Selasa, 1 September 2020

Puslitbangnak Mendukung Upaya Kemandirian Pangan di New Normal

Puslitbangnak Mendukung Upaya Kemandirian Pangan di New Normal

Foto: 
Sapi Pogasi

Penelitian dan pengembangan sangat penting untuk menentukan kemajuan sebuah peradaban. Penggunaan teknologi yang paling aktual harus dilakukan supaya tidak kalah dalam persaingan dan penggunaan teknologi revolusi industri 4.0 dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan peternakan
 
 
Pengembangan Food Estate di Kalimantan Tengah merupakan salah satu Program Strategis Nasional 2020 – 2024 yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan cadangan pangan nasional melalui kegiatan pengembangan Kawasan Pertanian Berskala Luas. Food Estate menjadi upaya pemerintah RI untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan sebagai dampak pandemi Covid-19. 
 
 
Negara akan lemah pertahanannya jika tidak mempunyai kemandirian pangan apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini, pandemi Covid-19. “Food Estate sebagai lumbung pangan dan dilakukan oleh lintas kementerian dan lembaga, termasuk pemerintah daerah. Orkestra besar untuk menyediakan pangan bagi rakyat Indonesia,” ungkap Agus Susanto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Bogor, Jawa Barat. 
 
 
Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki lahan rawa sangat luas dan berpotensi sebagai kawasan pengembangan areal pertanian. “Provinsi Kalteng mempunyai potensi lahan gambut yang cukup besar, yang dapat digunakan untuk pengembangan budidaya padi, perkebunan, peternakan dan perikanan,” jelasnya. 
 
 
Salah satu usaha bidang peternakan yang baik untuk dikembangkan di Kalimantan ditinjau dari potensi lahan rawa dan ketersediaan pakan adalah usaha pemeliharaan itik. Populasi itik di Kalteng relatif sedikit jika dibandingkan dengan wilayah lain seperti Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan pulau Jawa. Terdapat tiga faktor utama penentu keberhasilan usaha budidaya itik, yaitu bibit, pakan dan manajemen/kesehatan ternak. 
 
 
“Kualitas bibit yang ada di tangan masyarakat saat ini masih rendah dengan jumlah ternak yang dikelola pun sedikit. Belum lagi, jumlah dan kualitas pakan yang belum optimal memenuhi syarat kebutuhan nutrisi itik, serta minimnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi budidayanya. Sehingga, pertumbuhan dan produksi itik lokal di Indonesia relatif rendah,” papar Agus. 
 
 
Oleh karena itu, Badan Litbang Pertanian dalam hal ini, Puslitbangnak yang telah melakukan berbagai kegiatan penelitian bidang pemuliaan, reproduksi, teknologi pakan dan nutrisi untuk menghasilkan bibit unggul serta teknologi budidaya itik akan mendesiminasikan hasil dari kegiatan – kegiatan tersebut dengan Itik Master sebagai itik petelur unggul. “Puslitbangnak mempunyai banyak hasil penelitian dan pengembangan, salah satunya Itik Master yang akan diseminasikan ke wilayah Kalimantan Tengah dengan populasi kurang lebih 1.000 ekor,” ungkap pria kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta ini. 
 
 
Agus menuturkan, Itik Master (Mojosari Alabio Silangan Terseleksi) adalah itik hibrida (Final Stock/FS) hasil program pemuliaan melalui kombinasi seleksi dan persilangan antara bibit induk (Parent Stock/PS) itik Mojomaster-1 Agrinak (jantan) dan itik Alabimaster-1 Agrinak (betina). Keunggulan dari Itik Master adalah umur bertelur pertama lebih cepat, produksi telur relatif lebih tinggi yakni 260- 270 butir telur per tahun dan pertumbuhan itik lebih cepat dengan puncak produksi yang relatif tinggi. 
 
 
“Hingga saat ini, penyebaran ternak unggul tersebut masih terbatas, baik jumlah maupun lokasi penyebarannya. Dengan adanya kegiatan food estate dapat memperluas penyebaran Itik Master, sehingga peternak dapat merasakan hasil dari penelitian dan pengembangan yang dilakukan Puslitbangnak,” urainya. 
 
 
Dia menjelaskan, pemerintah tidak hanya mendiseminasikan dalam bentuk ternak saja atau bibit. Tetapi berupa pelatihan, bimbingan teknis, pembuatan pakan, sarana prasarana, manajemen budidaya yang baik dan efisien. “Kami pun menurunkan para peneliti dan tekni¬si yang ahli di bidang itik untuk mendampingi peternak dalam pengembangan itik di program food estate. Untuk kedepannya tidak hanya berorientasi produksi telur untuk konsumsi tetapi juga telur untuk menghasilkan bibit unggul,” jelasnya. 
 
 
Agus berharap dengan diseminasi itik ini dapat menjadi salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat Kalteng dan sekitarnya. Apalagi dengan kondisi saat ini, di masa new normal, dibutuhkan konsumsi protein hewani untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
 
 
Arah Puslitbangnak di Era New Normal 
Untuk arah kebijakan di masa new normal ini, diutarakan Agus Puslitbangnak akan terus melakukan riset dan inovasi. Seperti eucalyptus yang dirintis dan dikembangkan oleh BBLItvet. “Itu membuktikan kita peduli atas permasalahan – permasalahan di masa pandemi ini,”jelasnya. 
 
 
Sambungnya, di Puslitbangnak arah kebijakannya harus bisa memecahkan permasalahan – permasalahan peternakan. Puslitbangnak menjadi aktor dalam memberikan solusi permasalahan peternakan melalui penelitian dan pengembangan yang menghasilkan inovasi yang terkini. Inovasi memiliki makna invensi (penemuan) yang dapat dikomersialisasikan sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Hasil dari penelitian dan pengembangan dapat berwujud konsep, modelling, aplikasi bidang peternakan seperti Teknologi Android Kesehatan Sapi (Takesi) dan formulasi pakan yang mudah digunakan (Smart Feed Agrinak), feed supplement, galur rumput unggul dan bibit ternak unggul. Jenis bibit ternak unggul yang telah dihasilkan antara lain ayam KUB, kelinci Reksi Agrinak, domba Compass Agrinak, kambing Boerka, sapi Pogasi, dan sebagainya,” tuturnya. 
 
 
Pria lulusan S3 Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan di IPB University ini mengatakan riset harus menjadi pemecah masalah, menggunakan iptek yang terkini dan riset dikerjakan secara kolaborasi. Khusus untuk kolaborasi, karena terjadi perubahan lingkungan organisasi dan revolusi industri 4.0 maka begitu cepat muncul informasi terbaru dan mudah didapatkan. Sehingga, riset pun akan lebih optimal jika berkolaborasi. “Setiap unit kerja dapat saling mengisi dengan kelebihan masing – masing untuk mendapatkan riset yang bermanfaat bagi peternak,” urainya. 
 
 
Dikemukakannya, penelitian dan pengembangan sangat penting untuk menentukan kemajuan sebuah peradaban. “Penggunaan teknologi yang paling aktual harus dilakukan supaya tidak kalah dalam persaingan dan penggunaan teknologi revolusi industri 4.0 dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan peternakan,” pesan Agus. 
 
 
Ia menuturkan peneliti di Puslitbangnak harus mencermati permasalahan terkini yang akurat di dunia peternakan. Setelah itu, mengidentifikasi permasalahan kemudian bisa membuat sebuah penelitian, pengembangan dan pengkajian. “Setelahnya menghasilkan sebuah inovasi yang tidak hanya tulisan ilmiah yang mengisi perpustakaan, namun dapat diimplementasikan di masyarakat. Sekarang sudah ada beberapa inovasi yang sudah baik serta akan kita teruskan dan tingkatkan,” jabarnya. 
 
 
Lanjutnya, kedepan pun akan terus mengoptimalkan sumber daya lokal Indonesia seperti plasma nutfah baik ternak atau hijauan pakan ternak yang harus diseleksi. Untuk hijauan pakan ternak harus bisa dilihat kandungan nutrisi yang baik, dapat tumbuh di Indonesia dengan optimal dan tidak hanya dilihat warna hijaunya saja. Diungkapkannya pula Indonesia memiliki sapi lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang harus dilakukan penyilangan dan seleksi sehingga kedepan diperoleh sapi nusantara yang unggul. 
 
 
Agus berharap, semua manajemen di Puslitbangnak dapat terus saling berkolaborasi, rukun dan saling bekerjasama untuk menghasilkan riset dan inovasi terbaru yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. “Istilah Menteri Pertanian saat ini, inovasi yang memiliki efek nendang dan bermanfaat di masyarakat,” cetusnya. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain