Sabtu, 1 Agustus 2020

Pakan Komplit Kambing Berbasis Limbah Sawit

Pakan Komplit Kambing Berbasis Limbah Sawit

Foto: 


Teknologi pakan komplit tergolong praktis dan dapat diproduksi dalam skala industri, sehingga berpotensi sebagai faktor pendorong berkembangnya sistem produksi kambing yang lebih intensif
 
 
Pakan merupakan komponen biaya yang paling besar dalam beternak, tidak terkecuali untuk kambing potong. Sehingga, dengan ketersediaan pakan yang mencukupi dan sentuhan teknologi dapat mengefisiensi biaya dalam beternak. Namun, faktanya ketersediaan pakan diperkirakan hanya 1/3 dari kebutuhan ternak per tahun. Bahkan, kuantitas tersebut sulit dipenuhi pada musim kemarau. Peran teknologi pengolahan pakan (seperti teknologi ensilase, fermentasi, dry processing) adalah salah satu solusi untuk memenuhi ketersediaan pakan sepanjang tahun. 
 
 
Diungkapkan Andi Tarigan peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Medan, bahwa Loka Penelitian Kambing Potong sejak 2018 telah menerapkan teknologi processing dan formulasi ransum pakan komplit berbasis limbah perkebunan kelapa sawit untuk menekan tingkat mortalitas (< 5%) anak pasca sapih dan peningkatan produktivitas ternak kambing, sehingga kambing boerka jantan pada umur 6 bulan mencapai bobot ekspor 25 kg. 
 
 
Teknologi Processing Pakan 
Teknologi processing pakan, dipaparkan Andi dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurai permasalahan dan mengatasi tantangan dalam pemanfaatan secara efektif bahan pakan asal perkebunan, misalnya kelapa sawit sebagai pakan ternak ruminansia kecil. 
 
 
Lanjutnya, teknologi processing yang sesuai dapat mengatasi masalah logistik serta meningkatkan kualitas nutrisi bahan, sehingga secara ekonomi efektif. “Teknologi processing juga berpeluang untuk mendorong berkembangnya usaha produksi kambing dalam skala yang lebih besar dengan orientasi komersial baik di kawasan perkebunan kelapa sawit sendiri, maupun di kawasan lain yang potensial dengan memanfaatkan pakan asal industri perkebunan,” jelasnya. 
 
 
Taraf kecernaan sebagai salah satu indikator penting kualitas nutrisi bahan pakan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik kimiawi dan fisik pakan, tetapi juga terkait dengan besaran tubuh ternak yang mengkonsumsinya dan pemberian pakan disesuaikan dengan kondisi fisiologis ternak seperti pada fase reproduksi dan produksi. 
 
 
Periode transisi anak kambing dari monogastrik ke ruminan (pasca sapih) merupakan suatu periode yang kritis pada ternak kambing. “Data yang kami peroleh di Loka penelitian kambing potong tingkat kematian anak kambing tinggi pada periode tersebut berkisar 15 %. Permentan Nomor 02 Tahun 2018 menyebutkan syarat ekspor ternak ruminansia kecil yakni bobot badan tidak kurang dari 25 kg, sehingga untuk mempercepat capaian bobot badan tersebut dibutuhkan teknologi processing, formulasi dan pemberian pakan yang tepat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi fisiologis ternak tersebut,” terangnya. 
 
 
Berbasis Limbah Sawit 
Andi memaparkan formula ransum yang digunakan untuk menekan tingkat mortalitas (< 5%) anak pasca sapih dan peningkatan produktivitas ternak kambing diantaranya pelepah sawit, bungkil inti sawit, solid, molasses, ongok, Indigofera gozoll agribun, bungkil kedelai, tepung kerang dan ultra mineral. “Alasan memilih bahan-bahan baku yang berasal dari limbah perkebunan kelapa sawit adalah bahan tersebut tidak musiman, skala produksi besar, harga tidak bervariasi serta murah, mudah diakses, persaingan untuk mendapatkan bahan rendah dan bahan baku berkualitas tinggi,” sebutnya. 
 
 
Untuk processing pakan dimulai dengan penyediaan dan memanen bahan-bahan baku yang akan diformulasikan. Setelah pelepah kelapa sawit dan Indigofera di panen selanjutnya dilakukan proses pencacahan pelepah sawit dengan menggunakan mesin chopper shredder, sehingga pelepah sawit dan indi¬gofera menjadi lebih halus.
 
 
Kemudian bahan-bahan baku pakan berbasis limbah perkebunan kelapa sawit dimasukan kedalam mixer kapasitas 1 ton dengan formulasi pakan komplit yang sudah ditentukan. Lalu di mixer selama 10 menit untuk memastikan bahan-bahan pakan komplit tersebut homogen, selanjutnya dimasukan kedalam tong plastik untuk di distribusikan pada masing-masing kandang dan diberikan sesuai dengan bobot badan dan kondisi fisiologis ternak kambing. “Dengan pemberian kurang lebih sebanyak 1.000-1.200 gr/ekor/hari,” cetusnya. 
 
 
Untuk ketersediaan bahan bakunya dikemukakan Andi tidak sulit karena adanya jaminan pasokan bahan baku yang berasal dari industri hilir (perkebunan kelapa sawit) untuk bahan baku utama formulasi pakan komplit. Seperti pemesanan bungkil inti sawit dan solid decanter dari Loka Penelitian Kambing Potong kepada Perkebunan Kelapa sawit PN3 Sumatera Utara. Sedangkan pelepah sawit didapat dari areal sekitar perkebunan PN3 di Sei Putih Kabupaten Deliserdang Su-matera Utara, sehingga menyebabkan model pengembangan pakan komplit ruminansia ini berpeluang berkelanjutan.
 
 
“Dalam industri pakan ternak faktor jaminan pasokan bahan baku menjadi salah satu simpul kristis dalam pengembangan pakan yang berdaya saing. Oleh karena itu, ketersediaan produk pakan komplit secara komersial ini pada dasarnya dapat menjadi faktor pendorong bagi tumbuhnya usaha ternak ruminansia kecil secara komersial, sehingga menciptakan pasar bagi produk pakan,” ungkapnya. 
 
 
Ia menyebutkan penggunaan bahan pakan asal perkebunan kelapa sawit sebagai sumber utama pakan diharapkan mampu menekan biaya produksi untuk menghasilkan produk pakan yang secara ekonomik memiliki daya saing. “Kita juga mengaplikasikan formula ransum ini pada beberapa kelompok ternak Binaan Loka Penelitian kambing potong pada kegiatan Demfarm pengembangan kambing boerka di Kabupaten Deliserdang dan beberapa provinsi di Indonesia pada saat penyebaran bibit kambing boerka seperti Provinsi Aceh, Bangka Belitung, Bali, NTB dll. 
 
 
“Formula ransum pakan ini sudah kita uji cobakan pada beberapa jenis kambing seperti boer, kosta, gembrong dan kacang. 
 
 
Ternyata menghasilkan respon yang relatif sama. Untuk harga pakan komplit fomulasi berbasis limbah perkebunan kelapa sawit Loka Penelitian Kambing Potong berkisar Rp. 2.200/kg,” terangnya. 
 
 
Kendala dan Harapan 
Untuk kendala dalam formula ransum pakan komplit berbasis limbah sawit ini, diutarakan Andi belum adanya industri pabrik pakan ruminansia dan belum terbentuknya hubungan yang sinergis dan saling menguntungkan antara penghasil sumber pakan (perkebunan kelapa sawit) dengan industri pakan ternak ruminansia. Sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas pakan ruminansia di hilir belum stabil dan kontinu tersedia, padahal berpeluang menciptakan usaha produksi ternak ruminansia kecil yang lebih komersial untuk memacu produktivitas ternak. 
 
 
Masih menurut Andi, kambing memberikan respon yang baik terhadap pakan komplit seperti di indikasikan dengan taraf konsumsi, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum yang tergolong tinggi. Teknologi pakan komplit tergolong praktis dan dapat diproduksi dalam skala industri, maka teknologi ini berpotensi sebagai faktor pendorong berkembangnya sistem produksi kambing yang lebih intensif. Dengan demikian, dapat diharapkan terjadinya perubahan struktur pengusahaan kambing yang selama ini didominasi oleh usaha peternakan rakyat ke arah peternakan yang berskala ekonomi dengan orientasi komersial. 
 
 
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah serta swasta menyediakan fasilitas dan memprioritaskan teknologi processing untuk skala rumah tangga yang diproduksi secara in situ, maupun skala komersial industri secara ex situ dengan formulasi pakan yang sudah dikembangkan sehingga peternak tidak kesulitan untuk mendapatkan pakan komplit yang berkualitas dan tersedia secara kontinu untuk mendukung produktivitas ternak. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain