Sabtu, 1 Agustus 2020

Bisnis Daring Produk Ayam

Bisnis Daring Produk Ayam

Foto: dok. wahyoo


Tren pergeseran pola pemasaran ini menjadi peluang yang menjanjikan bagi para pelaku usaha namun harus diikuti dengan berbagai inovasi sebagai daya tarik bagi konsumen
 
 
Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh melalui berbagai asupan makanan yang bergizi. Salah satunya melalui konsumsi berbagai produk olahan berbahan baku daging ayam yang memiliki beragam kandungan bernutrisi tinggi dan bermanfaat bagi tubuh.  
 
 
Namun, pandemi Covid-19 telah berimbas pada mandeknya penjualan secara langsung atau offline berbagai produk daging ayam beserta produk turunannya terutama pada saat pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Padahal saat itu, ruang gerak masyarakat dalam mencari bahan makanan pun semakin terbatas, karena banyak restoran, supermarket, hingga pasar tradisional yang untuk sementara waktu memilih untuk menutup gerainya. 
 
 
Kondisi itu mengakibatkan terjadinya efek domino. Produksi ayam di lapangan melimpah yang berakhir pada hancurnya harga ayam hidup (live bird). “Sedikitnya permintaan ini membuat peternak dan produsen merugi. Bahkan banyak peternak yang memberhentikan kegiatan beternak ayamnya karena, sudah tidak kuat bertahan,” jelas Yusuf Hendrawan Mulia, Komisaris PT Aromaduta Rasaprima (Aroma) – perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi makanan asal ternak seperti sosis dan bakso sejak 1980 silam.
 
 
Penurunan permintaan produk makanan berbasis daging ayam ini juga diungkapkan Peter Shearer. Selama pandemi ini permintaan turun hingga 50 %. “Penurunan terjadi karena berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah. Terlebih, bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan tingkat penyebaran virus tinggi, alias zona merah,” kata pendiri Wahyoo – perusahaan start up berbasis teknologi untuk membantu pemilik warung tradisional dalam mengembangkan usahanya. 
 
 
Pengajar dan Peneliti Monash University, Australia Daniel Prajogo membenarkan. Di masa pandemi ini baik perusahaan maupun produsen tidak bisa menjual produknya karena minimnya demand atau permintaan. “Meskipun barang tetap bisa diproduksi, akan tetapi permintaan sudah pasti menurun dan jalur distribusi terkendala. Muncul kekhawatiran barang tidak akan terjual habis dan justru menumpuk,” ujarnya saat memberikan paparan tentang logistik dan rantai pasok dalam seminar daring yang digelar (16/7).
 
 
Penerapan Push System
Rantai pasok produk makanan sudah pasti terganggu selama masa pandemi. Apalagi, permintaan pasar menurun. Selain itu, kesulitan dalam melakukan distribusi juga sangat terasa oleh produsen. “Metode terbaik yang seharusnya diterapkan oleh perusahaan atau para pengusaha adalah dengan push system. Artinya, permintaan yang seharusnya mendorong produsen untuk menciptakan suatu produk. Jika ini dijalankan, maka tidak akan terjadi penumpukan barang,” kata Daniel.  
 
 
Namun, sayangnya masih banyak produsen yang menerapkan pull system. Dimana, produsen harus terus menghasilkan produk, tanpa mengindahkan jumlah permintaan. Efeknya, akan berimbas pada menumpuknya produksi. 
 
 
Strategi push system rupanya telah diterapkan oleh PT Primafood International. Melalui Prima Freshmart, perusahaan ini menyediakan daging ayam dalam bentuk beku beserta beragam hasil olahannya. “Pengembangan usaha yang dilakukan tetap berjalan sesuai dengan permintaan pasar,” tandas Direktur PT Primafood International, Jap Sui Lan. 
 
 
Permintaan Daring (Justru) Melambung
Saat ini, PSBB sudah mulai dilonggarkan. Meskipun pemerintah mengeluarkan jargon new normal, tetap saja sebagian masyarakat merasa khawatir untuk bepergian. Alhasil, pembelian makanan secara daring atau online menjadi alternatif pilihan masyarakat karena lebih mudah dan para produsen dituntut untuk lebih inovasif dalam memasarkan produknya. 
 
 
Prospek menjanjikan dari penjualan daring yang digadang-gadang dapat meningkatkan keuntungan bagi produsen, terutama penghasil produk makanan berbahan baku daging ayam pun ditangkap Roni Maulana, CEO Berkah Chicken. Ia berpendapat, metode penjualan secara daring mampu menembus ruang dan waktu. Hanya melalui telepon genggam, masyarakat bisa langsung memesan produk sesuai keinginannya dan membayar dengan uang elektronik atau melalui transfer bank. “Penjualan daring tentunya sangat mudah dan hemat. Apalagi, sumber protein hewani sedang sangat diperlukan untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh. Sudah pasti, peluang penjualannya akan terbuka lebar dan menjanjikan,” ujar tegas pria yang basis bisnisnya di daerah Kuningan, Jawa Barat ini.
 
 
Dengan keunggulan metode penjualan produk Berkah Chicken secara daring terbukti mampu menggaet konsumen lebih banyak dengan peningkatan sekitar 10 – 30 %. Meskipun melalui metode daring, Roni tetap memastikan berbagai produk olahan berbahan baku daging ayam yang ditawarkannya memenuhi kriteria ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal) sehingga konsumen tidak perlu waswas tentang kehigienisannya. “Daging ayam beserta seluruh olahannya sudah terbukti sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui metode penjualan secara daring ini kami optimis peluangnya akan sangat baik,” ujar dia. Terpantau, sudah lebih dari 1.000 konsumen yang memesan berbagai produk olahan berbahan baku daging ayam dari Berkah Chicken. 
 
 
Berbagai produk makanan berbasis daging ayam dengan merek dagang Ayam Sehat di Bandung, Jawa Barat juga melakukan hal yang sama. Menurut Toni Komara, pemilik usaha Ayam Sehat, penjualan secara daring menjadi cara yang jitu untuk memasarkan produk secara luas. “Berbelanja secara daring setidaknya akan membantu memutus mata rantai penularan Covid-19, karena tidak ada kontak langsung antara pembeli dan penjual. Konsumen pun tidak harus ke luar rumah,” urainya.
 
 
Bagi Toni, penjualan produknya secara daring sangat menguntungkan dan menjanjikan ke depan. Meskipun di saat pandemi seperti ini omzet penjualan per bulan bisa turun hingga 50 % jika dibandingkan saat kondisi normal. “Namun, memasuki era kenormalan baru ini, kondisinya sudah mulai normal kembali,” kilahnya. 
 
 
Peluang menjanjikan dari penjualan daring ini juga diungkap Hadi Surya Koe, Head of Marketing GrabFood, Grab Indonesia. Menurutnya, teknologi dan komunikasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia, terutama mengenai makanan. Perubahan pola konsumsi tersebut tentunya didorong oleh tingginya tingkat penetrasi dan pengguna internet yang ramai di negeri ini. 
 
 
Terlebih, di masa PSBB maupun transisi menuju masa kenormalan baru masyarakat tetap berhati-hati untuk ke luar rumah, salah satunya adalah makan di restoran. Hal ini mendorong para pengusaha di industri makanan dan minuman untuk semakin gencar memasarkan produk makanannya secara  daring.
 
 
Layanan pesan-antar makanan pun saat ini telah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Selama periode WFH (work from home) terdapat kenaikan transaksi GrabFood sebesar 4 %. “Terjadi pula kenaikan nominal transaksi makanan yang dipesan dalam sekali pemesanan atau basket size sekitar 7 %,” terang Hadi. 
 
 
Pandemi Covid-19 sedikit banyak mengubah perilaku konsumen ke arah yang lebih baik. Peningkatan keingintahuan masyarakat tentang produk yang dibeli pun terjadi cukup signifikan. Ujungnya, produsen berlomba untuk menghasilkan produk makanan berbasis daging ayam dengan kualitas mahal bagi konsumen. Mengingat sebelum sampai ke tangan konsumen, ayam harus melewati proses panjang pemeliharaan hingga proses akhir pengolahan terlebih dahulu. Pastinya, deretan proses tersebut harus dipastikan keamanan dan kebersihannya.
 
 
Aspek Pemasaran
Pentingnya memahami bagian dalam menerapkan pemasaran, apalagi secara daring tentunya akan membantu produsen untuk meningkatkan penjualannya. “Pahami produk yang dihasilkan. Apakah produk daging ayam yang diproduksi sudah memenuhi standard dan persyaratan yang diinginkan pasar. Harga juga merupakan poin penting yang harus diperhatikan. Apakah harga produk yang dijual sudah terjangkau dan kompetitif. Tentunya, harga harus seimbang dengan kualitas produk yang dihasilkan,” jelas Yusuf.
 
 
Ia menekankan pentingnya pelaku usaha menguasai dan memahami analisis SWOT yang terdiri atas strenght atau kekuatan, weakness atau kelemahan, opportunities atau peluang, dan threats atau ancaman. “Kekuatan yang ada pada analisis tersebut merupakan keunggulan yang mampu dijadikan senjata bagi produsen demi berhasilnya promosi dan penjualan. Contohnya adalah kelengkapan sertifikat, seperti sertifikat halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan sertifikat ISO 22000,” kata alumnus Universitas Brawijaya ini. Produsen harus pandai melihat peluang dan membaca potensi pasar yang ada serta menyesuaikan produknya dengan peluang tersebut.  
 
 
Setelah pandemi surut diprediksi, lanjut Yusuf, permintaan kembali melonjak karena restoran sudah beroperasi normal seperti sedia kala. Sejalan dengan permintaan yang merangkak naik, harga juga akan naik. Maka dari itu, produsen harus pandai menjaga ketersediaan produk agar tidak mengalami kesulitan berarti. 
 
 
Aspek pemasaran selanjutnya yang disarankan menjadi konsentrasi produsen adalah segmentasi pasar. Hal ini sangat krusial, karena akan mempermudah produsen untuk membidik pangsa pasar idaman. “Segmentasi pasar yang kami tujukan adalah masyarakat menengah ke atas, yang lebih memperhatikan kesehatan. Apalagi, harga daging ayam lokal beserta produk ikutannya jauh lebih mahal dibandingkan dengan daging ayam pedaging (broiler),” terang Direktur Utama PT Sumber Unggas Indonesia (SUI), Naryanto. SUI, melalui PT Ayam Kampung Primadona mendirikan sebuah restoran yang menyajikan beragam produk olahan daging ayam lokal bernama NatChick. Kisaran harga produknya adalah Rp 35.000 – 50.000, tergantung dengan jenis olahan daging ayam lokal yang ada. 
 
 
Keputusan untuk mengincar konsumen yang peduli dengan kesehatan sepertinya dimiliki oleh hampir setiap produsen. Dengan sistem pemeliharaan yang mengusung konsep green farming system, Roni pun menggunakan bahan alami dari mulai proses pemeliharaan ayam hingga pengolahannya. Maka dari itu, pihaknya siap memberikan produk terbaik bagi para konsumennya. “Tentunya, kami menjual produk yang berkualitas dan memiliki nilai, halal dan thoyib,” kata dia. 
 
 
Sementara Peter, sebagai pendiri Wahyoo yang notabene membantu para pemilik warung makan tradisional, dalam mengembangkan usahanya mengincar segmentasi pasar masyarakat menengah ke bawah. “Kami ingin semua orang bisa mendapatkan akses makanan dengan harga terjangkau,” ungkapnya. 
 
 
Pastikan Produk Aman
Dalam kondisi pandemi seperti ini adalah hal yang wajar, jika kriteria produk yang dipasarkan secara daring menjadi lebih spesifik. Demi memastikan produk aman saat mulai pengantaran hingga tiba di konsumen, Grab Indonesia menyediakan kartu keterangan pengiriman GrabFood yang akan mencatat tanggal, waktu, nama, hingga suhu tubuh karyawan yang menyiapkan makanan. Kartu keterangan ini sudah ada sejak awal Covid-19 yang mewabah ke tanah air, tepatnya pada Maret lalu. 
 
 
Selain itu, Grab juga memperkenalkan pengantaran produk tanpa kontak pada (16/3) lalu. Tujuannya tidak lain adalah untuk membatasi kontak antara pelanggan dan mitra pengantaran dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. “Semua mitra pengantaran kami juga selalu disarankan untuk mencuci tangan, mengenakan masker, dan membersihkan tas pengantaran mereka dengan disiinfektan secara teratur sebelum dan sesudah melakukan pengantaran pesanan dan pastinya menjaga jarak aman,” jelas Hadi. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 251/Agustus 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain