Selasa, 1 September 2020

Menghindari Gumboro

Menghindari Gumboro

Foto: dok. vaksindo


Memperkuat status kekebalan ayam melalui vaksinasi dan mengoptimalkan manajemen brooding sebagai cara yang ampuh untuk pencegahan
 
 
Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang lebih dikenal dengan nama penyakit gumboro sudah diindentifkasi sejak 1760, dan sampai sekarang masih menjadi permasalahan yang sangat serius bagi industri perunggasan di seluruh dunia. Penyakit yang disebabkan virus IBD (IBDV) merupakan virus RNA untai ganda, genus Abirnavirus dari family Birnaviridae yang menyerang organ organ pertahanan tubuh ayam terutama merusak folikel lymphoid secara permanen menyebabkan efek immunosupresi.
 
 
Setya Winarno, peternak broiler (ayam pedaging) di daerah Bogor, Jawa Barat mengatakan, perkembangan penyakit gumboro dalam waktu setahun terakhir mengalami perbedaan dari tahun sebelumnya. Kejadian kasus gumboro sering disamarkan dengan penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH). Pola berjangkitnya gumboro di lapangan biasanya pada masa transisi baik antara musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. Kejadian kasus penyakit yang ada di tahun ini mempunyai peluang yang lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengingat cuaca yang susah untuk diprediksi. “Pada saat terjadi wabah, kejadian yang sering muncul menyebabkan kondisi pertahanan tubuh ayam mengalami penurunan dan memicu infeksi sekunder yang lain terutama oleh virus. Langkah antisipasi yang dilakukan diantaranya melakukan deteksi dini terhadap faktor pemicu dengan mengecek secara detail maternal antibodi, proses sanitasi dan desinfeksi kandang yang lebih ekstra serta melakukan antisipasi dini dengan selalu memonitor kenyamanan ayam di kandang,” urainya kepada TROBOS Livestock.
 
 
Berbeda dengan Ismed, peternak layer (ayam petelur) asal Padang, Sumatera Barat, yang mangatakan dalam kurun waktu satu tahun terakhir tidak pernah terjadi kasus penyakit gumboro di lapangan, bahkan tidak terdapat pola tahunan yang berulang terkait berjangkitnya gumboro. “Akan tetapi mengingat pengalaman di tahun-tahun yang sudah lewat, biasanya gumboro akan ada saat terjadinya musim pancaroba, sehingga apabila musim atau cuaca tidak menentu maka peluang adanya penyakit tersebut sangat besar, karena kondisi kandang pengap, suhu dingin, dan stamina ayam sedang turun,” jelasnya.
 
 
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir kasus gumboro masih muncul pada broiler dan layer dengan tingkat kejadian kasus sampai 30 %. Kasus gumboro yang terjadi biasanya muncul di akhir tahun sampai awal tahun di mulai dari November sampai Maret dan muncul di musim penghujan. “Biasanya kasus gumboro akan muncul disaat kelembaban tinggi dan dingin,” ungkap Territory Manager East Java Animal Health Business PT Boehringer Ingelheim Indonesia, Wenda Siwi Parampita. 
 
 
Senior Technical Manager PT Zoetis Animal Health Indonesia, Betty Yuriko mengatakan, kasus IBD selalu muncul dalam kurun waku 1 tahun terakhir baik di layer maupun broiler. Pada layer, meskipun sudah dilakukan vaksinasi 2-3 kali di kandang, kasus ini masih terjadi. Hal ini dikarenakan sulitnya menentukan waktu yang tepat untuk vaksinasi dan karakter layer yang lebih sensitif terhadap gumboro sehingga gejala klinis dan kematian juga lebih tinggi pada layer komersial. Secara sporadik, kasus gumboro dapat muncul kapan saja terutama di kandang-kandang yang terserang gumboro pada periode sebelumnya. Namun pada musim tertentu terutama menjelang musim penghujan, kasus gumboro akan semakin meningkat. “Kasus gumboro cukup berisiko pada cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini. Karenanya peternak penting untuk melakukan vaksinasi yang tepat, biosekuriti dan tentunya pemberian suportif untuk menjaga kesehatan ayam tetap prima,” sarannya.
 
 
Disampaikan Technical Support Manager PT Medion Farma Jaya, Christina Lilis, penyakit gumboro masih banyak diperbincangkan peternak ayam Indonesia baik layer maupun broiler. Hal tersebut selaras dengan data yang dihimpun tim Technical Service Medion yang menunjukkan bahwa gumboro peringkat pertama penyakit viral pada broiler dan peringkat ketiga penyakit viral pada layer. Tren gumboro meningkat pada musim pancaroba biasanya pada September sampai Januari. Kondisi tersebut akan menyebabkan ayam menjadi stres sehingga daya tahan menjadi  menurun dan penyakit akan lebih mudah masuk menyerang tubuh ayam. “Saat musim basah atau kelembaban tinggi, kualitas litter akan mudah basah dan lembab menyebabkan periode brooding tidak optimal. Litter menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme penyebab penyakit, menjadi sumber penularan penyakit, mengundanga vektor pemicu meningkatnya kadar amonia,” paparnya.
 
 
SBU Animal Health & Livestock Equipment – Marketing PT Vaksindo Satwa Nusantara, Roiyadi menuturkan, dari sekian banyak kasus virus pada ayam, gumboro merupakan penyakit yang paling dominan dengan tingkat stabilitas kejadian sangat tinggi karena virus gumboro yang mampu bertahan lama di lingkungan dibandingkan penyakit virus lainnya. Tidak hanya pada musim penghujan, saat musim kemarau kasus gumboro dapat terjadi di lapangan karena bisa bertahan pada suhu tinggi. “Sebenarnya gumboro tidak mengenal musim, musim penghujan kasus tinggi karena cuaca dingin hingga mempengaruhi stamina anak ayam sehingga seolah-olah makin terlihat banyak di musim hujan. Sedangkan virusnya tetap ada di lapangan selama tidak terpapar disinfektan. Virus akan mengancam apalagi di saat anak ayam stres akibat cuaca, gumboro hanya klinis pada anak ayam,” tuturnya.
 
 
Penyebab dan Karakteristik 
Faktor penyebab adanya wabah gumboro adalah vaksin tidak menguasai bursa dengan cepat pada waktu yang tepat dan secara menyeluruh, sehingga terdapat ruang bagi virus VVIBDv untuk menginfeksi bursa dan bereplikasi. Karakteristik gumboro di lapangan, akan terjadi gejala klinis pada broiler dan layer yaitu kematian tinggi dari umur 3-6 minggu serta terjadi demam tinggi, dehidrasi, dan diare putih. “Kondisi ini akan menyebabkan feed intake turun, pencapaian berat badan lambat, keseragaman terganggu, ayam mudah terserang penyakit karena organ utama yang diserang adalah bursa fabricius serta pendarahan berbentuk garis pada otot paha dan dada, pendarahan diantara proventrikulus dan gizzard, deposit urea pada tubulus ginjal sehingga terjadi nefritis,” papar Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia, Ismail Kurnia Rambe.
 
 
Christina turut menjelaskan, penyakit gumboro disebabkan oleh virus famili Birnaviridae genus birnavirus, virus ini relatif tahan terhadap ether, kloroform, dan tripsin, juga tahan terhadap pelarut organik akan tetapi sangat peka terhdaap desinfektan yang mengandung formalin dan larutan yodium. Gumboro disebabkan oleh virus klasik strain virulen maupun Very Virulent Gumboro (vvIBD) yaitu virus gumboro yang sangat ganas, tingkat keganasannya terlihat pada kemampuan virus yang dapat menyebabkan kematian yang tinggi antara 20-30 % pada layer. Beberapa faktor lain yang menyebabkan gumboro masih sering mengincar di peternakan ialah sanitasi dan desinfeksi kandang termasuk istirahat kandang yang tidak optimal, program vaksinasi yang kurnag tepat, aplikasi vaksinasi kurang tepat, manajemen brooding tidak optimal, adanya faktor immunosuppressant yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi, serta adanya vektor kumbang Franky (Alphitobius diaperinus dan Carcinops purnilio) di area kandang, terakhir minimnya monitoring level dan keseragaman antibodi maternal. 
 
 
Serangan gumboro pada ayam di bawah umur 3 minggu biasanya bersifat subklinis dan memiliki efek imunosupresif sangat besar sehingga dapat menggagalkan program vaksinasi. Akan tetapi perlu diingat serangan gumboro juga bisa secara klinis dengan gejala yang tampak pada umur tersebut melalui tanda-tanda klinis yang sering terlihat adalah ayam cenderung mematuk-matuk daerah kloaka, lesu, nafsu makan hilang, diare berwarna putih, daerah kloaka kotor, depresi, bulu berdiri, dan dehidrasi. Kematian akan muncul sejak hari ke tiga setelah infeksi dan mencapai puncak hari ke empat, kemudian turun dengan cepat lalu sembuh pada hari ke 5-7. Jika tanpa diikuti infeksi sekunder dengan tingkat kematian yang bervariasi antara 20-70 % tergantung virulensi virus infeksi sekunder dan umur ayam saat terinfeksi. Sasaran utama dari penyakit gumboro adalah organ kekebalan tubuh yakni bursa fabricius dan dapat menyerang otot paha dan dada, terkadang pada kasus akut yang disebabkan oleh strain yang sangat virulen. “Perubahan patologi anatomi juga diperlihatkan pada organ kekebalan lain seperti timus, limpa, seka tonsil, dan Peyer’s patches,” ujar Christina.
 
 
Tingkat Deplesi 
Pada layer penyakit gumboro tidak dapat menjadi peluang untuk masuknya penyakit lain, biasanya penyakit gumboro disebabkan oleh adanya penyakit lain yaitu coccidiosis yang apabila terlambat dalam penanganannya maka kasus gumboro akan terjadi. “Layer yang terkena penyakit gumboro tidak mencapai puncak produksi telur paling tinggi hanya 90 %, dan tingkat deplesi apabila terlambat di tangani bisa mencapai 50 %,” ujar Ismed. 
 
 
Setya Winarno justru berpendapat, gumboro dapat memicu masuknya penyakit lain. Hal tersebut disebabkan karena organ kekebalan utama pada ayam sudah mengalami gangguan dan berdampak terhadap upaya ayam untuk menghasilkan zat kebal memicu munculnya penyakit lain di kemudian hari. Pada saat terjadi wabah akan menyebabkan tingkat keseragaman hancur dan biasanya sering diikuti oleh infeksi sekunder lain. Ketika terjadi kasus individual kematian hanya berkisar 2-3 %, namun ketika jumlahnya banyak bisa mencapai 6-8 %.
 
 
Ismail menyampaikan virus gumboro menyerang sistem pertahanan tubuh ayam. Apabila serangan gumboro terjadi di bawah umur 3 minggu maka infeksi seringkali bersifat subklinis dan bursa mengalami kerusakan permanen sehingga fungsi sistem kekebalan terganggu, akhirnya ayam rentan terinfeksi ikutan baik CRD komplek, ND, AI maupun infeksi lainnya. Akibat utama terjadinya gumboro pada broiler adalah kerugian terbesar dimana deplesi tinggi, pencapaian berat badan rendah dan FCR (rasio konversi pakan) yang membengkak, reject di RPA (Rumah Potong Ayam)  mengalami peningkatan karena kualitas karkas buruk. Sedangkan pada layer, infeksi gumboro menyebabkan gangguan kekebalan yang menyebabkan ayam mudah sakit, program vaksinasi terlambat karena proses pemulihan akibat gumboro yang sering mengganggu program vaksin setelahnya, dan akan menganggu sampai masa produksi.
 
 
“Akibat infeksi gumboro saja pada broiler berkisar antara 5-10 % dan bila terdapat infeksi sekunder, deplesi bisa mencapai 40-60 % tergantung infeksi sekundernya. Pada layer deplesi akibat gumboro lebih parah, infeksi tunggal gumboro menyebabkan deplesi antara 5-60 %, bila ada infeksi ikutan kematian bisa mencapai 100 %, terutama bila infeksi ikutannya adalah ND atau AI,” ungkapnya.
 
 
Betty menambahkan, gumboro menyebabkan imunosepresi karena merusak bursa yang merupakan tempat pembentukan sel B yang berperan penting dalam membentuk imunitas, karenanya bila ayam terserang virus lapang gumboro maka ayam rentan terhadap penyakit dan bahkan menunjukkan reaksi vaksinasi pernapasan yang berlebihan. Akibatnya, ayam menjadi rentan terhadap penyakit lain dan vaksinasi lainnya menjadi kurang protektif sehingga dampaknya pada broiler akan menyebabkan tidak tercapainya berat badan dan kebengkakan FCR. Sementara pada layer bila pertumbuhan awal pada ayam terganggu maka produksi telur akan ikut terganggu termasuk pertumbuhan organ-organ lymphoid dan reproduksi. Tingkat deplesi atau mortalitas pada broiler biasanya lebih tahan terhadap virus gumboro mencapai sekitar 10-30 %, namun pada layer mencapai >30 %.
 
 
Dampak kerugian dari kasus gumboro biasanya menyebabkan kematian mendadak dengan persentase yang lebih tinggi jika terdapat infeksi sekunder atau penyakit ikutan lain. Sebenarnya pada layer bisa tidak tercapai puncak produksi bila tidak dilakukan seleksi berat badan, karena gumboro menjadi penyebab keseragaman dan standar berat badan tidak tercapai. Hal penting yang perlu diperhatikan ialah serangan gumboro bersifat imunosupresif yang menyebabkan mudahnya terserang infeksi penyakit sekunder. “Angka kematian atau mortalitas bisa mencapai 20-30 % pada broiler dan 30-70 % pada layer, dengan kematian meningkat di tiga hari pertama kemudian menurun 5-7 hari,” jelas Christina.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 252/September 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain