Rabu, 26 Agustus 2020

Meniti Jalan Korporatisasi Koperasi Perunggasan Layer

Meniti Jalan Korporatisasi Koperasi Perunggasan Layer

Foto: 


Melalui koperasi, peternak memiliki posisi tawar dalam pembentukan kepastian harga, pembayaran, pengambilan, serta memutus mata rantai distribusi dan pemasaran telur
 
 
Koperasi peternak layer (ayam petelur) bertumbuh di sentra-sentra produksi, semua bekerja keras mengejar mimpi besar korporatisasi. Mereka pun saling mengimbas, menginspirasi dan melangkah untuk menjalin kerjasama lintas sektoral, dengan korporasi, lintas dan BUMN/BUMD.
 
 
Logika-logika korporasi mulai disuntikkan ke dalam manajemen usaha, analisis pasar, dan eksplorasi preferensi dan motif konsumen yang kemudian dituangkan ke dalam konsep produksi, branding dan marketing. Sehingga koperasi peternak unggas harus memenuhi permintaan konsumen, bukan lagi konsumen harus mengerti produk yang disodorkan produsen.
 
 
Hal itu dipaparkan Arief Prasetyo Adi, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya (FSTJ), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang pangan milik Pemda DKI Jakarta sebagai salah satu pembicara pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-4 – Perunggasan dengan topik “Memangkas Mata Rantai Tata Niaga Telur” yang digelar pada Rabu (26/8) melalui aplikasi Zoom dan laman Youtube AgriStream TV.
 
 
“Kita menggandeng koperasi produsen, bukan hanya bicara soal pasokan. Kita juga menanamkan pandangan baru bahwa telur bukan lagi sebagai produk komoditas. Namun juga memberikan spesifikasi berat telur harus seragam 60-70 gram, warna coklat bersih, produk baru dari kandang, tak boleh ada noda feses, dan cangkang kuat,” ujar dia.
 
 
Dia menuturkan FSTJ sejak April 2018 menggandeng koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar untuk memasok telur ayam ras. Telur dari Blitar Jawa Timur (Jatim) ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pemegang Kartu Jakarta Pintar. Selain itu, dipasok ke berbagai pasar modern sebagai telur premium, dengan grade A dan A plus.
 
 
Sepanjang pelaksanaan kerjasama itu Arief juga menyampaikan kepada Koperasi Putera Blitar bahwa telur dapat dimodifikasi isinya dengan mendevelop pakannya, sehingga isinya mengandung omega-3 dan lain-lain. Seperti pada produk modified rice yang bernilai tinggi. Pelabelan dan pengepakan akan bisa menaikkan nilai, untuk pasar modern dan pasar khusus.
 
 
“Metode marketing modern kita terapkan pada telur ini, kita harus bisa menyesuaikan dengan permintaan pasar, sehingga pasar bisa menyerap dari kita. Seperti tailor made. Sesuai permintaan, kita buat kemasan isi 10 butir, ada yang 6 butir, bungkus dari mika, label bagus, dan lain-lain,” ungkapnya.
 
 
Arief menyebutkan, dulu ketua koperasi Putera Blitar, Sukarman berkata kepadanya bahwa susah untuk memenuhi spesifikasi permintaan itu. Kenyataannya, setelah dicoba dan terus dilaksanakan semua dapat teratasi. “Pak Sukarman sekarang bisa suplai ke kita dan bahkan ke siapapun yang meminta spesifikasi khusus seperti itu. Saat semua sudah berjalan, segalanya menjadi lebih mudah,” tandas CEO BUMD Terbaik Nasional di 2020 ini.
 
 
Bermitra Memangkas Rantai Niaga
Pada MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-4, Sukarman menjelaskan kehadiran koperasi Putera Blitar sejak awal diniatkan untuk memperkuat posisi peternak unggas petelur dalam pembentukan harga. Peternak Blitar rata-rata peternak kecil dengan populasi 1.000 – 7.000 ekor. Mereka mencampur sendiri pakannya berupa jagung, katul, konsentrat, bungkil kedelai, MBM, dan lain-lain, dengan porsi jagung sebesar 50 %.
 
 
Peternak yang dikenal vokal dalam urusan kebijakan perunggasan ini menuturkan harga telur dan jagung menjadi masalah yang kronis sejak korporasi integrator diperbolehkan menjalankan budidaya ayam petelur. Maka 5-6 tahun setelah itu berdampak pada peternak rakyat di Blitar. Harga telur sering murah di bawah biaya produksi, sampai Rp 13.500 per kg, harga jagung sampai Rp 6.500 per kg. Hal itu terjadi karena integrator dan peternak rakyat mengakses sumber jagung yang sama, dan berebut masuk pasar telur yang sama.
 
 
Di tengah tekanan harga jagung dan harga pasar telur yang tak menentu itu, Sukarman diundang Bank Indonesia (BI) Surabaya dipertemukan dengan Direktur Utama FSTJ. “Mulai 31 April 2018 kami suplai telur ke FSTJ, hingga 230 ton per bulan. Setelah hubungan bisnis ini berjalan, kami diundang pada MoU Pemprov DKI dengan Bupati Blitar untuk memperkuat kerjasama,” tuturnya.
 
 
Sukarman pun merasa semakin percaya diri dengan berkoperasi, karena pada awal berdiri dalam kondisi bisnis yang sedang memburuk, ternyata banyak pihak yang bersedia membantu, diantaranya Inkopas, BUMN Berdikari, FSTJ, dan beberapa pemerintah daerah. Dikisahkannya, BI mencarikan pasokan jagung sampai ke Majene, Sulawesi Barat dan menghubungkan Koperasi Putera Blitar dengan lembaga-lembaga yang mau membantu memasarkan telur, termasuk ke PT Berdikari, atas bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM. Kementerian Perekonomian dan KAI memberikan bantuan agar pengiriman telur ke PT FSTJ tidak memakai truk namun dengan kereta api. Sayangnya, baru 3 kali pengiriman dengan kereta api ini, datang pandemi Covid-19 sehingga pasokan sementara berhenti.
 
 
Putusnya pengiriman itu pun terobati karena datang permintaan setiap bulannya sebanyak 61 ton untuk mengisi paket bansos Pemkab Blitar, 30 ton untuk BPNT dan 26 ton dari lumbung pangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Untuk mengisi lumbung pangan itu pemprov membantu biaya transportasi. Koperasi juga mendukung operasi pasar dalam bentuk pasar murah yang dilaksanakan setiap tahun di pendopo Kabupaten Blitar. Telur dijual dengan harga kandang.
 
 
“Kami bercita-cita untuk mengelola 30 % telur di Blitar, agar harga telur di daerah stabil. Sekarang harga telur selisih 1 jam bisa naik turun sampai Rp 1.500. Untuk menyerap 30 % telur Blitar itu kami terkendala modal. Maka kami mengharapkan pinjaman dari Kementerian Koperasi dan UKM melalui program Lembaga Pengelola Dana Bergulir Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM). Dengan itu kami bisa membeli telur 300 – 400 ton dan memasok jagung untuk peternak,” dia berharap.
 
 
Kesadaran untuk berkoperasi di kalangan peternak layer, dikatakannya memang masih belum tinggi. Tetapi jika kami bisa mengadakan jagung untuk mereka dan disalurkan lewat koperasi, maka akan menjadi pancingan agar mereka ramai-ramai menjadi anggota. Pola ini sudah pernah berjalan, saat koperasi menyalurkan jagung, peternak ramai mengakses dan mendaftar menjadi anggota.
 
 
Anggota Koperasi Putera Blitar telah mencapai 426 orang dengan populasi 4 juta ekor. Produksi telur 200 ton per hari dan kebutuhan jagung 300 ton per hari. Jumlah peternak layer di Kabupaten Blitar ada 4.420 - 5.000 peternak dengan populasi layer 24 juta ekor, produksi telur 900 – 1.100 ton per hari. Mereka memasok 30 % kebutuhan telur nasional. Adapun kebutuhan Blitar untuk jagung 1.000 – 1.200 ton per hari dan dedak padi 500 ton per hari.
 
 
Mirip dengan kiprah Koperasi Putera Blitar, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal, Jawa Tengah (Jateng), Suwardi menyatakan, mata rantai niaga telur dan jagung minimal ada 5 – 6 titik distribusi. Sehingga disparitas harga itu selisihnya lumayan besar. Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal juga selangkah demi selangkah melakukan upaya efektif memutus matarantai tersebut.
 
 
Koperasi menjalin kerjasama dengan petani jagung. Koperasi hanya mengeluarkan DO (Delivery Order) kepada petani, dan mereka mengirimkan kepada peternak yang memesan jagung kepada koperasi. Jika hari ini harga jagung di petani Rp 3.500 per kg maka peternak cukup membayar Rp 3.600 per kg, selisih Rp 100 untuk koperasi. Saat harga telur jatuh, telur diserap 220 ton oleh Bulog Jawa Tengah. Ketika koperasi ingin mengakses jagung, cukup berhubungan dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) dengan skema gapoktan-koperasi-petani.
 
 
“Petani punya jagung, peternak butuh jagung maka koperasi kami bermitra dengan gapoktan, Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) dan petani. Kami juga telah menyerap 40 ribu ton jagung Bulog selama 2018 – 2019. Begitu pula Bulog menyerap 220 ton telur koperasi saat harga telur jatuh,” ungkap Suwardi yang juga seorang Kepala Desa ini.
 
 
Atas permintaan dari Pemprov Jateng, koperasi memasok telur 190 ton seharga Rp 22.000 per kg, dan dikirim ke e-warung dan warung-warung yang ditunjuk sampai ke pelosok gunung. Padahal harga pasaran telur saat itu Rp 23.000 per kg. Selain bermitra dengan e-warung, koperasi juga memasok telur untuk jaringan toko SRC, dapur Gojek, dan 10 agen telur di Jateng dan Jabodetabek.
 
 
Menakar Kekuatan
Koperasi mempersatukan kekuatan, karena tercerai-berai dan sendiri-sendiri itu justru menyusahkan peternak unggas layer sendiri. “Melalui koperasi, anggota mendapatkan kepastian harga, pembayaran, pengambilan, serta memutus mata rantai distribusi dan pemasaran telur. Peternak melalui koperasi juga memiliki posisi tawar dalam pembentukan harga telur,” ungkap Suwardi.
 
 
Sebelum ada koperasi, peternak menjual telur melalui broker dengan harga yang nyaris selalu ditekan. Telur sudah dibawa, tetapi belum dibayar, sehingga sering terjadi, broker telah membawa dua atau tiga nota lalu kabur sehingga tidak terbayar atau susah ditagih. Penjualan melalui koperasi, ada kepastian harga yang berlaku pada hari itu dan ada kepastian kapan dibayar. Anggota koperasi juga bisa membeli pakan dan DOC (ayam umur sehari) di koperasi.
 
 
Dia menyatakan, harga telur di Kendal tidak seperti di daerah lain yang berubah setiap saat karena permainan broker. Peternak Kendal melalui koperasi hanya memasang satu harga dalam satu hari. Mulai jam 10 pagi sampai jam 12 malam, harga sama. “Kalau ada harga baru pada jam berbeda, maka dipastikan itu bukan harga resmi koperasi. Kita buktikan, bisa mengendalikan mekanisme ini melalui koperasi,” tutur Suwardi yang juga Ketua PPN (Pinsar Petelur Nasional) wilayah Kendal ini.
 
 
Selain soal harga jual telur, Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal juga berhasil mendapatkan akses harga DOC dari breeder integrator nasional dengan harga sesuai Permendag sebesar Rp 10.000 per ekor saat harga DOC tinggi, dengan dibantu mediasi oleh Pemprov Jawa Tengah. “Semua ini karena berkoperasi,” tandas dia.
 
 
Koperasi bekerjasama dengan PT Rumpun Sari Antan melalui Koperasi Haraka selaku penyedia jagung pipil. Bertindak sebagaipenyedia layanan ekspedisi, koperasi bekerjasama dengan PT Sido Agung dan PT Cemerlang Unggas Lestari. Sebanyak 15 armada milik koperasi dioperasikan sebagai armada layanan ekspedisi pakan, DOC, dan telur.
 
 
Kalau kita bersatu dalam koperasi, kita akan menjadi korporasi. Ketergantungan kita jangan sampai berlarut-larut. Kita berani maju, berani tampil, menjadi soko guru ekonomi. Mudah-mudahan nanti dengan LPDB dari Kemenkop UKM akan memperkuat peran ini, sehingga makin banyak lapangan kerja yang dibuka untuk saudara-saudara kita di pedesaan melalui peternakan unggas petelur ini,” Suwardi mengharapkan. Dia mengakui saat membuka koperasi sangat sulit untuk mengakses pasar telur dan sarana produksi, karena bersaing dengan pemodal besar.
 
 
Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal berdiri pada 25 Oktober 2018 dengan anggota tetap dan tidak tetap sebanyak 460 orang, produksi telur 425 ton per hari. Anggota tetap koperasi sebanyak 125 orang, produksi telur 30 – 35 ton per hari. Sedangkan jumlah peternak layer di Kendal ada 776 orang, berproduksi 320 ton per hari dan kebutuhan jagung 402 ton per hari.
 
 
“Anggota tetap ini hidup mati usahanya ikut koperasi karena semua sarana produksi diantaranya pakan DOC, pullet, dan telur telah dikelola pengadaan dan penjualannya melalui koperasi. Semua anggota kita adalah peternak mandiri, karena adanya KUR kami bisa mengakses permodalan. Adapun iuran pokok anggota hanya Rp 500.000 dan iuran wajib Rp 50.000 per anggota, kami buat murah untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi peternak ayam petelur skala kecil menjadi anggota,” tuturnya.
 
 
Kemitraan, Mengangkat Sentra Produksi
Arief Prasetyo Adi men yatakan Jakarta meng gantungkan 80-90 % pasokan pangannya dari daerah sentra produksi, seperti telur tergantung dari Blitar. Jakarta berterima kasih kepada daerah sentra produksi padi, unggas pedaging dan petelur, dengan menjalin kemitraan langsung B to B antara FSTJ dengan pelaku di daerah termasuk koperasi, dan kemudian diperkuat dengan kerjasama Pemprov DKI Jakarta dengan pemda sentra produksi.
 
 
Dia pun menyampaikan salam dan terima kasih Gubernur DKI Jakarta untuk Koperasi Putera Blitar. “Pak Gubernur itu ingin Jakarta sebagai kota kolaborasi. Bekerjasama dengan situasi yang win-win, kita dipasok dengan pasokan stabil dan harga baik, pelaku di daerah produksi mendapat harga baik dan kepastian pasar,” tandasnya.
 
 
Saat harga telur tinggi peternak memberi harga yang baik pada PT FSTJ, dan kalau harga telur jatuh, PT FSTJ tidak akan menekan harga dari koperasi peternak. Tidak seperti broker pada umumnya, saat harga rendah menekan agar harga tetap rendah dan tetap menjual ke konsumen dengan harga tinggi, namun saat harga tinggi bisa jadi kabur untuk menekan harga juga.
 
 
“FSTJ bukan hanya menyediakan bahan pangan pokok tapi juga melakukan stabilisasi melalui kerjasama langsung dengan daerah produsen. Hari ini kita bisa temukan produk Koperasi Putera Blitar dengan grade A dan A plus di supermarket-supermarket Jakarta. Kita bangga hal ini,” ungkapnya. Menurut dia, kontinuitas dari produk, sustainabilitas mutu, itu yang menjadi syarat untuk bertahan di pasar modern sekarang ini.
 
 
Selain itu, dengan dukungan dari FSTJ, telur Blitar juga telah masuk Toko Tani Indonesia Center (TTIC), dan sudah dijual di beberapa marketplace. “Testimoni membanggakan dari konsumen telur Blitar yang dijual di marketplace, telur segar dan semalam sampai,” ujar Arief. Arief memastikan pada kemitraan ini, tempo pembayaran sangat singkat, semua pembelian tercatat dengan baik.
 
 
Sistem penjaminan mutu telur juga didukung pada kemitraan ini, hingga telur Putera Blitar telah berhasil mendapatkan Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sehingga memperlancar usaha pengiriman dan pengepakan telur dari sentra produksi ke daerah lain termasuk ke Jakarta. FSTJ pun menggarap input produksi, bermitra dengan petani jagung. Jagung mulai bulan depan mulai panen. Semakin spesifikasi tinggi, harga semakin tinggi. “Begitu panen kami menyiapkan dryer dan semua alat ukur sehingga siapapun buyer bisa meminta barang sesuai spek. Jangankan afla 200 ppb, afla di 20 ppb pun bisa kita layani. Dengan keberadaan dryer tadi, cara tanam, cara panen itu sangat berpengaruh,” jelasnya.
 
 
Diterangkannya, harga panen jagung itu dimungkinkan harga di bawah Rp 3.700 per kg supaya masih murah ketika sampai di Jateng dan Jatim. “Kami kerjasama menanam jagung itu sebenarnya memang untuk membantu peternak. Nanti Pak Suwardi dan Pak Sukarman bisa kami ikutkan menjadi penyerap jagung ini. Kita uji cobakan polanya seperti apa,” ujar Arief.
 
 
Dia menegaskan, petani dan peternak sama-sama membutuhkan off taker seperti yang dia lakukan ini. Tapi untuk berhubungan langsung mereka tidak mampu. Kalau peternak besar, tidak usah diajari juga sudah menyambung kemitraan tanam jagung sendiri bahkan menanam jagung sendiri.
 
 
Arief berharap segera ada perubahan citra koperasi yang bekerja dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Koperasi itu bukan selalu usaha skala kecil-kecil, dan urusannya hanya simpan-pinjam. Di Belanda, perusahaan yang besar-besar itu milik koperasi, bukan pengusaha kapitalis. “Melalui koperasi, kumpulkan uang Rp 1 juta per anggota, itu nanti SHU (sisa hasil usaha, deviden) itu lebih besar dari bunga bank kok. Masak setahun naruh uang Rp 1 juta dipakai untuk usaha di koperasi tidak bisa dapat SHU Rp 200.000,” kata dia.
 
 
Closed Loop
Ke depan akan dilakukan closed loop, antara penerima manfaat bantuan dari pemprov. Dengan PT FSTJ dan peternak petani di sentra produksi. Semua berhubungan dan menjalin satu komitmen, satu rasa dan tanggung jawab bersama.
 
 
Dia pun menanggapi kekhawatiran apakah pemangkasan rantai niaga ini menyebabkan pengurangan lapangan kerja. Menurut Arief, justru tidak terjadi, karena yang hilang itu adalah mereka yang bermain harga di tengah, dan bahkan berpotensi mengganggu distribusi pangan. “Mereka mengganggu kesejahteraan petani peternak sehingga NTP-nya (Nilai Tukar Petani) selalu rendah. Tidak ada sentral produksi yang diganggu, lengkap dengan pekerja-pekerjanya. Justru mereka berkesempatan lebih berkembang,” dia menegaskan.
 
 
Dia menguraikan, closed loop antara sentra produksi dan daerah pasar juga semakin kuat dengan efisiensi distribusi melalui ekspedisi yang tepat. Contohnya, daerah yang ada jalur kereta api akan lebih hemat biaya pengiriman Rp 200 – 300 per kg. Penghematan ini bisa dibagi dua, Rp 150 untuk koperasi peternak, separuh untuk FSTJ atau siapapun mitranya. Menyejahterakan petani itu sebenarnya sederhana. Kalau untuk pakan, Rp 150 – 300 itu sangat berarti bagi peternak,” urai Arief.
 
 
Sukses Berkoperasi
Budi Mustopo, Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kementerian Koperasi dan UKM pada MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-4 ini menyatakan kunci sukses berkoperasi, adalah dengan melayani, sehingga mendapatkan partisipasi anggotanya. Tanpa partisipasi anggota, Koperasi Putera Blitar tidak akan punya telur. Anggota tinggal anggota, koperasi hanya tinggal lembaganya. “Maka koperasi harus produktif memberikan manfaat kepada anggota dan sebaliknya anggota berpartisipasi untuk jalannya koperasi,” ungkap Budi.
 
 
Kemenkop UKM mendorong, koperasi perunggasan yang sudah eksis maupun yang masih dirintis untuk maju, menjadi besar dan semakin modern. Bukan saatnya koperasi diselenggarakan secara sendirian, namun harus profesional, kompeten dan mengadopsi teknologi.
 
 
Terlebih, pada 14 Agustus 2020, Kemenkop UKM telah meneken MoU dengan Kementerian BUMN untuk pembinaan dan pendampingan koperasi melalui pengembangan digital platform dan BUMN menjadi penampung produk koperasi. Berdikari menjadi penampung produk dari koperasi peternak Blitar, disalurkan kepada warung-warung melalui bantuan LPDB.
 
 
Koperasi didorong untuk menjadi korporasi dengan unit bisnis yang lebih besar melalui industrialisasi. Didukung dengan modal dari LPDB yang dianggarkan Rp 1 triliun tahun ini, unit bisnis koperasi diharap bisa memenuhi kebutuhan sarana produksi, pengolahan hasil dan pemasaran dari para anggota. “Koperasi lebih mudah mengakses dana dari LPDB. Begitu Pak Teten masuk, Peraturan Menteri terkait pembiayaan yang melalui LPDB yang dulu dianggap susah telah dilakukan perbaikan prosedur, sehingga kita harapkan jadi lebih mudah,” tegasnya. TROBOS nuruddin – nogyakarta
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain