Senin, 1 Juni 2020

Pasar Akikah dan Kurban Diprediksi Menurun

Pasar Akikah dan Kurban Diprediksi Menurun

Foto: ramdan


Jika pandemi Covid-19 belum reda sampai momen Idul Adha, perlu adanya protokol yang jelas terkait pemotongan hewan maupun pendistribusian daging kepada masyarakat
 
 
Yayasan CBC Indonesia dan Indonesia Livestock Alliance berkolaborasi dengan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI). Serta didukung oleh Kamar Dagang Indonesia dan Bantuan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan diskusi online dengan tema “Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Rantai Tataniaga Subsektor Peternakan Domba-Kambing (Doka) dan Mitigasi Kurban di Tengah Wabah dan atau Pasca Covid-19” pada Sabtu (2/5).
 
 
Tema tersebut diangkat, disebabkan ada dua permasalahan yang harus dipecahkan dan didiskusikan semua stakeholder komoditas domba dan kambing. Pertama, tekanan terkait dampak Covid-19 terhadap para pelaku rantai tataniaga. Mencakup pengaruh terhadap peternak dan pasokan Doka, serta daya serap di pasar maupun untuk kebutuhan rumah tangga. Disusul dengan sebagian kota sudah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang akan memiliki dampak ke alur logistik dan arus ternak Doka ke berbagai kota. 
 
 
Selanjutnya, tekanan kedua terkait mitigasi kurban di tengah pandemi Covid-19. Jika wabah ini tidak kunjung usai sampai hari raya kurban. Perlu memikirkan strategi yang harus disiapkan dalam pelaksanaan ibadah kurban sehingga tak mengurangi kesakralan ibadah tersebut.
 
 
Pangsa Pasar Doka Anjlok
Yudi Guntara Noor, Ketua Umum HPDKI menuturkan adanya wabah Covid-19 memunculkan banyak permasalahan tidak terkecuali subsektor peternakan domba kambing (doka). Diantaranya permintaan pasar yang menurun, selain karena permintaan komoditas daging doka yang sangat kecil di konsumsi rumah tangga dibandingkan dengan daging ayam dan sapi. Lalu, diperparah lagi restoran kuliner Doka yang sementara waktu ditutup.
 
 
Sambungnya, kegiatan ritual agama seperti aqiqah pun dirasa menurun. Akibat daya beli masyarakat yang juga menurun dimana masyarakat lebih memenuhi kebutuhan pokoknya dan menunda terlebih dahulu ritual agama seperti keperluan aqiqah.
 
 
Imbasnya, pergerakan untuk permintaan doka di peternak tidak berjalan sama sekali. Padahal momen bulan puasa dan lebaran biasanya permintaan cenderung naik, namun ini tidak terjadi. “Dulu bulan puasa dan lebaran merupakan fase pertama dalam menjual bakalan kepada pembeli yang akan menggemukkan dokanya untuk persiapan qurban. Alhasil, peternak meraup keuntungan yang bisa digunakan untuk keperluan puasa dan lebaran namun hal itu tidak terjadi di tahun ini,” keluhnya.
 
 
Diakui Hasan Al Banna, Presiden Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia (Aspaqin) bahwa dampak Covid-19 juga dirasakan oleh pengusaha aqiqah. Bagi pelaku usaha aqiqah di daerah yang sudah menerapkan PSBB mengalami penurunan permintaan sebanyak 80 – 90 % dan sejumlah 50 – 60 % bagi pelaku usaha aqiqah di daerah yang belum melakukan PSBB. “Kalau dipetakan dari berbagai historis transaksinya, sebenarnya yang beraqiqah 70 % adalah kelas menengah kebawah, sedangkan 30 % dari kelas ekonomi keatas. Jadi penjualan aqiqah ini menurun disebabkan yang 70 % kelas menengah lebih selektif buying dalam artian lebih memiilih kebutuhan primer terlebih dahulu,” tuturnya.
 
 
Sementara diutarakan Fahmi Thalib, pelaku usaha Aqiqah dan peternak doka di DKI Jakarta bahwa pemotongan doka untuk aqiqah memang mengalami penurunan. “Biasanya dapat memotong doka 10 – 15 ekor per hari untuk aqiqah namun saat ini hanya tinggal 5 ekor. Saat kondisi normal, satu jagal rata - rata memotong doka sebanyak 30 ekor tiap hari untuk keperluan warung - warung sate serta restauran timur tengah,” klaimnya.
 
 
 Dia mengatakan biasanya awal Ramadan mengalami peningkatan permintaan, kemudian di pertengahan menurun dan di akhir Ramadan kembali naik lagi, namun hal itu tidak terjadi pada tahun ini. “Saat ini banyak jagal – jagal yang tutup sementara,” keluhnya.
 
 
Untuk pasar harian doka di DKI Jakarta umumnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat keturunan Arab misalnya di daerah Tanah Abang, Kampung Melayu dan Condet. “Para jagal jarang sekali menyuplai untuk kebutuhan rumah tangga,” urainya.
 
 
Agus Sholehul Huda, Owner Gumukmas Multi Farm merasakan juga dampak Covid-19 dikarenakan permintaan domba hidup tak bergerak sama sekali. Sebelum adanya wabah Covid-19, di farm-nya untuk keperluan harian bisa memotong sebanyak 25 ekor per hari. Sekarang ini tidak ada permintaan sama sekali karena tidak ada hajatan di masyarakat. “Tahun kemarin ketika memasuki Idul Fitri, permintaan hewan hidup di kandang sangat tinggi. Bahkan sampai stok dikandang tidak mampu memenuhi permintaan konsumen,” ungkapnya.
 
 
Ia keluhkan harga bakalan sangat mahal di peternak pembibit. Di wilayah Jember Jawa Timur harga bisa mencapai Rp 62.000 per kg dengan bobot antara 10 – 15 kg. Sayangnya, harga doka setelah digemukkan malah turun menjadi Rp 58.000 – Rp 59.000 per kg untuk bobot 18 – 25 kg. Dan harga Rp 52.000 per kg untuk bobot diatas 25 kg. Namun untuk domba diatas 25 kg sementara ditahan agar nanti dapat terserap di ibadah kurban. Selain itu berharap harganya dapat meningkat menjadi Rp 56.000 – 57.000 per kg. “Meskipun ada biaya tambahan di produksinya, tetapi bisa disiasati dalam pemberian kualitas pakannya,” terangnya.
 
 
Menjelang Momen Kurban
Yudi mengingatkan untuk dilakukan langkah antisipasi yang tepat jika wabah Covid-19 belum reda sampai hari kurban. “Perlu adanya protokol yang jelas entah terkait pemotongan hewan maupun nanti pendistribusian daging kepada masyarakat. Karena ia tidak menginginkan adanya kerumunan ditengah masyarakat yang memancing penularan wabah Covid-19,” harapnya.
 
 
Ditambahkan Hasan meskipun Covid-19 diprediksi akan beres pada Juli atau lebih cepat di Juni tetapi perlu masa recovery untuk kelas ekonomi menengah kebawah. Sepertinya, yang lebih diprioritaskan recover ekonomi terlebih dahulu dibandingkan berkurban. “Mengingat hukum dari berkurban yaitu sunah muakkad,” ujarnya.
 
 
Saat ini teman - teman yang ada di Aspaqin rata - rata tidak belanja terlebih dahulu hewan kurban. Namun beberapa sudah belanja hewan kurban jauh - jauh hari, mengingat sebagian mereka juga sebagai peternak yang memiliki kandang sendiri. Tak khayal, mereka yang akan belanja awalnya sejumlah 100 ekor menjadi 10 ekor terlebih dahulu, karena sambil melihat perkembangan dari kondisi dan situasi kedepan. “Di satu sisi dengan belanja sedikit, mudah mudahan dokanya bisa terserap di aqiqah jika memang nanti tidak terjual saat ibadah kurban,” jelas Hasan.
 
 
Ia mengungkapkan ada beberapa rencana dari Aspaqin yang akan dilakukan dalam menghadapi momen idul adha nanti. Ada dua skema yang akan dilakukan oleh Aspaqin kedepan. Pertama, memfokuskan kegiatan ibadah kurban di pedesaan. Kedua, dengan melakukan pemotongan hewan di RPH (Rumah Potong Hewan) untuk dijadikan makanan olahan dalam bentuk kaleng. “Hal itu dirasa memberikan cukup manfaat di masa pandemi seperti ini,” imbuhnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 249/Juni 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain