Kamis, 1 Oktober 2020

Tren Industri Obat Hewan

Tren Industri Obat Hewan

Foto: ramdan


Terus berinovasi dengan merujuk pada regulasi dan isu yang ada guna menghasilkan produk dan teknologi terkini termasuk pemanfaatan sistem industri 4.0 serta mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan bisa mendorong industri ini semakin berdaya saing
 
 
Jamak dipahami, industri obat hewan adalah bisnis yang pertumbuhannya follower, secara dependent mengikuti gegas pertumbuhan nilai dan volume bisnis induk semang terbesarnya yaitu industri peternakan dalam negeri. Sekilas, hal itu ada benarnya dan masih juga memiliki pengaruh signifikan. 
 
 
Namun peningkatan tantangan penyakit, tuntutan peningkatan produktivitas ternak untuk mengejar efisiensi, berubahnya paradigma kesehatan hewan/ternak ke arah pencegahan, perkembangan populasi hewan non-pangan, semakin terbukanya pasar di luar batas negara dan adopsi teknologi baru vaksinasi dan pengaruh paradigma industri 4.0 tengah mengubah wajah industri obat hewan Indonesia. Terlebih di masa pandemi Covid-19, percepatan ke arah industri 4.0 akan semakin masif dan menjadi menu panas perubahan bisnis ini. Semakin jelas, industri obat hewan bukan bisnis follower biasa yang hanya begitu saja mengekor pada perkembangan semangnya.
 
 
Corporate Communication & Marketing Distribution Director PT Medion Farma Jaya, Peter Yan pada MIMBAR TROBOS Livestock The Series 5 – Obat Hewan dengan topik “Tren Industri Obat Hewan” yang disiapkan TComm (TROBOS Communication) melalui aplikasi Zoom pada Kamis (24/9) menyatakan, pandemi Covid-19 bagi industri obat hewan masih memberikan peluang untuk tumbuh meskipun kondisi tidak mendukung. Selain Peter Yan, MIMBAR TROBOS Livestock kali ini juga menghadirkan Ni Made Ria Isriyanthi (Kepala Subdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian); Ahmad Harris Priyadi (Sekretaris Jenderal Asosiasi Obat Hewan Indonesia/Asohi); serta Edy Purwoko (Country Manager PT Ceva Animal Health Indonesia).
 
 
Sementara itu, Sales & Marketing Director PT Romindo Primavetcom, Lukas Agus Sudibyo dalam kesempatan terpisah mengemukakan, bisnis obat hewan tahun ini semakin kompetitif, karena pasarnya menyusut tiba-tiba dan tidak diprediksi sebelumnya. “Bisa dibayangkan pasar yang tadinya diproyeksikan tumbuh sebanyak 10 – 15 % tiba-tiba menyusut sekitar 20 – 25 % akibat dampak pandemi Covid-19. Maka pelaku pasar tentunya akan berlomba-lomba bersaing ketat untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Jelas bahwa situasi ini tidak menguntungkan semua pihak,” urainya.
 
 
Strategi Bertahan dan Berkembang
Menurut Peter Yan, diperlukan perubahan strategi cepat dan tepat untuk tetap bertahan dan terus berkembang, seperti menurunkan cost (biaya), menghilangkan atau meringkas proses yang tidak perlu, dan memanfaatkan peluang produk alternatif (di luar bisnis utama) yang sedang tinggi permintaan pasarnya. Dia pun memberikan garis tebal pada teknologi : internet of things (IoT) sebagai basis sistem industri 4.0 yang diterapkan pada produksi, distribusi, pelayanan kepada pelanggan dan pemasaran, memiliki peran penting untuk memperkuat bisnis industri obat hewan saat ini.
 
 
Peter menerapkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) untuk mengefisienkan manajemen internal perusahaan dan mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan. ERP juga diintegrasikan dengan Modist, sistem order, pelanggan dan distribusi yang dibangun oleh Medion. Modist juga mengoptimalkan utilisasi IoT, untuk manajemen data logger yang mengontrol sistem rantai dingin logistik dan distribusi.
 
 
Inventarisasi, logistik, dan distribusi juga dikontrol dengan teknologi yang tak kalah mumpuni. Selain untuk memastikan kecukupan bahan baku di gudang, juga menjamin kepastian stok produk jadi dan menjamin mutu obat hewan dari gudang perusahaan sampai ke tangan pelanggan. “Kami menerapkan sistem logger pada mobil logistik yang terhubung dengan pusat kendali distribusi. Semua data teknis dan perjalanan terekam, jika terjadi sesuatu pada obat hewan yang diangkut, akan langsung diketahui dan ditangani,” jelas Peter Yan.
 
 
Country Manager PT Olmix Indonesia Nutrition, Yuana Saputra menjelaskan strategi khusus untuk dapat bertahan di masa pandemi ini, bagi pelaku usaha bisnis obat hewan diantaranya, melakukan efisiensi serta mendorong penjualan produk – produk baru yang potensial dan sedang dibutuhkan dunia peternakan, seperti produk untuk meningkatkan kecernaan pakan sekaligus dapat menekan biaya formulasi pakan. Yang tidak kalah penting adalah menyapa pelanggan dan memberikan dukungan dalam bentuk seminar daring teknis sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pelanggan itu sendiri, sehingga tidak semata dalam bentuk presentasi produk.
 
 
Menjadi Penyedia Sistem
Bisnis obat hewan telah jauh berubah, dari berjualan obat menjadi bisnis kesehatan hewan dengan sistem yang komprehensif atau solusi terintegrasi. Tak lagi berkutat pada menjual dagangan berkategori barang konsumsi, habis pakai, tetapi bergeser menjadi bisnis sistem kesehatan berikut ekosistem dan lingkungannya yang memadukan obat hewan, aplikator berteknologi tinggi, sistem kontrol atau manajemen berbasis IoT, utilisasi data logger yang pada perkembangannya kemudian dapat diolah dengan big data dan analisis oleh artificial inteligence. Semua diwujudkan menjadi paket piranti terpadu pada ekosistem yang dikembangkan secara eksklusif sesuai filosofi yang dibangun oleh perusahaan.
 
 
Peter Yan memberikan contoh, perusahaannya telah mengembangkan sistem closed house (kandang tertutup) yang bukan sekedar otomatis penuh, namun juga terintegrasi dengan Bird Mate. Bird Mate memiliki user interface berupa web application untuk monitor dan kontrol melalui web browser, dan memiliki mobile execution system melalui smartphone. Bird Mate terhubung dengan ERP dan sistem pendukung offline kesehatan hewan perusahaan sebagai inti bisnis Medion.
Mengambil perspektif yang lain, Edy Purwoko President Director PT Ceva Animal Health Indonesia menuturkan, Ceva meneguhkan identitasnya sebagai penyedia vaccine solution, lebih daripada sekadar penyedia vaksin. “Kami menyediakan pendekatan holistik, menyediakan vaksinnya, peralatan vaksinasi berteknologi tinggi dan eksklusif, dan pelayanan yang menyeluruh,” ungkapnya.
 
 
Selain menyediakan vaksin dan sistem aplikasinya, Ceva juga mengembangkan sistem pelayanan yang meliputi pendampingan dan audit untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi breeding farm, hatchery, commercial farm dan rumah potong. Sehingga mendobrak stereotip bisnis industri obat hewan hanya pada penyediaan obat, namun ternyata juga bisa berkembang menjadi sistem pendukung untuk meningkatkan kinerja produksi dan efisiensi perusahaan peternakan. 
 
 
Sebagai perusahaan yang memiliki market share kedua terbesar dunia dengan pangsa pasar global 18 % dan terdepan dalam teknologi vaksinasi di hatchery (in hatchery vaccination), Edy menyatakan, Ceva memiliki teknologi vaksin dan vaksinasi ke dalam telur tetas. Kedalaman penyuntikan diatur secara cerdas dan otomatis, berdasar karakter individual telur tanpa harus mengklasifikasi ukuran telur dan umur induk (flock age). 
 
 
Lebih dari itu, paket teknologi yang dia tawarkan itu hanya akan menginjeksi telur dengan embrio hidup dan meneruskan ke hatchery. Telur dengan embrio mati, tidak berkembang dan busuk akan ditinggalkan. Teknologi berbasis laser (laser candling system) ini mampu mendeteksi embrio yang mati pada fase awal, tengah, dan akhir masa tetas. Selanjutnya, teknologi ini mampu membedakan telur yang bersih dan telur yang terkontaminasi, sehingga hanya telur yang bersih yang akan divaksinasi. Untuk mengawal in hatchery vaccination itu, Ceva menyusun program Ceva in hatchery immunization control keys (Chicks).
 
 
Tegas Edy menyatakan perusahaannya hanya bisa menjual new technology vaccination itu dengan cara meyakinkan kalau dengan produk dan teknologi ini biaya pelanggan naik sesaat, namun selanjutnya profit pelanggan akan naik dan biaya turun karena semakin efisien, dan hasil semakin baik. Atau kalau pas bisnis merugi, kerugiannya tidak akan sebesar jika pelanggan meninggalkan teknologi ini.
 
 
“Kita mengurangi jumlah vaksinasi, mengganti dengan vaksin sekali yang langsung efektif dan long life. Vaksinasi dengan teknologi itu sudah dinikmati di negara lain dan memudahkan industri mereka, maka mengapa kita tidak ikuti apalagi jika kita ingin bersaing dengan mereka. Apalagi model vaksin cara lama harus diulang-ulang, jadwalnya pun saling berdekatan bahkan berurutan. Ditambah lagi ada reaksi pos vaksinasi dan lain-lain. Itu filosofi yang kami bangun,” dia menjelaskan.
 
 
Business Unit Head Poultry PT Zoetis Indonesia, Kent Sarosa mengamini, dengan situasi saat ini penggunaan teknologi virtual dan digital marketing menjadi sangat penting. Industri obat hewan harus tanggap dan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, perkembangan pengetahuan, beradaptasi dan mengerti kebutuhan peternak sehingga dapat membantu mereka agar tetap produktif dalam penyediaan produk protein hewani yang aman dan sehat.
 
 
Nilai Bisnis Obat Hewan
Berdasarkan data Asohi, nilai pasar obat hewan untuk perunggasan nasional pada 2019, diestimasi mencapai Rp 11 triliun, terdiri dari Rp 5,25 triliun untuk sediaan biologik (Rp 2,60 triliun) dan farmasetik (Rp 2,65 triliun) dan Rp 5,48 triliun untuk feed additive (Rp 2,47 triliun) dan feed supplement (Rp 3,01 triliun), dan sisanya dari obat hewan kesayangan. “Angka pasti omzet obat hewan kesayangan belum tersedia, namun sebagai pijakan untuk estimasi berupa produksi petfood Indonesia mencapai 1 juta kilogram (1.000 ton) lebih, dan masuk peringkat 15 dunia. Tahun ini diperkirakan omzet obat hewan menurun 20 %, seiring dengan penurunan nilai bisnis peternakan,” papar Harris Priyadi.
 
 
Pertumbuhan obat hewan pada kondisi sebelum pandemi adalah sebesar 6 – 8 % per tahun, karena pertumbuhan produksi industri pakan (feedmill) adalah 7 %. “Kita terbawa oleh pertumbuhan itu salah satunya karena besarnya produk sediaan yang dipakai pabrik pakan. Meskipun rasionya masih 50:50 antara penggunaan obat hewan di feedmill dengan di segmen budidaya,” dia menjelaskan. 
 
 
Tren obat hewan lokal maupun internasional dipengaruhi oleh tuntutan pasar dan konsumen akan pangan yang lebih sehat dengan pengurangan antibiotik. Kedua, regulasi yang mengatur/mengurangi/menghentikan penggunaan obat jenis tertentu dan atau untuk tujuan tertentu. Ketiga, situasi ekonomi yang digambarkan sebagai supply-demand, daya beli, nilai tukar, dan ekspor-impor. 
 
 
Obat hewan menjadi produk yang bisa menghasilkan devisa dan harus diatur keseimbangan ekspor-impornya. Keempat kondisi penyakit ternak aktual, ketersediaan dan mutu bahan baku. Kelima, inovasi teknologi era industri 4.0 yang diwarnai dengan disrupsi dan pandemi, kesulitan logistik dan gangguan supply-demand. Semua itu harus diatasi dengan teknologi. 
 
 
Menurut dia, obat hewan diperlukan kehadirannya pada setiap segmen manajemen produksi ternak, digambarkan pada diagram kebutuhan obat hewan di setiap lini manajemen unggas. Kelalaian pada satu hal yang disebutkan itu, bisa mempengaruhi kualitas akhir produk. “Contohnya melupakan aspek bone density, maka darah dalam sumsum tulang bisa rembes keluar saat mengolah daging ayam sehingga seakan-akan daging ayam itu buruk kualitasnya. Padahal rembesan darah bukan karena buruk pemotongan maupun kualitas karkasnya, namun karena masalah bone density,” urainya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain