Rabu, 1 Juli 2020

Protokol Baru Kurban

Protokol Baru Kurban

Foto: dok. yuga suwarsa


Faktor kesehatan dan pencegahan penularan Covid-19 menjadi hal utama yang ditekankan dalam pelaksanaan kurban di era pendemi ini mulai dari jual beli ternak, penyembelihan, hingga distribusi daging 
 
 
Menyambut Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah di tengah hiruk-pikuk pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang tak berkesudahan, tidak menyurutkan niat umat Islam untuk tetap berkurban. Hari Raya Idul Adha yang identik dengan berkurban ternak, baik sapi, kambing maupun domba, sudah tentu menjadi ladang rejeki bagi peternak komoditas ruminansia. Namun, dengan kondisi ekonomi masyarakat yang bergejolak akibat hantaman pandemi, memaksa peternak untuk lebih banyak bersabar dengan mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah di masa new normal (kenormlan baru) ini.
 
 
Perbedaan pelaksanaan kurban sebelum pandemi dan sesudah pandemi dirasakan cukup nyata oleh peternak sapi potong jenis sapi Bali di Bandung, Jawa Barat yaitu Yuga Suwarsa. “Perbedaan yang paling mendasar adalah pada saat masa pandemi ini ada rasa takut saat untuk memulai jualan ternak kurban. Ketakutan pertama adalah dari pembeli yang mungkin tidak jadi berkurban karena kondisi ekonomi,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock.
 
 
Pria lulusan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) ini kemudian mengungkapkan ketakutan lain, yaitu dari situasi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang masih terus diperpanjang, akan berakibat tidak diizinkannya kegiatan kurban sebab menimbulkan keramaian. Kendati demikian, setelah Yuga berdiskusi dengan beberapa rekan yang memahami protokol kesehatan Covid-19 dan situasi ekonomi saat ini, membuatnya sedikit optimis. Sehingga, Yuga melakukan beberapa kegiatan tambahan, seperti penerapan protokol kesehatan Covid-19 di kandang.
 
 
“Protokol kesehatan dimulai dari sanitasi kandang menggunakan desinfektan yang mengandung zat-zat kimia, seperti gluteraldehid, benzalkonium chloride (BKC) dan isopropanol yang aman untuk ternak dan manusia. Selain itu, petugas di kandang pun menerapkan protokol kesehatan secara keseluruhan dengan mengenakan face shield (pelindung muka) dan masker. Utamanya juga untuk para pengunjung, diwajibkan melakukan dipping yaitu mencelupkan alas kaki dalam bak kecil yang berisi cairan desinfektan sebelum memasuki area kandang,” papar pria yang kerap disapa Yuga ini.
 
 
Protokol Kesehatan dalam Penyembelihan 
Protokol kesehatan Covid-19 wajib diterapkan di setiap aktivitas, tidak terkecuali saat di dalam kandang. Sehingga, Yuga mempersiapkan tambahan instalasi pemotongan hewan sesuai protokol kesehatan Covid-19, dengan dibuat tidak berdekatan. Sebisa mungkin instalasi pemotongannya membuat juru sembelih halal (juleha) tidak sampai berkumpul, maka tempat pemotongan hewan (TPH) dan tempat pembungkusan daging dipisahkan bangunannya.
 
 
“Sebelumnya kami tidak pernah memfasilitasi penyembelihan sampai dengan pembungkusan daging. Tahun-tahun sebelumnya, kami hanya diminta untuk menyembelih sapi, menguliti hingga menurunkan daging saja. Namun, sekarang ada ketakutan dari beberapa jamaah mengenai pengolahan daging akan menimbulkan keramaian, sehingga sudah ada yang mulai meminta sampai dagingnya dibungkus,” tuturnya.
 
 
Alhasil, Yuga pun mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) tambahan guna membungkus dan mengantar dagingnya sampai ke masjid. Skenarionya, panitia kurban akan membagikan kepada setiap jamaah atau masyarakat yang berhak menerima ke rumah masing-masing, sehingga tidak perlu datang ramai-ramai ke masjid. Pemilik Motekar Farm ini pun mulai merambah media sosial dan aplikasi tukar pesan daring yaitu Whatsapp, supaya komunikasinya lebih intensif dengan para pelanggan.
 
 
Selain itu, Yuga memanfaatkan jejaring reseller untuk penjualan sapi bali. “Untuk pemotongannya, kami meminta ada perwakilan dari yang berkurban. Caranya, dengan melaporkan kepada panitia kurban, setelah itu akan disarankan untuk bisa mewakili ke tempat pemotongannya,” katanya.
 
 
Ia mengaku telah menerangkan kepada pelanggannya bahwa Motekar Farm akan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19, sehingga pelanggan tidak bertanya-tanya lagi. Tim Motekar Farm sudah jauh-jauh hari mempersiapkan beberapa hal sebagai tindakan preventif terkait protokol kesehatan. Yuga memberikan pilihan kepada pelanggan kurban, mau disembelih di kandang Motekar Farm atau dikirimkan sapi kurbannya ke tempat pelanggan.
 
 
“Kebetulan beberapa masjid juga ada yang berada di wilayah zona hijau dan mereka sudah menerapkan protokol kesehatan berdasarkan Gugus Tugas Covid-19, seperti sholatnya berjarak jika dilakukan secara berjamaah. Mereka pun tetap merencanakan untuk pelaksanaan kurbannya di masjid mengikuti protokol kesehatan yang tepat,” ujar Yuga.
 
 
Bagi pemilik peternakan domba dan sapi di Garut, Jawa Barat, Yudi Guntara Noor memilih untuk melakukan pemotongan kurban terdesentralisasi di sebuah Rumah Potong Hewan (RPH). Nantinya, produk daging akan didistribusikan dalam bentuk chill (dingin) atau frozen (beku) menggunakan kemasan (packaging), yaitu tiap satu ekor dikemas dalam satu kemasan.
 
 
Berdasarkan pernyataan Yudi, RPH yang digunakan adalah RPH bersertifikat halal. “Selain bersertifikat halal, infrastuktur RPH yang digunakan telah memiliki sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Berarti, sertifikat higienisnya sudah ada dan memenuhi protokol kesehatan Covid-19,” imbuhnya.
 
 
Bagi penyembelih maupun pengelola, diharuskan menggunakan alat pelindung diri (APD), kemudian tidak menimbulkan kerumunan. Cutting akan dibagi menjadi 8 bagian daging, yaitu 2 potong paha belakang, 2 potong tangan depan, 2 potong bagian iga dan 2 potong bagian punggung. Potongan-potongan tersebut akan dikemas dalam bentuk dingin, dengan dibedakan antara kepala serta jeroannya.
 
 
Selain itu, Yudi menggunakan Quick Response (QR) Code pada kemasan daging kurban tersebut. “Isinya meliputi data siapa yang melakukan kurban, lalu bagaimana sistem produksi yang dilakukan. Sebab, domba-domba yang dipotong merupakan hasil penggemukan klaster peternakan di Jawa Barat,” jabar Yudi.
 
 
Mengenai juleha, Direktur Utama PT Agro Surya yang merupakan perusahaan holding group Rumah Aqiqah, Hasan Al Banna berpendapat jika sudah mengikuti standar RPH sebetulnya sudah cukup. Namun, demi keamanan bisa ditambahkan penggunaan APD ekstra, seperti face shield dan lainnya. Untuk tahap pra-pemotongan perlu alat tambahan, seperti pengukur suhu dan juga bilik desinfektan guna menyaring setiap orang yang berpotensi terjangkit Covid-19.
 
 
“Tantangan dalam pelaksanaan kurban tahun ini adalah keterlibatan jumlah orang dalam proses penyembelihan. Perlu dipastikan berkumpulnya sejumlah orang yang lebih banyak supaya tetap aman. Seperti, penerapan jaga jarak dan prosedural kesehatan lainnya yang memerlukan biaya penyembelihan lebih besar dibandingkan situasi kurban pada kondisi normal,” tandasnya.
 
 
Pemasaran Melalui Daring
Dalam menghadapi situasi pandemi ini perlu dilakukan antisipasi dengan menitikberatkan pada mitigasi dalam sektor pasar atau tata niaganya. Sebab dikhawatirkan ternak-ternak khususnya domba dan kambing yang diproduksi oleh para peternak di wilayah-wilayah produsen seperti di desa, tidak dapat mengirimkan ternaknya. Sehingga, akan berdampak pada masalah ekonomi para peternak itu sendiri.
 
 
“Model pemasaran yang kami terapkan bisa dikatakan memenuhi syarat terhadap protokol kesehatan Covid-19. Tujuannya yaitu untuk melakukan mitigasi, karena kurban dari sebagian sisi akan berisiko. Pada kenyataannya, kegiatan kurban yang umumnya dilakukan secara tradisional ini berisiko terhadap penyebaran Covid-19,” urai Yudi.
 
 
Dengan kondisi belum ditemukannya vaksin ataupun obat untuk Covid-19, mau tidak mau memaksa peternak melakukan perubahan-perubahan yang akan berakibat pada referensi konsumen, seperti perubahan di budidaya akan ditentukan oleh perubahan konsumen. Maka, peternak harus menyiapkan berbagai hal guna menghadapi perubahan-perubahan yang diminta konsumen. 
 
 
Ketua Umum Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) ini menambahkan, terdapat empat perubahan sangat besar yang akan terjadi pada saat pandemi Covid-19 di saat belum ada obat atau vaksinnya. Bisa dikatakan ini kondisi baru yang harus dihadapi, masyarakat harus hidup berdampingan dengan penyakit ini. “Pertama adalah masyarakat akan lebih empati, seperti saat bulan puasa yang lalu banyak masyarakat yang mau berbagi, baik buka puasa maupun memberikan hal yang bersifat sosial lainnya kepada orang-orang yang kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah atau memang terdampak oleh Covid-19,” jelasnya.
 
 
Kedua, sekarang konsumen lebih mengutamakan tatap muka tidak nyata atau virtual melalui media sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan Yudi, penjualan di beberapa pasar becek mengalami penurunan. Berbanding terbalik dengan pasar berdasarkan digital platform atau marketplace, baik pada daging sapi, domba dan kambing, penjualannya meningkat pesat.
 
 
Perubahan perilaku konsumen sekarang yang lebih condong virtual, membuat penjualan melalui digital platform lebih diminati guna menghindari kontak fisik. Perubahan ketiga adalah gaya hidup untuk tetap tinggal di rumah, dengan catatan jika tidak ada keperluan yang mendesak untuk keluar. Mungkin sebagian masyarakat lebih memilih untuk beraktivitas di dalam rumah, baik pekerjaan, pesan makanan maupun belanja daring.
 
 
Keempat, the bottom of the pyramid, artinya saat ini pangan menjadi fokus utama masyarakat. Berbagai kegiatan hospitality, seperti berlibur menggunakan transportasi pesawat dan hotel sekarang sangat terasa dampaknya. Sehingga, yang terpenting sekarang adalah bagaimana kebutuhan pokok terpenuhi. 
 
 
“Produksi daging, penyembelihan serta budidaya ternak masih mengacu pada kondisi-kondisi yang lama. Kadang kala, kita juga terlambat untuk mengantisipasi, sehingga kekhawatiran akan rantai pasok dari produksi peternakan, tidak terkoneksi dengan perubahan di pasar. Misalnya, pasar menginginkan sebuah standardisasi higienis atau halal, maka dengan sistem daring, masyarakat lebih cenderung mempertanyakan adanya sertifikat halal dan higienis atau tidak, begitu pula untuk harga, kemudahan akses dan kondisi kesehatan ternaknya,” terang Yudi. 
 
 
Menurutnya, di dalam segi budidaya tidak banyak berubah tetapi dalam aspek tata niaga serta proses harus mulai diubah. Contohnya, dulu transaksi ternak kurban dilakukan di pinggir jalan, tetapi sekarang kurban harus tersedia dalam digital platform. Konsumen cukup memesan ternak kurban di rumah saja, namun mekanisme-mekanisme atau alat-alat ukur secara kuantitatif (terukur) harus dipersiapkan, sehingga konsumen mendapatkan kepuasan atas sistem yang peternak berikan. Tujuannya yaitu guna mempermudah dan memberikan kepuasan pada konsumen.
 
 
“Untuk pemotong atau penyembelih, dulu sistemnya 1 ekor domba atau kambing dilakukan oleh 4 sampai 5 orang, yaitu 2 orang mengikat, 2 orang memegang ternak dan 1 orang membopong. Sehingga terkadang ramai, tetapi dengan protokol kesehatan Covid-19 maka sudah tidak memungkinkan lagi hal tersebut dilakukan. Pemerintah akan memberikan suatu imbauan, supaya kurban harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan, seperti tidak menimbulkan kerumunan, melakukan jaga jarak, serta menggunakan APD berupa sarung tangan dan masker,” tuturnya.
 
 
Supply & Demand Ternak Kurban
Kekhawatiran dan rasa was-was akan berkurangnya permintaan sapi potong menjelang Hari Raya Idul Adha, membuat Yuga melakukan survei kepada beberapa pelanggannya melalui format google form. Beberapa kekhawatiran tersebut seperti harus lockdown, tetapi jamaah masih tetap ingin melakukan kurban. Yuga menuturkan untuk pasokan (supply) masih bagus, meskipun beberapa kendala turut mendera.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 250/Juli 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain