Kamis, 1 Oktober 2020

Syahrir Akil: Manajemen Teknis Broiler

Syahrir Akil: Manajemen Teknis Broiler

Foto: dok. syahrir akil
Gambar 2. Perpaduan antara manajemen & kontrol yang baik (level amonia, normal < 8 ppm)

Budidaya broiler (ayam pedaging) semakin hari semakin berkembang teknologi pemeliharaannya  dan berusaha mengikuti  perkembangan genetik , akan tetapi seiring dengan itu, tidak semua pelaku budidaya mampu menyesuaikannya.  Begitu banyak kendala yang ditemui beberapa pelaku budidaya, sehingga terjadi kegagalan, jeleknya performa, serta diikuti dengan harga  ayam hidup yang jauh dari HPP (Harga Pokok Produksi) sehingga mengalami suatu kegagalan, baik dari sisi produksi maupun dari sisi pemasaran. 
 
 
Prinsip budidaya yang utama adalah bagaimana menghasilkan ayam yang sehat, berat panen sesuai kebutuhan pasar, akan tetapi semua itu membutuhkan proses yang panjang dan harus selalu diantisipasi bagaimana membuat ayam itu sehat. Percayalah bahwa jika ayam sehat, tentu memberikan keuntungan tersendiri bagi pelaku budidaya, memiliki posisi tawar yang tinggi. 
 
 
Budidaya broiler, merupakan suatu industri biologis yang sangat dinamis, serta didukung oleh infrastruktur budidaya yang baik serta dikelola oleh tenaga kerja yang memiliki kemampuan serta berdedikasi. Infrastruktur yang dimaksud adalah sistem perkandangan dan kelengkapan kandang yang sesuai kebutuhan ayam. Jika hal ini tidak mendukung, maka fluktuasi performa akan terjadi, padahal suatu usaha budidaya minimal performa stabil dengan target sesuai dengan standar genetik atau melebihi. 
 
 
Hal Pokok yang Harus Tersedia
Tentu muncul pertanyaan, bagaimana cara mencapainya? Terdapat 5 hal pokok yang harus tersedia dalam usaha budidaya broiler yaitu oksigen, suhu, cahaya, air, dan pakan. Dari 5 hal pokok itu, apakah para pelaku usaha budidaya sudah menyiapkan dengan baik, atau sesuai dengan kebutuhan ayam ? Tentu tidak semua mampu menyiapkannya dengan baik sehingga perlu kerja cerdas agar terpenuhi. Di sinilah peran manajemen budidaya  secara teknis sangat dibutuhkan agar ayam yang dipelihara performanya baik. 
 
 
Oksigen  
Kebutuhan akan udara segar tentu tidak bisa tersedia sesuai kebutuhan ayam, namun berbagai upaya yang dilakukan adalah membangun sistem perkandangan yang sesuai atau menyesuaikan sistem kandang yang sudah ada. Berdasarkan hal ini maka sistem perkandangan berdasarkan dengan sistem ventilasi terbagi 2, yaitu sistem kandang terbuka dan sistem kandang tertutup. 
 
 
Untuk memenuhi kebutuhan oksigen, maka perhitungan kebutuhan oksigen per kg berat badan ayam disesuaikan dengan kandang yang tersedia. Kandang dengan sistem terbuka hanya mampu menampung 13 kg per m2, sedangkan untuk kandang dengan sistem tertutup mampu menampung 30 kg per m2. Dari dasar ini mampu dikonversikan berapa ekor ayam yang dapat dipelihara per m2, tentu akan disesuaikan dengan target berat pasar yang diinginkan. Ingat, jual ayam bukan berdasarkan umur, tetapi berdasarkan ukuran berat ayam. Jadi kalau permintaan pasar adalah ayam ukuran 2 kg, tentu untuk kandang sistem tertutup hanya mampu menampung 7 ekor per m2, sedangkan untuk kandang sistem terbuka mampu menampung 15 ekor per m2. Agar tidak terjadi kegagalan maka jangan melebihi populasi dari kapasitas kandang yang tersedia.  
 
 
Hal yang sering dilakukan dan memang terjadi adalah melebihkan kapasitas kandang dengan alasan suatu saat menjelang berat badan tertentu dilakukan pengurangan, panen parsial, lalu apa yang terjadi? Yang terjadi, biasanya ayamnya sakit, karena ayam diacak, dipilih, biosekuriti yang kadang terabaikan, sisa ayam akhirnya sakit. 
 
 
Kebutuhan udara segar adalah minimal 4 – 6 cfm per kg berat badan. Namun saat ini perkembangan terbaru bahwa harus menyediakan udara segar sampai 10 cfm per kg berat badan, hal ini disebabkan kualitas udara semakin hari semakin menurun.
 
 
Suhu 
Suhu kandang yang dibutuhkan ayam harus disesuaikan, karena jika tidak, maka  mengakibatkan ayam panting, dengan demikian akan mengakibatkan tingginya angka kematian.   Di kandang sistem terbuka, tidak mampu mengatur suhu dengan baik sesuai dengan kebutuhan ayam, berbeda dengan kandang sistem tertutup (namun kadang juga aneh karena sudah menggunakan closed house namun stres panas tetap terjadi, pertanda ada kekeliruan atau ada sistem yang tidak berjalan dengan baik). Oleh karena itu, dalam mengoperasikan sebuah kandang, bagaimana mampu menciptakan temperature yang efektif sehingga memberikan kenyamanan pada ayam.
 
 
DOC (ayam umur sehari) membutuhkan suhu brooding yang ideal sesuai dengan berat DOC tersebut. Ada satu pedoman bahwa jika berat DOC  < 40 gram, maka suhu di awal brooding harus lebih tinggi 1 – 2° dari standar kebutuhan suhu. Namun jika berat DOC 40 gram ke atas, maka suhu awal brooding menyesuaikan standar. Contohnya, jika suhu kebutuhan 32 °C untuk DOC dengan berat 40 gram, maka suhu kebutuhan DOC dengan berat < 40 gram adalah 33 – 34 °C. Penggunaan gas sebagai sumber pemanas juga harus diperhitungkan agar suhu area brooding serta lama brooding lebih optimal. Sebagai patokan bahwa seekor anak ayam membutuhkan gas sebanyak 30 – 40 gram per ekor selama masa brooding. Dengan lama masa brooding antara 12 – 14 hari, tergantung musim (musim kemarau cukup 10 – 12 hari, musim hujan cukup 12 – 14 hari).  
 
 
Pada masa brooding ini suhu tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari suhu yang dibutuhkan, sampai pada hari ke – 5, mengapa? Karena anak ayam sama sekali tidak mampu menjaga suhu tubuhnya. Untuk  lebih jelasnya kebutuhan suhu dapat di lihat pada Tabel 1.
 
 
Cahaya 
Masa brooding merupakan masa kritis. Pada masa ini bagaimana kondisi di dalam kandang seterang mungkin, intensitas cahaya menyesuaikan, sehingga DOC mampu bergerak dengan lincah. 
 
 
Banyak kondisi masa brooding di lapangan pencahayaan tidak maksimal, berbagai faktor yang menjadi penyebab. Padahal jika awal pemeliharaan di masa brooding sukses, maka pencapaian target di minggu selanjutnya akan tercapai. Namun jika tidak, maka pertumbuhan juga tidak akan maksimal. Untuk luas 1 m2 membutuhkan cahaya 5 watt, jadi kebutuhan pencahayaan beserta jumlah titik lampu dapat ditentukan.
 
 
Air 
Kualitas air dalam budidaya juga sangat menentukan. Kualitas air yang buruk akan membuat kegagalan sehingga setiap 6 bulan harus di uji kualitasnya. Selain dari kualitas, ketersediaan air juga sering menjadi problem.  Kekurangan air, atau tempat minum tidak berisi air menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan dalam budidaya. Kurangnya kontrol terhadap air minum terkadang tidak disadari menjadi penyebab kegagalan budidaya. Posisi tempat minum yang meliputi ketinggian dari lantai, volume air (Tempat Minum PS Mark), terlalu rendah, volume terlalu banyak, mengakibatkan air tumpah ke lantai kandang, akhirnya lantai kandang basah (alas kandang basah/litter) amonia tinggi di atas level yang mampu ditolerir.  
 
 
Bagi yang memiliki kandang dengan sistem tempat minum masih menggunakan galon atau PS Mark, sebaiknya diganti dengan sistem nipple, lebih bersih, dan pembersihan lebih muda dibandingkan dengan tempat minum lainnya. Operator kandang juga akan lebih terbantu, karena mengurangi beban kerja untuk mencuci galon atau PS Mark.
 
 
Pakan 
Ketersediaan pakan sesuai fase pemeliharaan dalam budidaya harus dipenuhi, karena kebutuhan nutrisi dari berbagai fase pemeliharaan tentu berbeda-beda. Pelaku usaha ada yang menggunakan single feed, two feed system, triple feed system. 
 
 
Pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan umur ayam dengan bentuk pakan dan kualitasnya, umur 0 – 10 hari, 11 – 18 hari, 19 – 24 hari, dan 25 hari – sampai panen. Pembagian pakan ini berdasarkan bentuk dan kualitas nutrisi dari fase ke fase. 
 
 
Di umur 1 – 3 minggu jangan pernah memberikan pakan di bawah standar kebutuhan, akan tetapi bagaimana pakan tersedia dan cukup sampai tidak ada putusnya. Jika feeding program pada umur 1 – 3 minggu ini gagal, maka kesuksesan di umur berikutnya akan berat. Perhatikan Gambar 1. 
 
 
Infrastruktur yang Sesuai 
Siapkan infrastruktur yang sesuai. Kalau keliling di beberapa tempat, masih banyak kandang yang digunakan dalam budidaya dalam kondisi atap kandang bocor, lantai rusak, tirai tidak cukup,  manajemen brooding yang tidak sesuai. Ingat bahwa dalam kondisi seperti ini, jika menggunakan tenaga orang lain atau istilahnya operator kandang, tentu hasil kerjanya tidak maksimal, karena ada tambahan kerja lain, sehingga pekerjaan utama terabaikan, sibuk membenahi atap kandang yang bocor, atau lantai kandang yang rusak. Infrastruktur yang dimaksud adalah kandang beserta peralatannya (lengkap) serta kebutuhan pekerja atau operator kendang.  
 
 
Kandang biasanya tidak disertai dengan kebutuhan peralatan yang sesuai. Namun jika menginginkan hasil budidaya yang baik, kebutuhan pekerja atau anak kandang, kadang terabaikan, akhirnya kerja tidak maksimal. Mereka bekerja hanya memberi makan dan minum, namun tidak memahami apa yang dibutuhkan ayam. 
 
 
Tenaga PPL atau Technical Service 
Terdapat 4 hal yang minimal harus dimiliki tenaga PPL/Technical Service yaitu kejujuran, tanggung jawab, loyalitas, dan kemampuan. Selain itu, dalam budidaya broiler maka fungsi dari PPL/Technical Service harus berjalan dengan baik. Mengapa demikian, karena mereka sebenarnya adalah guru dari pekerja atau operator kandang. Mereka harus memiliki ilmu dan wawasan yang cukup, memberi teladan bagi pekerja atau operator kandang. 
 
 
Dalam budidaya broiler tidak bisa bertindak seperti dukun, namun membutuhkan fakta lapangan, kunjungan dan kontrol serta kemampuan diagnosa penyakit yang baik. Ingat jangan hanya pernah berdiri di depan pintu kandang, namun masuk ke dalam kandang, lakukan kontrol secara teliti dari depan ke belakang sampai semua bagian kandang teramati dengan baik.   
 
 
Lakukan kunjungan dalam kondisi selalu bersih, sepatu, baju, topi, dan barang bawaan lainnya jika akan berkunjung ke suatu farm. Ingat jangan pernah mengunjungi ayam sakit lalu ke ayam yang sehat, karena itu akan menjadi problem. 
 
 
Manajemen Teknis 
Manajemen teknis broiler harus diterapkan agar sukses dalam berbudidaya, sehingga performa baik. Hal-hal yang harus dilakukan atau disiapkan adalah kandang (menyesuaikan), peralatan kandang (menyesuaikan standar kebutuhan), man power (memiliki 4 hal : tanggung jawab, jujur, loyal, memiliki kemampuan). 
 
 
Selanjutnya persiapan kandang (pembersihan, pencucian, disinfeksi); persiapan DOC in (mengatur area brooding & kelengkapannya) serta menyiapkan SOP pemeliharaan (manajemen masa brooding – panen). Sapronak (sarana produksi ternak disesuaikan dengan kemampuan serta yang tersedia : DOC, pakan, obat, vitamin, vaksin, disinfektan.  Ketika proses budidaya di mulai, maka yang harus difungsikan adalah semua panca indera terutama mata, telinga, dan hidung.  
 
 
Mata berperan dalam melihat apakah sesuai SOP? Kalau tidak sesuai apa yang harus dilakukan? Apakah pakan tersedia di tempat pakan, tersedia sesuai kebutuhan atau bagaimana? Apakah posisi tempat minum, kondisi ayam normal, semua bisa dilihat dengan mata. 
 
 
Telinga berperan untuk mendengar bunyi yang aneh atau tidak normal di dalam kandang, ayam ngorok, letaknya dimana, jumlahnya berapa, tindakan apa yang akan dilakukan, semua harus diamati. Sedangkan hidung berperan dalam mencium level amonia di dalam kandang, mengapa level amonia di dalam kandang tinggi, tentu semua bisa diselesaikan jika difungsikan dengan baik dan mencari penyebabnya. Sekam basah, karena nipple terlalu rendah atau bocor, berbagai macam persoalan bisa terjadi, namun solusi selalu ada. Dengan perpaduan manajemen dan kontrol yang baik, maka semua dapat diatasi, seperti dapat dilihat pada Gambar 2.
 
 
Berikutnya adalah evaluasi hasil budidaya setelah proses panen selesai, agar dapat diketahui kinerja pemeliharaan pada periode tersebut, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki atau meningkatkan performa yang akan datang. Evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi tiap bagian atau setiap parameter serta secara keseluruhan yang meliputi umur panen (rata-rata), deplesi (mati + afkir), berat badan, FCR, serta EEF/IP (performa secara keseluruhan). Sebagai contoh dapat dilihat pada Tabel 2 mengenai performa salah satu farm closed house populasi 22.000 ekor.
 
 
Dari data Tabel 2 menunjukkan bahwa secara keseluruhan performa lebih baik dari standar. Performa yang dimaksud adalah performa di minggu ke-4 (28 hari) dengan melihat nilai IP. Akan tetapi jika melihat performa minggu per minggu masih ditemukan yang belum maksimal seperti FCR di minggu pertama dan kedua, hal inilah yang akan menjadi evaluasi di periode pemeliharaan yang akan datang, sehingga mampu mencapai atau melebihi standar yang ada. Dengan memiliki data seperti ini setiap periode serta monitoring performa mingguan, maka kegagalan dalam budidaya sangat kecil. 
 
 
Agar analisa lebih jelas dapat dilihat grafik masing – masing performa per minggu dari setiap parameter pada Gambar 3. Dari Gambar 3 menunjukkan bahwa untuk deplesi minimal dipertahankan atau kalau perlu dapat dicapai lebih rendah lagi. Ingat deplesi sangat berpengaruh terhadap performa jika deplesi tinggi di minggu 3 sampai panen.
 
 
Jika melihat grafik berat badan pada Gambar 4 yang performanya di monitoring dari minggu 1 – 4 maka sangat jelas kelihatan bahwa berat badan yang dicapai jauh lebih tinggi dari standar.  Dengan melihat data ini, untuk periode depan sudah ada strategi untuk mencapai lebih baik atau minimal mempertahankannya. Ingat bahwa 100 gram berat badan sangat berarti, mengapa demikian, coba dibayangkan jika harga ayam Rp 19.000 per kg maka angka 100 gram setara dengan Rp 1.900.
 
 
Dengan melihat kedua grafik tersebut, maka terbayang bahwa performa akhir akan memberikan yang terbaik, di mana dapat dibuktikan dengan melihat pada Gambar 5. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa performa secara keseluruhan diperoleh hasil yang baik, dimana IP lebih tinggi dari standar. Dengan melakukan monitor setiap minggu maka segala kekurangan pemeliharaan cepat diantisipasi agar performa akhir akan lebih baik.  
 
 
Jangan lupa bahwa setiap periode pemeliharaan diperlukan kemampuan analisa yang berbeda – beda, karena setiap periode pemeliharaan memiliki tantangan atau masalah yang berbeda.  Sebagai motivasi bagi pelaku budidaya bahwa untuk menghasilkan performa yang baik,  segala kebutuhan ayam harus dipenuhi, apalagi kebutuhan pekerja atau operator kandang, agar selalu fokus dalam berbudidaya. TROBOS
 
 
 
*Praktisi Perunggasan
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain