Senin, 1 Juni 2020

Budi Tangendjaja: Menangkal Impor Broiler dari Brazil

Budi Tangendjaja: Menangkal Impor Broiler dari Brazil

Foto: yopi
Budi Tangendjaja

Industri broiler (ayam petelur) Brazil mulai dikembangkan pada 1960an ketika negara tersebut mendapat proyek bantuan dari Amerika Serikat (AS) dengan mengirimkan ahli kesehatan hewan dan peternak untuk belajar selama tiga bulan di AS. Berikutnya, Brazil mulai mendatangkan bibit ayam modern untuk dikembangkan sebagai suatu industri unggas dan kemudian menyebar ke berbagai lokasi di negara tersebut, yang tadinya didominasi untuk pemeliharaan ayam lokal. Dengan banyaknya peternak yang memelihara ayam maka dibentuklah suatu Asosiasi perunggasan (Brazilian Poultry Union) yang sekarang namanya berubah menjadi Brazilian Association of Animal Protein. 
 
 
Seperti halnya perkembangan ayam ras di Indonesia pada awal 1970an (yang dimulai dengan Bimas ayam), pertumbuhan industri unggas Brazil juga berjalan sangat pesat baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Perkembangan ekspor didorong ketika krisis minyak terjadi pada 1970an, dimana Brazil mengadakan perjanjian dengan negara-negara di Timur Tengah untuk mengekspor produk unggasnya. Adopsi teknologi maju di 1990an memungkinkan industri unggas dijalankan dengan skala besar dan dengan produktivitas yang tinggi dan pada 2010an muncul perusahaan besar penghasil broiler seperti BRF, JBS, Marfog, dan sebagainya. 
 
 
Pasar ayam Brazil berkembang ke negara EU dan pada 2004, Brazil dinyatakan sebagai pengekspor broiler terbesar di dunia. Industri broiler memegang peranan penting bagi ekonomi Brazil dengan menghasilkan perputaran uang pada 2012, sebesar >US$ 20 miliar dan menyediakan lapangan kerja sebanyak 3,5 juta orang. Meskipun dunia dilanda pandemik Covid-19, ternyata prediksi di 2020, Brazil masih mampu meningkatkan produksi broiler sebesar 14 juta ton dan mengekspor >4 juta ton. 
 
 
Sudah barang tentu untuk melebarkan pasarnya, Brazil tertarik untuk memasuki Indonesia. Pada mulanya Indonesia mencoba untuk membendung pasar ayam Brazil dengan berbagai peraturan, tetapi dengan kekalahan Indonesia atas sengketa dagang di WTO beberapa tahun lalu, maka Brazil akan mencoba memasuki pasar Indonesia lagi. Tahun ini Brazil terus menggugat Indonesia di WTO karena Indonesia masih dianggap melanggar peraturan (mempersulit) masuknya ayam Brazil dan kemungkinan Brazil akan membalas dengan hambatan serupa untuk ekspor Indonesia ke Brazil. Masuknya ayam Brazil sudah barang tentu akan mengancam industri unggas Indonesia jika Indonesia tidak berbenah diri memperbaiki daya saingnya. Tulisan ini mencoba melihat secara keseluruhan keunggulan Brazil dan kelemahan Indonesia sehingga Indonesia dapat memperbaiki diri agar mampu menangkal masuknya ayam Brazil.
 
 
Biaya Produksi Broiler di Brazil
Data yang dilaporkan FAS USDA menunjukkan berbagai biaya produksi broiler di Brazil pada 2019. Biaya produksi broiler hidup semester 1 di 2019 adalah Real Brazil (R$) 2,8 atau sekitar Rp 10.350 dengan kurs pada waktu itu (1 USD = R$ 3,84). Harga jual karkas (wholesale atau partai besar) adalah R$ 4,1 per kg sedangkan harga eceran yang dibayar konsumen adalah R$ 6,2 atau Rp 24.000 per kg. Hal yang menjadi masalah di Brazil adalah nilai tukar terhadap US$ yang bervariasi dan cenderung untuk terus melemah sehingga perusahaan broiler tertarik untuk mengekspor produknya. 
 
 
Rendahnya biaya produksi broiler di Brazil ditentukan oleh berbagai keunggulan kompetitif dari industrinya yang dibina dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini. Di 2000 saja sekitar 14 % dari produksi daging broiler Brazil sebesar 6 juta ton diekspor ke berbagai negara. Kemampuan mengekspor daging broiler menunjukkan kemampuan daya saing Brazil di dunia dan memanfaatkan keunggulan kompetitifnya. Di 2020 ini diperkirakan produksi karkas broiler mencapai 14,1 juta ton dan 4 juta ton diekspor ke berbagai negara di dunia.
 
 
Keunggulan Kompetitif Industri Broiler Brazil
Kalau dilihat secara keseluruhan maka Brazil mempunyai beberapa keunggulan kompetitif yang melebihi Indonesia, keunggulan tersebut adalah:
1. Lahan Pertanian yang luas. Pada 2016 lahan pertanian Brazil seluas 81 juta ha dibandingkan lahan pertanian Indonesia yang hanya 23,5 juta ha termasuk di dalamnya untuk menanam berbagai jenis termasuk padi, jagung, tebu, kacang-kacangan, umbi-umbian. Luas lahan pertanian di Brazil terus bertambah luas dengan pembukaan lahan baru di daerah Cerrado. Lahan untuk menanam jagung di Brazil seluas 18,1 juta ha (bandingkan dengan Indonesia hanya 3,8 juta ha) sedangkan untuk menanam kedelai sebesar 36,9 juta ha (Indonesia boleh dikatakan sedikit sekali). Indonesia mempunyai lahan luas untuk menanam sawit sebesar 11,8 juta ha dan lahan untuk menanam padi sebesar 12 juta ha. Luasnya penanaman jagung dan kedelai yang merupakan sumber energi dan protein untuk pakan mengakibatkan Brazil mempunyai sumber bahan pakan utama yang melimpah sehingga disamping untuk kebutuhan memproduksi ternak. Sebagian jagung dan bungkil kedelai diekspor ke negara lain.
 
 
2. Usaha peternakan terintegrasi secara vertikal. Perusahaan peternakan ayam besar seperti BRF, Saida, Ado’ro dan sebagainya dikelola sebagai perusahaan terintegrasi sehingga mampu mengontrol kualitas dan biaya dalam seluruh rantai pasok mulai dari input produksi (bahan baku pakan dan pembibitan) sampai menghasilkan nilai tambah (value added) dari produk unggas yang siap diekspor ke berbagai negara di dunia. Jumlah perusahaan terintegrasi tidak hanya satu atau dua sehingga menjadi mono/duo-poli tetapi banyak perusahaan yang menjalankan bisnis serupa. Brazil Food Global sebagai asosiasi saja mempunyai anggota 30 perusahaan yang mewakili 95 % dari ekspor broiler Brazil.
 
 
3. Adopsi teknologi maju. Hampir semua peternakan dikelola dengan menerapkan teknologi maju dan dikerjakan oleh peternakan skala besar, jadi tidak ada lagi “backyard farming”. Penerapan teknologi maju tidak hanya dari bibit ayam yang diperoleh dari 2-3 pembibitan ayam dunia (Cobb, Ross, AA dan sebagainya), tetapi juga dengan pengendalian penyakit, nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam modern dan juga pengelolaan yang lebih modern misalnya penerapan kandang tertutup dengan kapasitas sampai 20.000 ekor per kandang. Jadi skala usaha yang makin besar menuntut penggunaan teknologi maju. Keberhasilan penerapan teknologi dapat dibuktikan dengan penampilan produksi yang prima baik ditinjau dari pertumbuhan, kematian, dan efisiensi penggunaan pakan.
 
 
4. Memenuhi tuntutan konsumen. Perusahaan broiler saat ini sudah tidak lagi memikirkan akan bagaimana berproduksi, tetapi sudah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Karena konsumen broiler Brazil tidak hanya di dalam negeri tetapi sebagian besar untuk diekspor maka perusahaan broiler dituntut untuk memenuhi kebutuhan konsumen dari negara pengimpor. Sebagai contoh ketika negara Timur Tengah memintakan produk halal, maka perusahaan akan menghasilkan produk halal sesuai dengan aturan negara pengimpor. Ketika negara Uni Eropa memintakan produk ayam yang tidak menggunakan antibiotika, maka peternakan ayam Brazil akan memelihara ayam tanpa penggunaan antibiotika baik dalam pemeliharaan dan juga dalam pakan. Hal ini dibuktikan dengan data penelusuran (Traceability).
 
 
Keunggulan kompetitif tidak hanya dijumpai di Brazil, tetapi juga di negara tetangga kita Thailand. Meskipun Brazil mempunyai keunggulan dengan biaya produksi yang rendah karena kemampuan menghasilkan protein pakan (dalam hal ini kedelai), tetapi Thailand masih mampu bersaing dengan Brazil di dunia. Hal ini menarik untuk diperhatikan karena hampir separuh produk broiler Thailand diekspor ke berbagai negara di dunia. 
 
 
Industri broiler Thailand mempunyai keunggulan kompetitif dengan mendapatkan nilai tambah (added value) dari produk olahan daging broiler. Meskipun Thailand masih belum mampu menyediakan bahan baku pakan lokal; hampir semua kedelai sebagai sumber protein diimpor dan juga sebagian jagung masih diimpor, Thailand masih mampu bersaing di dunia untuk produk broilernya. Sudah barang tentu Thailand juga menerapkan semua teknologi modern untuk menghasilkan penampilan terbaik disamping semua industri broiler dikelola secara terintegrasi vertikal. Pemerintah Thailand juga menjadi fasilitator yang memadai agar industri broiler mampu bersaing di dunia.
 
 
Bagaimana dengan Indonesia?
Apabila biaya produksi broiler hidup yang dimintakan peternak Indonesia sebesar Rp 18.000 per kg atau harga acuan Permendag No 7 Tahun 2020 sebesar Rp 19.000 per kg hidup ditingkat peternak, maka biaya produksi karkas broiler menjadi Rp 26.300 per kg (asumsi hasil karkas 74 % dan biaya RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas Rp 2.000).  Berdasarkan nilai ini, sudah barang tentu Indonesia akan sulit bersaing dengan rataan setahun terakhir harga karkas broiler di Brazil sebesar US$ 1,2 atau Rp 19.200 per kg (asumsi kurs Rp 16.000 per 1 US$). Oleh karena itu, Indonesia harus memperbaiki industrinya agar mampu menangkal masuknya karkas dari Brazil. 
 
 
Untuk memperbaiki biaya produksi daging broiler, sedikitnya ada 2 hal utama yang menentukan yaitu pertama biaya bahan baku pakan yang akan menentukan biaya ransum dan DOC (ayam umur sehari) karena untuk menghasilkan DOC, faktor biaya terbesar juga adalah ransum. Faktor kedua adalah penampilan produksi karena menentukan ongkos untuk menghasilkan 1 kg karkas ayam. Untuk menentukan biaya ransum maka biaya ransum ditentukan oleh biaya nutrisi dalam pakan dan ada 3 zat gizi yang paling berperan dalam menentukan biaya yaitu energi, protein (sebenarnya asam amino) dan fosfor tersedia. Kandungan gizi ransum diperoleh dari bahan baku pakan dan yang paling berperan adalah harga jagung sebagai sumber energi dan bungkil kedelai sebagai sumber protein. 
 
 
Apabila diperhitungkan dari harga bahan pakan pada Juni 2019 dan harganya diambil dari harga pakan di dunia dan dibayarkan ketika sampai di pabrik pakan maka harga jagung adalah Rp 3.200 per kg dan bungkil kedelai Rp 5.650 per kg dan diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi broiler dan ditambah biaya produksi pakan sebesar Rp 300, maka harga pakan broiler rataan hanyalah Rp 5.100 per kg. Sudah barang tentu harga ransum broiler akan naik ketika jagung lokal dibeli dengan harga Rp 4.800 per kg. Biaya untuk menghasilkan DOC dengan produksi standard dapat diasumsikan sebesar 0,8 kg dari harga pakan breeder (Rp 5.000 per kg), sehingga biaya untuk menghasilkan DOC hanyalah Rp 4.500 per ekor. 
 
 
Faktor kedua yang mempengaruhi biaya produksi karkas broiler adalah penampilan produksi yang maksimal. Untuk mencapai produksi optimal di daerah tropis maka pemeliharaan broiler harus dilakukan dalam kandang tertutup. Apabila diasumsikan pemeliharaan broiler dilakukan secara optimal untuk mencapai penampilan produksi standard yaitu berat badan 1,8 kg yang dicapai selama 30 hari, dengan FCR 1,59 dan kematian 3 % sehingga memperoleh Indeks Prestasi (IP) sebesar 365. Maka biaya produksi broiler termasuk biaya vaksin/obat, tenaga kerja, penyusutan kandang dan alat, pemanas adalah sebesar Rp 12.700 per kg hidup (lihat gambar).
 
 
Apabila dari setiap kg broiler hidup mampu menghasilkan karkas sebanyak 74 %, maka biaya karkas broiler per kg setelah ditambah biaya rumah potong sebesar Rp 2.000 adalah Rp 19.165. Jika dibandingkan dengan harga whole sale karkas di Brazil sebesar Rp 19.200 per kg, maka seharusnya Indonesia dapat menangkal masuknya ayam dari Brazil malahan dapat bersaing dengan negara lain di dunia. 
 
 
Perbandingan dengan Negara ASEAN  
Apabila saat ini kita membandingkan dengan negara-negara ASEAN, maka akan terlihat bahwa Malaysia mampu menghasilkan broiler yang paling kompetitif dan dapat bersaing dengan negara lain. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan Malaysia mengekspor broiler ke Singapura dan mulai melebarkan sayapnya ke negara Timur Tengah dengan memanfaatkan pendapat bahwa Malaysia sebagai “hub” untuk makanan halal di dunia. Kemampuan Malaysia untuk bersaing ternyata ditunjang oleh pemerintah Malaysia membebaskan pemasukan bahan baku pakan sesuai dengan harga pasaran dunia dan memperbaiki efisiensi seluruh rantai pasok dalam produksinya sehingga biaya logistik menjadi sangat kompetitif.
 
 
Tidak hanya Malaysia, Vietnam juga tahun lalu mulai mengembangkan industri broilernya dengan target ekspor ke negara lain terutama Jepang. Ketika investor asing mulai masuk ke Vietnam, investor tersebut menjanjikan untuk menghasilkan broiler dengan biaya <US$ 1 atau <Rp 14.200 untuk kurs pada tahun lalu. Pemerintah Vietnam juga membebaskan industri unggasnya untuk melakukan usaha dan malahan pemerintah menyediakan infrastruktur untuk memperlancar usaha tersebut. Tentu kita sudah mengenal lama bahwa Thailand merupakan negara yang berdaya saing kuat untuk menghasilkan produk unggas di dunia dan bersaing dengan Brazil terutama untuk menghasilkan produk olahan ayam. Thailand memposisikan dirinya sebagai kitchen of the world untuk mendapatkan nilai tambah (value added) dari peternakan broilernya.
 
 
Biaya Produksi yang Berdaya Saing
Berikut ini syarat untuk mencapai biaya produksi yang berdaya saing yaitu ;
1. Usaha broiler dilakukan secara terintegrasi sehingga yang dihitung adalah biaya terendah untuk menghasilkan karkas dan seluruh rantai pasok mulai dari bahan baku pakan sampai karkas broiler dilakukan secara efisien untuk menekan biaya. Tidak ada lagi perdagangan DOC, pakan, dan ayam hidup secara bebas, semuanya secara inklusif dikerjakan oleh perusahaan dan peternak sebagai mitra dengan sistem kontrak yang adil dan saling menguntungkan.
 
 
2. Bahan baku pakan diperoleh dari berbagai negara di dunia tanpa mendapatkan hambatan atau bea masuk dan logistik pakan dilakukan secara efisien sampai pakan diberikan pada broiler. Perhatian utama ditujukan terhadap dua bahan baku utama untuk membuat ransum broiler yaitu jagung dan bungkil kedelai. Biaya produksi jagung Indonesia hampir sama dengan negara lain penghasil jagung sehingga mempunyai peluang untuk bersaing asalkan kepemilikan lahan cukup besar agar petani jagung memperoleh penghasilan yang layak.
 
 
3. Peternakan broiler dikerjakan secara optimal dengan menggunakan teknologi modern terutama  kandang tertutup (closed house) sehingga memperoleh penampilan produksi yang baik dengan nilai IP >365. Peternak yang tidak mampu menghasilkan penampilan produksi yang baik sebaiknya dibina dan difasilitasi agar mampu memproduksi broiler secara optimal. Pemberian kredit lunak dapat diberikan kepada peternak untuk membangun kandang tertutup.
 
 
Saran untuk Indonesia
1. Pemerintah Indonesia dan para stakeholder harus membuatkan strategi jangka panjang (bukan membenahi kasus yang terjadi pada saat tertentu) untuk mencapai daya saing dari industri unggasnya. Pelajaran dari negara lain terutama Brazil atau Thailand yang telah puluhan tahun dapat digunakan untuk membuat rencana jangka panjang (Grand Design). Sebagai bench mark untuk industri broiler adalah berpatokan terhadap usaha peternakan broiler Brazil yang mampu menghasilkan karkas ayam dengan harga whole sale sebesar US$ 1,2 per kg. Pemerintah harus konsisten menjalankan strategi yang telah dibuat karena hasilnya akan terlihat puluhan tahun ke depan.
 
 
2. Perbaiki biaya produksi di dalam negeri sehingga mampu berdaya saing. Syarat yang dikemukakan di atas dapat dilaksanakan, jika perlu dibuatkan model atau diberikan kebebasan bagi perusahaan broiler untuk membuat suatu kawasan broiler (broiler complex) dengan membebaskan impor selama hasil produksinya khusus diekspor ke negara lain.
 
 
3. Perkuat nasionalisme dari konsumen Indonesia untuk mengkonsumsi broiler lokal dengan berbagai pengolahannya. Masyarakat Indonesia cenderung mengkonsumsi broiler segar dari pada beku. Produk impor akan selalu dalam keadaan beku. Jadikan patokan biaya produksi broiler dalam negeri hanya sedikit lebih mahal (misalnya Rp 2.000 per kg lebih mahal) daripada produk impor, sehingga ketika biaya transportasi dari negara lain diperhitungkan maka tidak ada insentif bagi perusahaan untuk mengimpor broiler beku.
 
 
4. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator dan dinamisator agar industri perunggasan mampu mengekspor produknya ke negara lain. Pemerintah tidak perlu melakukan usaha sendiri dengan membuat peternakan atau pembibitan atau pabrik pakan. Asosiasi perunggasan harus lebih banyak diberdayakan untuk kepentingan nasional, bukan hanya peternak atau perusahaan perbibitan atau pakan, tetapi juga memperhatikan kepentingan konsumen yang jauh lebih luas. Pelaku industri atau perusahaan termasuk di dalamnya kemitraan diperlakukan sebagai mitra (partner) dalam mengembangkan industri perunggasan secara keseluruhan agar berdaya saing. Pemerintah dapat memperoleh masukan dari asosiasi industri seperti yang terjadi di Malaysia bahwa pimpinan dari suatu asosiasi menjadi penasehat bagi Kementerian. Untuk meningkatkan daya saing, tidak hanya menangkal masuknya ayam Brazil tetapi juga mampu mengekspor ke negara lain dibutuhkan usaha yang terarah. Hal ini tidak dapat dicapai seperti membalikkan telapak tangan tetapi membutuhkan kerja keras dan cerdas serta tidak dalam waktu singkat. TROBOS
 
 
 
*Konsultan Nutrisi dan Teknologi Pakan
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain