Rabu, 1 Juli 2020

Paguyuban Peternak Bebek Lampung

Paguyuban Peternak Bebek Lampung

Foto: syafnijal datuk
Sebagian bebek petelur yang diusahakan Sutrisno

Akibat pandemi Covid-19, pelaku usaha bebek kesulitan memasarkan hasil usaha, sehingga muncul ide untuk saling membantu agar bisa tetap eksis
 
 
Pandemi Covid-19 memaksa pelaku usaha bebek di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung harus berpikir keras agar tetap bisa eksis dalam menjalankan usaha. Jika sebelumnya masing-masing pelaku di setiap usaha berjalan sendiri-sendiri, sekarang muncul ide membuat aliansi, mulai dari usaha bebek petelur, pembibitan, pedagang DOD, bebek potong, dan pedagang telur/bebek.
 
 
Ide ini muncul dari Sutrisno di Desa Gading Rejo Utara, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung seorang peternak bebek senior di daerah tersebut. Ia mengajak, Deny, pelaku usaha pembibitan bebek, Tanto peternak bebek potong; Hidayat, pedagang DOD dan Sujarwo, pedagang telur/bebek potong untuk membuat aliansi/paguyuban usaha bebek.
 
 
Mereka sepakat dan berkomitmen untuk mengutamakan membeli/memasarkan produk anggota dan memenuhi kebutuhan anggota terlebih dahulu baru dijual keluar. “Ide ini muncul setelah semua usaha bebek terpukul akibat pandemi Covid-19. Kita semua kesulitan memasarkan hasil usaha, sehingga muncul ide untuk saling membantu agar bisa tetap eksis,” ujar Sutrisno.
 
 
Dijelaskan Cak Tris, panggilan akrab Sutrisno, sebelum pandemi virus Corona mereka sudah menjadi bermitra dagang, namun belum ada komitmen untuk saling memprioritaskan. Sebab siapa saja yang datang ke kandang mau membeli telur bebek atau bebek potong dilayani sesuai permintaan dan stok yang ada. Namun ketika muncul pandemi Covid-19, peternak bebek kesulitan menjual telur, bahkan penjualan bebek potong nyaris nol karena restoran/rumah makan dan warung tenda tutup. Begitu juga produsen DOD bebek juga kesulitan menjual bibit bebek.
 
 
Lalu Cak Tris mengajak Deny dan mitra lainnya untuk membentuk aliansi/paguyuban, walau hingga kini belum disepakati namanya. Namun mereka sepakat dan berkomitmen untuk saling membantu dan memproritaskan dalam memasarkan produk anggota dan mememuhi kebutuhan anggota aliansi/paguyuban. 
 
 
Sebelum pandemi Covid, Cak Tris juga membesarkan bebek potong, namun setelah Covid ia hanya tinggal usaha bebek petelur dengan indukan jenis Master yang merupakan persilangan itik lokal Mojosari (jantan) dengan Alabio (betina). Populasi saat ini berjumlah 600 ekor dengan produksi telur 500-an butir/hari. Sebelum dijual telur tersebut disortir dengan ketentuan telur yang besar dan bagus dipasok ke Deny untuk ditetaskan dan yang bakalan dijual ke Sujarwo untuk dikirim ke pasar-pasar tradisional.
 
 
Jaminan DOD
Deny mengaku, tertarik bergabung dalam aliansi bebek agar ada jaminan pasokan bahan baku berupa telur dan pemasaran melalui pedagang DOD. “Kalau ada komitmen begini, kita menjadi tenang berusaha karena ada kepastian stok bahan baku dan ketika panen sudah ada yang menampung. Jadi kita tinggal berusaha bagaimana meningkatkan efisiensi dengan menaikan prosentase telur yang menetas,” ungkap Deny. 
 
 
Deny memulai usaha penetasan telur bebek sejak 2014 dengan mesin berkapasitas 100 butir. Saat itu ia menetaskan telur bebek sebulan sekali karena baru memiliki satu mesin tetas sederhana. Saat ini, ia sudah memiliki 15 mesin dengan kapasitas 10 ribu butir telur. Masa penetasan 28 hari dengan prosentase kematian alias tidak jadi DOD sebanyak 30 persen.Penetasan dilakukan secara berkesinambungan. Produksi DOD sekitar 2 ribuan per hari, dipelihara dua 2 hingga 3 hari baru dijual. DOD bebek yang diproduksinya sebagian besar dijual kepada Hidayat dan Tanto jika sedang membutuhkan bibit untuk pembesaran.
 
 
Soal harga, tutur Deny, mengikuti harga pasar. “Jadi tidak dipatok pada satu harga, kita mengikuti fluktuasi harga pasar. Saat ini harga jual DOD untuk jenis Master Rp 9.500/ekor dan yang lokal Rp 9 ribu/ekor,” katanya.
 
 
Harga Telur Terjaga
Sujarwo, pedagang telur bebek mengaku dengan adanya komitmen di antara anggota aliansi pemasaran telur bisa terus diperluas karena memiliki kepastian stok yang akan dijual.“Di sini kita bisa saling bantu. Ketika stok telur melimpah, sementara permintaan konsumen menurun kita membantu peternak. Maklum, sejak pandemi Covid-19 ini, permintaan telur jauh menurun, sementara peternak bebek yang memproduksi telur tetap, bahkan meningkat karena banyak warga yang terjun beternak bebek karena modalnya tidak sebesar beternak ayam. Lalu pakan alternatif berupa limbah pasar dan rumah tangga juga melimpah,” tuturnya.
 
 
Sebaliknya, Jarwo melanjutkan, ketika permintaan tinggi, pedagang dibantu peternak karena mendapat prioritas stok telur dibanding pedagang lainnya. “Jadi bagaimana kita yang berusaha pada mata rantai bebek ini saling menghidupi,” Jarwo berharap. 
 
 
Menurut Jarwo, aliansi ini sangat penting mengingat harga jual telur bebek sulit dikatrol karena selain banjirnya telur bebek angon pada musim panen padi sawah, juga telur bebek dari Jawa masuk ke Lampung. “Peternak bebek angon ini yang sering merusak harga karena dengan dijual seribu per butir pun mereka masih untung karena tidak ada biaya pakan,” aku Jarwo. 
 
 
Belum lagi, telur bebek yang masuk dari Jawa yang harganya lebih murah. Memang dari sisi kualitas, telur bebek dari peternak lokal lebih baik karena lebih fresh sehingga disukai konsumen. Namun soal harga juga menjadi pertimbangan bagi pembeli, terutama pembuat kue. Menurut Jarwo, biaya produksi telur, peternak di Jawa lebih rendah karena populasinya lebih banyak dan pakan alami juga melimpah. Selain itu harga pakan pabrikan dan jagung juga lebih murah di Jawa karena sebagian besar pabrik pakan unggas berada di Jawa. “Jadi sulit bagi peternak Lampung untuk bersaing dengan peternak di Jawa. Kondisi demikian pula yang menyebabkan kapasitas produksi telur bebek di Lampung sulit diperbesar. Saat ini harga telur bebek di kandang Rp 1.800/butir,” jelasnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 250/Juli 2020
 
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain