Jumat, 4 September 2020

Perlindungan Pemerintah Kepada Peternak

Perlindungan Pemerintah Kepada Peternak

Foto: ist/dok.ZOOM-Pataka


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK). Beragam permasalahan yang kini dialami oleh peternak menuntut pemerintah tidak tinggal diam. Bagi peternak ayam pedaging (broiler) yang kini keadaan pasokan ayamnya berlebih, membuat harga ayam hidup (live bird) on farm (tingkat peternak) terjun bebas.

 

Apalagi diperburuk dengan pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang menjerat peternak, karena permintaan ayam menurun seiring dengan berkurangnya daya beli masyarakat.

 

Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) pun membedah masalah itu pada webinar Serial Forum Diskusi Publik bertajuk ‘Menghadapi Resesi Ekonomi’ pada Jumat (4/9).

 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Dirjen PKH Kementan), Nasrullah menguraikan bahwa perlu adanya kekompokan antar stakeholder di industri perunggasan. Menurutnya, banyak ditemukan peternak broiler yang tidak mendaftarkan usahanya pada Dinas Peternakan setempat, sehingga produksi live bird tidak tercatat dengan baik.

 

“Jika pelaku budidaya broiler terekam di dinas peternakan setempat, maka jumlah ayam dapat diatur dengan baik. Sehingga tidak akan terjadi over supply yang mengakibatkan harga live bird jatuh. Selain itu, wilayah yang mengalami over supply ayam dapat ditransfer ke wilayah yang masih defisit ayam,” himbau Nasrullah.

 

Membludaknya pasokan ayam memaksa pemerintah untuk melakukan beberapa langkah perbaikan, diantaranya langkah SOS, jangka pendek dan solusi permanen. Langkah SOS dikeluarkan oleh pemerintah setiap bulan di tengah masa pandemi Covid-19, yaitu kelebihan produksi ayam di peternak rakyat untuk diserap oleh integrator yang memiliki rantai dingin. Sedangkan langkah jangka pendek hanya berlaku sampai Desember mendatang, sementara solusi permanen masih digodok dan akan diresmikan pada 1 Januari 2021.

 

Pada momen yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menjelaskan terkait terobosan bagi peternak ruminansia. “Bagi peternak, sapi adalah ‘rojo koyo’ yang artinya sapi bisa digunakan sebagai tabungan maupun asuransi, sementara untuk komoditas kambing atau pun domba biasa digunakan untuk prosesi kurban dan aqiqah. Selain itu ternak ruminansia bisa dimanfaatkan kotorannya untuk pupuk, kemudian sebagai tenaga kerja, hobi, kebanggan serta konservasi plasma nutfah,” papar pria yang kerap disapa Agus ini.

 

Kendati demikian, realitanya ternak ruminansia tidak selalu menguntungka bagi peternak, sapi belum cukup berswamsembada, kambing perah belum nyata berkembang dan belum ada breeding center (pusat pembibitan) profesional. Ali Agus menawarkan terobosan, diantaranya adanya program kredit perbankan untuk breeding maupun fattening (penggemukan), pendampingan terpadu, koperasi, bank pakan, alokasi lahan padang penggembalaan, insentif pakan dan peternak, peningkatan alokasi anggaran untuk research & development (riset dan perkembangan) serta program konservasi.

 

“Jihad kedaulatan pangan hasil ternak, baik daging maupun susu, diantaranya dengan adanya komitmen politik dan sinergi kebijakan pemerintah. Kemudian optimalisasi pemerataan lahan untuk ruminansia, kemandirian proses produksi ternak, baik untuk bibit, pakan dan alsintan. Ada pun promosi konsumsi pangan hasil ternak lokal oleh pemerintah serta penguatan sinergi antar kelembagaan, yaitu peternak, perbankan, akademisi dan birokrasi,” tandas Agus. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain