Selasa, 1 September 2020

Hipra Diagnos Hadir di Indonesia

Hipra Diagnos Hadir di Indonesia

Foto: 


Hipra Diagnos merupakan pengujian laboratorium untuk pemeriksaan serologi, parasitologi, dan molekular dengan komprehensif, cepat, serta andal
 
 
PT Hipra Indonesia (Hipra), perusahaan global yang bergerak di bidang kesehatan hewan memperkenalkan layanan terbaru mereka yakni Hipra Diagnos. Layanan ini diperkenalkan pada seminar online yang diselenggarakan pada 19 Agustus 2020. 
 
 
Amke Wijatman, Business Manager, PT Hipra Indonesia menyampaikan, Hipra Diagnos merupakan layanan pengujian laboratorium yang komprehensif, cepat, dan andal. Layanan ini diharapkan dapat membantu peternak di Indonesia mencegah timbulnya penyakit menular yang berdampak pada produksi ternak. 
 
 
Selain memperkenalkan Hipra Diagnos, seminar online ini juga mendatangkan pem¬bicara yang sudah tidak asing lagi di industri perunggasan tanah air yaitu Tony Unandar, Private Poultry Farm Consultant. Ia membahas mengenai Avian Metapneumovirus di perunggasan modern. Virus ini menjadi anca¬man tersembunyi di poultry yang terkadang tidak terlihat.
 
 
Hipra Diagnos 
Jaime Maldonado Garcia, Scientific Marketing Unit Manager, Hipra, memperkenalkan Hipra Diagnos kepada peserta seminar yang datang dari Medan, Sumatra Utara hingga Makassar, Sulawesi Selatan. Ia menuturkan Indonesia merupakan negara ke 6 di kawasan Oceania yang memiliki layanan laboratorium mutakhir ini. Sebelumnya terdapat di China, Filipina, Vietnam, Thailand. Layanan labora¬torium ini hadir untuk melengkapi program kesehatan hewan pelanggan Hipra yang sebelumnya sudah ada di Indonesia. 
 
 
“Diagnosa adalah kunci untuk menghindari dampak ekonomi yang buruk akibat penyakit infeksius pada hewan. Hipra sendiri memperhatikan pentingnya diagnosa yang tepat dan cepat untuk mencegah terjadinya dampak buruk tersebut,” ucap Jaime. 
 
 
Jaime menerangkan berbagai keunggulan Hipra Diagnos. Diantaranya layanan ini memiliki cakupan secara global. Hingga saat ini Hipra Diagnos telah melakukan pengujian sebanyak 2 juta sampel dari 87 negara. Hipra merupakan satu-satunya produsen vaksin yang mempunyai elisa kits sendiri yaitu CIVTEST®. CIVTEST® ini sudah melakukan pengujian kepada berbagai jenis hewan ternak dan kesayangan sebanyak 4.116.000 tes dalam 10 tahun terakhir. 
 
 
Hipra merupakan salah satu pionir dari DDS (Dried Sample Spots) dan dalam 5 tahun sudah melakukan 30.500 tes, 1.700 sequences sampel yang berasal dari 38 negara. Hipra juga memiliki peta genetik tersendiri untuk IBDV gumboro dan juga memiliki peralatan sendiri untuk mendiagnosa penyakit Eimeria sp. Jaime menambahkan, semua pengujian dan analisis dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman. 
 
 
Ke depannya Hipra akan terus meningkatkan pelayanan laboratorium diagnostik ini. “Kami mengembangkan pelayanan terbaru untuk pelanggan kami yakni Hipralink Diagnos. Platform ini lebih mudah dan hasilnya lebih cepat,” tutup Jaime. 
 
 
Selanjutnya Florensia Nailufar, Lab Manager PT Hipra Indonesia menjelaskan lebih rinci mengenai servis dan layanan di Hipra Diagnos ini. Dikatakannya Hipra fokus ke arah pencegahan kesehatan hewan. Sesuai dengan komitmen ini, Hipra Indonesia ingin lebih memberikan nilai tambah bagi seluruh pelanggannya di Indonesia. 
 
 
“Hipra Diagnos memiliki 3 servis, yaitu serologi, parasitologi, dan molekular. Pemeriksaan serologi servisnya menggunakan Elisa kit. Kami juga telah memiliki Elisa kit sendiri. Pemeriksaannya untuk IBV (Infectious Bronchitis Virus), ND, IBD (Infectious Bursal Disease), TRT (Turkey Rhinotracheitis), EDS (Egg Drop Syndrome) dan ILT (Infectious Laryngo Tracheitis). Pemeriksaan parasitologi lebih terkait ke arah OPG Counting yang dikhususkan untuk penyakit Eimeria sp. dalam mendukung pelanggan yang menggunakan vaksin seperti EVALON® + Hipramune T dan EVANT® + Hipramune T. Sementara servis molekuler, pemeriksaan yang dilakukan untuk gumboro dan ND serta didukung Diagnos HQ di Spanyol dalam melakukan sequencing untuk Avian pneumocheck, Eimeriacheck, dan coryza,” papar Florensia. 
 
 
Ia menambahkan laboratorium telah mengikuti standar yang berlaku dengan peralatan terkini dan mutakhir serta tenaga yang sudah terlatih. Hipra membuka diri untuk pelanggannya agar bisa memanfaatkan layanan ini. “Pelanggan cukup mengirimkan email. Tidak ada biaya sama sekali khusus bagi pelanggan Hipra,” pungkas Florensia. 
 
 
Di lain pihak, Emilazola Sihombing, Area Manager Key Account menyampaikan harapan dengan hadirnya Hipra Diagnos di Indonesia dapat memberikan bantuan teknis (pemeriksaan laboratorium) kepada peternak yang merupakan pelanggan Hipra Indonesia. Hipra Diagnos menjadi bagian penting dalam rangkaian program servis yang diberikan Hipra. Melalui layanan ini, produk yang dijual ke pasaran akan memiliki nilai lebih. 
 
 
Hal senada disampaikan Octiarini Lia Ekawati, Area Manager Strategic Account, yang menyampaikan bahwa Hipra Diagnos memberikan value added bagi para pelanggan, sehingga dapat mendukung produktivitas pelanggan. Hal ini pun selaras dengan perkembangan penyakit yang di masa saat ini sangat sulit untuk dipastikan diagnosanya jika tidak didukung oleh pemeriksaan laboratorium. 
 
 
Amke Wijatman menambahkan, hadirnya layanan Hipra Diagnos merupakan cerminan keseriusan Hipra dalam berinvestasi di Indonesia. Negara yang mempunyai masa depan untuk menjadi sumber protein hewani dunia. “Hipra adalah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan hewan yang meyakini masa depan terletak pada upaya pencegahan. Kami selalu berupaya untuk meningkatkan kinerja melalui prinsip pencegahan yang didasarkan pada kombinasi vaksin yang inovatif dan bentuk pelayanan yang berbeda,” jabar Amke. 
 
 
Sambungnya, pihaknya dengan bangga memperkenalkan Hipra Diagnos untuk pelanggan di Indonesia. “Layanan ini memegang peranan kunci dalam strategi pencegahan penyakit. Kami menawarkan pelayanan tepat waktu dan dapat diandalkan untuk membantu dalam pengambilan keputusan untuk program vaksinasi yang digunakan,” pungkas Amke. 
 
 
Seminar Avian Metapneumovirus 
Dalam sesi ini, Tony Unandar menjelaskan berbagai temuannya di lapangan terkait dengan Avian Metapneumovirus. Dikatakannya, virus ini banyak ditemukan di kandang dengan manajemen ventilasi yang buruk, tingkat amonia yang tinggi, dan densitas yang tinggi. Virus ini dapat ditularkan melalui mukus dan aerosol, burung liar, manusia, dan fomit. “Pertama kali yang diserang oleh virus ini adalah saluran pernapasan bagian atas ayam, kemudian melewati pembuluh darah, dan bisa menyebar di oviduk. Disini lah pentingnya kekebalan humoral, karena jika didapatkan kekebalan yang persisten dan bagus, maka penyebaran ke oviduk yang dapat menyebabkan penurunan produksi telur akan dapat dicegah. Sedangkan gejala klinisnya diantaranya kebengkakan kepala baik satu bagian maupun keduanya, pembengkakan sinus dan air mata berbusa,” terang Tony. 
 
 
Lanjutnya, Avian Metapneumovirus hanya memiliki 1 serotipe dan 4 subtipe yaitu A, B, C, D. Virus ini juga bisa menjadi agen primer dan sekunder, terutama jika ada mycoplasma, E. coli, dan ORT (Ornithobacterium Rhino¬tracheale). 
 
 
Untuk uji laboratoriumnya, Tony menyarankan meggunakan pendekatan RT-PCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction) atau dengan elisa kits. Pencegahan dan pengontrolan virus ini dapat dilakukan dengan cara menerapkan biosekuriti yang ketat, mengurangi kepadatan ayam, meng¬gunakan sistem single age site, memperbaiki ventilasi, menghindari fluktuasi suhu, dan pemberian antibiotik untuk mencegah serta mengontrol infeksi sekunder. 
 
 
Diptya Cinantya, Technical and Marketing Manager Hipra Indonesia, mengatakan dengan diadakannya seminar ini diharapakan rekan peternak dan customer HIPRA menyadari bahwa Avian Metapneumovirus perlu diwaspadai dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena berasosiasi dengan infeksi saluran pernafasan atas dan penurunan produksi telur. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain