Kamis, 3 September 2020

Rugikan Petani dan Peternak, Mahasiswa Tolak RUU Omnibuslaw

Rugikan Petani dan Peternak, Mahasiswa Tolak RUU Omnibuslaw

Foto: istimewa/dok.AK


Purwokerto (TROBOSLIVESTOCK.COM). Aliansi Kandang Berjuang yang terdiri dari 7 elemen mahasiswa yang mewakili regional Jawa Tengah dan DI Yogyakarta  secara tegas menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibuslaw secara keseluruhan.

 

Hal itu disampaikan melalui naskah kajian yang berjudul ‘The Real Virus is Omnibus’. Naskah dengan tebal 27 halaman itu terdiri dari 4 bab mulai pendahuluan, uraian permasalahan, pasal-pasal paradoks dalam RUU Omnibuslaw domain Agriculture, serta kesimpulan dan saran. Naskah tersebut didapatkkan melalui akun Whatshap yang diterima oleh TROBOSLIVESTOCK.COM pada Selasa (01/09).

 

Pasal yang mendapatkan penolakan keras pada UU Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 36B ayat (1) yang sebelumnya berbunyi “Pemasukan Ternak dan Produk Hewan dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan apabila produksi dan pasokan Ternak dan Produk Hewan di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.”

 

Klausul itu diubah menjadi “Pemasukan Ternak dan Produk Hewan dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan untuk memenuhi konsumsi masyarakat”.

 

Adanya perubahan itu ditakutkan menjadi sinyal kuat bahwa impor produk hewan (termasuk produk perunggasan) bisa dilakukan kapan saja tanpa adanya klausul produksi dalam negeri tercukupi. Hal itu akan menjadi sinyal buruk bagi industri perunggasan yang sejauh ini sudah mampu berswasembada bahkan sudah melebihi jumlah produksi yang dibutuhkan.

 

Apalagi di tahun 2020 ini industri peternakan terutamanya peternak rakyat yang mengalami gejolak harga dibawah biaya pokok produksi akibat ketidaktepatan dalam menghitung supply dan demand terutamanya ayam ras.

 

Belum lagi bayang-bayang Brazil yang sudah siap memasukkan ayamnya ke bumi pertiwi sejak Brazil menang atas Indonesia dalam sidang panel di Organiasasi Dagang Internasional (WTO). Imbasnya juga akan terjadi pada pengembangan agribisnis sapi potong di Indonesia.

 

Dalam naskah tersebut pada halaman ke 18 menjadi pertanyaan bersama apakah program swasembada gagal diterapkan, sehingga pemerintah memilih impor secar besar-besaran untuk mengatasi hal tersebut? apakah dengan impor tidak mematikan potensi-potensi ternak lokal dan digantikan dengan ternak non lokal? Tentunya ini membuat kita bertanya-tanya apakah pemerintah serius mengembangkan swasembada di Indonesia?

 

Pertanyaan itu muncul sebagai kritikan bahwa regulasi yang dibuat ini merupakan langkah pesimis pemerintah dalam mengembangkan program swasembada terutamanya daging sapi dan kerbau.

 

Pernyataan Sikap

Berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif yang telah diuraikan terdapat 5 tuntutan yang ingin disuarakan oleh Aliansi Kandang Berjuang diantaranya, pertama menolak Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja dan RUU Omnibuslaw secara keseluruhan,

 

Kedua, menuntut pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk segera membatalkan pembahasan terkait RUU Omnibuslaw secara kesuluruhan di tengah pandemi Covid-19. Ketiga, menuntut pemerintah untuk meninjau kembali dan merevisi seluruh pasal-pasal yang bermasalah dalam RUU Omnibuslaw.

 

Keempat, mendesak pemerintah untuk melibatkan secara aktif dan terbuka partisipasi publik (multi lapisan) dalam pembuatan RUU Omnibuslaw dan yang terakhir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap mengawal berjalannya RUU Omnibuslaw hingga sesuai dengan kepentingan dan kedaulatan rakyat.


Naskah beserta tuntutannya itu ditandatangani oleh Denis Agita Meliana (Ketua BEM Fapet Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto), Mochammmad Aldi R (Ketua BEM Fapet Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), M ihsan Hilmi (Ketua BEM Fapet Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto). Turut pula Aldiano Rayhan Nashar (Ketua HMP APPALOOSA Universitas Sebelas Maret Surakarta), Arif Muhlisin (Ketua Himapena Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo), Amam Musholihah (Ketua Himapet Universitas Muhammadiyah Purworejo), serta Febi Widiyanto (Koordinator Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Wilayah III). ist/ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain