Rabu, 19 Agustus 2020

Melepaskan Orientasi Value Standard Chicken

Melepaskan Orientasi Value Standard Chicken

Foto: 


Harus ada pendekatan meliputi perubahan produk dari bernilai tambah rendah menjadi produk bernilai tinggi seperti produk ready to cook dan ready to eat, sistem rantai pasok, sistem promosi dan marketing yang mengarah pada teknologi dan digitalisasi
 
 
Industri perunggasan harus mentas dari orientasi menghasilkan standard chicken sebagai strata terbawah dalam piramida value industri perunggasan. Hal itu dinyatakan Sudirman, Wakil Ketua Komite tetap Industri Pakan dan Veteriner Kamar Dagang dan Industri Indonesia pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-3 – Perunggasan dengan topik “Mendongkrak Permintaan & Konsumsi Broiler” melalui aplikasi Zoom pada Rabu (19/8).
 
 
“Perilaku yang mencerminkan orientasi menghasilkan standard chicken, contohnya, masih berkutat soal populasi GPS (Grand Parent Stock), produksi DOC (ayam umur sehari), dan berebut pasar ayam hidup melalui pemisahan pasar. Ini 􀆟dak bisa lagi dilakukan,” ungkapnya.
 
 
Diapun memberikan kode keras agar pelaku industri perunggasan segera mentas dan naik strata. Mengolah ayamnya menjadi premium chicken, lalu naik lagi menjadi value added chicken, naik lagi menjadi value added food dan sampai kepada puncak, produk unggas dengan brand yang kuat.
 
 
Senada dengan Sudirman, mewakili Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Heri Setiawan memaparkan, 88,5 % produk unggas dikonsumsi dalam bentuk hot carcass, dan hanya 11,5 % dikonsumsi dalam bentuk beku. Sebanyak 58 % ayam di industri ini diproduksi dalam bentuk hot carcass, dan baru 42 % berbentuk beku. “Maka perlu roadmap untuk menggeser konsumsi ke arah hilir dalam bentuk ayam beku dan olahan. Roadmap diterjemahkan dalam grand strategy, marketing plan, dan marketing strategy,” ungkap dia.
 
 
Maka Sudirman justru menganggap ada sisi positif dari pandemi Covid-19, karena secara tak langsung insting bertahan manusia telah merangsang tumbuhnya industri start up sektor hilir yang menggunakan bahan baku ayam dan telur. Padahal, di sisi makro, pandemi telah menjadi triger kontraksi perunggasan hingga -1,82 % pada kuartal kedua 2020.
 
 
Rata-rata start up menggarap ayam premium seperti ayam non antibiotik, ayam organik, ayam free range, dan ayam probiotik, yang pada pasca pandemi ternyata lebih jalan. “Orang berduit tidak turun daya belinya, meningkatkan preferensinya pada produk premium dan higienis asal unggas. Indonesia mulai ada industri yang menerapkan block chain, dengan menyematkan value sejak awal produksi. Contohnya ketika value halal disematkan, maka akan mudah ditelusuri dan diidentifikasi oleh konsumen muslim tentang kehalalannya,” dia menguraikan.
 
 
“Kita salah juga tidak mau melakukan pendekatan kepada industri besar seperti ABC dan Unilever untuk menggunakan ayam dan telur, di-branding untuk menjadi produk unggulan mereka. Ikan sudah, dikaleng, dibranding sedemikian rupa, tapi ayam belum,” sesalnya.
 
 
Meninjau sisi permintaan produk unggas, Sudirman menghubungkannya dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia berada di level USD 4.000. “Kalau kita cocokkan dengan pattern-nya yang juga berlaku di dunia, konsumsi ayam kita akan jatuh di angka 12-13 kg per kapita, dan ternyata cocok,” ujarnya.
 
 
Bukan untuk meratapi, namun untuk mengejar, dia menegaskan industri ayam Indonesia posisinya masih tertinggal 50 tahun lalu dibandingkan industri unggas di Amerika. “Pandemi ini memaksa orang mulai takut beli ayam 􀆟dak higienis, sehingga akan bergeser ke modern market bahkan digital market. Orang yang tak mau repot saat ingin memasak karaage akan beli daging ayam fillet, yang sudah berupa potongan, dan lain-lain,” tandasnya.
 
 
Untuk menembus pasar ekspor, Sudirman mengajak pelaku perunggasan membaca pasar Jepang yang mengimpor ayam processed senilai USD 6 miliar, USD 1,5 miliar dari Thailand, dan USD 2 miliar dari China. Ayam utuh mereka impor dari Brazil, yang lebihmurah daripada karkas asal Indonesia. Peluang ekspor produk unggas ke negeri Sakura dikatakannya masih terbuka untuk produk ayam olahan.
 
 
“Kita masih punya unggulan, kalah di harga bahan baku, tapi bisa bersaing pada further process karena biaya tenaga kerja, teknologi, dan produktivitas kita sebenarnya masih bersaing,” terangnya. Dia pun menyarankan untuk belajar pada perunggasan Thailand yang mampu mengekspor dada ayam yang bernilai tinggi ke Belanda, namun mengimpor ceker dan sayap yang murah dari Eropa.
 
 
Promosi dan Marketing
Heri Setiawan menekankan pentingnya menerapkan bauran pemasaran yang dirumuskan dalam 4P, 7 P dan 9P (product, price, place, promotion, process, people, physical evidence, public opinion, dan political power). “Pada promosi kita bangun brand, kita branding-kan, bagaimana menjadikan produk ayam dan kualitasnya memiliki brand yang kuat untuk lebih mudah konsumen mengenalinya. Begitu pula kita jelaskan proses produksi kita agar konsumen yakin kalau produk yang dikonsumsi higienis dan berkualitas,” jelasnya. Supaya mereka yakin terhadap ayam yang dihasilkan, maka dibuatlah standar sistem kontrol kualitas yang akuntabel dan transparan bagi konsumen.
 
 
Menurut Heri, kekuatan politik kini juga masuk dalam bauran. Perlu kebijakan untuk mengatur masalah harga dan pengaturan distribusi, standar kualitas dan proses yang sifatnya mandatory. Opini publik juga mempengaruhi preferensi, maka diupayakan untuk meraih opini positif.
 
 
Dia pun menggarisbawahi perlunya mengkombinasikan pola marketing analog/konvensional dengan marketing digital untuk memasarkan produk asal unggas. “UMKM perunggasan wajib melek teknologi. Kita harus memahami perubahan yang dialami masyarakat dan hubungannya dengan daging ayam pada masa pandemi ini. Lalu perlu disusun materi pemasaran yang tepat. Contohnya, daging dan telur sebagai pangan bergizi yang penting untuk imunitas tubuh,” urainya.
 
 
Business Pivoting Perunggasan
Herry Nugraha, Co Founder etanee.id, perusahaan penyedia platform digital untuk supply chain dan distribusi produk pertanian menjelaskan pentingnya business pivoting perunggasan. “Entah sampai kapan, kita akan menyesuaikan untuk stay at home economy. Maka harus tetap bertumpu pada core bisnis, misal perunggasan. Namun model pendekatannya lah yang akan kita ubah,” ungkapnya. Pendekatan yang dimaksud meliputi perubahan produk dari bernilai tambah rendah menjadi produk bernilai tinggi seperti produk ready to cook dan ready to eat, sistem rantai pasok, sistem promosi dan marketing. Semuanya mengarah pada teknologi dan digitalisasi.
 
 
Dia menuturkan demand produk pangan termasuk pangan asal unggas saat ini berada di platform digital. “Industri pangan adalah sektor industri yang mendapat efek positif selama pandemi. Platform kami saat pandemi justru naik, bukan turun. Kita harus merespons untuk jadi gainer, bukan loser jika sensitif menangkap perubahan-perubahan konsumsi ini. Industri pangan bukan yang terdampak dari konsumsi, kecuali dari sisi demand ada penurunan karena daya beli,” urainya.
 
 
Maka, dia pun menyatakan perlunya analisis besaran pengeluaran untuk konsumsi produk peternakan khususnya unggas dari masing-masing tingkat pendapatan masyarakat. Herry mengajak untuk mengidentifikasi apa saja trigger demand sekaligus barrier-nya. “Sisi demand ini perlu campur tangan kebijakan. Triggernya adalah buying power. Bansos (bantuan sosial), sekarang lebih banyak ikan sarden, sebagai ikan tangkapan. Padahal kita punya daging ayam. Maka perlu pengembangan ayam ready to eat seperti halnya sarden,” sarannya.
 
 
Contoh lain, dia menyodorkan betapa mudahnya sekarang jualan eskrim di warung-warung kecil. Hal itu membuktikan es krim lebih establish daripada produk pertanian dan peternakan. Padahal lebih banyak dan lebih sering orang makan ayam daripada makan eskrim. “Tapi faktanya, kita lihat dalam boks pendingin es krim tak ada produk ayam,” ujarnya menggelitik nalar.
 
 
Mengenai konsumsi, Herry mengatakan sisi itu berada di level lebih mikro, tepatnya ada di level konsumen sebagai pemakai akhir produk unggas. “Maka platform digital bisa dilakukan untuk upsell pada era work from home dan social distancing ini, untuk meningkatkan penjualan ayam olahan bahkan bisa crossborder. Hal yang dulu mustahil,” tandasnya.
 
 
Faktor kunci untuk menaikkan nilai tambah produk pertanian yang perishable itu rantai dingin, yang dikenal berbiaya tinggi. Maka Herry membuat desentralisasi rantai dingin, dengan membuat titik-titik rantai dingin berkapasitas 2 ton per titik. Sebagai bisnis model digital, penyediaan fasilitas pendingin itu melibatkan masyarakat yang punya lokasi ruang kosong. Mereka bekerjasama dengan etanee, menjadikannya ruang pendingin yang bisa melayani konsumen pada radius 15 km. “Nanti ada sharing ekonomi, yang mendapatkan manfaat adalah masyarakat, bukan korporat,” jelasnya.
 
 
Produksi dan Serapan
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah menyatakan produksi broiler pada 2020 diperkirakan mencapai 3,2 juta ton produksi, atau setara 270 ribu ton per bulan. Proyeksi kebutuhan daging ayam sebanyak 2,4 juta ton pada 2020. Artinya, jika kondisi normal, akan dapat surplus hampir 61 ribu ton per bulan, atau 700 ribuan ton per tahun.
 
 
Sayangnya, pemerintah mendeteksi terjadi penurunan konsumsi broiler sebanyak 43 % antara Maret sampai Oktober mendatang. November dia berharap kondisi normal kembali. Pada laporan BPS, pertumbuhan ekonomi pertanian tercatat naik, tetapi pertumbuhan peternakan minus. Karena perhitungannya, produksi yang dikaitkan dengan penurunan konsumsi dan terpuruknya harga. Pada harga prokok produksi (HPP) Rp 18.000 per kg, realitanya harga live bird di peternak hancur luar biasa.
 
 
“Ini kondisi anomali, tapi harus kita jaga, peternak harus tetap beternak. Karena saat kondisi normal, konsumsi akan tiba-tiba naik.Padahal kalau tidak dijaga, keterpurukan harga unggas akan membuat peternak berhenti budidaya,” ungkap Nasrullah.
 
 
Blak-blakan dia mengakui, beberapa negara telah meminta memasukkan ayam ke Indonesia. Dia pun mencemaskan jika sampai kondisi sudah normal, sehingga permintaan meledak pada saat peternak masih berhenti produksi atau setidaknya masih pada awal recovery produksi, maka akan sulit menolak permintaan luar negeri untuk memasukkan ayam ke Indonesia.
 
 
Nasrullah mengutip FAO yang meramalkan akan terjadi kerawanan pangan secara global pasca pandemi tahun depan. “Kita yang sudah harus bangga dengan produksi ayam kita, harus kita pertahankan harus tetap surplus, yang kita akan atur agar surplus ini tidak menghancurkan harga di peternak,” ungkapnya.
 
 
Selain pasar domestik, Dirjen PKH menjelaskan ada 2 negara yang digarap untuk ekspor produk unggas. Keduanya adalah Jepang untuk penambahan volume ekspor, dan Saudi Arabia untuk ayam karkas dan olahan. “Saudi tinggal meminta kompartemen bebas AI yang sudah kita siapkan. Semoga segera terlaksana untuk membantu sistem stok dalam negeri dan membantu stabilisasi harga,” tandasnya.
 
 
Realita Perunggasan
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Fini Murfiani menyatakan kondisi perunggasan awal 2020 kurang kondusif. Diindikasikan anjloknya harga LB dan terendah pada April rata-rata Rp 10.000 - 13.000 per kg di Pulau Jawa. Harga tersebut jauh di bawah harga acuan Kemendag (Permendag 07/2020) pada tingkat peternak yaitu Rp 19.000 per kg. 
 
 
Surplus live bird saat itu cukup besar sehingga perlu dilakukan stabilisasi dengan menggandeng 22 perusahaan perunggasan dan BUMN agar melakukan penyerapan LB di tingkat peternak UMKM. Di lain sisi kebutuhan masyarakat pada daging ayam ras mengalami tren yang terus meningkat.
 
 
Data BPS dalam Outlook Ayam Ras Pedaging (2019), konsumsi rumah tangga tahun 2018 sebesar 5,55 kg per kapita per tahun, meningkat rata-rata 6,88 % per tahun. Pada 2020 untuk konsumsi nasional (rumah tangga, horeka, industri, jasa kesehatan, dan lainnya) adalah sebesar 12,79 kg per kapita, namun menurun sejak pandemi menjadi 9,08 kg per kapita.
 
 
Sedikit menoleh ke belakang, host MIMBAR TROBOS Livestock The Series, Yopi Safari – Pemimpin Redaksi Majalah TROBOS Livestock menuturkan pada festival ayam dan telur di 2012 di Jakarta, pemerintah mencanangkan untuk meraih target double consumption daging ayam, dari 7 kg per kapita menjadi 14 kg per kapita pada 2017. Saat itu Wakil Menteri Pertanian Rusman Heryawan berpesan agar semua stakeholder menyiapkan peran masing-masing mulai teknis on farm, industri sarana produksi, hingga strategi marketing dan promosi.
 
 
Memasuki era pandemi, dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan perunggasan mengalami kontraksi hingga -1,82 % akibat penurunan permintaan dan konsumsi sepanjang kuartal kedua 2020, sebagai dampak pandemi Covid-19. TROBOS nuruddin – nogyakarta
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain