Kamis, 1 Oktober 2020

Menjaga Kualitas DOC

Menjaga Kualitas DOC

Foto: dok. trobos


Dengan modal awal kualitas yang baik disertai tata laksana penerimaan DOC serta pemeliharaan masa brooding yang optimal akan sangat menunjang ketercapaian performa produksi broiler
 
 
Dalam mengoptimalkan performa broiler (ayam pedaging) sangat ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya dan menjadi sangat krusial yaitu kualitas DOC (ayam umur sehari). Faktor ini menjadi penting karena akan menjadi tolak ukur dalam kesuksesan budidaya broiler. 
 
 
Kondisi aktual DOC di farm diungkapkan Warni, peternak broiler di Madiun Jawa Timur yang menyampaikan pengalamannya. DOC yang diterima di peternakannya memiliki kualitas sangat baik. Kualitas DOC yang diterimanya menunjukkan tren yang sangat positif pada beberapa periode pemeliharaan terakhir ini. 
 
 
DOC yang Warni terima memiliki standar bobot badan minimal 38 gram. Sedangkan pada minggu pertama bobot badan DOC sudah mencapai 175 gram dan 550-650 gram pada minggu kedua. “Padahal standar dari perusahaan hanya mematok 450 gram di minggu kedua dengan keseragaman mencapai 85 %,” terangnya kepada TROBOS Livestock.
 
 
Namun Warni mewanti-wanti, DOC yang berkualitas saja tidak cukup tetapi harus didukung faktor lain seperti pakan, minum dan tentunya manajamen lainnya yang bagus pula. Warni pun ketika menerima DOC dalam kondisi kurang bagus, langsung melakukan komplain kepada pemasok dengan menolak DOC yang dikirim dan tidak menandatangani surat jalan. “Meskipun dipaksakan untuk diterima, DOC yang kurang bagus akan berisiko pada jumlah kematian yang banyak, dan juga pertumbuhan yang tidak optimal sampai akhir periode,” kilahnya.
 
 
Peternak broiler di daerah Tangerang Banten, Frits Smith berpendapat, bagus tidaknya DOC yang diterima di kandang juga tergantung dari jarak tempuh, lama tidaknya perjalanan atau transportasinya. “Sopir truk DOC sangat vital perannya dalam membawakan DOC sampai tujuan serta kondisi cuaca juga sangat menentukan,” tandasnya.
 
 
Pengalaman berbeda diutarakan Muhammad Huzaifah Ali Mutahari. Peternak broiler asal Makassar Sulawesi Selatan ini mengungkapkan, seminggu setelah DOC diterimanya mengalami masalah terserang penyakit E.Coli yang menyebabkan sebagian DOC pertumbuhannya lambat. Meskipun ia akui hal itu juga dipengaruhi manajemen pemeliharaan yang kompleks. 
 
 
Huzaifah yang memakai DOC dari 3 perusahaan yang berbeda sangat kecewa dengan kejadian itu.  Padahal, bobot badan DOC yang Huzaifah terima sudah baik berada di kisaran 40-42 gram. Namun pertumbuhan pada minggu pertama justru hanya mencapai 166 gram dan minggu kedua 390 gram dengan keseragaman 60 %. Kondisi itu di bawah standar perusahaan yaitu 180-200 gram pada minggu pertama dan 500-550 gram pada minggu kedua.
 
 
Private Commercial Broiler Farm Consultant of Tri Group, Eko Prasetio mengatakan, dalam kurun waktu 1 sampai 2 bulan terakhir, DOC yang ia terima mengalami penurunan kualias dibandingkan sebelumnya. Terdapat paramater kualitas DOC yang kurang bagus yaitu terjadi penurunan angka keragaman 15-20 %. Juga terjadi kenaikan jumlah persentase batas bawah dengan rata-rata lebih dari 15 %. Ditambah lagi, terjadi angka kematian dan apkir di minggu pertama lebih tinggi. “Apabila diperinci secara lebih detail kondisi itu disebabkan karena kasus yang sifatnya infeksius dan non infeksius yang proporsinya seimbang,” ungkapnya.
 
 
Parameter Kualitas DOC
Kualitas DOC dilihat dari potensi genetik yang dimiliki sudah seharusnya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Indikator kunci kualitas DOC selain kondisi saat diterima bagus, sehat, lincah, aktif dan tidak ada indikasi yang mengarah ke cacat genetik ataupun cacat mekanis. Juga bobot badan DOC harus di atas 33 gram dengan uniformity atau tingkat keseragamannya harus di atas 85 %,” papar Eko.
 
 
Secara fisik akan terlihat situasi dan kondisi DOC tampak lincah, aktif dan merespon terhadap suasana brooding dengan segera mengkonsumsi pakan dan minum secara optimal. Dengan kualitas yang baik, dan disertai dengan tatalaksana penerimaan DOC serta pemeliharaan masa brooding yang optimal, akan sangat menunjang ketercapaian performa produksi. Sehingga kualitas DOC merupakan salah satu modal awal untuk menuju performa yang optimal. 
 
 
Bagi Manajer Kesehatan Hewan, PT Berau Unggas Sejahtera, Chrisna Harinto, kualitas DOC saat ini semakin baik seiring dengan perkembangan genetik yang semakin baik pula. Hal itu bisa dilihat dari ukuran, bentuk atau wujud, serta perilakunya.
 
 
Pertama, DOC yang baik memiliki refleks mampu bangkit lagi dari posisi terbalik dalam waktu 3 detik, pusarnya kering dan menutup sempurna, kakinya bersih dan mengkilat. “Pada sendi kakinya bersih dan tanpa cacat,” katanya. 
 
 
Kedua, DOC yang kurang baik secara refleks akan mampu bangkit lagi dari posisi terbalik dalam waktu 4-10 detik, pusarnya sudah tertutup tetapi sedikit kasar. Kakinya sedikit kering tapi pucat dan juga pada sendi kakinya sedikit kemerahan. Selain itu, ada kelainan seperti ukuran kecil dan tubuh keciprat kuning telur.
 
 
Ketiga, DOC yang jelek, refleksnya ketika bangkit lebih dari 10 detik bahkan gagal bangkit dari posisi terbalik. Kemudian pusar tidak tertutup, bodong, dan berubah warna. Pada kaki terdapat pembuluh darah yang menonjol akibat dehidrasi diikuti sendi kaki berwarna merah. Juga terdapat kecacatan seperti satu mata buta, kaki luka dan pincang, serta pada paruh ada yang lebam.
 
 
Menurut praktisi perunggasan, Suryo Suryanta, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42 Tahun 2014 Tentang Pengawasan Produksi dan Peredaran Benih dan Bibit Ternak tercantum bahwa bobot telur tetas bibit induk minimal 55 gram untuk tipe pedaging dengan bobot badan DOC berkisar 39-40 gram. Namun ada aturan kedua yang dipakai berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatakan bahwa bobot telur 52 gram dengan bobot badan DOC 36 gram. “Aturan SNI ini cenderung lebih banyak dipraktikkan di lapangan,” kata Suryo.
 
 
Selain berat badan DOC yang harus sesuai dengan SNI, lanjut Suryo, DOC yang berkualitas harus bebas dari bakteri Salmonella sp dan antibiotik. ”Broiler itu pemeliharaannya relatif pendek, pada umur 30-35 hari saja sudah dipanen dan mencapai bobot 2 kg bahkan lebih. Artinya genetik pertumbuhan broiler itu tentunya akan sangat terkait dengan kualitas DOC,” tegasnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain