Rabu, 24 Juni 2020

Mimbar Trobos #1 : Strategi New Normal Industri Peternakan

Mimbar Trobos #1 : Strategi New Normal Industri Peternakan

Foto: ist/dok.zoom-MimbarTROBOS


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Mimbar TROBOS memulai seri seminar online pertamanya dengan menghadirkan dewan redaksi TROBOS Livestock sebagai narasumber untuk membahas ‘Strategi New Normal Industri Peternakan’ pada Rabu (24/6).

 

Semua jajaran Dewan Redaksi TROBOS Livestock berkesempatan hadir, yaitu Prof Bungaran Saragih (pakar sosial-ekonomi pertanian), Prof Muladno (Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, penggagas Sekolah Peternakan Rakyat / SPR), Prof Ali Agus (Dekan Fapet UGM, Ketua DPP HKTI DI Yogyakarta), Prof Arief Daryanto (Dekan Sekolah Vokasi IPB) dan Don P Utoyo (Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia / FMPI).

 

Tema dipilih setelah pemerintah mengumumkan diberlakukannya masa transisi menandai mulai berakhirnya masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), untuk kemudian memasuki periode new normal.

 

Menteri Pertanian RI periode 2000 – 2004, Bungaran Saragih mengatakan bahwa seluruh pihak harus menyadari betapa pentingnya sektor peternakan, sehingga peternakan mampu mendapat perhatian. “Dalam era new normal ini, seluruh sisi di bisnis peternakan harus menjamin dan memperhatikan faktor kesehatan,” saran dia.

 

Sistem usaha peternakan juga perlu berbicara jangka panjang, dan memiliki strategi modernisasi yang menjadi tantangan saat ini. Tujuannya, agar bisnis peternakan menjadi lebih efektif, efisien, dan berdaya saing. “Demi memperbaiki peternakan nasional, maka diperlukan keterbukaan. Masa sulit ini harus dijadikan momentum untuk perbaikan di kemudian hari,” imbuh Bungaran.

 

Strategi Peternakan

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Muladno menyampaikan bahwa sebetulnya Covid-19 menimbulkan sisi positif bagi manusia, yaitu munculnya pola hidup bersih dan sehat, lebih meningkatkan rasa empati terhadap sesama, dan beraktivitas dengan penuh kewaspadaan.

 

“Sementara itu, strategi baru yang harus diterapkan dalam industri peternakan adalah tersedianya intensif bagi pelaku usaha berprestasi dan empati dalam mencapai ambisi. Regulasi yang ada saat ini harus mampu mendorong terciptanya produk yang kompetitif,” kata dia saat memberikan paparan.

 

Lanjutnya, pemerintah dirasa perlu untuk memberi anggaran yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana komunitas peternak yang sebelumnya telah terkonsolidasi dan berbisnis kolektif. Terakhir, Muladno menekankan jika mendidik peternak adalah esensi dalam membangun peternakan rakyat, maka dari itu diperlukan sekolah peternak rakyat yang siap memberikan pelatihan dan pendidikan.

 

Kemudian, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2012 – 2016 dan 2016 – 2021), Ali Agus memberikan pendapat lain terkait ini. Strategi yang harus diterapkan oleh industri peternakan saat ini adalah perlunya SDM atau sumber daya manusia yang tangguh dengan kemampuan IT, bahasa Inggris, dan wirausaha yang baik. Lalu, hasil produksi ternak berupa daging, telur, dan susu harus pula ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memenuhi selera konsumen.

 

“Demi memperkuat rantai pasok, para peternak didorong supaya mampu mengembangkan jaringan sosial dan jaringan kerjanya,” terangnya.

 

 

Kompetisi yang ada di dunia peternakan sekarang adalah bagaimana memperoleh keuntungan di pasaran. Hal tersebut sangat berlaku terutama bagi peternak sebagai produsen dan seluruh pihak yang menangani rantai suplai.

 

“Peternak akan lebih mudah untuk memperoleh inovasi guna menurunkan biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk di tengah pandemi. Sehingga, para konsumen merasa layak untuk membeli produk peternakan. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada kapasitas dan iklim pasar yang ada sekarang,” tutur Dekan Sekolah Vokasi IPB University, Arief Daryanto dalam kesempatan yang sama.

 

Sebagai penutup, Presiden Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), Don P. Utoyo berharap agar sekolah vokasi dan sekolah peternakan rakyat bisa diperbanyak serta ditingkatkan eksistensinya. Tentunya, hal ini akan berdampak pada kesiapan SDM dalam mengarungi dan memajukan industri peternakan tanah air.

 

“Perlu ditekankan, jika kerjasama antara pemerintah, stakeholder dan akademisi peternakan harus digalang plus ditingkatkan. Tujuan kita bersama disini adalah demi sejahteranya sektor peternakan nasional,” ujar Don semangat. ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain