Jumat, 5 Juni 2020

Berkah dari Pandemi, Ayam Organik dan Telur Herbal Laris

Berkah dari Pandemi, Ayam Organik dan Telur Herbal Laris

Foto: dok.datuk


Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Di Lampung, ayam organik dan telur herbal laris manis selama pandemi Covid-19, tidak seperti ayam dan telur ayam ras yang justru harganya terpuruk berbilang bulan.

 

Berkah itu dinikmati oleh Kelompok Peternak Berkat Usaha Bersama(KPBUB) Kota Metro yang memproduksi ayam organik, dan Sekuntum PS Kabupaten Lampung Timur yang memproduksi telur herbal.

 

H Kusno Waluyo, pemilik peternakan telur herbal Sekuntum PS di desa Panjingkusuma, kec Purbolinggo, kabupaten Lampung Timur, permintaan konsumen tetap bergeming ketika Covid-19 menerpa daerah ini. Padahal harga telur herbal lebih mahal Rp 2 ribuan – Rp 3 ribu dari telur ayam ras umumnya.

 

Dijelaskan Pak Haji—sejawatnya biasa memanggil—stabilnya permintaan produknya karena memiliki segmen pasar tersendiri yang tidak bersentuhan dengan telur ayam ras umum. “Sejak Covid ini justru konsumen makin banyak mengkonsumsi telur herbal guna memperkuat imunitas sehingga kios-kios telur sering kosong stok dan menunggu kiriman, baru bisa jualan lagi,” ujarnya via telepon Kamis (4/6).

 

Bahkan, ia mengakui, permintaan telur dari Jabodetabek juga banyak. Namun ia menyetop pengiriman dengan sejak Covid-19 dengan alasan menjaga keselamatan pekerja dan sopir pengangkut telur dari ancaman virus Corona.

 

“Selain berisiko terhadap yang mengangkut telur, juga bisa merusak pasar jika sampai pekerjanya terkena Corona,” Kusno beralasan.

 

Kusno terinspirasi memproduksi telur herbal dari penggunaan jamu-jamuan pada manusia. “Nenek moyang kita, jika pegal-pegal dan kurang enak badan mengkonsumsi jamu. Jika ayam diberi jamu, badannya menjadi segar dan sehat sehingga lebih tahan terhadap serangan penyakit. Jika ayam sehat tentu produksi telur bisa meningkat,” asumsi dia saat itu.

 

Berbagai ujicoba dilakukan Kusno sejak tahun 2006 hingga 2008, akhirnya ia menemukan resep yang tepat. Yakni dengan merebus temulawak, temu ireng, sambiloto, mengkudu (pace) dan daun/umbi tanaman jamu-jamuan lainnya. Kemudian air rebusannya dicampur dengan madu hutan, lalu difermentasi selama enam bulan. Tujuan difermentasi agar khasiat bahan baku jamu-jamuan tersebut saling mendukung sehingga mampu memperkuat daya tahan tubuh ayam terhadap serangan penyakit.

 

Ayam Organik

Produk unggas lainnya yang juga laris sejak pandemi Covid-19 adalah ayam organik poduksi KPBUB Kota Metro, Provinsi Lampung. Menurut Ketua KPBUB Yulius Wahyu Hidayanto, sejak pandemi Covid-19, permintaan pasar terhadap ayam potong organik meningkat. Ia menduga penyebabnya, makin banyak warga yang sadar akan pentingnya mengkonsumsi bahan pangan sehat agar tubuhnya tidak mudah terserang berbagai penyakit.

 

“Lagi pula ayam potong kami sudah bersertifikat organik yang diterbitkan lembaga sertifikasi organik PT Mutu Agung Lestari pada akhir Desember 2019. Dengan begitu produk kami merupakan satu-satunya ayam potong yang memiliki sertifikat organik,” ujar Wahyu di tempat terpisah. Sebelumnya ayam beku produksi KPBUB sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI dan sertifikat NKV (nomor kontrol veteriner).

 

Selama pandemi Covid-19, Wahyu menerangkan, suplay ayam beku ke Jakarta, Bogor dan Bandung tetap berjalan lancar. “Jika sebelumnya produk kita masuk juga ke hotel dan restoran. Sejak Covid tentu permintaan dari segmen tersebut stop sehingga tinggal untuk konsumsi harian.”

 

Hanya, sekarang pembayaran dari mitranya makin molor karena mereka minta tunda dengan alasan cashflow terganggu karena terdampak Covid sehingga omzet penjualan mereka jauh berkurang. “Dalam kondisi normal masa tenggang pembayaran sudah tiga bulan. Setelah Covid, pelanggan minta tambah lama lagi sehingga menyulitkan cashflow kita yang butuh dana segar untuk membeli DOC, pakan dan saprodi lainnya,” akunya.

 

Kendati begitu Wahyu merasa masih beruntung karena harga ayam organik tidak seperti broiler yang sempat merosot. Harga ayam organik yang dijualnya masih stabil di angka Rp 45 ribu/ekor di Jabodetabek, Rp 40 ribu/ekor di Bandarlampung dan Rp 35 ribu/ekor di Kota Metro dan sekitarnya. Harga itu untuk karkas dengan berat minimal 0,7 kg/ekor tanpa kepala, isi perut, ekor dan kaki. “Terjadinya perbedaan harga tersebut semata adanya tambahan biaya transportasi pengiriman produk,” ia beralasan.

 

Saat ini omzet ayam organik KPBUB sebanyak 2 ribu ekor/minggu. Penjualannya selain di Kota Metro sendiri, Bandarlampung, Jabodetabek, Bogor dan juga Bandung. Selain dijual di pasar swalayan, banyak juga komunitas-komunitas sehat yang menjadi reseller.

 

Selama pembesaran, ayam tidak mengkonsumsi antibiotik dan zat kimia untuk pencegahan penyakit dan pengobatan, tetapi menggunakan jamu-jamuan herbal. Bahan jamu-jamuan yang jumlahnya mencapai 12 macam tersebut digiling, lalu ditambah air dan diperas. Air perasannya difermentasi dengan efective mikroorganisme (EM)-4 selama seminggu. Kemudian dengan dosis yang sudah berdasarkan hasil ujicoba, air fermentasi herbal ini dicampurkan ke dalam air minum ayam.

 

Penggunaan jamu-jamuan ini tidak saja membuat ayam terhindar dari residu kimia, tapi citarasa daging ayam organik lebih legit dan tidak susut setelah dipotong. Lalu kotoran ayam juga tidak terlalu berbau karena kotoran ayam yang mengkonsumsi jamu lebih cepat kering. ed/datuk

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain