasama dengan petani akan meningkatkan efisiensi biaya, menjaga kontinuitas pasokan, dan menjaga konsistensi mutu seusia permintaan pasar.

 

Regi Diar Patrizia Business Development KJUB Puspetasari menjelaskan pola bisnis inklusif yang dikembangkan bersama Prisma dan Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas melalui produk Nutrifeed bukan sekedar business as usual. Mada kurun 2016 -2018, kemitraan usaha Nutrifeed Prisma berjalan di 19 kabupaten di Jawa Timur. Pada fase pertama, peternak pengguna produk konsentrat ini didudukkan sebagai mitra usaha, bukan sekedar konsumen produk. Hasilnya, 8.000 peternak pendapatannya meningkat sebesar 132,7%, dan penjualan pakan Nutrifeed melalui promosi produk pada peternak kecil pun terkerek naik.

 

Pada fase kedua (2019 – 2021) kemitraan diperluas, menambah sebanyak 8 kabuaten di Jawa Timur dan 9 kabupaten di Jawa Tengah. Perusahaan juga melakukan diversifikasi produk dan pengembangan produk baru. Replikasi bisnis model ini secara mandiri hingga ke Jawa Barat, NTB, Sumatra, dan Sulawesi.

 

Menghadapi pandemi Covid-19, KJUB Puspetasari membagikan 5.000 voucher kepada peternak, juga hand sanitizerdan masker. Selain itu, untuk menjamin keamanan produk, protokol pandemi telah diterapkan pada sistem produksi.

 

Dari diskusi ini disimpulkan, praktik bisnis inklusif adalah lebih dari peningkatkan kesadaran, penguatan kapasitas (capacity buliding) adalah fungsi strategis dari pemberdayaan masyarakat yang dapat memampukan mereka untuk keluar dari ketertinggalan, keterbelakangan, ketakberdayaan dan pada akhirnya kemiskinan. Selain pemerintah, pihak swasta dan perusahaan public memainkan peran aktif dalam program pengembangan masyarakat, pada umumnya melalui program CSR (corporate social responsibility).

 

Namun, pendekatan-pendekatan ini umumnya secara langsung menjawab kendala dan permasalahan di tingkatan komunitas sebagai penerima manfaat. Cara ini umumnya mengesampingkan akar masalah di dalam sistem di mana penerima manfaat berada. Ketika ini terjadi, solusi-solusi yand ditawarkan kemungkinan besar terlalu dini dan hanya memberikan jawaban sementara.

 

Saat ini ada pendekatan baru di dalam program kerjasama pembangunan yang bekerja dengan cara yang berbeda dari program pembangunan lainnya, dikenal luas dengan nama Pengembangan Sistem Pasar atau Market System Development (MSD). Pendekatan ini memusatkan pemikiran di dalam sistem pasar yang ada di sekitar masyarakat atau penerima manfaat.

 

Pendekatan ini percaya bahwa peningkatan berkelanjutan dalam hidup masyarakat tidak mampu harus melibatkan pertumbuhan produktivitas dan bisnis dari semua pelaku, termasuk penerima manfaat itu sendiri. Perubahan-perubahan ini akan dapat dicapai melalui stimulasi praktik-praktik bisnis yang inklusif dan menguntungkan semua pemain di dalam sistem pasar tersebut. ed/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain