Kamis, 1 Oktober 2020

Meruwat Sukerta Industri Perunggasan

Meruwat Sukerta Industri Perunggasan

Foto: 


Ruwatan, adalah tradisi nenek moyang untuk memutus bioritme fault yang ditransmisikan oleh eksistensi sukerta, potential fault ontogenik. Source of potential fault itu adalah ketidakhadiran niat atau ketidakkonsistenan pada rencana, alih-alih roadmap pada prokreasi sampai dengan lahir-tumbuh kembangnya wujud yang dikreasikan. 
 
 
Meruwat, adalah membebaskan diri dari sukerta, melaui pentas wayang kulit Murwakala, berakhir dengan ritus cukur rambut dan merapal mantera Kalacakra. Susunan aksara Jawa yang dibaca terbalik, sebagai simbol retrospeksi. Rekontekstualisasinya adalah merunut balik (reverse tracing) untuk menemukan potential fault penyebab keterpurukan kronis perunggasan dan kemudian menyusun strategi untuk menuntaskannya. 
 
 
Retrospeksi itu telah dipantik pada Rembug Pakar Indonesia Poultry Club dengan tema “Solusi Perunggasan Broiler yang Berkelanjutan” yang digelar terbatas oleh TROBOS Livestock dan disiapkan oleh Tcomm (TROBOS Communication), Selasa (29/09). Acara ini menghadirkan Prof Ir Ali Agus, IPU Asean. Eng (Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ketua DPP Himpunan Kerukunan Tani DI Yogyakarta), Prof Ir Arief Daryanto (Dekan Sekolah Vokasi IPB University); Ir Achmad Dawami (Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia/GPPU);  drh Desianto B Utomo, PhD (Ketua Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia/Yappi); Prof Ir Muladno (Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia/AIPI); serta Dr Rachmat Pambudy (Akademisi IPB University, Praktisi Perunggasan).
 
 
Tantangan Besar dan Tingkat Kepercayaan
Mengawali pembahasan, Arief Daryanto menyampaikan 3 tantangan perunggasan, yaitu ancaman serbuan unggas global. Kedua, resesi ekonomi karena pandemi. Ketiga, rusaknya global supply chain. Pemahaman ini merupakan pijakan untuk membangun resiliensi. 
 
 
Pada sisi distribusi, cold chain industri perunggasan harus dibangun untuk menggantikan distribusi ayam hidup yang sudah tidak efisien. Perlu juga disusun ulang rencana industri perunggasan bersama Kemenko Perekonomian untuk memberlakukan check off system, dana jimpitan yang nanti akan digunakan untuk membiayai riset, promosi, dan edukasi perunggasan. 
 
 
Kembali Arief menyatakan pentingnya road map perunggasan, kemana pabrik pakan, breeding, budidaya dan pasca panen akan diarahkan. Goal dari penyusunan road map ini adalah transformasi industri perunggasan agar growth with equity. Memberi kesempatan kepada yang besar untuk berkembang dan memberikan ruang bagi yang kecil untuk tumbuh besar.
 
 
Ali Agus menyampaikan kebutuhan akan data dasar perunggasan yang dipercaya semua pihak. Data adalah dasar untuk pengawasan dan pengendalian oleh pemerintah. “Kita berdiskusi panjang untuk memberi solusi jangka pendek. Namun dasarnya masih asumsi,” ungkapnya. 
 
 
Rachmad Pambudy memberi contoh, ramai terlontar pendapat yang mengurutkan level of trust data impor/pemasukan Grand Parent Stock (GPS). Pertama, data dari Ditjen Bea dan Cukai, kedua data Badan Karantina, dan ketiga data dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). 
 
 
Data Aktual
Berpijak pada data Setting Hatching Record (SHR) pekanan, Achmad Dawami menyampaikan analisa supply-demand untuk membuktikan oversupply. Akhir Maret 2020, breeder masih menetaskan 74 juta dan 75 juta telur sepekan. Namun, setelah pemerintah menyatakan akan menghentikan pengaturan HE melalui SE, semua breeder ketakutan kalau keadaan bertambah hancur.
 
 
Sehingga tanpa dinyana mereka menurunkan jumlah telur yang masuk mesin setting, hanya tinggal 50 – 60 juta ekor. “Bahkan pada 3-9 Mei 2020, hanya berani memasukkan 46 juta telur dalam mesin tetas. Kalau dikalikan 82 %, karena 18 % itu infertil dan culling, maka jumlah ayamnya hanya sedikit,” jelasnya. 
 
 
Ternyata, Dawami menceritakan, LB hasil penetasan bulan Maret yang mulai dipanen pada April, harganya hancur-hancuran sampai Mei 2020. Karena sampai dengan menjelang akhir Maret 2020, breeder menetaskan 75 juta telur per pekan. Mei mulai ada kenaikan harga tapi tidak mencapai maksimal. Telur yang masuk setting dari akhir April sampai awal Mei, produksi daging akan mulai muncul di Juni. “Juni 2020 ini, harga LB luar biasa kenaikannya. Ternyata, efeknya konfidensi peternak juga tinggi, begitu pula breeder. Mereka memasukkan telur HE lagi sebanyak-banyaknya hingga 70 juta bahkan 72 juta sepekan, maka harga LB pada Juli 2020 kembali hancur,” tuturnya. 
 
 
Dibahasnya pula analisis supply-demand untuk karkas. Angka demand yang dipakai adalah rerata konsumsi karkas 161.475 ton per bulan menurut BPS. Sebelum pandemi, demand karkas broiler hampir 300 ribu ton (270.978 ton per bulan atau 3.251.745 ton per tahun pada 2019), namun angkanya diturunkan oleh BPS selama pandemi. Sehingga September ada kelebihan 115 ribu ton dan pada Oktober 121 ribu ton. 
 
 
Dawami memprediksi, pada Oktober 2020 produksi karkas masih 205 ribu ton, namun Ditjen PKH mengeluarkan angka 174 ribu ton. Pada November 2020, produksi karkas akan turun menjadi 164 ribu ton, mendekati angka Ditjen PKH 169 ribu ton. Diprediksi pada pertengahan Oktober 2020 harga LB akan naik, namun tidak tinggi. Sebab cold storage masih penuh, berisi 140 – 150 ribu ton karkas, sehingga akan dikeluarkan juga saat itu untuk ambil untung. 
 
 
Integrasi dan Efisiensi
Ali Agus mengakui, sedang menggagas integrasi perunggasan broiler yang agak ekstrem, setelah mempelajari postur bisnis broiler. Sebab, industri broiler ini telah terjadi alineasi, dengan sangat jelas. Agar masing-masing perusahaan ini membentuk aliansi secara nyata. Maka para pelaku usaha dialiansikan sekalian dengan melibatkan pelaku on farm yaitu peternak, sebagai gerbong budidaya dari perusahaan besar yang menjadi lokomotif.
 
 
“Jadi tidak lagi ada yang merasa sebagai peternak rakyat mandiri, dan tidak ada yang merasa sebagai integrator dengan internal farm. Semua dialiansikan, antara pelaku usaha besar dan peternak mandiri, menjadi rangkaian-rangkaian kereta api perunggasan. Mungkin belum populer sekarang. Tapi suatu saat pasti akan mengarah ke sana,” tuturnya. 
 
 
Model lokomotif dan gerbong tersebut, menurut Ali Agus menjadi alternatif dari integrasi horisontal yang pernah hangat dibicarakan beberapa waktu lalu. Kemitraan horisontal lebih mengarah kepada berkumpulnya sekelompok peternak untuk menjalankan usahanya (korporatisasi) secara kolektif dalam naungan badan usaha bersama, seperti koperasi. 
 
 
Arief Daryanto mengatakan, perlu format integrasi yang tepat agar peternak yang terfragmentasi dapat bersatu untuk besar bersama. Selanjutnya, perlu strong leadership untuk melaksanakan integrasi vertikal ataupun horisontal. Agar tidak ada yang keluar dari irama industri yang dibangun, berbagai standar industri harus diterapkan agar produk seragam dan tidak menimbulkan anomali harga.
 
 
Di Thailand, Arief menerangkan, kandang broiler dibuat seragam sesuai good agriculture practices (GAP). “Maka performa mereka sama. Ada aturan kuota dan skedul kapan ayam akan dipanen. Grade sudah ditentukan melalui tata kelola yang memiliki kekuatan,” terang dia. 
 
 
Sementara itu, industri dan pemangku kepentingan perunggasan Indonesia masih bingung membedakan peternakan rakyat mandiri, integrasi vertikal, dan integrasi horizontal itu apa dan bagaimana. Apakah peternak mandiri adalah mereka yang mengusahakan ayamnya sendiri (tidak diinti-plasmakan), atau semua peternak yang membeli input di poultry shop. Apakah juga termasuk di dalamnya mirroring (proxy) dari perusahaan besar.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain