Kamis, 1 Oktober 2020

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ternak Puyuh

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ternak Puyuh

Foto: yopi


Puyuh termasuk komoditas unggas lokal yang sangat potensial dikembangkan. Selain mudah diternakkan dan tidak membutuhkan lahan luas juga produktivitasnya sangat tinggi
 
 
Memiliki potensi dan keunggulan dibandingkan dengan ternak unggas lainnya membuat puyuh semakin diminati oleh masyarakat dalam kurun dasawarsa terakhir. “Mengingat puyuh termasuk komoditas unggas lokal yang sangat potensial dikembangkan. Selain mudah diternakkan dan tidak membutuhkan lahan luas juga produktivitasnya sangat tinggi,” urai Sugiono Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat mengikuti webinar Departemen Produksi Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung (6/6). Dia mengatakan puyuh adalah kekayaan plasma nuftah yang memiliki peran cukup strategis dan prospektif dalam rangka penyediaan pangan protein hewani.
 
 
 Dalam umur 40 hari, puyuh sudah mampu berproduksi dengan tingkat produksi sebanyak satu telur per hari. “Produksi telur puyuh mencapai 250 - 300 butir per tahun selama 9 - 12 bulan dalam masa bertelur. Hal itu, menjadikan hasil produksi puyuh lebih tinggi dibandingkan unggas lainnya,” terang Sugiono.
 
 
Ia menjelaskan produksi daging puyuh sejak 2015 - 2019 secara berturut - turut yaitu 948 ton, 962 ton, 1.138 ton, 1.316 ton, dan 1.184 ton dengan pertumbuhan 6,35 % per tahun. “Dan untuk produksi telur puyuh pada 2015 - 2019 secara berturut-turut yaitu 22.131 ton, 23.575 ton, 25.022 ton, 28.957 ton, dan 29.090 ton dengan pertumbuhan 7,21 % per tahun,” papar Sugiono.
 
 
Lanjutnya, upaya yang dilakukan Ditjen PKH untuk mengembangkan potensi puyuh dengan menerbitkan Peraturan Menteri Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 5 Tahun 2008 tentang Budidaya Puyuh yang Baik serta akan disusun Standard Nasional Indonesia (SNI) bibit puyuh.
 
 
Selain itu, mendorong peningkatan ekspor puyuh serta produknya ke luar negeri. Dengan mendorong perusahaan peternakan puyuh harus memiliki sertifikat kompartemen bebas Afian Influenza (AI) sebagai prasyarat untuk ekspor. “Adanya permodalan bagi peternak puyuh melalui Kredit Usaha Rakyat serta terakhir mendukung pelaksanaan kemitraan puyuh yang adil dan saling menguntungkan,” papar Sugiono.
 
 
Kondisi Aktual Peternak
“Berdasarkan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2016 terkait Investasi Negatif, salah satunya unggas lokal termasuk puyuh yang masih terproteksi dengan aturan itu. Kalau tidak, pastinya sudah diambil alih oleh industri,” sambung Endang Sujana, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.
 
 
Hal itu sangat cocok dikembangkan dalam rangka pemberdayaan masyarakat apalagi 5 butir telur puyuh setara dengan 1 butir telur ayam yang kaya akan kholin sebesar 119 mg dan 244 IU vitamin A. Namun saat ini di peternak kecil hanya mampu memelihara 200 – 2000 ekor. 
 
 
Karena kebanyakan pemula mengakibatkan penguasaan teknik beternak masih belum menguasai sepenuhnya. “Paling urgent yang perlu diatasi adalah kondisi peternak yang ingin memperbanyak jumlah populasi dengan cara menetaskan sendiri, alhasil bibit yang dihasilkan kurang baik. Akibatnya dampak inbreeding terjadi termasuk didalamnaya resistensi produksi telur yang rendah akibat inbreeding,” papar Endang.
 
 
Puyuh Padjadjaran
Solusi dari permasalahan yang terjadi saat ini menurut Endang dengan mengembangkan puyuh padjadjaran. Ia menjelaskan sejak 2013, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran telah membuat roadmap riset puyuh. “Tujuannya untuk konservasi dan mengembangkan sumber daya genetik lokal serta meningkatkan produktivitas dan kesinambungan usaha unggas lokal termasuk puyuh. Kita berupaya dalam mengembangkan puyuh padjadjaran mulai tahun 2014,” urai Endang.
 
 
Puyuh Padjadjaran merupakan persilangan antara dua galur warna coklat dan hitam. Sejak 2014 mulai dilakukan pengadaan bahan baku populasi dasar yaitu dua galur warna bulu coklat dan hitam. Kemudian dilakukan seleksi per individu dengan menggunakan indeks seleksi bibit baik itu galur hitam sebagai salah satu pure line dan juga warna coklat. Kriteria seleksi untuk betina diarahkan ke produksi dan berat telur sedangkan jantan terkait pertumbuhannya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain