Rabu, 9 September 2020

Mewaspadai Varian Baru Penyakit Unggas

Mewaspadai Varian Baru Penyakit Unggas

Foto: istimewa/dok.M.Haryadi Wibowo


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Industri perunggasan patut mewaspadai patogen unggas baru yang biasa muncul pada kurun 10 sampai 20 tahun, baik dari jenis RNA virus maupun DNA virus.

 

Indi Dharmayanti, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Kementerian Pertanian menyatakan, biasanya virus RNA yang bermutasi menjadi varian baru adalah Newcastle Disease (ND), Infectious Bursal Disease (IBD), Avian Influenza (AI), dan Infectious Bronchitis (IB). dari DNA virus DNA khususnya jenis herpes virus, dimungkinkan pula muncul hypervirulent Marek’s Disease .

 

Pada Webinar Nasional Kesehatan Unggas “Perkembangan Penyakit Unggas di Masa Pandemi Covid-19” yang digelar oleh  Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi) pada Rabu (9/9) itu dia  mengatakan bahwa penyakit viral pada unggas tidak terlepas dari agen patogen. Patogen ini muncul melalui berbagai mekanisme genetik termasuk mutasi, rekombinasi, atau ko-evolusi dengan vaksin.

 

Ketiga penyakit viral yaitu Infectious Bronchitis Virus (IBV), Infectious Bursal Disease (IBD) dan Marek menjadi penyakit yang dominan terjadi. Penyakit IBV kata dia adalah virus yang diselimuti dengan genom RNA sense-positif beruntai tunggal kira-kira 27 kb, yang menampilkan organisasi gen 50UTR-1a / 1ab-S-3a-3b-E-M-5a-5b-N-30UTR.

 

Indi menguraikan dampak ekonomi yang luar biasa dari IBV pada produksi unggas dengan mendorong penerapan strategi vaksinasi masal. Sedangkan untuk pengendalian utama IBV adalah biosekuriti, dengan penerapan ketat dari tindakan eksternal dan internal yang mengatur aliran hewan, manusia, persediaan dan limbah / kotoran ternak. Serta saat periode kosong yang memadai dan prosedur desinfektan diperlukan untuk mengurangi risiko infeksi IBV.

 

Perubahan Pelayanan Obat Hewan

Ketua Umum ASOH Irawati Fari mengatakan adanya pandemi Covid-19 mengubah pola kerja masyarakat. Meskipun sub sektor peternakan dan obat hewan dikecualikan dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Usaha ini terjadi hambatan karena keterbatasan pelayanan baik oleh Technical Sales (TS) dan juga marketing,” ujar Irawati.

 

Lanjut dia, karena minimnya laporan dan informasi terkait penyakit unggas sehingga harapannya webinar ini akan memberikan informasi mengenai update terkini dari penyakit unggas di masa Covid-19. ASOHI pun kata dia, tetap berusaha memberikan pelayanan dan informasi terkait suplai obat-obat hewan baik itu kepada peternak ataupun pabrik pakan.

 

Selain itu kata Irawati, ASOHI juga tetap menjalankan program kerjanya seperti pembagian desinfektan 300 juta liter oleh pengurus pusat maupun daerah. Dan juga terus melakukan diskusi dengan jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Menurutnya, ASOHI akan mendukung kebijakan pemerintah asalkan memberikan kebermanfaatan kepda stakeholder perunggasan.

 

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan KEsehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa menambahkan bahwa acara ini akan sangat bermanfaat karena informasi terbaru terjadi outbreak di Victoria, Australia dan juga yang ada di Taiwan yaitu penyakit Highly Pathogenic Avian Influeza (HPAI). Fadjar katakan semenjak pelarangan pakan menggunakan Antibiotic Growth Promoters (AGP), semakin bermunculannya perkembangan teknologi obat hewan sebagai pengganti AGP.

 

Waspada APEC

Sedangkan penyakit bakteri pada unggas kata Michael Haryadi Wibowo, Guru Besar Fakultas Peternakan Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta salah satunya adalah Avian Pathogenic E. coli (APEC).

 

Penyakit ini merupakan E. coli patogenik yang menyerang pada semua kelompok umur ayam. Mampu berkoloni di luar sistem pencernaan dengan beberapa strain diantaranya O1-K1, O2-K1 dan O78-K80. Penyakit ini menyebabkan gangguan pertumbuhan dan juga kematian pada unggas.

 

Dampaknya menurut Michel di broiler yaitu peningkatan angka afkir dan penurunan karkas. Sedangkan pada layer terjadi penurunan produksi dan kualitas telur. Serta penurunan daya tetas, dan kualitas DOC (day old chick, anak ayam umur sehari) pada breeding.

 

Terkahir, ia katakan penyakit APEC mendukung munculnya penyakit pernafasan kompleks (CRD Complex). Sehingga penggunaan vaksin harus benar-benar diperhatikan dosisnya agar tidak timbul resisten terhadap penyakit lainnya. rw/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain