Selasa, 1 September 2020

Nasrullah: Mari Bersinergi dan Bekerja Sama

Nasrullah: Mari Bersinergi dan Bekerja Sama

Foto: ramdan
Nasrullah

Setelah 13 hari dilantik sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) oleh Menteri Pertanian, ‎Syahrul Yasin Limpo di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan) pada (6/8), Nasrullah berkenan untuk hadir dalam MIMBAR TROBOS Livestock The Series 3 – Perunggasan dengan topik “Mendongkrak Permintaan & Konsumsi Broiler“ pada (19/8) yang digelar oleh Majalah TROBOS Livestock. Di sela paparan dan harapannya selaku nakhoda baru di Ditjen PKH, Pemimpin Redaksi Majalah TROBOS Livestock sedikit berbincang dengan pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Ditjen PKH Kementan ini. Mengawali paparannya, selaku nakhoda yang baru di Ditjen PKH, Nasrullah langsung mengajak seluruh stakeholder untuk bersinergi, bekerja sama, dan kompak di tengah kondisi pandemi seperti saat ini. Apalagi berbagai anacaman terhadap keberlanjutan dan ketersediaan pangan di tanah air menjadi PR (Pekerjaan Rumah) yang sangat besar. Berikut uraiannya.  
 
 
Apa dampak pandemi Covid-19 terhadap produk asal ternak ?
Pandemi Covid-19 yang mengharuskan berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam lalu lintas manusia transportasi dan barang, menyebabkan gangguan pada supply & demand (pasokan & permintaan) pangan termasuk pangan asal ternak. Kebutuhan daging ayam, mengalami penurunan dengan perkiraan sebesar 43,2 %, sejak dari Maret s.d. Oktober 2020 sedangkan neraca ketersediaan daging ayam adalah surplus. Hal ini, menyebabkan over supply live bird (LB) on farm. Penumpukan LB di farm memicu penurunan harga LB on farm dan mengakibatkan kerugian yang besar bagi para peternak. 
 
 
Upaya pemerintah mengatasi dampak tersebut ?
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah diantaranya menggerakkan BUMN dan integrator untuk turut menyerap LB serta membantu kelancaran pendistribusian dan penjualannya. Promosi makan daging ayam ditingkatkan, sebagai akibat penurunan konsumsi daging ayam nasional yang di 2020 ini turun dari 12,79 kg per kapita per tahun, menjadi 9,08 kg per kapita per tahun sejak pandemi (Ditjen PKH, 2020), serta berbagai upaya untuk kemudahan akses konsumen daging ayam. 
 
 
Apalagi FAO telah memperingatkan pada negara di seluruh dunia, potensi terjadinya kerawanan pangan pasca pandemi Covid-19, akibat perekonomian yang colaps dan tidak mampu recovery, sehingga banyak produsen pangan yang tidak dapat meneruskan usahanya akibat kerugian yang dideritanya. Sementara itu pandemi Covid-19 ini pun tidak diketahui dengan pasti kapan akan berakhir. Peningkatan imun tubuh untuk menghadapi Covid-19 tetap mutlak diperlukan, artinya kebutuhan protein hewani dengan harga terjangkau harus tersedia.
 
 
Apa urgensi dari industri perunggasan tanah air ?
Komoditas unggas merupakan salah satu bahan pangan asal hewan yang kaya akan protein hewani dan merupakan komoditas yang sangat menjanjikan secara bisnis karena memiliki prospek pasar yang bagus, mudah diperoleh, mudah diolah, harga terjangkau dan sangat diminati oleh masyarakat luas sebagai upaya pemenuhan konsumsi protein hewani, sehingga komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional.
 
 
Untuk itu, industri perunggasan harus terus berkembang sesuai dengan kemajuan global atau modernisasi usaha perunggasan untuk memperoleh tingkat efisiensi usaha yang optimal dan memenuhi standar keamanan pangan, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. Oleh karena itu pembangunan industri perunggasan yang memiliki daya saing produk yang tinggi, harus terus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan serta memerlukan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas sektoral/institusi.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 252/September 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain