Selasa, 28 Juli 2020

Saat Pekebun Bicara Integrasi Sawit - Sapi

Saat Pekebun Bicara Integrasi Sawit - Sapi

Foto: ist/dok.PT.BKB-M.Zainuddin


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Ungkapan yang mengejutkan terdengar dari pelaku perkebunan sawit saat membicarakan integrasi sawit-sapi. Terlebih selama ini justru stakeholder peternakan lah yang banyak bicara soal ini.

 

“Kami merasa terhibur dan bahagia, saat melihat pedet lahir, berlarian diasuh oleh induknya. Dan kami sangat sedih, saat ada sapi yang mati. Mengamati kawanan sapi dan pedet itu menjadi hiburan kami saat jenuh melihat brondolan sawit,” ungkap Muhammad Zainuddin, General Manager PT Buana Karya Bhakti, operator perkebunan sawit dari Kalimantan Selatan.

 

Kebahagiaan ini dikatakannya merupakan sisi lain dari keuntungan ekonomis maupun teknis industri budidaya kelapa sawit yang dijalankannya. “Kelapa sawit, adalah tuan rumah bagi budidaya sapi. Sapi adalah tamu di kebun sawit. Tuan rumah harus menjamu sapi dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, sapi sebagai tamu kita atur sedemikian agar tidak mengganggu tanaman dan kebun sawit tuan rumah. Bahkan kami telah berhasil memadukannya sehingga menjadi simbiosis mutualisma,” dia menuturkan pada Webinar Sistem Integrasi Sawit - Sapi Ditinjau dari Persepsi Perkebunan yang digelar pada Selasa pagi (28/7) melalui aplikasi Zoom.

 

Tjeppy D Soedjana, profesor riset dari Balai Penelitian dan Pengembangan Peternakan - Balitbangtan sebagai pembahas pada acara itu menanggapi rasa kebahagiaan pekebun sawit atas kelahiran pedet dan mengamati pedet merupakan kultur baru di kebun sawit. Kultur ini, dia pandang merupakan aspek sosial yang penting, untuk membantu eksistensi integrasi sawit - sapi. Bahkan diharapkan membuat pola integrasi ini semakin berkembang karena semakin diterima di kalangan pekebun sawit.

 

Zain menyatakan, sejak 2013 merintis integrasi sawit sapi yang dinamai Siska Ranch, namun mengalami banyak kendala hingga sempat rugi miliaran rupiah. Pada 2016, berbekal 300 ekor sapi brahman cross, dijalinlah kerjasama dengan Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding Program (IACCB) dan PT Santosa Agrindo (Santori) untuk untuk melakukan pilot project integrasi. Program ini memberikan konsultasi manajemen budidaya sapi terintegrasi dan sekaligus melakukan riset lapangan untuk menyusun perbaikan dan mengatasi permasalahan secara tepat, terukur dan terarah.

 

Sampai bulan Juli ini, populasi sapi terus bertambah, menjadi 850 ekor, yang terbagi menjadi beberapa kawanan masing-masing berisi maksimal 250 ekor sapi. Rotate grazing dilakukan di lahan seluas 5.208 ha, dan cattle yard berada di lahan 73 ha.

 

Integrasi sawit - sapi merupakan harapan bagi keberlangsungan produksi sapi nasional melalui cow calf operation, dengan output berupa pedet maupun sapi bakalan dan indukan. “Kami memiliki pandangan, integrasi harus menempatkan sapi dalam lingkungan kebun sawit, digembalakan di dalamnya dan memberi manfaat untuk kebun sawit. Sapi tidak ditempatkan di luar kebun sawit,” dia menegaskan. Manfaat dari integrasi ini dia gambarkan seagai efektifitas, yang merupakan paduan dari efisiensi biaya produksi dan produktivitas ekonomi dari kebun sawit dan sapi.

 

Zain menyodorkan data produktivitas tandan buah segar (TBS) di lokasi integrasi sawit sapi (grazing) lebih tinggi 4% (rata-rata) jika dibandingkan dengan areal non grazing. Secara umum produksi TBS lebih tinggi setelah ada sapi tahun 2017 - 2019 dibandingkan sebelum ada sapi pada 2016.

 

Dosis pemupukan setelah 3 ( tiga ) tahun di lokasi grazing lebih rendah 0.4% dibandingkan lokasi non grazing. Penghematan biaya pupuk pada lokasi grazing sekitar Rp 22.000/ ha/ tahun dengan asumsi harga pupuk Rp 5.500/kg.

 

Terdapat penghematan pula, kata Zain, pada biaya penanganan gulma / weeding untuk tenaga penyemprotan dan pengadaan bahan herbisida. Biaya weeding pada areal integrasi sawit sapi

(grazing) lebih hemat 47% (rata-rata) dibandingkan dengan lokasi non grazing. Kegiatan weeding yang

masih dilakukan adalah selective weeding untuk piringan, TPH dan tanaman tanaman yang tidak dimakan oleh sapi.

 

“Kekhawatiran lain dari pekebun sawit jika sapi masuk ke dalam kebun adalah terjadinya pemadatan tanah atau soil compacting. Fakta di lapangan dugaan soil compacting hanya terjadi jika durasi grazing pada satu blok kebun terlalu lama, kawanan sapi / herd terkonsentrasi pada satu tempat, dan curah hujan yang menyebabkan lahan becek,” paparnya.

 

Dijelaskan Zain, lahan basah yang becek terjadi hanya di tempat tertentu, seperti titik pemberian pakan tambahan karena sapi-sapi berkumpul di situ. Namun pemadatan akan terkontrol karena kotoran sapi di tempat itu akan segera mengundang cacing, di bawahnya yang akan membantu menggemburkan kembali tanah di tempat itu.

 

Data ilmiah lapangan menunjukkan pemadatan tanah tidak signifikan, hanya 3 - 9 psi di atas kepadatan lahan yang tidak dilewati sapi, dan angkanya pun masih jauh dari batas atas kepadatan tanah 300 psi. Di sisi lain, Zain justru menemukan injakan sapi justru membantu penghancuran daun pelepah eks prunning , dan dekomposisinya pun menjadi lebih cepat dengan adanya kotoran sapi.

 

Kotoran sapi pada sistem penggembalaan di kebun sawit akan memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kadar bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan nutrien, dan meningkatkan kapasitas tanah untuk menahan air. Potensi pupuk organik kotoran sapi , rasio 1 herd : 5 ha lahan. Potensi pengeluaran kotoran sebanyak 5kg / ekor hari = 367.2 kg/ha/tahun, sehingga setara dengan 2.7 kg untuk setiap pohon pertahun.

 

Bakteri pengikat N lebih banyak pada areal grazing daripada area non grazing, ditunjukkan oleh respirasi tanah yang merupakan salah satu indikator aktivitas mikroba di dalam tanah.

 

Isu Penularan Ganoderma

“Selama ini, muncul isu dugaan penyebaran penyakit ganoderma oleh sapi yang merumput. Namun sumber infeksi yang berbahaya ternyata berasal dari jaringan batang pohon yang terinfeksi jamur tersebut. Untuk mengatasi penularan ganoderma, dilakukan sanitasi pada saat replanting, dengan cara membongkar pohon yang terserang,” Zain menerangkan.

 

Decyanto Soetopo, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan - Balitbangtan menyatakan hal senada. “Semua sistem budidaya saawit baik non integrasi maupun sistem integrasi sawit-sapi dapat terserang ganoderma. keberadaan agensia hayati antagonis di lokasi perkebunan sangat berperan untuk menekan kejadian penyakit,” urai dia.

 

Sapi dalam sistem integrasi bukan faktor utama percepatan penyebaran ganoderma. Penularan yang paling jelas dari kontak antara akar tanaman sehat dan sakit termasuk melalui kontak perakaran dan dari spora yang terbawa oleh angin. Namun juga sangat tidak menutup kemungkinan dari air, tanah, debu, kendaraan, dari alat pertanian termasuk alat panen yang terkontaminasi, dll. “Kehadiran sapi justru jelas terbukti secara ilmiah memperkaya dan menginduksi kehadiran agen hayati ini,” tandasnya.

 

Sulastri, peneliti dari Pusat Teknologi Produksi Pertanian - Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (PTPP - BPPT) menjelaskan, penelitian secara in vitro yang dilakukan BPPT pada 2019 menyimpulkan pertumbuhan Ganoderma boninense terhambat pada media yang diberi penambahan kotoran sapi. Bahkan tidak ada pertumbuhan Ganoderma boninense pada uji fermentisasi in vitro.

 

Dia pun menganalisis, kotoran sapi meningkatkan diversitas mikroba fungsional, dan termasuk mikroba antagonis terhadap ganoderma. Bahan organik menginduksi sifat supresif dari tanah. Mikroba antagonis terhadap ganoderma seperti trichoderma yang ada di tanah terinduksi sehingga populasinya meningkat karena adanya bahan organik kotoran hewan.

 

“Pada Tanah yang steril, ganoderma tumbuh lebih cepat. Namun pada tanah yang tidak steril, justru pertumbuhan ganoderma ditekan oleh mikro organisme indigenus antagonis. Bisa jadi ganoderma tetap ada, tapi tersupresi sehingga tidak menimbulkan patogenisitas yang signifikan,” Sulastri memaparkan.

 

Analisis Ekonomi

Paul Boon dari IACCB mengakui keunggulan integrasi sapi-sawit untuk memproduksi pedet dan sapi bakalan melalui cow calf operation (CCO) melalui parameter output harga bobot hidup bakalan. “Melalui integrasi sawit-sapi, Indonesia terbukti mampu memproduksi sapi feeder lebih murah daripada biaya feeder asal Australia sampai di feedlot Indonesia,” dia mengungkapkan.

 

Dia merinci, biaya pakan indukan Rp 4.800/ekor/hari, Biaya Operasional Rp 5.400/ekor/hari. Dengan tingkat kelahiran kelahiran 69.4% dan biaya harian Rp 14.700/ekor/hari. Sehingga biaya pedet yang dilahirkan Rp 5.365.500/ekor. Tingkat kematian pedet diasumsikan 5.6%, sehingga biaya karena kematian pedet sebesar Rp 315.300. Maka total biaya pedet sapihan Rp 5.680.800 perekor.

 

Melanjutkan keterangannya, Paul merinci biaya produksi bakalan / feeder cattle dengan target bobot 320 kg/ekor. Diasumsikan pedet usia sapih 4 bulan berbobot 100 kg, average daily gain (ADG) 0.45 kg/ekor/hari, Target lama pembesaran sampai dengan penjualan feeder cattle 16 bulan. Biaya

pakan grower Rp 4.300 /ekor/hari, dengan biaya operasional Rp 5.400. Tingkat kematian grower diasumsikan 6.6% sehingga biaya karena kematian grower Rp 335.100. Total biaya menghasilkan grower Rp 5.077.300 /ekor.

 

Maka total biaya produksi feeder adalah Rp 5.680.800 + Rp 5.077.300 =  Rp 10.758.100. Biaya produksi feeder liveweight sebesar Rp 33.600. “Jauh di bawah harga sapi feeder asal Australia yang sesampai di Indonesia harganya mencapai Rp 40.000 - Rp 45.440/kg liveweight,” dia menyimpulkan.

 

Menutup perbincangan pada webinar ini, Zainuddin mengatakan siap untuk berbagi pengalaman manajemen dan teknik integrasi sawit - sapi kepada siapapun, terlebih kepada operator perkebunan kelapa sawit. “Sesuai motto kami, bakti untuk negeri. Cukup kami yang berlajar dengan harga mahal, sejak 2013 sampai 2016 penuh kegagalan sampai miliaran. Itu tidak perlu terjadi pada investor-investor integrasi baru. Kami siap untuk sharing,” tutupnya. ed/ntr

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain