Minggu, 20 September 2020

Penetasan Telur Broiler Dipotong 50%

Penetasan Telur Broiler Dipotong 50%

Foto: ist/dok.DitjenPKH (FG), AgristreamTV (BG)


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan pemotongan produksi bibit ayam broiler (DOC, day old chick), kali ini angkanya fantastis karena harus menunda 50% dari telur tetas (HE, hatching egg) yang seharusnya masuk ke mesin setting penetasan.

 

Pengaturan yang dituangkan dalam surat edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bernomor 18029/PK.230/F/09/2020 itu dimaksudkan untuk mempercepat stabilisasi perunggasan nasional. Kenijakan di dalamnya dinyatakan mengacu pada evaluasi pelaksanaan SE Dirjen PKH Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Ayam Ras Melalui Cutting HE, Penyesualan Setting HE dan Afkir Dini PS Tahun 2020 dan SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Bulan September 2020.

 

Disebutkan, perusahaan pembibit wajib melakukan pengurangan jumlah setting HE sebesar 50% atau sebanyak 35.987.675 butir per minggu sesuai data SHR yang dilaporkan oleh perusahaan pembibit. Caranya dengan menunda setting HE ke dalam mesin setter selama 4 periode setting HE sejak tanggal 20 September - 17 Oktober 2020.

 

Telur HE yang tidak diinkubasi dalam mesin setter dapat disalurkan sebagai CSR untuk bantuan masyarakat kurang mampu khususnya yang terdampak pandemi Covid19. Telur ini dilarang diperjualbelikan sebagai telur konsumsi, sebagaimana diatur dalam Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/09/2017 Bab III pasal 13 (4) tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

 

SE yahg diteken Dirjen PKH Nasrullah pada 18 September 2020 itu merinci pengurangan produksi DOC FS bulan September 2020 sebanyak 66.843.677 ekor (85% dari total surplus DOC September 2020) maka perusahaan pembibit wajib melakukan cutting HE fertil umur 19 hari sebanyak 77.293.798 butir. Setelah dikurangi dengan realisasi cutting HE per 12 September 2020, maka perusahaan pembibit wajib melakukan cutting HE fertil umur 19 hari sebanyak 65.919.523 butir atau 16.479.881 butir per minggu. Pelaksanaan cutting HE lanjutan dimulai sejak tanggal 19 September - 10 Oktober 2020.

 

Selanjutnya sebagai evaluasi SE Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020, maka  Ditjen PKH menegaskan kepada pembibit / breeder ayam broiler untuk pertama, segera menyerap livebird (LB) di Pulau Jawa yang pada bulan September 2020 sebanyak 15.075.437 ekor. Adapun pembagian kuota penyerapan LB internal dan eksternal perusahaan pembibit berdasarkan proporsi produksi FS yang dihasilkan masing-masing perusahaan, sesuai lampiran 1 dalam SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

 

Kedua, pelaksanaan afkir dini parent stock (PS) berumur mulai dari 50 minggu bulan September 2020 sebanyak 2.200.105 ekor di Pulau Jawa. Cakupan wilayah yang diwajibkan afkir dini diperluas dengan menambahkan sebanyak 1.000.000 ekor dari luar Pulau Jawa yang ditargetkan selesai tanggal 26 September 2020 secara serempak dengan mengeluarkan pejantan terlebih dahulu. Jumlah afkir PS umur berumur 50 minggu masing-masing perusahaan sesuai disebutkan pada lampiran 5 dalam SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

 

Ditjen PKH mewajibkan perusahaan pembibit GPS untuk memastikan dan bertanggungjawab terhadap perusahaan yang telah mendapatkan distribusi PS dari perusahaan pembibit GPS yang dimaksud, untuk melakukan pengurangan jumlah setting, cutting HE dan afkir dini PS. Kewajiban masing-masing perusahaan itu telah ditetapkan dalam SE baru itu dan SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

 

Pengawasan cutting HE dan afkir dini PS dilakukan oleh Tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, UPT Lingkup Ditjen PKH seluruh Indonesia, Organisasi Perangkat Daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota terkait, Satgas Pangan POLRI, asosiasi perunggasan dan cross monitoring antar perusahaan pembibit.

 

Hasil pelaksanaan surat ini dan SE Dirjen PKH sebelumnya Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 dan Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020, dilaporkan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak.

 

Perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban sesuat dengan surat ini dan SE Dirjen Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 serta Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020 akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan dan kewenangan Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. ist/ed/ramdan

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain