Jumat, 4 September 2020

Webmaster ke-3 : Keuntungan dan Kerugian Crossbreeding pada Sapi Potong

Webmaster ke-3 : Keuntungan dan Kerugian Crossbreeding pada Sapi Potong

Foto: ist/dok.ZOOM-UNS


Surakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Crossbreeding/kawin silang dilakukan untuk memperbaiki pertumbuhan, reproduksi, kualitas daging dan adaptabilitas sapi.

 

Prof Heather Burrow, Pakar Pemuliaan Ternak Tropis dan Genetika dari University of New  England, Australia memberikan penjelasan itu dalam Webmaster kuliah online ‘Toward Sustainable Beef Cattle Crossbreeding Program’ yang digelar oleh Program Magister Peternakan Universitas Sebelas Maret Surakarta berkolaborasi dengan Ikatan Sarjana Peternakan (ISPI), pada Kamis (3/9).

 

Dia menerangkan sistem perkawinan silang/crossbreeding dengan dua breed/bangsa yang berbeda, dia ungkapkan itu merupakan satu–satunya sistem yang saat ini layak untuk para peternak kecil di Indonesia. Karena hal itu sangat praktis dan sangat mudah diterapkan.

 

‘’Dia mengungkapkan bahwa persilangan dua jenis sapi Ongole dengan sapi Bali kemungkinan besar akan meningkatkan bobot hidup keturunannya secara signifikan dengan keturunan F1 yang tahan terhadap stress. Jika betina persilangan F1 dapat dipertahankan untuk kawin, kinerja reproduksinya juga cenderung meningkat (terutama pada reproduksi Ongole). Dan juga betina persilangan F1 perlu digabungkan dengan ras pejantan yang beradaptasi dengan baik,” jabar dia.

 

Namun ada lagi sistem perkawinan silang yang disebut dengan development composite namun harus ada ketentuan yang diberlakukan. “Nantinya akan dihasilkan sapi komposit yang terdiri dari beberapa bangsa campuran misalkan komposit tropis multi ras (1/3 Bos indicus, 1/3 Sanga atau Criollo, 1/3 British atau Continental)” paparnya.

 

Efek Heterosis

Sambung dia, manfaat utama dari crossbreeding diukur dari nilai heterosis. Yaitu kondisi dimana keturunan yang dihasilkan berkinerja lebih baik dibandingkan dengan salah satu induk dan rata-rata induk. Nilai heterosis yang optimal hanya dapat diperoleh jika kedua induk tersebut berjauhan secara genetik. Sebagaian besar crossbreeding telah dirancang dan dilakukan di negara Australia bagian Utara dan Amerika Serikat.

 

Berdasarkan hasil yang Prof Heather ungkapkan bahwa di Australia bagian Utara dan Amerika Serikat heterosis terbesar terjadi bangsa yang beragam dan juga untuk sifat yang tidak dapat diwariskan seperti sifat reproduksi. Nilai heterosis, menurutnya dibagi dalam sifat produktif dan sifat adaptif. Sifat produktif dapat dilihat dari parameter bobot penyapihan, bobot karkas, tingkat beranak, serta keempukan daging.

 

Didapatkan bobot penyapihan dari 4 % - 13 %, bobot karkas 2 % - 7 % serta 4 % - 22 % untuk tingkat melahirkan. Semakin besar angka positifnya maka nilai heterosisnya semakin besar. ”Dan itu terjadi pada persilangan Bos indicus dengan Bos taurus lebih besar nilai heterosisnya dibandingkan Bos taurus dengan Bos taurus,” ujar Prof Heather.

 

Sedangkan untuk mengukur keempukan daging dengan cara mengukur gaya yang dibutuhkan untuk memotong sepotong daging. “Jika angka negatifnya semakin besar berarti semakin lembut daging tersebut menandakan nilai heterosisnya menguntungkan dan didapatkan skor minus 7 % - 3 %. Itu terjadi pada persilangan Bos indicus dengan Bos taurus,” ungkapnya.

 

Lanjutnya, pada sifat adaptif dilihat dari parameter jumlah kutu, jumlah telur cacing dan suhu rektal. Ia jelaskan bahwa semakin rendah angkanya menunjukkan ternak tersebut memiliki daya tahan tubuh yang baik terhadap lingkungan.

 

Nilai heterosis yang didapatkan menunjukkan angka minus 40 % - 7 % pada jumlah kutu, minus 20 % - 9 % pada jumlah telur cacing dan pada suhu rektal menunjukkan skor minus 32 % - 0 % Dari parameter tersebut didapatkan nilai heterosis sangat besar karena dilakukan di negara Australia bagian Utara. “Sehingga untuk bangsa Bos Taurus (Britanis) tidak direkomendasikan untuk diternakkkan di iklim tropis seperti Indonesia,” tandasnya.

 

Tidak Terkendali

Masih dalam kesempatan yang sama Tri Satya Mastuti Widi, Asisten Profesor di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menambahkan perkawinan silang memiliki sejarah panjang di Indonesia dimulai dari masa penjajahan Belanda. Diantaranya yang berhasil dalam melakukan perkawinan silang Menurut Vitri di Indonesia salah satunya sapi Sonok dan Sapi Tacek yang berasal dari Madura.

 

Namun menurut dosen ilmu ternak potong yang akrab disapa Vitri ini, persilangan di Indonesia masih bisa dikatakan "tidak terkendali" sehingga banyak persilangan yang tidak teridentifikasi. Alasan utama program kawin silang tidak berhasil karena adanya kesenjangan antara pemangku kebijakan den tujuan para petani/peternak akibatnya para peternak tidak lagi beternak sapi-sapi lokal. “Dan paling parah akan kehilangan nilai-nilai tradisional dan buadaya lokal yang melekat,” tutur Vitri.

 

Tak lupa Vitri memberikan masukan yaitu dalam merancang program persilangan banyak dimensi yang pelu dipertimbangkan meliputi aspek ekonomi/produksi, serta sosial dan lingkungan. Mengingat pertumbuhan penduduk dan pendapatan masyrakat akan semakin meningkat hal ini akan mendorong juga peningkatan konsumsi pangan termasuk daging sapi.

 

Terakhir Didiek Purwanto, Ketua Umum PB ISPI, selain permasalahan crossbreeding yang tidak terkendali, permasalahan lain yang muncul terkait bibit murni dari ternak lokal yang sangat sulit ditemukan sehingga kurang adaptif dalam menyesuaikan lklim tropis yang ada di Indonesia. Sehingga adanya kuliah online ini akan menyajikan ide-ide kreatif tentang crossbreeding yang sesuai dengan iklim tropis di Indonesia. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain