Selasa, 1 September 2020

Suryo Suryanta: Menjaga Persistensi Produksi Telur

Suryo Suryanta: Menjaga Persistensi Produksi Telur

Foto: 
Suryo Suryanta

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam industri ayam petelur di Indonesia. Kemajuan ditandai dengan makin banyaknya closed house (kandang tertutup) ayam petelur dan makin banyak feedmill (pabrik pakan) baru yang menyediakan pakan ayam petelur. Kemajuan ini tentunya untuk menopang kebutuhan akan telur dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa yang setidaknya tingkat konsumsi sudah mendekati 11 kg/kapita/tahun. 
 
 
Telur sudah menjadi bahan pangan yang primer yang penggunaannya sangat bervariasi mulai dari untuk konsumsi rumah tangga hingga sebagai bahan baku industri makanan. Dengan demikian ketergantungan akan telur sudah menjadi keniscayaan untuk dipenuhi, dampaknya akan menjadi semakin meningkatkan iklim bisnis di ayam petelur. 
 
 
Peluang ini bisa ditangkap dengan baik bila kondisi produksi ayam yang memiliki persistensi yang baik. Perlu dijabarkan tentang persistensi dengan definisi yang lebih luas yaitu sebagai parameter produksi ayam petelur yang bisa mencapai produksi dan memiliki kestabilan produksi sesuai standard.
 
 
Namun dengan kondisi saat ini, pelaku usaha pada umumnya mengalami kesulitan mencapai persistensi, akibat persoalan : 
1. Waktu mulai produksi yang mundur, pada saat umur 22 minggu baru mulai muncul beberapa butir telur saja.
 
2. Kenaikan produksi lambat, bisa pada umur 26 minggu baru mencapai 10-20 %.
 
3. Puncak produksi tidak bisa optimal, hanya tercapai 88 %, tidak jarang yang mencapai 82-85 % saja.
 
4. Penurunan produksi yang tajam setelah umur 60 minggu produksi bisa 3-5 % di bawah normal.
 
5. Tidak jarang terjadi penurunan produksi yang drastis tinggal 40-50 % saja dan agak susah pulih kembali ke produksi semula.
 
 
Persistensi
Di Indonesia ada lima (5 ) jenis strain ayam petelur komersial yang ada di pasaran yaitu Hyline, Isa Brown, Hisex, Lohmann, dan Novogen. Tentunya, secara genetik setiap strain akan menampilkan persistensi yang berbeda sesuai keunggulan dan kelemahan masing-masing.
 
 
Dari keragaman setiap strain, masing-masing mampu menampilkan persistensi yang baik yang tentu secara ekonomis akan memberikan nilai profit yang baik bila persistensi ini bisa dicapai. Tidak sedikit yang mengartikan demi data bagus maka setiap hari melakukan seleksi dan afkir adalah hal yang kurang benar karena beban biaya secara total sejak DOC (ayam umur sehari) tidak akan bisa ditanggung oleh jumlah ayam yang semakin sedikit. Jumlah normal deplesi sampai umur 100 minggu hanya 8 % sudah termasuk mati dan seleksi apkir, atau hanya 0,1 % setiap minggunya.
 
 
Melakukan seleksi apkir dini seolah-olah menjadi solusi karena mengurangi jatah pakan, namun langkah ini hanya akan membuat “blunder” karena tidak akan mengubah pola bahkan sudah tidak lagi mengerti upaya yang harus dilakukan. Bahkan tidak jarang pemilik peternak turun tangan untuk melakukan seleksi apkir dan masih bangga dengan penampilan persistensi yang bagus tetapi deplesi tinggi. Hal itu merupakan langkah menipu diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya “stop langkah seleksi apkir dini”, lakukan perbaikan manajemen pemeliharaan sejak anak ayam hari pertama masa brooding dan ikuti langkah-langkah manajemen pemeliharaan sesuai dengan panduan setiap strain ayam. Utamanya berupaya melakukan perbaikan manajemen pengelola ayam atau operator dari aspek pemahaman pola pemeliharaan yang benar, kecakapan dalam bekerja dan kemauan dalam menjalankan operasional prosedur yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing genetik ayam yang dimiliki.
 
 
Langkah yang harus dipahami adalah mengenali pola produksi ayam yang dimiliki di farm, bahwa Hyline sudah bisa mencapai puncak produksi di umur 22 minggu adalah yang paling awal diantara strain lain. Berikutnya Isa dan Hisex mencapai puncak di umur 23 minggu. Sedangkan Lohmann dan Novogen puncak produksi bisa tercapai di umur 24 minggu. Variasi pencapaian puncak produksi tidak lepas dengan pencapaian berat badan pada umur tersebut minimal 1.750 gram. Bahwa Hyline sudah bisa mencapai 1.750 gram di umur 22 minggu. Sedangkan Isa dan Hisex baru tercapai di 23 minggu, bahkan Lohmann harus dengan berat badan 1.850 gram baru bisa mencapai puncak produksi.
 
 
Sebagai pendorong pertumbuhan dan produksi adalah konsumsi pakan, bahwa konsumsi pakan yang dapat dicapai pada saat mencapai puncak produksi juga berbeda-beda. Hyline sudah bisa produksi puncak dengan konsumsi pakan hanya 102 gram. Sedangkan Isa dan Hisex perlu mencapai 112 gram (Lihat Tabel 1).
 
 
Dari data Tabel 1 tersebut sebenarnya sudah bisa menggambarkan solusi yang mudah untuk mencapai puncak produksi yang normal. Hanya perlu melakukan pengecekan berat badan mingguan menjelang puncak produksi dan melakukan pengaturan konsumsi pakan untuk mencapai target konsumsi pakan tersebut pada masing-masing strain. Untuk memudahkan monitoring dan menuju target berat badan pada saat puncak produksi, dapat disimak Tabel 2 yaitu standar berat badan dan standar kenaikan berat badan mingguan atau disebut Average Weekly Gain (AWG) :
 
 
Dari data Tabel 2 tersebut menunjukkan bahwa Hyline memiliki lompatan kenaikan berat badan yang tinggi pada saat umur 18 minggu ke 19 minggu karena dengan berat badan awal yang cukup rendah di akhir masa pullet hanya 1.480 gram. Sedangkan dalam waktu 5 minggu berat badan sudah harus mencapai 1.750 gram. Demikian juga untuk Lohmann kenaikan berat badan mingguannya cukup tinggi, sehingga perhatiannya harus bisa ekstra bagi farm yang menggunakan Hyline dan Lohmann. Sedangkan strain Isa dan Hisex akan lebih ringan dengan kenaikan berat badan mingguannya yang lebih kecil, namun pencapaian berat badan awal di 17 minggu sudah harus mencapai 1.552 gram, artinya perlu ekstra perhatian proses dalam masa pullet.
 
 
Aklimatisasi
Bila masih ada problem produksi tentu masih ada problem juga pada pencapaian berat badan dan kenaikan berat badan mingguannya, sehingga perlu dilakukan perbaikan pola manajemen sejak awal masa Starter. Tata kelola manajemen dalam menyiapkan pencapaian persistensi yang baik diperlukan satu pola sederhana yaitu proses Aklimatisasi. 
 
 
Aklimatisasi adalah langkah sederhana untuk mengarahkan ayam mampu beradaptasi  dan mampu merespon lingkungan dengan baik, mampu merespon manajemen pemeliharaan secara baik sehingga pencapaian berat badan dengan mudah bisa dicapai sejak awal. Artinya setiap ayam akan memiliki jumlah sel tubuh yang cukup, pertumbuhan organ pencernaan, organ reproduksi, kerangka tubuh untuk menopang hidup juga normal sesuai dengan aspek genetiknya masing-masing.
 
 
Dengan aklimatisasi membuat ayam mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru atau disebut sebagai langkah beradaptasi dengan lingkungan setempat dimana mereka dipelihara, dengan menggunakan model kandang apapun dengan peralatan apapun dan dengan pola manajemen yang dijalankan masing-masing.
 
 
Ada 2 tahap penting aklimatisasi yaitu masa starter dan masa pre layer. Tahapan ini yang masih belum berhasil sehingga berat badan tidak dapat sesuai dengan umurnya, artinya berat badan bisa ketinggalan 1-3 minggu, sehingga efeknya menjadi berkepanjangan. Ketinggalan berat badan tidak serta merta bisa ditangani dengan gampang karena normalnya ayam petelur konsumsi pakan rendah dan mudah terkoreksi oleh suhu lingkungan.
 
 
Aklimatisasi pada masa minggu pertama awal menjadi sangat krusial karena perbedaan lingkungan dari mesin penetas ke farm dengan kondisi awal yang secara organ baru juga dipersiapkan. Penggunaan pemanas yang disebut masa brooding adalah upaya transisi thermoregulasi anak ayam yang belum siap karena suhu tubuh terkontrol oleh suhu lingkungan. Setidaknya 5 hari pertama suhu tubuh ayam terpengaruh oleh suhu lingkungan, maka suhu brooding perlu penyesuaian secara bertahap sampai pada titik ayam sudah mampu mengatur thermoregulasinya secara mandiri. Berikut Grafik 2, pola berat badan setiap strain dengan karakteristik yang berbeda. Pada Grafik 1, perbedaan karakteristik berat badan juga memiliki karakteristik penerapan brooding yang berbeda termasuk karakteristik dalam konsumsi pakannya. 
 
 
Karakterisitik pada Grafik 3 terkait dengan kemampuan strain ayam dalam menggunakan nutrisi untuk pertumbuhan. Perbedaan efektivitas pakan terhadap pertumbuhan merupakan poin penting untuk dicermati sehingga dapat menetukan point feed atau target konsumsi pakan dengan aspek nutrisi pakannya.
 
 
Tahap kedua aklimatisasi yaitu ada masa pre layer menuju dewasa kelamin. Dewasa kelamin diartikan pada waktu terjadi produksi HD mencapai 50 %. Berikut adalah umur pada saat pencapaian dewasa kelamin, bahwa Hyline mencapai dewasa kelamin pada umur 20 minggu sedangkan Isa, Hisex dan Lohmann di umur 21 minggu. Demikian juga pencapain berat badan pada saat dewasa kelamin untuk Hyline sedikit lebih kecil yaitu 1.680 gram, sedangkan strain yang lain di 1.700 gram. 
 
 
Untuk mencapai tahapan dewasa kelamin perlu ditunjang dengan dewasa tubuh terlebih dahulu, artinya pencapaian berat badan sudah harus tercapai di 1.680 gram untuk Hyline dan 1.700 gram untuk Isa, Hisex dan Lohmann. Tabel 3 berikut adalah tabel masa dewasa kelamin dan berat badan dewasa tubuh. 
 
 
Dalam upaya mengejar dewasa tubuh sebelum memasuki dewasa kelamin adalah monitoring berat badan mingguan dan berupaya mengejar kenaikan berat badan mingguan (AWG) bisa sesuai standar serta perlu melakukan delay stimulasi pencahayaan sebelum bisa mencapai berat badan yang sesuai standar agar dewasa tubuh tidak ketinggalan dengan dewasa kelamin. Bila dewasa kelamin tidak didasari dewasa tubuh maka permasalahan produksi akan selalu berlaku. Jadi hukum produksi bagus sesuai standar harus didasari dengan dewasa tubuh dan dewasa kelamin yang seimbang. TROBOS
 
 
 
*Konsultan dan Praktisi Perunggasan
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain