Kamis, 1 Oktober 2020

Harga Jagung Melejit Peternak Menjerit

Harga Jagung Melejit Peternak Menjerit

Foto: syafnijal datuk


Peternak cukup terpukul dengan kenaikan harga jagung,  karena harga jual ayam dan telur justru turun. Diperkirakan harga jual jagung bakal terus naik hingga musim panen berikutnya sekitar Februari-Maret tahun depan
 
 
Harga jagung mulai bergerak naik menyusul menipisnya stok jagung di tingkat petani pasca musim panen gadu (MT-2) Juli-Agustus lalu. Bahkan di tingkat pedagang harga jagung kering sudah mendekayti angka Rp 4 ribu per kilo, naik hampir dua kali lipat dibandingkan dengan musim panen lalu.
 
 
Suharyono, petani jagung di Desa Sidowaras, Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah mengatakan, stok jagung di tingkat petani sudah sedikit karena umumnya sudah dijual pada saat panen musim gadu bulan Juli-Agustus lalu. Saat itu harga jual jagung di tingkat petani jatuh hingga Rp2 ribu/kg. Belum sampai sebulan setelah musim panen, harga jual jagung melambung hingga Rp3.900/kg, naik hampir dua kali lipat. 
 
 
“Karena hujan sudah mulai berkurang dan harga jual jagung juga murah maka petani banyak yang tidak lagi menanam jagung dan menggantinya dengan menanam singkong. Sebetulnya spekulasi juga, apakah nanti pas panen harga singkong pada Februari-Maret tahun depan tinggi. Tapi pertimbangan petani tidak menanam jagung karena khawatir tidak hujan sehingga jagung kerdil dan bikin rugi aja. Lalu seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya setiap akhir tahun pemerintah mengimpor jagung sehingga saat panen rendeng awal tahun berikutnya, harga jagung merosot tajam,” ujar pria yang akrab dipanggil Yono ini kepada TROBOS Livestock, baru–baru ini.
 
 
Menurut Yono, biasanya pada musim panen kedua harga jual jagung lebih mahal dibandingkan dengan musim panen rendeng (pertama) pada Februari-Maret. Sebab selain jagung yang dihasilkan petani kadar airnya rendah karena sudah jarang hujan, juga volume panen jagung juga jauh berkurang dibandingkan dengan panen rendeng.
 
 
“Mungkin petani di provinsi lainnya juga panen dan kebutuhan pabrik pakan unggas jauh berkurang karena penjualan telur dan ayam sejak pandemi Covid-19 juga turun. Lalu untuk musim gadu tahun ini, kemungkinan produksi jagung petani masih tinggi karena sehabis panen rendeng hujan masih turun merata sehingga prodoktivitas jagung masih tinggi,” Yono menduga.
 
 
Jika harga jual jagung di tingkat petani di bawah Rp 2 ribu/kg, menurut Yono—panggilannya—petani merugi. Sebab harga bibit jagung hibrida NK 22 yang ditanam Yono pada areal seluas 2 ha lalu sudah Rp500 ribu/zak isi 5 kg. Belum lagi pupuk dan obat-obatan juga ikut naik sebagai dampak kenaikan kurs dolar. Lalu pemakaian obat-obatan juga meningkat karena hama dan penyakit kian banyak sehingga biaya produksi membengkak.
 
 
“Hama ulat grayak yang mewabah pada musim gadu tahun lalu sudah bisa dicegah dengan berbagai obat-obatan yang ada sehingga produksi bisa lebih tinggi. Tetapi dampaknya ketika produksi tinggi, harga jual jagung malah jatuh. Ini lah dilema petani, selalu menjadi pihak yang kalah,” keluh petani yang juga guru SMA Kotagajah, Lampung Tengah ini.
 
 
Berdampak kepada Peternak
Senada dengan petani, Haji Kusno Waluyo, pemilik Sekuntum PS di Desa Panjingkusuma, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur yang memproduksi telur herbal juga mengakui harga jagung kering melonjak sebulan terakhir, sementara harga jual telur merosot.
 
 
Saat ini ia membeli jagung kering sebanyak 1 truk colt diesel per hari dari agen dengan harga Rp3.850/kg. Jagung tersebut digilingnya untuk menjadi pakan ayam petelur miliknya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain