Sabtu, 1 Agustus 2020

Penggemukan Doka Ala PPKDY

Penggemukan Doka Ala PPKDY

Foto: dok. pribadi


Perlakuan yang benar di awal pemeliharaan, menjadi salah satu tolak ukur kesuksesan beternak domba 
 
 
Berawal dari sebuah lembaga zakat pada 2014 yang memerlukan relawan pendamping kelompok ternak. Pria yang bernama lengkap Taufik Mawaddani atau lebih akrab di sapa Dani beranikan diri untuk mendaftar. Alhasil ia diterima untuk mendampingi peternak di salah satu desa di Ponorogo, Jawa Timur. Meskipun bukan dari lulusan sarjana peternakan ataupun kedokteran hewan tak membuatnya patah arang untuk belajar beternak.
 
 
Karena saat itu Dani belum mengerti peternakan. Dani lebih fokus di bagian manajemen yang mengurusi pembukuan dan pencatatan. Suatu ketika, salah satu mitra peternak binaan ada dombanya yang melahirkan. Dani ditanya oleh salah satu warga, terkait jenis kelamian anak domba tersebut. ”Dengan semangat saya menjawab jantan, ternyata anak dombanya betina bukan jantan.  Setelah kejadian itu membuat saya tergugah untuk mencari ilmu di farm,” jelasnya sambil tersenyum. 
 
 
Sambil mendampingi kelompok ternak domba, ia juga menyempatkan belajar memelihara domba dengan seorang peternak di Madiun, sekaligus diajarkan cara membuat pakan untuk performa ternak optimal. “Untuk memperdalam ilmu peternakan, saya mengikuti berbagai pelatihan dan kursus serta sering berkunjung ke peternak - peternak untuk sekedar sharing ilmu. Hal itu membuat saya jatuh hati semakin dalam terhadap dunia peternakan,” katanya.
 
 
Waktu itu oleh lembaga zakat, ia ditantang untuk menyediakan hewan kurban. Di awali dengan 50 ekor domba, kemudian beranjak ke 100 ekor membuatnya sering dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks. 
 
 
Dengan berbagai permasalahan tersebut, akhirnya Dani sudah mulai mendapatkan solusi dari permasalahan dalam beternak. Seperti, perkembangan terhadap pertambahan bobot badan domba setiap bulan meskipun belum maksimal. “Di saat itulah saya mulai diakui dan dipercaya untuk memelihara domba,” ungkapnya.
 
 
Bergabung dengan PPKDY
Setelah masa pendampingan di Ponorogo selesai. Pada November 2015, Dani dipindah tugaskan ke Sleman, Yogyakarta. Karena saat itu tinggal di lereng Merapi, ia mendampingi peternak sapi perah. “Ternyata naluri saya tidak bisa dibohongi, bahwa lebih suka memelihara domba,” ujarnya.
 
 
Sambil mendampingi peternak sapi perah, pada Februari 2016 Dani membuat kandang domba dengan kapasitas 50 ekor di Desa Umbulharjo Cangkringan Sleman. Setelah dipelihara, pertumbuhan bobot badan setiap bulannya lebih baik dibandingkan ketika saat memelihara di Ponorogo. 
 
 
Akhirnya awal 2017, ia memutuskaan untuk bergabung dengan salah satu organisasi kambing dan domba di Yogyakarta bernama Perserikatan Peternak Kambing Domba Yogyakarta (PPKDY). Berkat mengikuti salah satu program PPKDY bernama Program Lemu Bareng (PLB) kemampuan dan pemahaman beternak domba Dani semakin meningkat. “Saya banyak belajar mulai domba datang dengan perawatan seperti apa, pemberian pakan dan sampai penjualannya,” terangnya.
 
 
Ia mengungkapkan semakin hari usaha peternakanya semakin bertumbuh. Misalnya, luasan kandang yang awalnya hanya mampu menampung kapasitas 50 ekor menjadi 180 ekor. Populasi pun terus bertambah, akhinya sampai sekarang menjadi 800 – 1.000 ekor domba. “Semangat beternak ini timbul akibat gabung dengan PPKDY, sehingga terus ada motivasi untuk semakin berkembang,” paparnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 251/Agustus 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain