Kamis, 1 Oktober 2020

Cecep Hidayat: Penggunaan Alfalfa dalam Ransum Layer

Cecep Hidayat: Penggunaan Alfalfa dalam Ransum Layer

Foto: FORAGES.CA.UKY.EDU
Tanaman Alfalfa

Pencarian bahan pakan sumber protein untuk digunakan dalam pakan unggas, terus dan akan terus dilakukan oleh para peneliti nutrisi dan pakan ternak di dunia, seiring dengan terus meningkatnya tingkat kebutuhan terhadap  bahan pakan sumber protein konvensional atau bahan pakan yang sering digunakan, seperti  meat bone meal (MBM), bungki kedelai, tepung ikan, dll. Dimana ketersediaan bahan pakan konvensional tersebut juga terbatas ketersediaannya. Tingginya permintaan, secara ekonomi juga akan terus meningkatkan harga bahan pakan konvensional tersebut.
 
 
Dengan adanya bahan pakan alternatif, meskipun belum mampu menggantikan 100 % bahan pakan konvensional, maka diharapkan bahan pakan alternatif tersebut mampu mensubstitusi penggunaan bahan pakan konvensional, sehingga menurunkan tingkat penggunaan dan ketergantungan terhadap bahan pakan konvensional tersebut. Diantara beberapa bahan pakan sumber protein alternatif tersebut adalah tanaman Alfalfa.
 
 
Alfalfa (Medicago sativa L.) merupakan  salah satu jenis tanaman hijauan leguminosa paling populer yang ditanam di seluruh dunia karena kemampuan adaptasi dan kandungan proteinnya yang tinggi, serta biaya produksinya yang murah. Alfalfa selama ini menjadi sumber bahan pakan yang baik untuk ternak ruminansia karena kandungan protein, selulosa, dan beta-karotennya yang tinggi, namun kandungan selulosa yang tinggi dan energinya yang rendah merupakan faktor penting yang membatasi penggunaannya sebagai bahan pakan untuk ternak unggas. Ternak unggas memang tidak dapat mencerna polisakarida non-pati, seperti selulosa dan xilan, karena tidak adanya enzim termasuk selulase dan xilanase dalam sistem pencernaannya.
 
 
Plus Minus di Pakan Ternak Unggas
Beberapa peneliti melaporkan bahwa Alfalfa memiliki kelebihan, yaitu kaya akan beta-karoten, xantofil dan flavonoid, antioksidan, bermanfaat positif terhadap  pertumbuhan dan kinerja reproduksi  ternak, dan berperan dalam pigmentasi pada kuning telur. Alfalfa juga memiliki kandungan  asam amino esensial,  asam lemak tak jenuh, vitamin (terutama vitamin A), mineral dan asam organik yang tinggi. Kandungan zat gizi tepung Alfalfa secara lengkap disajikan pada Tabel 1.
 
Tabel 1. Kandungan Zat Gizi Tepung Alfalfa
 
Zat Gizi Kandungan
Bahan kering (%) 92,2
Energi metabolis (kcal/kg) 1673
Protein kasar (%) 19,84
Lemak kasar (%) 3,41
Serat kaar (%) 21
Kalsium (%) 1,47
Total fosfor (%) 0,23
Asam amino Lisin (%) 0,69
Asam amino Metionin (%) 0,24
 
Sumber : Shahsavari. 2015; Tkacova et al. 2011
 
 
Faktor pembatas penggunaan Alfaalfa dalam ransum unggas adalah terdapatnya antinutrisi, seperti selulosa, saponin, β-glukan dan xilan, yang membatasi penggunaannya karena menyebabkan gangguan pencernaan. Meskipun demikian, tingginya kandungan saponin (2 – 3 %) dan selulosa (20 – 25 %) dalam Alfalfa memiliki manfaat lain, yaitu mampu mengurangi kadar kolesterol dalam telur, yang banyak diinginkan oleh para konsumen telur. Saponin dan selulosa mampu mengurangi penyerapan kolesterol dalam usus,  dengan mengikat kolesterol empedu di usus, sehingga kolesterol  lebih banyak yang dibuang melalui  kotoran. Dimana pada saat yang sama,  menjadi  lebih sedikit kolesterol yang dicerna dan diserap  oleh  ternak, yang berujung  menjadi  lebih sedikit  pula kolesterol yang di “simpan” dalam telur.
 
 
Beberapa peneliti nutrisi unggas berbeda-beda dalam merekomendasikan tingkat penggunaan tepung Alfalfa dalam ransum unggas. Ada yang merekomendasikan batas penggunaannya hanya 5 % dalam ransum, dan ada pula yang merekomendasikan sampai  10% dalam ransum unggas. Perbedaan dalam tingkat penggunaan Alfalfa  yang direkomendasikan ini terkait dengan kandungan selulosa dan saponin Alfalfa yang digunakan, serta usia dan keadaan fisiologis ternak unggasnya. Namun secara umum, tingkat penggunaan Alfalfa yang paling  banyak disarankan dalam ransum  ayam petelur atau puyuh petelur adalah  antara 5 % dan 10 % (rata-rata 7 %).
 
 
Penggunaan 5 % Alfalfa dalam ransum ayam petelur dilaporkan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sampai 13,26 % dibandingkan dengan perlakuan pakan tanpa menggunakan Alfalfa. Selain itu juga mampu menurunkan tingkat kematian ayam petelur usia 20–28 minggu.
 
 
Sementara itu,  penggunaan Alfalfa dengan tingkat penggunaan maksimum 10% dalam ransum ayam petelur usia 20 minggu,  dilaporkan memiliki efek positif dalam meningkatkan berat telur dengan tingkat peningkatan sebesar 4,86 %, meningkatkan  kandungan protein serta albumin telur, dan juga meningkatkan skor warna kuning telur sampai 50 % dibandingkan dengan perlakuan pakan tanpa menggunakan Alfalfa. Warna kuning telur sangat mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap telur, secara umum konsumen sangat menyukai telur dengan warna kuning telur yang berwarna kuning oranye atau kuning telur dengan skor warna tinggi.  
 
 
Manfaat lain penggunaan Alfalfa dalam ransum ayam petelur adalah kemampuannya dalam menurunkan kandungan kolesterol kuning telur. Sehingga penggunaan Alfalfa bisa menjadi cara untuk menghasilkan  telur fungsional yang memiliki kadar kolesterol rendah. 
 
 
Beberapa laporan hasil penelitian penggunaan Alfalfa dalam ransum ayam petelur membuktikan bahwa Alfalfa mampu menurunkan kandungan kolesterol dalam kuning telur. Penggunaan Alfalfa pada tingkat penggunaan 10 % dalam ransum ayam petelur dilaporkan mampu menurunkan kandungan kolesterol pada kuning telur. Dengan tingkat penurunan kadar kolesterol mencapai 26,57 % dibandingkan kandungan kolesterol telur ayam petelur yang tidak menggunakan  Alfalfa dalam pakannya.
 
 
Tidak hanya pada ayam petelur, pada ternak puyuh petelur juga dilaporkan hal yang sama. Penggunaan Alfalfa pada tingkat penggunaan 9 % dalam ransum puyuh  petelur efektif menurunkan kandungan kolesterol telur dengan tingkat penurunan kadar kolesterol sebesar 16,79 % dibandingkan dengan kadar kolesterol puyuh yang diberi pakan tidak mengandung Alfalfa. Akan tetapi, penggunaan  alfalfa yang lebih rendah (3 % atau 6 %) dalam ransum puyuh  petelur  dilaporkan  tidak mempengaruhi kadar kolesterol telur puyuh. Penelitian lainnya melaporkan bahwa, penggunaan 4 % Alfalfa dalam ransum puyuh petelur meningkatkan skor warna kuning telur sampai 30 % dibandingkan dengan tanpa menggunakan Alfalfa.
 
 
Tantangan Pengembangan di Indonesia
Melihat potensi manfaatnya yang baik sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak ayam petelur di atas, atau untuk ternak unggas secara umum. Disamping juga telah banyak dilaporkan keunggulan Alfalfa sebagai bahan pakan berkualitas tinggi untuk ternak ruminansia. Maka tantangan berikutnya adalah bagaimana mengembangkan tanaman Alfalfa tersebut di Indoensia.
 
 
Beberapa laporan menunjukkan bahwa tanaman alfalfa sudah masuk ke Indoensia, dimana  pertama kali dibudidayakan pada 2003 di Boyolali hingga menyebar ke BPTU-Baturraden pada 2004 sampai 2005. Kemudian, 2007 di Balitnak-Ciawi mulai mengembangkan Alfalfa sebagai koleksi tanaman pakan ternak. Produksi Alfalfa sebagai pakan ternak yang telah dibudidayakan di luar negeri cukup tinggi dengan rata-rata produksi 80 ton perhektar pertahun bahan segar atau 20 ton perhektar pertahun bahan kering. Sementara itu, produksi hijauan Alfalfa di Indonesia masih lebih rendah, dalam suatu laporan disebutkan produksinya sebesar 7.92 ton perhektar berat segar. Hal ini disebabkan pengembangan Alfalfa di luar negeri telah lama, sehingga tanaman telah beradaptasi dengan baik. Sementara itu di Indoensia masih perlu upaya penelitian dan pengembangan untuk menyesuaikan dengan agroklimat yang ada.
 
 
Meskipun demikian, upaya pengembangan Alfalfa sebagai bahan pakan ke depan tetap diharapkan. Kebutuhan pangan dunia yang akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi manusia, maka kebutuhan akan sumber pangan, terutama protein hewani juga akan terus semakin naik. Telur ayam merupakan bahan pangan sumber protein hewani yang murah dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, keberadaannya akan sangat dibutuhkan di seluruh negeri. Oleh karena itu, maka pengembangan bahan pakan alternatif dalam menjaga sarana produksi peternakan ayam petelur tetap harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan pengembangan tanaman Alfalfa. 
 
 
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Alfalfa sangat bermanfaat untuk digunakan dalam ransum ayam petelur. Tingkat penggunaan Alfalfa sampai 10 % dalam ransum ayam petelur, berdampak positif terhadap performa produksi ayam petelur. Selain hal itu, penggunaan Alfalfa juga dapat meningkatkan skor warna kuning telur, dan yang paling menjanjikan penggunaannya dalam ransum ayam petelur adalah kemampuannya untuk menurunkan kadar kolesterol dalam kuning telur. Sehingga penggunaan Alfalfa dapat dijadikan sebagai cara untuk menghasilkan telur fungsional, yaitu telur dengan kadar kolesterol rendah.
 
 
 
 *Peneliti Nutrisi dan Pakan Ternak
di Balai Penelitian Ternak Kementerian Pertanian
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain