Selasa, 1 September 2020

Sreeya Sewu Indonesia, Wajah Baru Sierad Produce

Sreeya Sewu Indonesia, Wajah Baru Sierad Produce

Foto: 
Dengan bertransformasi menjadi Sreeya Sewu Indonesia, Sierad Produce berniat untuk lebih memantapkan kualitas

Melalui nama dan branding baru yaitu PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk, Perseroan memiliki tujuan untuk tumbuh dan berkembang bersama para mitra usaha dibawah filosofi ‘In Partnership We Prosper’
 
 
PT Sierad Produce Tbk (“Perseroan”) yang merupakan perusahaan integrated poultry based foods menggelar public expose dengan tema “Poultry Rethinking” pada Selasa (4/8) di Ayana MidPlaza, Jakarta dan dihadiri oleh peternak, para mitra serta key partners. Selain digelar secara langsung, acara juga dapat disaksikan daring (dalam jaringan/online). Banyak sekali tema yang dibahas pada acara kali ini, seperti ‘Teknologi Halal Blockchain’ yang disampaikan oleh Regi Wahyu (Founder & CEO HARA) dan Afdhal Aliasar (Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), kemudian materi tentang ‘Pakan Ternak Sehat Dengan Ekstrak Nanas’ yang dibawakan oleh Kelvin Mosara (Senior Manager Business Improvement/CRM PT Sierad Produce Tbk) dan ‘Smart Farming System’ yang disampaikan oleh Melvin Winata (Business Development Manager PT Sierad Produce Tbk).
 
 
Direktur Utama Perseroan, Tommy Wattimena mengungkapkan bahwa sektor perunggasan menggenggam peranan penting di tanah air dikarenakan, 65 % protein hewani yang dibutuhkan masyarakat adalah berasal dari ayam. “Tenaga kerja yang ada pada sektor ini juga cukup besar persentasenya, yakni 10 %, sehingga ranah perunggasan adalah salah satu sektor strategis,” ujarnya membuka acara. 
 
 
Data keuangan Perseroan yang dilaporkan telah berhasil membukukan kinerja positif pada akhir 2019 dengan laba bersih tahun berjalan mencapai Rp 79,7 miliar atau mengalami kenaikan 207,69 % dibanding tahun lalu (2018) dengan angka Rp 25,9 miliar. Angka penjualan bersih yang didapat adalah Rp 4.106 triliun, meningkat 31,6 % atau Rp 986 miliar jika dibandingkan dengan penjualan bersih pada 2018 lalu yang sejumlah Rp 3.120 triliun. 
 
 
Kemudian, pencapaian positif juga dilaporkan Perseroan pada kwartal pertama melalui penjualan yang mencapai Rp 1,15 triliun. Angka ini terpantau meningkat dibandingkan kwartal pertama pada 2019 sebesar Rp 928 miliar. Laba usaha kwartal pertama 2020 senilai Rp 59,2 miliar dan meningkat dibandingkan kwartal pertama 2019 sebesar Rp 36,6 miliar.
 
 
Lakukan Branding Baru 
Pada kesempatan yang sama, Perseroan juga memperkenalkan nama dan branding baru, yakni PT Sreeya Sewu Indonesia, Tbk. Nama baru ini tentunya akan mempertegas jika PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. merupakan bagian dari Group Gunung Sewu Kencana. “Ini adalah identitas baru kami sebagai bagian dari landmark transformasi perusahaan yang sebelumnya poultry/ farming menjadi customer solution oriented disertai transformasi digital dalam menjalankan usaha,” jelas Tommy. 
 
 
Secara sederhana, objektif strategi Perseroan adalah mendemokratisasikan protein masyarakat dengan membangun infrastuktur rantai dingin (cold chain) dan logistik. Kemudian, Perseroan juga meluncurkan produk yang berkualitas dengan harga terjangkau, sehingga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. “Penerapan nama dan logo baru ini akan dilakukan bertahap dari sisi operasional, logistik dan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Rencananya, September 2020 ini nama dan logo baru Perseroan sudah efektif,” lanjutnya. 
 
 
Nama Sreeya sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Mengadopsi bahasa sansekerta yang berarti menguntungkan, kesejahteraan dan kesuburan, Perseroan memiliki arah dan harapan untuk tumbuh dan berkembang bersama para mitra usaha. Tentunya, tidak hanya sekadar memanfaatkan peluang, namun juga menciptakan dan menyediakan peluang baru untuk berbagi. Filosofi yang diusung oleh Perseroan adalah ‘In Partnership We Prosper’. 
 
 
Perseroan juga membangun solusi untuk para mitra sebagai nilai lebih guna meningkatkan manajemen para peternak unggas, tentunya dengan digitalisasi yang tepat. “Harapannya, industri perunggasan kita dapat lebih sehat dan win-win untuk semua pelaku industri,” pungkas Tommy.
 
 
Gaet Banyak Mitra 
Perseroan mengajak para mitra strategisnya untuk berpartisipasi dalam acara yang menyuarakan pentingnya kesetaraan hak atas perolehan protein hewani bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia ini. Salah satu mitra tersebut adalah Wahyoo Group, yang merupakan perusahaan start-up berbasis teknologi dan telah memiliki lebih dari 13.500 mitra warung makan. Tentunya, para mitra Wahyoo tersebar di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). 
 
 
Kerjasama dengan Wahyoo telah digalang sejak 2019 dalam upaya menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat melalui outlet penjualan Ayam Goreng Bikin Tajir (AGBT) di mitra warung Wahyoo. “Kebutuhan gizi adalah hak seluruh masyarakat. Prinsip tersebut kami pegang dalam membuat produk, maupun melakukan kerjasama dengan mitra dalam menyediakan protein hewani, ayam segar bagi masyarakat,” terang Managing Director Foods Perseroan, Dicky Saelan. 
 
 
Terlebih, di masa pandemi seperti ini. Tentunya, kebutuhan protein hewani sangat penting untuk membangun daya tahan tubuh. AGBT dirasa meru¬pakan solusi yang tepat untuk mendapatkan makanan bergizi, terjangkau, dan memberikan peluang usaha bagi masyarakat. “Dengan harga yang sangat terjangkau, masyarakat sudah bisa mendapatkan nasi, ayam dan sayur,” tambah Dicky.
 
 
Founder dan CEO Wahyoo, Peter Shearer mengatakan bahwa sangat mudah jika ingin menjadi mitra Wahyoo. “Hanya dengan biaya Rp 2 juta sebagai jaminan penggunaan, sekarang orang sudah dapat membuka usaha ayam goreng. Setiap bulannya bisa mendapatkan tambahan pendapatan hingga jutaan Rupiah,” papar Peter. Wahyoo memberikan kemudahan dan dukungan melalui pelatihan kepada para mitra, dengan harga bahan baku yang murah, dan mempromosikan ayam goreng dagangannya. 
 
 
Target yang dibidik oleh Perseroan dan Wahyoo adalah program AGBT ini mampu menggaet 1.000 mitra hingga akhir tahun ini. Sehingga, Perseroan dan Wahyoo sangat terbuka untuk peluang kerjasama bagi ma¬syarakat apabila ingin menjadi mitra. 
 
 
Proses yang harus dilalui calon mitra AGBT adalah melakukan pendaftaran melalui website AGBT dan wajib mengikuti akademi Wahyoo. Adanya akademi ini ditujukan untuk melakukan penyaringan mitra yang memang berkomitmen kuat menjalankan usaha, dan memberikan pelatihan. Kemudian, harus melakukan pembayaran dan menunggu persiapan selama 2 minggu sebelum akhirnya warung makan resmi dibuka.
 
 
Selain dengan Wahyoo yang merupakan mitra terbesar Sreeya, Dicky mengatakan bahwa komitmen Perseroan untuk membantu mitranya mencari tambahan penghasilan juga dilakukan kepada para reseller atau yang biasa disebut freezer point Belfoods –olahan makanan yang dikelola oleh PT Belfoods Indonesia. Perseroan optimis jika produk baru Belfoods, yakni nugget ayam dengan harga hanya Rp 5.000 per bungkusnya akan digandrungi masyarakat. 
 
 
“Dengan kondisi sekarang (pandemi Covid-19), kami melihat banyak masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja. Otomatis juga membuat penghasilan berkurang. Bagi kami, ibu rumah tangga pun bisa menjadi mitra, tidak hanya perusahaan besar saja. Dengan menjadi reseller, maka kami pinjamkan alat pendingin atau freezeer. Mereka sudah bisa menjadi mitra dengan berjualan produk-produk kami ke lingkungan sekitar mereka,” papar Dicky saat ditemui usai acara. 
 
 
Terbukti, mitra yang bergabung menjadi freezer point saat ini sudah berjumlah 750 orang dan didominasi oleh ibu rumah tangga. Harapannya, Agustus 2020 ini akan meningkat menjadi 1.000 orang. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain