Selasa, 21 Juli 2020

Akselerasi Ekspor Produk Pertanian

Akselerasi Ekspor Produk Pertanian

Foto: yopi


Bekasi (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan Indonesia untuk melakukan ekspor produk pertaniannya ke berbagai negara. Pada triwulan pertama di 2020 saja, ekspor produk pertanian mencapai 14,35 % dengan nilai Rp 100,7 triliun. Subsektor pertanian yang melakukan ekspor adalah peternakan 16 %, hortikultura 30 %, perkebunan 26 %, dan tanaman pangan 14 %. 
 
 
Pada rentang waktu 1-28 April 2020 saja, ekspor produk pertanian mencapai 1,4 juta ton dengan nilai Rp 25,7 triliun. Per (30/4), ada 9 pintu pelepasan ekspor 166 komoditas sebanyak 94 ribu ton dengan nilai Rp 1,1 triliun yaitu Lampung, Soekarno-Hatta Jakarta, Semarang, Belawan, Medan, Surabaya, Tanjung Priok Jakarta, Denpasar, Balikpapan, dan Makassar. “Hal ini menunjukkan, meskipun ada dampak pandemi Covid-19 tetapi ekspor produk pertanian masih terus berlangsung,” terang Pakar Telematika/Multimedia, KRMT Roy Suryo Notodiprojo, dalam seminar nasional daring dengan tema "Akselerasi Ekspor Produk Pertanian di Era Kenormalan Baru" yang digagas BUTTMKP (Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian) pada (20/7). 
 
 
Menurut Roy, banyak teknologi yang digunakan untuk mendukung ekspor produk pertanian. Seperti teknologi virtual bisa membantu dalam melihat prospek yang ada di negara tujuan yang bisa dipelajari sebelumnya. Teknologi virtual bisa digunakan untuk proses awal atau penjajakan. Ketika sudah eksekusi tentu yang dilakukan adalah proses secara fisik atau nyata.
 
 
Ia menegaskan, era teknologi ini telah membawa perubahan dan pandemi Covid-19 membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan. Peluang dan keharusan penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk semua bidang termasuk akselerasi ekspor produk pertanian di era kenormalan baru seperti GraTIEks 4.0. Namun penggunaan TIK perlu diimbangi penerapan hukum ITE untuk mencegah new crimes, frauds & negative externalities. 
 
 
Roy melanjutkan, program ekspor 3 kali lipat akan sangat bagus jika disinergikan dengan teknologi. “Masyarakat sudah tanggap teknologi sehingga kalau kita tidak tanggap akan ketinggalan,” pesannya.  
 
 
Atase Pertanian KBRI di Brussel Belgia merangkap Luxemburg dan Uni Eropa, Wahida Maghraby mengatakan, Uni Eropa meluncurkan kebijakan selama 2020 – 2025 sebagai negara yang menyiapkan pangan dan aneka pangan untuk masyarakatnya yang berbasis lingkungan, kesehatan, dan berkelanjutan untuk generasi berikutnya. Uni Eropa adalah salah satu pasar ekspor untuk produk rempah-rempah Indonesia. “Standardisasi di Eropa akan semakin ketat. Keterlacakan produk dari produk yang diekspor hingga kebun akan menjadi senjata utama mereka. Ini hanya bisa dibangun melalui sistem informasi berbasis web atau memanfaatkan teknologi digital,” terangnya. 
 
 
Ia menyampaikan, terdapat beberapa tantangan perdagangan (trade barriers) antara negara tertentu dengan Uni Eropa. Indonesia mempunyai 27 tantangan perdagangan yang sebaiknya di negosiasikan untuk kemudahan perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara di Uni Eropa. 
 
 
Uni Eropa memiliki salah satu standard keamanan pangan tertinggi di dunia. Hal ini berkat diberlakukannya UU di Uni Eropa yang solid yang memastikan bahwa makanan aman bagi konsumen. RASFF (Rapid Alert System – Food and Feed) yang dibuat tahun 1979 adalah alat utama untuk memungkinkan reaksi cepat ketika terdeteksinya suatu bahaya dalam rantai makanan yang akan disebarkan di Uni Eropa. 
 
 
Produk pertanian organik adalah salah satu potensi Indonesia untuk memiliki pasar di Uni Eropa. Betapa nyamannya mencari informasi terkini dengan menggunakan teknologi digital. “Penguasaan teknologi ini menjadi keharusan dan Kementerian Pertanian ke depan diharapkan bisa semasif Uni Eropa memasukan informasi terkininya sehingga negara yang akan melakukan perdagangan dengan Indonesia bisa mendapatkan informasi terkini melalui webnya,” tegas Wahida. 
 
 
Sedangkan Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Junaidi menjelaskan, terdapat 5 langkah strategis Kementerian Pertanian dalam pencapaian Gratieks yaitu meningkatkan volume ekspor melalui kerjasama dengan pemerintah daerah dan stakeholder untuk melakukan terobosan dan inovasi kebijakan ekspor (3K); menambah negara mitra dagang dengan melakukan kerjasama dan harmonisasi aturan protokol karantina baik bilateral maupun multilateral; mendorong pertumbuhan eskportir baru dengan mendorong tumbuhnya wirausaha pertanian yang berorientasi ekspor; menambah ragam komoditas ekspor dengan mendorong ekspor dalam bentuk olahan, kerjasama dengan pemerintah daerah dan stakeholder menggali potensi daerah dan mendorong tumbuhnya investasi; serta meningkatkan frekuensi pengiriman melalui percepatan layanan ekspor. “Potensi yang perlu dikembangkan yaitu banyak komoditas yang tidak populer atau jarang dilirik eksportir tetapi sangat dibutuhkan di negara lain. Juga potensi ekspor komoditas pertanian sangat besar namun pada wilayah-wilayah tertentu seperti Kendari tidak terkonsolidasi pelaksanaan ekspor via pelabuhan Sultra, lebih banyak melalui pelabuhan Makassar dan Surabaya,” terangnya.
 
 
Ia menyatakan, potensi komoditas ekspor untuk produk peternakan yaitu hewan hidup, madu, dan sarang burung walet. Ini peluang ekspor yang bisa mendapatkan devisa yang sangat besar. 
 
 
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyatakan, secara volume ada penurunan ekspor produk pertanian semester pertama tahun ini namun secara nilai ada peningkatan sebesar 8,97 %. Badan Karantina Pertanian akan memberikan kemudahan fasilitas layanan ekspor di era kenormalan baru ini dengan layanan paperless, penerbitan sertifikat digital, akses validasi sertifikat, dan layanan prioritas. “Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian mendorong program 1.000 desa siap ekspor melalui pemberdayaan potensi desa dengan pemberian input optimal guna penyiapan komoditas ekspor pertanian berbasis kawasan,” tandasnya.
 
 
Ali mempertimbangkan Sumatera Selatan atau Lampung sebagai provinsi yang dipilih untuk program 1.000 desa siap ekspor ini. “Kami mengajak untuk menjadi eksportir dan petani sukses dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi pertanian; memperkuat jejaring dan kerjasama; serta membuka akses informasi terkait potensi ekspor daerah dengan aplikasi IMACE dari Badan Karantina Pertanian,” ujarnya. TROBOS/yopi

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain