Senin, 1 Juni 2020

Transformasi Koperasi Peternak Sapi

Transformasi Koperasi Peternak Sapi

Foto: 


Adopsi berbagai inovasi dan teknologi serta peningkatan kapasitas SDM dan skala usaha menjadi sebuah keniscayaan agar usaha peternakan sapi perah semakin efisien dan berkelanjutan
 
 
Jawa Barat menjadi salah satu sentra peternakan sapi perah di Indonesia. Usaha yang umumnya dijalankan peternak rakyat ini tersebar di daerah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, serta Kabupaten Kuningan. 
 
 
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat terdapat 16 koperasi peternak sapi perah yang aktif. Adapun rinciannya yaitu KPSBU Lembang; KUD Sarwa Mukti Cisarua; Puspa Mekar; KPBS Pangalengan; KUD Sinar Jaya Ujung Berung; KSU Mitra Jaya Mandiri Ciwidey; KPGS Cikajang; KUD Bayongbong; KSU Tandangsari; KUD Giri Tani; KPS Bogor; KUD Gemah Ripah; KPS Cianjur Utara; KPSP Saluyu; KSU Karya Nugraha Jaya; serta KUD Pagerageung.
 
 
Salah satu koperasi yang masih aktif yaitu KSU Karya Nugraha Jaya di Kuningan Jawa Barat. Koperasi yang berdiri sejak 1998 mencakup wilayah kecamatan Cigugur. “Saat ini jumlah peternak yang dibina sebanyak 1.050 peternak yang tergabung dalam 23 kelompok,” ungkap Ketua Umum KSU Karya Nugraha Jaya, Iding Karnadi. 
 
 
Ia melanjutkan, skala kepemilikan sapi perah setiap peternak rata-rata 4-5 ekor dengan populasi total sebanyak 5.000 ekor. “Dalam sehari, kami bisa menghasilkan sebanyak 33 ton susu segar. Angka ini menurun karena di 2018 lalu produksi susu segar sempat di angka 40 ton per hari,” klaimnya. 
 
 
Iding menyampaikan, susu segar yang dikumpulkan koperasi sebanyak 90 % dipasarkan ke IPS (Industri Pengolahan Susu) yaitu Ultra Jaya dan Diamond. Sisanya atau sebanyak 10 % dijual secara ritel ke masyarakat setempat. “Sebagai pengelola koperasi, peran kami bagi peternak yang utama yaitu menjamin produksi susu dari anggota dengan jaminan pasar yang sudah jelas dan yang penting dengan parameter kualitas yang sesuai,” terangnya. 
 
 
Selain itu, koperasi melakukan pembinaan dan pendampingan oleh penyuluh dan tenaga kesehatan hewan (keswan) serta memfasilitasi kebutuhan peternak seperti sapronak (sarana produksi ternak) teutama pakan konsentrat. Penyuluhan dari dinas terkait atau pos keswanpun sering dilakukan. “Adanya pandemi Covid-19 ini membuat penyuluhan tatap muka menjadi terhambat sehingga koperasi harus menyesuaikan dengan kondisi sekarang,” katanya. 
 
 
Masih di Cigugur Kuningan, Jawa Barat, terdapat pula KPSP (Koperasi Peternak Sapi Perah) Saluyu yang berkembang sejak 2005. Awalnya, koperasi beranggotakan sebanyak 100 peternak dan kini meningkat menjadi 350 peternak yang aktif. Peternak terbagi dalam 15 kelompok dengan populasi total sapi perah yang dipelihara sebanyak 1.300 ekor. 
 
 
Adapun skala kepemilikan sapi perah rata-rata 4 ekor per peternak. Skala kepemilikan sapi perah yang rendah ini akibat masih banyak anggota yang hanya menjadikan sebagai usaha sampingan dan lebih mengutamakan usaha tani atau menjadi kuli bangunan. “Untuk peningkatan skala usaha peternak, kami mendorong kredit penambahan populasi bekerja sama dengan Sucofindo dan perbankan,” terang Ketua KPSP Saluyu, Antonius Aman.
 
 
Ia menambahkan, koperasi juga melayani kebutuhan para peternak anggota dari mulai simpan pinjam, sembako, sapronak berupa konsentrat, obat-obatan, karpet untuk sapi, mesin chooper, dan lain-lain. Pendampingan kelompok juga dilakukan dengan mengadakan penyuluhan ke tiap kelompok, 3 bulan sekali. “Kami ada Dewan Kepemudaan yang mengadakan pelatihan untuk peternak muda. Saat ini, anggota koperasi kami sekitar 30 % merupakan anak muda baik yang meneruskan usaha orang tuanya ataupun sebagai peternak pemula,” tuturnya.
 
 
Tantangan Berkoperasi
Selama ini, Koperasi Saluyu memasarkan susu segar ke-3 IPS yaitu ke Cimory, FFI (Frisian Flag Indonesia), dan Diamond. Produksi susu segar dari peternak anggota koperasi saat ini menurun yang awalnya rata-rata 13 ton menjadi 9 ton per hari. Penurunan produksi ini akibat pasokan pakan hijauan yang terbatas sehingga peternak lebih banyak menggunakan jerami. Dengan kualitas nutrisi pakan yang kurang menyebabkan produksi susu segar juga berkurang. 
 
 
Aman mengeluhkan, keterbatasan lahan yang menjadi tantangan berkoperasi untuk peternakan sapi perah mengingat di daerahnya banyak lahan yang dipakai untuk tempat wisata. Meskipun begitu, ia menilai beternak sapi perah masih bisa diandalkan dibandingkan usaha lain dalam situasi pandemi seperti saat ini. “Alangkah baiknya jika pemerintah memfasilitasi permodalan terutama untuk penambahan populasi sekaligus menyediakan pabrik hijauan seperti silase,” tuntutnya. 
 
 
Iding mengakui, tantangan berkoperasi di sapi perah, terutama dalam hal kesiapan dan kepatuhan anggota yang masih dirasakan kurang. Rasa memiliki dan sama-sama menjaga koperasi dari anggota belum sepenuhnya sehingga terkadang interaksi sifatnya jual beli saja. 
 
 
Selain itu, beternak yang dilakukan anggota masih bisa disebut sebagai usaha tambahan dan hanya sekitar 10-20 % yang beternak sebagian usaha pokok. “Kami sudah memfasilitasi anggota untuk mengakses pembiayaan ke perbankan. Koperasi juga ada skim kredit bagi anggota untuk membeli sapi,” ucapnya. 
 
 
Disampaikan Iding, para peternak binaannya terkendala kualitas bibit yang sudah kurang bagus. Idealnya, untuk perbaikan bibit harus impor cuma persoalannya terpentok di harga mengingat kemampuan peternak terbatas. “Kalau di kita, harga bibit antara Rp 20-25 juta per ekor sedangkan kalau impor bisa sampai Rp 40-50 juta per ekor. Meskipun dibantu skim kredit kalau nilainya segitu berat,” sesalnya.
 
 
Hanya sedikit anggota yang melakukan rearing sendiri untuk menghasilkan induk pengganti karena kemampuan yang terbatas. Umumnya, para peternak membeli bibit dari Boyolali Jawa Tengah atau dari daerah Jawa Barat seperti Garut, Pangalengan, Lembang, dan Tanjung Sari. “Sebenarnya pemerintah bisa membantu peternak mensubsidi impor sapi indukan dengan harga lokal sesuai kemampuan peternak agar bisa meringankan peternak dan mampu bayar,” tuntut Iding. 
 
 
Daya Dukung Lingkungan
Prospek usaha peternakan sapi perah dinilai masih menjanjikan. Hal itu ditunjang dengan kapasitas produksi susu dari peternak rakyat dalam negeri yang masih di bawah 20 % sehingga mendorong koperasi untuk lebih kreatif dalam melakukan pengembangan usaha agar semua yang sudah berjalan bisa berkelanjutan. “Dalam beternak sapi perah, kami rasakan bisa dikatakan hampir tidak ada kendala dalam hal pemasaran karena pasar sudah jelas. Jaminan pasar sudah pasti. Harga tidak ada istilah turun, minimal bertahan. Yang penting harus berpacu dengan kualitas karena menjadi acuan harga,” urai Iding.
 
 
Hanya bagi Iding, masih terbukanya peluang bisnis di sapi perah ini terkendala daya dukung lingkungan seperti keterbatasan pasokan rumput dan lahan kandang yang terdesak pemukiman. Sama halnya dengan keinginan untuk mengolah susu segar sendiri meski dengan skala kecil sebagai ikhtiar pengembangan bisnis di hilir namun terkendala keterbatasan sarana dan SDM (Sumber Daya Manusia) terutama yang mampu memasarkan. 
 
 
Tetapi di hulu, Iding sudah membuat internal farm milik koperasi sejak 2014 dengan populasi sapi perah sekitar 50 ekor. Tujuannya, untuk pembibitan sekaligus menambah produksi susu segar. “Mudah-mudahan dalam jangka waktu dekat bisa ditambah popoulasinya,” harapnya. 
 
 
Ia berharap koperasi bisa tetap tumbuh dan berkembang. Anggota bisa terus meningkatkan skala usaha dan kesejahteraannya. “Kepemilikan sapi dari anggota koperasi umumnya masih di bawah skala usaha, padahal minimalnya sekitar 8-10 ekor,” katanya.
 
 
Iding pun memiliki harapan besar kepada para pemuda untuk terlibat di bisnis peternakan sapi. Minat anak muda yang terlibat di bisnis peternakan sapi sudah mulai banyak dan sebagian anggota koperasi anak muda. “Beternak sapi perah usahanya sudah pasti tidak seperti berdagang dan bertani. Yang penting mau kerja, mau cape, ulet, dan mau kotor,” kilahnya. 
 
 
Aman pun mengungkapkan, koperasinya berencana melakukan ekspansi bisnis di hilir dengan mendirikan pabrik keju mozzarella bekerja sama dengan NGO dari Belanda, Agriterra. Biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan pabrik tersebut sebesar Rp 25 miliar dan koperasi harus menanamkan dana investasi hasil patungan dari para peternak sekitar 30 % atau Rp 7,5 miliar. “Namun karena terbentur permodalan dan dana patungan dari para anggota baru terkumpul Rp 1,5 miliar dan keburu menghadapi situasi pandemi Covid-19 maka rencana itu harus ditunda,” kilahnya. 
 
 
Rencana Aman berikutnya yang tertunda akibat pandemi ini adalah membuat internal farm dengan kapasitas 200 ekor sapi perah. Ia pun bahkan sudah merencanakan menyediakan pakannya terlebih dulu dengan membuat silase dari jagung. 
 
 
Adapun tujuan membuat internal farm yang terinspirasi saat melihat peternakan sapi perah di luar negeri, lanjut Aman, untuk meningkatkan produksi dan kualitas susu segar dengan pengelolaan secara benar dan modern agar efisien. “Walaupun banyak rencana yang tertunda namun kami berharap ke depan beternak sapi perah bukan sampingan lagi dan sudah menjadi usaha pokok. Kami pun tidak mengejar jumlah anggota yang banyak tetapi jumlah anggota sedikit namun kepemilikan sapi dalam jumlah banyak,” paparnya.
 
 
 
Adopsi Teknologi
Di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat telah lama berdiri KPSBU (Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara) Lembang. Koperasi yang telah berdiri sejak 1971 dan menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Barat ini memiliki anggota aktif yang setor susu segar sekitar 4.500 peternak. Total peternak ini terbagi dalam 104 kelompok dengan jumlah populasi sapi perah sekitar 20.000 ekor dengan skala kepemilikan 4-5 ekor. “Anggota koperasi mencakup wilayah dalam radius paling jauh 1 jam perjalanan dari lokasi koperasi. Mengingat ada di daerah perbatasan sehingga anggota ada di beberapa daerah yaitu di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Subang,” ungkap Sekretaris KPSBU Lembang, Ramdan Sobahi. 
 
 
Menurut Ramdan, dari total populasi sapi yang ada, produksi susu sapi segar koperasi sekitar 125 ton per hari. Kondisi turun produksi itu terjadi sejak 5 bulan yang lalu. Salah satu penyebabnya adalah transportasi pakan dari Sumatera yang terganggu membuat biaya produksi peternak juga menjadi relatif tinggi, karena tidak punya pakan dan rumput. 
 
 
Sebanyak 90 % produksi susu segar koperasi dipasarkan ke IPS yaitu FFI dan Diamond. Sebagai upaya untuk pengembangan usaha, oleh koperasi susu segar sisanya yang sebanyak 10 % dijual secara ritel dan 1 ton diantaranya per hari diolah menjadi yoghurt dan susu pasteurisasi dengan merek KPSBU. Berbagai produk itu diproduksi di Alam Murni di pabrik milik GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia). “Kami sudah lebih dari 10 tahun ekspansi di hilir. Tantangannya, memasarkan yoghurt dan susu pasteurisasi susah juga karena produk ini tidak tahan lama tidak seperti susu steril,” terangnya. 
 
 
Di hulu, koperasi yang dikelola Ramdan mengembangkan model internal farm yang dianggap sebagai model peternakan rakyat masa depan yang merupakan bantuan dari pemerintah Belanda dan FFI. Model peternakan yang berlokasi di Ciater Subang ini dikembangkan sejak 2018 dengan total populasi sebanyak 100 ekor dan skala pemeliharaan rata-rata bisa di atas 10 ekor. 
 
 
Dalam model peternakan ini, adopsi teknologi dilakukan. Manajemen pemeliharaan sudah nir limbah, sapi lebih nyaman, ada air minum yang selalu tersedia, dan pakan yang diberikan berupa silase jagung bisa disimpan sampai 1.000 ton. Sedangkan pemerahan sudah menggunakan mesin perah portabel yang juga sudah digunakan oleh sekitar 100 peternak anggota koperasi. “Walaupun petenakan rakyat, kita tidak bisa begini terus sehingga harus berubah dan mengadopsi teknologi dan inovasi yang ada,” tegas Ramdan. 
 
 
Pengumpulan susu pun, lanjut Ramdan, dari sisi waktu pengumpulan lebih cepat supaya tidak terjadi penurunan kualitas susu. Peternak wajib menyetor susu sesegera mungkin. “Meskipun saat ini ada pandemi, para peternak sapi perah lebih bisa bertahan dengan keberadaan koperasi dan pemasaran yang lancar,” klaimnya. 
 
 
Agar usaha peternakan sapi perah ini bisa terus berkembang, Ramdan menuntut pemerintah mulai memperhatikan alokasi lahan menggunakan lahan-lahan milik negara untuk peternak agar bisa menyediakan pakan hijauan yang melimpah sehingga produk susu segar ini lebih murah diperoleh masyarakat. “Walaupun belum ada perkembangan yang berarti, kami juga sedang mengembangkan pola tanam jagung seluas 1 ha yang dikelola oleh kelompok tani,” katanya.  
 
 
Koperasi peternak sapi perah yang juga terbesar di Jawa Barat yaitu KPBS (Koperasi Peternak Bandung Selatan) Pangalengan. Koperasi yang terletak di Kabupaten Bandung ini berdiri di 1969 dan saat ini memiliki total anggota sekitar 4.500 orang dan 2.600 anggota diantaranya adalah peternak sapi perah aktif. Para peternak tersebut tersebar di 89 kelompok di 2 kecamatan yaitu Pangalengan dan Kertasari dengan total populasi sapi perah sebanyak 13.000 ekor. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 249/Juni 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain